NovelToon NovelToon
TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:13M
Nilai: 4.9
Nama Author: meliani

IG: ana_miauw
Bisa menikah dengan Yudha adalah bukan dari rencana Vita saat itu. Karena Yudha sudah memiliki hati yang lain sebelumnya. Dan atas nama pernikahan yang suci, dia mencoba untuk menerima takdirnya menjadi nomor dua meski dia adalah istri pertama.

Tetapi apa yang Vita rasakan semenjak pernikahan hingga saat ini?

Vita tidak sepakat dengan ketidakadilan yag dibebankan kepadanya karena tak pernah merasa dicintai sedikitpun oleh Yudha. Bahkan Yudha mengatakannya secara terus terang bahwa Vita hanyalah sebuah pelampiasan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Terakhir

Sudah semalaman berlalu Yudha tidak pulang. Saat ini dia berada di sebuah stasiun, membiarkan saja dirinya dipermainkan gelombang kebimbangan—tanpa tahu arah jalan mana sebenarnya yang hendak ditempuh. Ada niatan untuk menjadi seorang pengecut dengan pergi sejauh mungkin dari kota ini meninggalkan semua masalah yang ia hadapi. Namun wajah-wajah anggota keluarga yang dia sayangi terus membayang di ingatannya, sehingga langkah kakinya berat untuk digerakkan. Lantas dengan sendirinya, tubuhnya berhenti di tempat ini seperti seorang gelandangan.

Gamang, apa yang harus dikatakannya kepada Vita karena semalam, dia tidak bisa menghindari sebuah kenyataan. Bahwa ada sebuah janji hutang yang harus dilunasi.

Jantung itu memompa lebih cepat ketika dia memasuki rumah Rahma. Apalagi saat melihat wajah Ibu Rahma (Nely) yang tidak lagi bersahabat seperti biasanya. Tidak salah lagi, Yudha menduga bahwa beliau memang sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sayang di saat-saat demikian, Pak Ilyas tidak ada di rumah sehingga dia harus berbicara dengan perempuan; kaum lemah gemulai yang sejatinya lebih alot untuk diajak berdiskusi. Berbeda dengan laki-laki yang mempunyai ruang kepala lebih lebar sehingga bisa memutuskan perkara dengan lebih bijaksana. Oleh karena sebab itulah mereka dipercaya sebagai seorang pemimpin.

“Bisa saya bertemu dengan Rahma, Bu?” ucap Yudha ketika pria itu sudah dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu.

“Rahma tidak mau keluar, dari pagi. Dia juga tidak mau ditemui oleh siapa pun. Termasuk saya, ibunya sendiri.” Nely menatap sendu. Satu tangannya memegangi dadanya yang juga ikut merasakan ngilu yang luar biasa, membayangkan bila dirinya ada di posisi putrinya sekarang.

“Boleh saya masuk, Bu. Saya hanya berbicara di depan pintu kamarnya saja kalau dia memang tidak mau keluar. Saya yakin dia mau mendengarkan saya dari dalam sana.”

Yudha tidak mendengar izin dari permintaannya itu. Dia malah justru mendengar kepedihan seorang ibu tentang apa yang sedang dialami oleh anaknya.

“Hati anak saya hancur. Kasihan sekali dia,” sesekali wanita paruh baya tersebut mengusap pipinya yang basah. “Pria yang selalu menjadi mimpinya setiap hari, bertahun-tahun, malah menikahi perempuan lain.”

Yudha menunduk di depan wanita tua tersebut. Lidahnya kelu untuk berbicara. Pembelaan apa pun tidak akan bisa di benarkan. Walau bagaimana pun Yudha menjelaskan, tetap saja dia tidak bisa memberikannya jalan keluar, selain sama-sama harus menerima.

“Yudha ... tolong jawab sejujurnya, atas dasar apa kamu meninggalkan Rahma seperti ini? Apa salah putriku kepadamu?” tanya Bu Nely disela isak. “Kalian sudah berhubungan sangat lama, bukan? Semua orang sudah tahu hubungan kalian. Kalian terlihat sangat cocok. Ibu sayang sama Yudha seperti anak sendiri, tolong jangan buat kami malu.”

“Bukan Rahma yang salah, Bu. Saya yang salah,” jawab Yudha setelah terdiam beberapa saat. “Rahma baik sekali, terhadap keluarga saya juga. Dia juga sama-sama sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Umi Ros. Kebetulan, Umi tidak mempunyai anak perempuan jadi beliau sayang sekali dengannya.” Ada jeda selama beberapa detik sebelum kemudian Yudha melanjutkan, “Apa yang terjadi sama saya, berawal dari sebuah ketidaksengajaan.”

“Yudha berbuat kesalahan dengan perempuan itu?” Ibu Nely bertanya dengan hati-hati.

“Ya, saya berbuat salah, tapi tanggung jawab yang saya tunjukkan berakhir menjadi sebuah fitnah. Saya terlalu ceroboh tinggal di rumah gadis itu dan berakhir menjadi sebuah pernikahan yang sebenarnya tidak kami rencanakan. Bahkan pada saat itu, kami pun belum saling mengenal dengan baik.”

“Itu artinya, Nak Yudha masih mencintai anak saya?” tanya Nely penuh harap. Belum sempat Yudha menjawab, Nely mengatakan hal yang lebih mengejutkan lagi. “Kalau iya, nikahilah Rahma ....”

Deg!

Seketika Yudha mendongakkan kepalanya menatap Ibu Nely, untuk memastikan; apa benar apa yang baru saja dikatakannya?

“Saya sudah memiliki istri, Bu,” kata Yudha tak lama berselang.

“Banyak di dunia ini satu orang laki-laki yang mempunyai lebih dari satu istri, dan mereka akur-akur saja. Rahma anak yang baik. Kamu pun mengetahui itu—kalau tidak, mana mungkin kamu mencintainya. Ibu yakin, pasti kalian akan tetap menjadi keluarga yang sakinah.”

“Tetapi belum tentu Vita mau menerima madunya,” jawab Yudha kemudian.

“Tidakkah kamu berpikir sebelum itu, bahwa ada Rahma yang juga harus kamu pertahankan? Bahkan lebih berhak karena dia sangat mencintaimu dan menunggumu sangat lama. Kamu sudah meminang Rahma, Nak. Jangan lupakan itu.”

“Saya bukan seorang nabi yang bisa berbuat adil dalam segala hal. Akan selalu ada perbedaan jumlah perasaan cinta yang saya miliki dan itu bisa condong kepada salah satunya. Dan itu akan menyakiti salah satu istriku yang lain. Bahkan ada salah satu mazhab yang menyatakan bahwa poligami adalah sebuah perbuatan yang makruh hukumnya.” Yudha menjelaskannya dengan sederhana agar Ibu Nely dapat segera memahami dengan mudah.

“Ibu tidak akan khawatir karena Rahma akan mendapatkan itu dari Nak Yudha. Karena Ibu tahu bagaimana kalian saling mencintai. Tetapi ketahuilah yang dimaksud adil oleh Allah ialah perkara-perkara yang dhohir (tampak secara nyata); seperti tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari baik lahir maupun batiniah.”

Yudha menggeleng. “Satu istri saja berat pertanggungjawabannya di akhirat ... apalagi dua, Bu. Allah akan membangunkan seorang suami dalam keadaan paling hina jika mereka tidak bisa berbuat adil kepada istri-istrinya. Saya tidak sanggup. Saya belum mampu,” ujar pria berkarismatik tersebut. Bahkan dalam keadaan paling terjepit pun, dia tetap tenang dan berwibawa.

“Berarti kamu tidak mencintai anak saya. Berarti benar dugaan Ibu selama ini, kamu hanya mau mempermainkannya saja.” Ibu Nely lantas berdiri. “Ya sudah. Mungkin nasib anak saya yang memang sedang malang. Ibu hanya berdoa, semoga dia tidak lagi menjumpai laki-laki sepertimu.”

“Bukan begitu maksud saya, Bu ....”

Sudah Yudha duga sebelumnya, akan sulit baginya berbicara dengan seorang wanita. Dan atas kesalahpahamannya mereka berpikir.

“Pergilah!” titah Ibu Nely tanpa menatap pandang ke arahnya. Kentara sekali bahwa beliau sedang menahan amarahnya.

Apalah yang bisa Yudha perbuat untuk memperbaiki semua ini. Semua sudah terjadi dan tidak mungkin bisa kembali seperti semula.

Yudha beranjak berdiri dan keluar dari rumah itu. Langkahnya gontai menuju keluar. Namun tepat di depan pintu, suara lembut Rahma menyerukan namanya. Membuatnya terhenti.

“Kak ....”

Entah perasaan apa yang menyelubungi dengan begitu lembutnya. Hati Yudha terpanggil, terenyuh, tanpa bisa mengabaikan gadis itu. Karena rasa bersalahnya begitu besar.

Yudha berbalik badan. Pria itu tersenyum bahagia karena akhirnya bisa melihat Rahma lagi. Walau dengan status yang sudah berbeda.

Rahma membalas dengan seulas senyum. Dia berusaha terlihat baik-baik saja walau bekas-bekas kesedihan masih tampak terlihat jelas di matanya yang sembab. Rahma mengulurkan buku yang Yudha ketahui itu adalah buku miliknya.

“Ini buku diary yang kuambil di kamarmu saat Kak Yudha pergi. Tulisan tanganmu bagus, aku baru membacanya tadi, dan aku sangat menyukai isinya.”

Setelah membaca buku diary Yudha dan mendengarkan pengakuannya barusan, membuat Rahma merasa mempunyai harapan.

Yudha menerima buku itu. Dia tersenyum malu karena isi dari buku tersebut adalah hasil curahan hatinya yang selama ini begitu memuja wanita di depannya.

“Kamu membaca semuanya?” tanya Yudha kemudian.

“Iya,” jawab Rahma tersenyum anggun. Gadis yang memakai pasmina berwarna merah jambu tersebut bertanya dengan sungguh-sungguh, “Kakak masih mencintaiku bukan?”

Sontak Yudha mengangguk. “Kamu tidak akan pernah kulupakan.”

Yudha menjawab jujur, rongga dadanya sebagian besar memang masih terisi nama Rahma. Bukan suatu hal yang mudah baginya melupakan cinta yang telah lama bersarang di sana. Tetapi, sesungguhnya Yudha melupakan sesuatu bahwa pernyataan ini tidaklah pantas dikatakan kepada wanita lain, karena dia adalah seorang laki-laki yang sudah beristri. Menyakitkan jika pengakuan ini sampai terdengar di telinga Vita.

Rahma tersenyum. “Aku memang sakit hati kak Yudha menikahi Vita. Lihat nih, sampai aku nangis seharian.” Rahma menunjukkan matanya yang sembab dan hidungnya yang merah. “Tapi kalau Kak Yudha mencintaiku, kurasa tidaklah masalah. Kita rajut lagi hubungan kita yang sudah pernah retak. Aku rela menjadi yang kedua. Aku akan mengerti dan tidak akan menyulitkan posisimu.”

Sorot mata Rahma melunak. Menatapnya lamat menunggu sebuah jawaban.

“Tidakkah kau ingat janjimu, Kak? Bukannya kau akan menikahiku. Janji adalah hutang dan kau harus melunasinya,” sela Rahma. “Aku tidak akan pernah bertanya seberapa besar cinta Kak Yudha terhadap istrimu yang lain, karena aku tahu memang itu tidak boleh. Dan aku pun tidak akan menuntutnya.”

“Tapi, aku ....” Yudha tengah berada di dalam kebimbangan. Di dalam posisinya yang sangat sulit, ia hanya menemukan jalan berduri yang mau tidak mau harus dilewatinya. Meski harus rela berdarah-darah.

“Minggir!” tiba-tiba Yudha tersentak manakala seseorang menabrak bahu sebelah kirinya. Karena tanpa disadari, ia berjalan terlalu ke tengah sehingga menyulitkan para pengguna jalan yang lain. Sontak lamunannya buyar seketika membuatnya kembali kepada kenyataan. Kenyataan hidup yang paling sulit!

***

Rasa kecewa Vita jelas masih ada karena suaminya tidak pulang semalaman. Tetapi sekarang sudah tidak terlalu dirasakan lagi, sebab ada sesuatu hal yang sangat menyenangkan dan menghibur hatinya. Umi Ros pulang dari rumah sakit hari ini dan langsung menemuinya.

Tanpa di duga, Umi merentangkan tangannya untuk memeluk tubuhnya yang kecil dan mencium keningnya dengan tulus. Untuk sesaat, Vita merasa seperti kembali kepada ibunya yang telah lama pergi, karena ia merasa begitu nyaman di pelukannya.

Vita pikir, pendekatan ini akan sulit karena pada awalnya mereka tak saling mengenal. Lagi pula, dari cerita yang Vita dengan dari Bi Retno, Umi Ros sangat menyayangi Rahma. Tetapi ternyata tidak sama sekali. Umi Ros tidak memandangnya berbeda. Begitu juga dengan Abah dan juga Alif.

Ya, pria berusia tak beda jauh dari Abangnya tersebut malah tak mau memanggilnya Kakak karena usianya jauh lebih muda.

“Dua puluh tahun. Masih muda sekali, ya. Yudha kan sudah dua delapan, Alif juga sudah dua enam,” kata Umi Ros pada saat Vita sedang berada di kamarnya. Selain harus lebih banyak bersama untuk lebih saling mengenal, beliau juga masih harus ditemani karena keadaannya masih sangat lemas, bahkan untuk sekadar berjalan pun masih kesulitan.

“Tapi yang terlihat bukan seperti umur dua puluh tahun. Mungkin karena Vita terbiasa mandiri ... jadi Vita bisa bersikap lebih dewasa,” kata Umi Ros lagi.

Sebenarnya yang tampak tidaklah demikian, karena sesungguhnya dalam hati Vita masih memiliki ego yang tinggi. Bagi seorang gadis yang berusia sama seperti Vita, masalah cinta masih menjadi segala-galanya baginya.

“Sudah jam makan siang, Mi. Umi harus minum obat juga kan?” tanya Vita.

“Iya. Masak apa di belakang?”

“Vita tadi masak sup ayam.”

“Oh, iya?” Umi Ros terlihat sangat antusias. “Umi mau, Nak. Umi juga mau coba masakanmu.”

“Sebentar, ya. Vita ambilkan.”

Umi mengangguk. Beliau setia menunggu menantunya kembali dengan membawakan makan siang untuknya.

Vita sibuk di dapur. Langkahnya begitu semangat untuk memanasi supnya, kemudian memasukkannya ke dalam mangkuk berukuran sedang setelah sup tersebut dipanaskan.

“Supnya enak, Non. Pasti Umi Ros suka,” ujar Bi Retno membuat Vita lebih percaya diri. “Saya ambilkan nasinya, ya.”

“Iya, Bi. Makasih.”

Beberapa menit berlalu, setelah semua telah siap di atas nampan, Vita kembali ke kamar Umi Ros. Membawanya sendiri makanan itu dengan hati-hati.

Senyumnya juga semakin merekah manakala melihat Yudha sudah pulang ke rumah. Di balik pintu yang sedikit terbuka, Vita mendapati punggung suaminya, pria itu sedang duduk di depan Uminya yang terbaring setengah duduk.

‘Syukurlah akhirnya kamu pulang juga.’

Namun apa yang terjadi ketika Vita hendak melangkahkan kaki untuk masuk? Tak sengaja telinganya mendengar perbincangan mereka yang cukup mengejutkan.

“Yudha memutuskan untuk tetap menikahi Rahma, Umi ....”

Deg!

Hati Vita kebas. Jantungnya seperti dipelintir hingga terasa begitu nyeri.

“Non ... ini air putih hangatnya ketinggalan,” kata Bi Retno mendekatinya seraya mengulurkan air minum tersebut. “Biasanya beliau suka minum air putih hangat.”

Vita merasa dirinya sudah tak ada lagi di sana. Dia seolah berjalan sendirian di kelamnya malam yang begitu sunyi. Matanya terbuka tetapi tak dapat melihat, telinganya mendengar tetapi tidak bisa menangkap bunyi di sekitar. Dunia seolah terhenti saat itu juga.

Melihat Vita tanpa reaksi membuat Bi Retno memanggil, “Non, Non!”

Tak ada jawaban. Dengan segera Bibi mengambil nampan yang ada di tangan Vita, meletakkannya ke meja depan kamar dan menariknya pergi dari sana.

***

To Be Continued.

1
Ara Dhani
begitulah yg dirasakan Vita saat MLM pertama mereka . Yudha menyebutkan nama rahma
Ara Dhani
sakitnya sampai sini ya allah😭
Lina Astika Sari
jangan terlalu kamu sanjung yuda
Lina Astika Sari
sakit sekali di banding²kan😥
Lina Astika Sari
woopppss.. sakitnya
Lina Astika Sari
jadinya huruf hijaiyah ya vita😂😂😂
Lina Astika Sari
sejenis anggora mas alif😂😂
Lina Astika Sari
katanya yudha tempat trrnyaman dan tenang hanya rahma.. ini kok malah vita memng dah aneh ni yudha
Lina Astika Sari
setelah vitanya pergi baru sadar.. bahwa dy mencintai vita begtu dalam
sutiasih kasih
kmana aja km yud.... baru tau klo vita itu jauh lbh unggul dri istri ksayanganmu si rahma....
bhkn km tak punya hati.... dlu sll membandingkn vita dgn rahma...
km sll memuji rahma... bhkn km bilang hnya rahma yg bisa mmberimu kdamaian.... dan km mngtakn hnya rahma istri terbaikmu....
mkanya yud.... jgn trtipu dgn anggunnya cover luaran.... tpi nyatanya busuk dalamnya...
Ara Dhani
ngakak di part ini😆😆
Ara Dhani
ya allah.. part ini ngakak aku😂😂
Ara Dhani
spesies langkah betina ini mah😂
sutiasih kasih
kasih paham yudha lif..... biar abangmu itu waras dikit otaknya🤣🤣
Komariyah
Buruk
Khairul Azam
meskipun klo km dipaksa, klo km tegas dan punya pendirian gak bakalan jg nikahin rahma yuda, tp ya gimana lgi emang emang ceritanya dibikin begini sama othornya
Khairul Azam
disininyg perlu disalahkan yuda
Khairul Azam
aku gak ada kasihannya tu sama ini kluarga yuda karma itu
Khairul Azam
aku gak sukanya begini terkesan vita cuman jd cadangan
Khairul Azam
laki laki tak berguna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!