Hubungan antara dua orang yang saling mencintai tentu saja akan lebih membahagiakan jika ada restu kedua orang tua di dalamnya. Namun, bagaimana akhirnya jika setelah semua usaha dilakukan, tapi tetap saja tidak ada kata restu untuk hubungannya?
Ini tentang Arasellia. Gadis dari kalangan biasa yang selalu kesulitan mendapatkan restu dalam setiap menjalin hubungan.
"Kalau pada dasarnya mereka udah nggak suka sama aku, mau aku kasih mereka uang semiliar juga nggak akan mengubah apa pun."
"Kalau misal berubah, emang kamu punya uang semiliar?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vin Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Keyla
Dengan membawa sebuah kantong plastik berisi buah-buahan, sekotak brownies, dan 2 cup boba, sore ini Ara mendatangi rumah Keyla untuk menjenguk ibu dari sahabatnya itu. Setelah memarkirkan motornya, gadis itu segera mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Keyla yang mengetahui Ara akan datang dengan tergesa-gesa membukakan pintu. Rambutnya yang masih basah membuat semua orang tahu jika gadis itu baru selesai mandi. "Masuk, Ra," katanya seraya membuka pintu lebar-lebar.
Ara terkekeh dengan tingkah Keyla yang memperlakukannya seakan-akan dia adalah tamu agung yang datang membawa segepok uang dan sebongkah berlian. "Ibu kamu mana, Key?"
"Di dapur abis makan tadi. Yuk, ikut aku."
Ara mengangguk, lalu mengekor di belakang Keyla untuk menemui Bu Yuli.
"Sore, Bu." Ara menyalami dan mencium tangan Bu Yuli.
"Eh, Ara, tumben banget main ke sini. Ada perlu sama Keyla?"
"Keyla bilang Ibu keserempet motor. Jadi, Ara ke sini, deh. O, iya, ini buat Ibu." Ara menaruh buah serta brownies di meja makan rumah Keyla.
"Aduh, Ibu nggak papa, kok. Maaf, ya, malah ngerepotin gini." Bu Yuli merasa tak enak hati. "Kalau begitu Ara mau minum apa? Biar Ibu buatkan."
"Oh, nggak usah repot-repot, Bu. Nih, aku sengaja beli boba buat Keyla yang udah ngerawat Ibu, sekalian aku juga emang ada perlu."
Ya, selain menjenguk Bu Yuli, Ara juga berniat untuk mengambil dompetnya yang masih ada di Keyla.
"Kamu emang bener-bener anak baik, Ra. Beruntungnya Keyla punya temen kayak kamu," puji Bu Yuli.
Keyla tidak terima. "Ara juga beruntung kali, Bu, punya temen kayak aku."
"Masa, sih? Aku nggak pernah bilang, tuh." Kening Ara berkerut menggoda Keyla yang kini semakin manyun. Dia dan Bu Yuli pun sontak tertawa.
"Ra! Jangan rese, deh!"
Ara hanya mengedikkan bahu tak acuh.
Sementara Bu Yuli kini sudah bangkit berdiri, dan berkata, "Ya, sudah. Kalian ngobrol berdua dulu, ya, Ibu mau minum obat sama istirahat sebentar."
"Iya, Bu."
Mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu rumah tersebut, kini Ara sedang menunggu Keyla mengambilkan dompet miliknya sambil menonton acara televisi yang menurutnya sama sekali tidak lucu, tapi anehnya penonton yang ada di studio tertawa terbahak-bahak.
"Nih, dompet kamu." Keyla yang muncul dari dalam menaruh dompet Ara di pangkuan sahabatnya.
"Aku cek nggak, nih," ujar Ara dengan wajah curiga yang dibuat-buat.
"Dicek, dong, masa enggak. Siapa tau foto kamu sama Mas Elang yang lagi rangkulan hilang," ucap Keyla menggoda. Kedua alisnya naik-turun, yang mana tampak sangat menyebalkan di mata Ara.
Ara mendengkus kesal, lalu memasukkan dompetnya ke dalam tas tanpa mengeceknya. Ia percaya Keyla tidak akan berbuat aneh-aneh mengingat ini bukanlah yang pertama kalinya.
Setelahnya keadaan menjadi hening karena kedua gadis itu kini asyik meminum boba sembari menonton kartun duo plontos yang berasal dari negara tetangga.
"Tapi, Ra, kemarin kamu pulangnya gimana?" Keyla akhirnya bersuara karena rasa ingin tahunya.
Mendengar itu, Ara seketika teringat akan sosok laki-laki yang membuatnya mati kutu. Laki-laki yang hampir ia manfaatkan, tapi justru menjadi penolong di tengah rasa malunya di depan banyak orang.
Menaruh cup bobanya di meja, saat ini Ara sudah duduk bersila sambil memeluk salah satu bantal yang berada tidak jauh darinya. "Tau nggak, sih, Key. Kamu tanya kayak gitu aku jadi inget siapa tahu nggak?"
"Siapa?" Keyla langsung penasaran.
"Coba tebak." Ara tersenyum miring. Sedangkan Keyla sudah menekuk wajahnya.
"Males, ah, kalo disuruh tebak-tebakan. Cape."
"Aku ketemu Darma."
"Darma? Darma siapa? Angling Darma?" Keyla menyebutkan salah satu tokoh dalam serial drama kolosal yang booming pada zamannya.
Ara menepuk jidatnya. Bisa-bisanya Keyla menebak Angling Darma. Tetapi, ya, begitulah anak kalau waktu sekolah lebih banyak di kantin daripada di kelas. "Darma yang waktu itu minta aku anterin itu, lhoh, yang direktur."
"APA?!" Bola mata Keyla membulat sempurna. "Kok bisa, sih? Terus kalian kenalan dan ngobrol gitu?" cecarnya sampai lupa menanyakan penyebab kemurungan Ara di hari Minggu pagi kemarin.
Kembali menyedot bobanya, Ara lantas mencari posisi yang nyaman sebelum kemudian menceritakan tentang kejadian kemarin sore. Mulai dari dia yang tidak menemukan dompetnya hingga akhirnya diantar pulang oleh Darma. Semua ia ceritakan tanpa ada yang terlewat.
Keyla tak mampu menahan tawanya saat Darma mengingatkan hutangnya pada Ara. Perut gadis itu sampai dibuat kram mendengarnya. Namun, tak dapat disembunyikan pula kekecewaannya karena sudah melewatkan kesempatan bertemu "sultan".
Saat jarum jam menunjuk angka delapan, Ara pun berpamitan pada Keyla dan ibunya usai diajak makan malam bersama. "Makasih, ya, Bu, makan malamnya. Semoga Ibu segera pulih," katanya seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Iya, makasih juga sudah datang menjenguk. Pulangnya hati-hati, ya, Ra."
Ara mengangguk. "Balik dulu, ya, Key." Ia melambaikan tangan pada sahabatnya.
"Iya, hati-hati." Keyla lantas mengantar Ara sampai ke halaman rumahnya.
Tanpa mengenakan helm serta jaketnya, Ara pun melajukan motornya. Hanya dalam hitungan menit, ia sudah tiba di rumah. Senyum di wajah Ara perlahan memudar begitu turun dari motor ia melihat lelaki yang sedang tidak ingin ia temui sedang mengobrol dengan ayahnya.
jujur aku seneng omanya mati
🙈🙈🙈