Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.
Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.
Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.
Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona.
...11. Terpesona...
Khadijah.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi pemotretan, Fadli terus saja memuji Kha. Pria itu bilang bahwa Kha adalah orang hebat karena telah berhasil membukakan pintu hati Biru yang sudah lama tertutup.
Kha hanya mengulas senyum mendengar pujian-pujian Fadli, sedangkan Biru tetap diam tanpa merespon sedikitpun ucapan temannya.
Saat tiba di lokasi, Kha bergegas menemui Tante Mia untuk berganti kostum dengan dibantu Asti. Karena menggunakan cadar, Kha tidak perlu memberikan polesan lebih pada wajahnya, ia hanya memakai eyeliner dan pensil alis untuk mempertajam penampilan.
Aludra dan Adara menghampiri Kha ke ruang ganti sembari berbisik dan sesekali tertawa pelan. “Kalian kenapa?” tanya Kha melihat tingkah laku kedua sepupunya.
“Itu, Teh. Masyaallah... Kok ada laki-laki seganteng dia,” ucap Aludra “Kamu kok bisa jantungnya aman-aman saja semobil bareng fotografer ganteng begitu, Teh.” sambungnya disambut kekehan Adara sembari melirik Biru.
Kha mengernyit. “Biru?”
“Iya dong, Teh... Siapa lagi?”
Kha menatap Biru. Secara penampilan Biru memang sangat mempesona. Badan tegap tinggi, kulit putih, hidung runcing, style kekinian, dan memiliki pekerjaan yang bagus. Wajar jika kedua sepupunya mengelu-elukan Biru, memang seperti itu faktanya. Hanya saja Biru dimata Kha adalah seorang pria yang tidak terlalu taat agama, dingin, dan sedikit menyebalkan.
“Kalau saja nggak malu, sudah kulamar itu fotografer.” seloroh Aludra.
Kha terkekeh. “Sudah jamannya emansipasi wanita, Al. Kalau kamu suka tinggal bikin CV ta'aruf, terus kasih ke orang yang kamu suka.”
Aludra nampak mengerucutkan bibirnya “Iya sih, cuman aku malu, Teh. Kalau ditolak gimana?”
“Ya bukan jodoh kamu....” jawab Kha dan Adara bersamaan lalu tertawa terbahak. “Sudah-sudah, kita lanjut nanti lagi ngobrolnya, takut keburu hujan lagi.”
Kha bersama Aludra dan Adara keluar saat semuanya telah siap. Biru tengah berdiri didepan gazebo tempat mereka melakukan photoshoot pertama.
Setelah mendapat aba-aba. Kha dan lainnya berdiri dalam gazebo. Biru sudah berada didepannya dengan posisi setengah membungkuk, membawa lensa kamera yang dikalungkan di leher. Sesekali Biru terlihat memutar lensa, mengatur zoom in zoom out sampai di rasa pas dengan objek bidikannya.
“Ready semua?! Let's go....,” teriak Biru membuat ketiganya mulai bergerak sesuai arahan. Kha masih belum juga terbiasa dengan suara-suara bidikan kamera, gerakannya pun masih sangat lamban dan kaku.
“1...2...3... Relax Kha... Oke tahan!” tegur Biru disela-sela pemotretan.
cekrek cekrek.
“Bagus! Lanjut gaya lain,” kembali Biru memberi instruksi. “Model satu lihat keatas.... Sip!”
Bunyi suara cekrek tiap Biru menekan tombol Shutter mengiringi instruksi-instruksi lantangnya.
“Next... Model dua bisa melihat kesamping... Oke tahan.”
“Kha, angkat sedikit ujung hijabnya, liat keatas!” Biru selaku mengangkat jempol ketika mereka melakukan sesuai perintahnya. Gaya Biru dalam memberi instruksi sudah seperti fotografer handal yang memiliki jam terbang tinggi. Jika tidak mengenal lebih dulu, mungkin Kha akan mengira Biru telah lama melakoni pekerjaan sebagai fotografer.
“Kita jeda sebentar.” ucap Biru membuat Si kembar tak tahan menghambur Biru untuk melihat hasil fotonya.
“Wahh Mas Biru nih keren banget, tahu saja dimana angle yang pas buat kita.” ucap Aludra mengacungkan dua jempol. Adara pun sama, memuji hasil foto yang Biru tunjukan melalui laptop.
Kha mengambil botol mineral dari meja lalu duduk bersandar di gazebo, mengarahkan kipas portabel kearah wajah yang mulai dibanjiri keringat. Ia terkejut saat tiba-tiba Biru duduk disampingnya, melihat pada layar lcd kamera yang menampilkan foto.
“Kamu nggak penasaran sama hasilnya?” tanya Biru.
Kha menggelengkan kepala. “Aku percaya hasilnya pasti bagus.” jawab Kha asal karena mendengar pujian-pujian Aludra setelah melihat hasil fotonya tadi.
“Sok tahu! Nih kalau mau lihat,” Biru menyodorkan kamera kearah Kha “Kamu tuh masih kelihatan banget canggungnya. Coba lebih santai lagi, anggep aja lagi main sama temen-temennya. Jangan fokus ngelihatin fotografer biar bisa fokus.”
Kha mencerna sejenak ucapan Biru, lalu membelalakkan mata saat sadar Biru menertawakan dirinya. “Sembarangan! Siapa juga yang lihatin kamu!” protes Kha kemudian meninggalkan Biru yang masih terkekeh.
Kha kembali keruang ganti untuk berganti pakaian kedua juga yang terakhir. Karena pada pemotretan sebelumnya sudah melakukan dengan tiga baju berbeda. Saat masuk keruang ganti, Kha disambut rengekan Aludra yang mengatakan iri dengan dirinya, Biru tetap memanggil nama saat memberikan instruksi, sedangkan Aludra dan Adara selalu dipanggil dengan sebutan 'Model satu' 'Model dua'
“Kenalan, Al... Kasih tahu nama kamu biar dipanggil nama sama Biru.” usul Kha, lalu mencibir keduanya “Itu pun kalau Biru bisa bedain kalian.” sambung Kha terkekeh.
Jika tidak jeli, Aludra dan Adara memang lumayan sulit dibedakan. Memiliki paras sama persis, tinggi hanya berbeda tak lebih dari 5cm membuat keduanya seperti kembar seiras. Hanya satu perbedaan mereka, yaitu bola mata kepunyaan Aludra lebih lebar ketimbang Adara yang bermata sipit.
“Pakai name tag, gimana?”
“Yang nggak-nggak aja sih, Al!” protes Adara dengan usulan absurd kembarannya.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Hari ini, seharusnya Biru berterima kasih pada cuaca yang mendukung pekerjaannya hingga selesai. Dengan berakhirnya sesi pemotretan, artinya berakhir sudah tugas Kha membantu Tante Mia. Kha sama sekali tidak tertarik untuk mengulangi, bagi Kha hal ini akan menjadi kenangan manis saja. Ia merasa kurang cocok menjadi seorang model. Setidaknya, sebagai anak Kha sudah memberi kontribusi terkait bisnis Ummi yang dikelola oleh Tante Mia.
Kha membawa kembali buket bunga yang di bawanya tadi. Saat ingin meletakkan dibagasi mobil Biru, tanpa sengaja ia melihat paper bag berisi jaket terlupa dimobil Biru beberapa waktu lalu. Bahkan Kha lupa memberikan secara langsung.
“Mas, itu....” Kha menunjuk paper bag. Biru melirik sekilas melihat barang yang ditunjuk. “Waktu itu, mau balikin tapi lupa bilang sama lupa terima kasih.” ucap Kha malu. “Makasih, Mas.” seperti biasa, Biru selalu menjawab dengan gerakan kepala.
Dalam sekali gerakan, Biru mengambil jaket denim dari paper bag lalu memakainya “Wangi.” ucapnya mencium sisi jaket. Sesaat Kha terkesiap melihat senyum Biru, lalu membuang pandangan. Senyuman itu... Ahh pantas saja para sepupunya tergila-gila pada Biru.
Terpesona... aku terpesona....
Eh, eh Astagfirullah... jangan Kha, nggak boleh sama ummi. 🤣
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf