Melia terjebak dalam kungkungan sosok Anderson Louis yang terobsesi pada dirinya!
Sampai suatu ketika, Melia menyadari bahwa ada kisah di masa lalu mereka yang membuat Melia membenci Anderson.
Akankah Melia terbebas dari sisi Anderson? yang bahkan sekarang sudah dengan terang-terangan menginginkan tubuh Melia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alaleana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MINUMAN
Semua orang masih menatap ke arah Melia dengan tatapan-tatapan aneh bahkan sampai saat ini. Membuat Melia semakin gelagapan karena gosip ini benar-benar tidak bisa dihentikan.
Cepat-cepat Melia mengambil ponselnya lalu menghubungi Anderson agar mereka berangkat sendiri-sendiri saja untuk meredam semua gosip ini.
Pak, saya berangkat duluan ke Bandara. Maaf, sebaiknya kita berangkat sendiri saja untuk meredam gosip yang terus beredar. Saya kewalahan untuk mengklarifikasinya.
Adalah pesan watsap yang baru saja dikirimkan Melia baru saja. Dan saat Anderson membacanya, ia hanya mengangkat alisnya.
Untuk apa dia mengklarifikasinya padahal sebentar lagi dia akan benar-benar menjadi milikku?
Anderson menarik napas panjang kemudian segera bergegas untuk keluar dari ruangan ini.
"Bram, hari ini aku berangkat sendiri. Ada hal yang sangat pribadi yang harus aku lakukan," ucap Anderson kepada Bram. Seorang sopir sekaligus bodyguard pribadinya.
"Baik, Tuan."
Lalu Anderson melangkah dengan percaya diri.
***
"Kita sendiri saja, Pak?" Melia celingukan ke kanan dan ke kiri saat mulai mencari seseorang. Sepertinya ada yang salah, biasanya Bram, orang kepercayaan Anderson selalu mengekor Anderson setiap waktu, apa lagi di saat-saat genting seperti ini.
"Kenapa kamu selalu mencarinya? Kemarin kau bahkan mencarinya juga saat kita sedang kencan."
"Ah, tidak." Buru-buru Melia menggeleng. "Hanya saja, saya merasa aneh jika Bapak tidak bersama dia."
Anderson menghela napas. Ia menyipitkan mata. "Kamu jatuh cinta padanya?"
Mata Melia melotot tajam. "Tentu saja tidak."
"Bagus. Jika sampai iya, sudah aku pastikan kalau Bram akan kukirim ke ujung dunia agar dia tidak bisa bertemu denganmu lagi."
"Kejam sekali."
"Memang," ucapnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Membuat Melia memutar mata dan Anderson memergokinya.
Tapi, sedetik kemudian Anderson mengamati penampilan Melia dari atas sampai bawah. Dia memakai setelan lengkap berwarna abu tua, apa lagi memakai rok panjang.
Anderson mengernyit. "Sampai di sana, akan aku pastikan kalau kamu akan mengganti pakaianmu."
"Eh? Kenapa tiba-tiba anda membahas tentang pakaian?"
"Kita akan meeting di sebuah tempat yang tidak cocok dengan pakaianmu seperti itu."
Buru-buru Melia menggeleng.
"Tidak, Pak. Saya pakai ini saja."
Anderson menghela napas. "Terserah kamu saja kalau begitu. Di mataku kamu yang paling cantik, kok. Tenang saja."
"Eh?"
***
Melia masih menganga tidak percaya saat ia berdiri di sebuah tempat hiburan malam. Saat ia sampai di Bali satu jam yang lalu, Anderson langsung membawa Melia sampai ke tempat ini.
Sungguh. Melia belum pernah menginjakkan kaki satu kali pun ke tempat ini. Orang tuanya, neneknya, keluarganya tidak pernah mengajarkan Melia seperti ini. Dengan lampu yang kerlap kerlip, lagu yang berdegup kencang serta orang yang dengan percaya dirinya tampil di lantai dansa.
Ya ampun, apa mereka tidak takut dosa?
Melia mulai melangkah dan Anderson mengamati dari belakang. Melia tampak kikuk dan Anderson memaklumi itu.
Saat ini Melia membawa setumpuk berkas, tas yang ia cangklongkan ke samping hingga lagi-lagi membuat Melia menjadi pusat perhatian.
Melia mengernyit. Ia mulai merasa tidak nyaman karena terus diperhatikan.
"Sudah aku bilang pakaianmu tidak cocok." Tiba-tiba Anderson membisikan itu di telinga Melia sambil menggandeng tangannya.
Baru saja Melia ingin menghempaskan tangan Anderson tapi Anderson menggeleng.
"Biar aku gandeng tanganmu agar mereka berhenti memperhatikanmu." Lalu Anderson lagi-lagi menggandeng tangannya. "Semua orang mengenalku. Dan lihat! Mereka sudah tidak berani menatapmu kan?"
Ajaib. Mereka tiba-tiba berhenti menatap Melia seperti apa yang dikatakan Anderson.
Melia mengerutkan kening. Ini benar-benar mengejutkan. Tapi, bagaimana jika ada gosip lagi?
Belum selesai Melia berpikir, Anderson sudah menarik tangan Melia untuk membawa Melia ke suatu tempat. Sebuah ruang khusus VIP dan ternyata sudah ada dua orang berjas putih yang menantinya.
Melia segera mengerti kalau mereka ada klien bisnis dari Anderson. Tapi, yang paling membuat Melia masih kepikiran, kenapa mereka mereka meeting di tempat seperti ini?
***
Tiga jam sangat melelahkan. Perdebatan panjang terus terjadi sebelum membentuk kata sepakat. Anderson dengan Melia yang terus melakukan pembelaan, sedangkan klien yang terus mengatakan untung dan rugi.
Seluruh berkas mulai mereka keluarkan. Meneliti lembar demi lembar satu persatu dan selalu memperhitungkan tentang angka-angka.
Melia mulai lelah, tapi untung saja, setelah mempertimbangkan baik dan buruknya, mereka akhirnya menjabat tangan Anderson pertanda bahwa semuanya sudah berakhir baik.
Melia ikut tersenyum. Paling tidak, ia akan segera beristirahat hari ini. Seluruh tulangnya sudah terasa remuk dan ia ingin segera tidur.
Begitu dua orang itu keluar dari ruangan, Melia segera merapikan berkas-berkasnya.
"Kita bisa pulang, Pak."
Tapi Anderson menggeleng. "Ayo ikut aku."
"Tapi, meeting kita selesai."
"Ayo, kemari lah." Belum selesai Melia protes lagi, Anderson sudah menarik tangannya. Keluar dari ruangan ini dan menuju tempat tadi. Dengan lampu yang berkedip memusingkan kepala dan juga suara yang terus berdegup kencang.
"Pak, saya tidak terbiasa." Melia merengek. Ia langsung menutup telinganya tapi Anderson malah tertawa.
"Kemari, dansa denganku." Dengan cepat, Anderson langsung membawa Melia ke lantai dansa. Ia mengangkat tangan Melia hingga sampai pada bahunya.
"Pak, saya tidak bisa." Melia ingin menarik tangan itu tapi Anderson menahannya.
"Tidak apa. Sekali ini saja. Kamu belum pernah ke tempat seperti ini kan?"
Melia mengernyit, tapi lagi-lagi Anderson memaksa Melia. Anderson terus mengajari Melia untuk mengikuti alunan musik, mengajari Melia berdansa dan memutar tubuhnya.
"Bagaimana? Seru kan?"
Melia menggigit ujung bibirnya. Jujur, ini pengalaman pertamanya.
Anderson tertawa dan tiba-tiba ia memeluk Melia. Saat lantunan musik yang tadi berubah kencang kini berubah melow, Anderson semakin memeluk Melia semakin rapat sambil mengikuti alunan musik.
Tanpa Melia sadari, Anderson mengedipkan sebelah matanya pada seseorang yang memegang nampan di sana. Sosok laki-laki, pelayan dari tempat ini sepertinya langsung mengerti dan mengangguk ke arah Anderson.
Dan sesaat setelah itu, laki-laki itu menuangkan minuman ke sebuah cangkir minuman. Membuka kapsul itu dan menaburkannya.
Laki-laki itu berjalan ke arah Anderson.
"Hei, aku ingin satu." Anderson berpura-pura. Ia mengambil minuman itu dari atas nampan.
"Yes, sir."
"Minum, Mel."
"Maaf Pak, tapi saya belum pernah minum minuman seperti ini."
Anderson mengernyit. Ia sudah tahu itu. Melia tidak akan pernah mau makanan alkohol karena Anderson benar-benar tahu sifatnya.
"Tenang saja. Ini bukan minuman beralkohol seperti yang kamu kira. Coba lah." Anderson meminum gelas lain dan Melia melihatnya.
Anderson menawari Melia lagi dan terpaksa Melia mengambilnya. Sedetik kemudian, Melia malah penasaran dan mencobanya.
Anderson tersenyum di dalam hati. Saat Melia meminum minuman itu sampai habis dengan cepat Anderson langsung kembali memeluk tubuh Melia. Memaksa Melia untuk berdansa kembali dan mengikuti alunan musik.
Satu menit, dua menit hingga waktu bergulir menjadi tiga puluh menit. Sesaat setelah Melia meminum minuman yang diberikan Anderson, tiba-tiba kepala Melia terasa sangat pusing. Tubuhnya terasa mengambang dan tiba-tiba Melia limbung.
"Pak, kenapa kepala saya sangat pusing?" Melia sudah tidak mampu mencerna apa pun lagi, pening di kepalanya semakin menyiksa hingga tubuhnya terasa semakin melayang.
Lalu, saat Melia hampir terjatuh, dengan cepat Anderson menangkapnya.