Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 23
MUSUH ATAU KAWAN?
Langit masih berwarna kelabu pekat di ufuk timur, belum menyisakan seberkas cahaya pun. Di halaman depan kediaman Marcano, Killian berdiri tegak, angin pagi menerpa ujung rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menatap Nico lekat, tatapannya tajam dan tegas, tanpa sedikit pun terlihat ragu.
"Kau dan beberapa orang yang dapat dipercaya, berangkat sekarang," ucapnya dingin, suaranya rendah namun tak terbantahkan. "Cari keberadaan adik Laura Sharon. Gadis itu dikurung di sebuah bangunan yang menyamar sebagai rumah sakit jiwa. Periksa setiap tempat serupa di kota ini maupun di daerah sekitarnya. Telusuri jejak melalui orang-orang yang dulunya anak buah McManaman — siapa pun yang tahu ke mana gadis itu dibawa."
Nico mengangguk hormat. "Akan kuselidiki sampai tuntas, Tuan."
"Pastikan dia selamat," tambah Killian, menekan setiap kata. "Jangan biarkan satu pun celah terlewat."
Nico berbalik memberi isyarat kepada anak buah yang menunggu, lalu mereka berangkat beriringan, menghilang di kegelapan pagi yang masih tebal.
Killian tetap berdiri di tempatnya, menatap gerbang yang tertutup. Dari balik tirai jendela lantai dua, sosok Vincenzo berdiri diam, mengawasi punggung anak angkatnya itu.
Tidak ada suara langkah, tidak ada ketukan — hanya keheningan yang menyelimuti ruangan itu. Pria tua itu bergumam pelan, suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
"Kau membuat kesalahan besar, Killian... Untuk pertama kalinya, kau benar-benar melakukannya."
***
Jauh dari hiruk-pikuk dan ketegangan di New York di mansion Marcano, di sebuah kota yang jauh dan sunyi, seorang pria duduk bersandar di sofa kulit yang empuk.
Rambutnya cepak hampir seperti botak, samar terlihat tato di sisi kepalanya yang tertutup sebagian rambut; kemeja putihnya terlihat rapi namun dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan sebagian kulit dadanya.
Matanya berwarna perak pucat, menatap lurus ke arah anak buahnya yang berdiri di hadapannya sambil melaporkan kabar terbaru.
“Ada apa?”
"Kabar dari kediaman Marcano, Tuan," ucap pria itu menunduk hormat. "McManaman berhasil mengirim gadis asing sebagai pengganti putrinya. Ia menikahkan gadis itu dengan Killian Marcano tanpa memberi tahu siapa sebenarnya gadis itu. Keluarga Marcano telah dikelabui sepenuhnya."
Pria bermata perak itu menyeringai tipis, memutar gelas berisi minuman berwarna keemasan di tangannya.
"Jadi ada seseorang yang berani melakukannya..." gumamnya pelan. "Dan gadis malang itu dipaksa menjadi alat tawar-menawar darah."
"Namun ada hal yang lebih menarik, Tuan," lanjut anak buahnya ragu. "Killian Marcano... Dia tidak membunuh istrinya. Padahal semua orang di keluarga itu menginginkannya mati. Dia justru melindunginya di depan semua orang."
Alis pria itu terangkat sedikit, kerutan halus muncul di dahinya. Ia menatap anak buahnya dengan tatapan menyelidik namun licik.
"Menurutmu... apa yang terjadi pada pria itu?" suaranya rendah, penuh dugaan. "Apakah dia jatuh cinta?"
Ia tertawa pelan, tertawa yang penuh arti dan meremehkan sekaligus. Anak buahnya hanya menunduk diam, tak berani memberi pendapat. Pria itu meletakkan gelasnya perlahan di atas meja, bunyi denting halus terdengar di ruangan yang hening.
"Cari siapa saja yang masih hidup dari pihak McManaman," perintahnya tiba-tiba berubah tegas. "Putrinya, putranya, kerabat, atau siapa pun yang tersisa."
Anak buahnya mengerutkan kening, memberanikan diri bertanya. "Maaf, Tuan. Anda ingin bernegosiasi?”
Pria itu menyandarkan punggungnya, tersenyum santai.
"Aku hanya ingin berdamai," jawabnya tenang, namun matanya memancarkan kilatan yang tak dapat dipercaya sepenuhnya. "Mungkin ada baiknya jika kita berbicara dengan mereka yang tersisa. Mencari pihak yang tersakiti."
.
.
.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Cahaya matahari pagi kini menembus celah tirai kamar, menyinari sebagian lantai kayu yang mengkilap. Laura berbaring di atas kasur yang empuk, tubuhnya terasa berat namun rasa lelah perlahan berkurang.
Ia mengenakan kaos putih longgar yang menutupi sebagian pahanya, tanpa pakaian lain selain celana dalam. Paha kirinya yang terluka kini terbalut perban bersih dan rapi, luka di wajahnya juga sudah diobati.
Di hadapannya, di sofa tunggal yang menghadap ke arah ranjang, Killian duduk diam. Ia masih mengenakan kemeja hitamnya, dua kancing bagian atas terbuka, memperlihatkan sebagian kulit dadanya.
Tatapannya tenang, tajam, menatap gadis itu tanpa berkedip, seakan tak ingin melewatkan satu gerakan pun.
Laura mengerjap pelan, kesadarannya kembali sepenuhnya. Ia menatap perban di pahanya, lalu pindah menatap tangan kakinya yang tak lagi berdarah. Hening itu terasa panjang, hingga suara berat dan datar memecahnya.
"Berterima kasihlah karena aku tidak membunuhmu."
Laura menoleh perlahan ke arah pria itu.
Bibirnya bergerak hendak berkata sesuatu, namun tak ada suara yang keluar. Ia kembali menunduk, menatap perban di pahanya, merasa malu sekaligus bingung.
"Kau ingin berkata sesuatu?" tanya Killian, suaranya masih dingin namun tidak sekeras sebelumnya.
Laura menarik napas pelan, berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"Kenapa kau tidak membunuhku seperti keinginan yang lainnya," suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Killian diam sejenak, menatap wajahnya yang masih memar namun terlihat lebih tenang.
"Karena aku tidak membunuh orang yang tidak bersalah," jawabnya tegas. "Dan kau memohon untuk sesuatu yang lebih berharga daripada nyawamu sendiri."
Laura menatapnya, mata berkaca-kaca.
Killian berdiri perlahan, melangkah mendekat ke tepi ranjang, menatapnya dari atas. Namun wajahnya begitu dekat satu sama lain.
"Jangan berpikir untuk melarikan diri," ucapnya dingin. "Bukan karena aku tidak mempercayaimu, melainkan karena di luar sana ada bahaya yang jauh lebih besar daripada di sini. Tetaplah di tempat yang aman sampai urusan ini selesai."