NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Yakuza

Pengantin Pengganti Sang Yakuza

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Pengantin Pengganti Konglomerat / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:11
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan kembarannya dari pernikahan dengan pemimpin Yakuza yang paling ditakuti, Stella Rossi nekat menyamar menjadi Luna dan berjalan ke altar.

Takeo Akira, Kumicho berdarah dingin, memilih Luna karena mengira perempuan lembut itu paling mudah dikendalikan. Pernikahan ini hanyalah langkah pertama dari balas dendamnya pada keluarga Lombardi, dan begitu pewarisnya lahir, istrinya tak lagi berguna.

Tapi malam pertama membongkar penyamaran itu. Dan perempuan yang terbaring di ranjangnya sama sekali bukan bidak penurut yang dia bayangkan.

Satu dikurung dalam gelap. Satu bersumpah tak akan pernah menunduk.

Antara dendam yang membara dan debar yang tak mau padam, siapa yang sebenarnya sedang memerangkap siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Rencana B

Stella

Aku bangun bahkan sebelum alarm berbunyi. Begitu membuka mata, kusadari ada perasaan berbeda menguasaiku. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Jepang, aku tidak terbangun dengan ketakutan atau dada sesak.

Aku... bahagia.

Kumiringkan kepala dan hanya menemukan seprai kusut. Tempat Takeo sudah kosong. Kuusap kasur dengan tangan tanpa sadar, masih hangat. Dia pasti sudah pergi pagi-pagi untuk mengurus urusan Yakuza.

Aku mengembuskan napas dan bangun.

Setelah mandi lama, kukenakan gaun ringan, merias wajah tipis, dan mengikat sebagian rambutku. Saat selesai bercermin, aku tersenyum pada bayanganku.

Hari ini aku tak mau memikirkan perang antar mafia, balas dendam, atau semua yang masih harus kucari tahu. Hari ini aku mau menikmati saudari-saudariku.

Aku keluar kamar nyaris melompat-lompat di sepanjang lorong rumah.

Begitu membuka pintu kamar mereka, kudapati ketiganya tertidur pulas.

Bella terkapar di ranjang. Fiorela tidur memeluk bantal, sementara Luna meringkuk di bawah selimut.

Kusilangkan tangan.

"Selamat pagi, para putri."

Hening.

Aku memutar bola mata.

"Baiklah... kalian memilih jalan yang paling sulit."

Aku langsung menghampiri Bella dan menarik selimutnya sekaligus.

Dia membelalak.

"Stella! Demi Tuhan!"

Aku menahan tawa.

"Bangun."

"Kau baru saja menghancurkan tidur kecantikanku."

Bella duduk di ranjang dengan wajah menderita.

Aku terbahak.

Luna hanya menggerutu tak jelas dan menutup kepalanya lebih dalam.

Aku mendekatinya.

"Luna..."

Tak ada jawaban.

"Luna..."

Dia hanya menggeleng.

Aku tersenyum jahil.

"Kalau tidak bangun, kugelitiki."

Dia tetap tak bergerak.

Maka kupegang tangannya.

Detik berikutnya, Luna menarikku sekuat tenaga.

Aku memekik kecil saat jatuh di ranjang di sampingnya.

"Tertangkap kau." Dia terkikik pelan, matanya masih terpejam.

"Pengkhianat!"

Dia memelukku seperti saat kami masih kecil.

"Lima menit lagi..."

"Tidak bisa. Kita jalan-jalan. Belanja, coba baju-baju konyol, makan kue, menertawakan orang..."

Bella menyela.

"Bagian terakhir menarik buatku."

Akhirnya Fiorela membuka mata dan terkikik.

"Sudah kuduga, cukup bilang belanja, Bella langsung bangun."

"Jangan putar balik fakta. Aku bangun karena alasan apa pun... asal melibatkan kartu kredit."

Kami semua tertawa.

Bella bertopang pada siku dan menatapku dengan senyum nakal.

Aku kenal ekspresi itu.

Pasti ada godaan.

"Ngomong-ngomong soal menikmati hidup..."

Dia memiringkan kepala.

"Semalam Kumicho yang agung itu nyaris tak melepas matanya darimu selama makan malam."

Pipiku menghangat.

Bella melanjutkan.

"Jadi jawab satu hal..."

Dia berhenti dramatis.

"Seksnya enak?"

Kututup wajahku dengan tangan.

"Bella!"

Dia tertawa melihat reaksiku.

Fiorela ikut terbahak.

"Dia memerah! "

"Lihat? Itu sudah menjawab banyak hal."

Aku menggeleng, berusaha menyembunyikan senyum.

"Kalian memang keterlaluan."

"Ayo, ceritakan."

Kusilangkan tangan.

"Aku cerita nanti di jalan."

Bella membelalak.

"Kita sudah janji!"

Fiorela tertawa keras.

"Tak perlu cerita juga kelihatan."

Aku menoleh padanya.

"Kelihatan apa?"

"Pria itu nyaris menelanmu dengan matanya. Semalam di meja itu ada puluhan orang, tapi dia cuma melihatmu."

Luna tersenyum manis.

"Aku juga memperhatikan."

"Dia memandangmu seperti lupa seluruh dunia."

Jantungku berdebar.

Aku berusaha menyamarkan dengan mengangkat bahu.

"Kalian melebih-lebihkan."

Bella terbahak.

"Kami? Melebih-lebihkan? Stella, pria itu jatuh cinta setengah mati... atau terobsesi setengah mati. Aku belum memutuskan mana yang lebih buruk."

Aku ikut tertawa bersama mereka.

Seluruh kamar dipenuhi tawa kami.

Selama beberapa menit, Yakuza, Cosa Nostra, ancaman, dan balas dendam tak ada.

Hanya ada empat perempuan, seperti saudari, menikmati keistimewaan langka bisa bersama lagi.

Aku berdiri di tengah kamar, mengetukkan kaki ke lantai sambil menunggu mereka bertiga selesai berdandan.

"Kalian lebih lambat dari kura-kura."

Bella, yang masih memilih antara gaun ketiga dan keempat, meringis.

"Stella, sabar. Cantik butuh waktu."

"Tidak butuh seabad."

Fiorela selesai mengikat rambut ekor kuda dan tertawa melihat pertengkaran kami.

"Sudah kubilang lebih baik bangun lebih pagi."

"Kau juga tidur seperti batu," jawabku sambil melipat tangan.

Luna muncul mengenakan gaun terang dan berputar di depanku.

"Yang ini bagus?"

"Cantik sekali."

Dia tersenyum puas dan kembali memakai sepatu.

Bella berhenti sejenak di depan cermin. Senyumnya kehilangan sedikit kenakalan yang biasa, digantikan rindu.

"Aku kangen Presidenku..."

Sebelum sempat menjawab, Fiorela menyambar sisir dari meja rias dan melemparnya ke arah Bella.

Bella menghindar tipis.

"Hei!"

"Jangan mikirin pria dulu, Bella!" Fiorela menegur sambil menuding. "Kita datang untuk menghabiskan waktu bersama."

Bella mengerucutkan bibir dramatis.

"Aku cuma bilang kangen."

"Kau bernapas saja sudah memikirkan Riccardo."

"Karena aku istri yang jatuh cinta."

Aku memutar bola mata, geli melihat mereka berdua.

"Oh, tentu... jatuh cinta."

Bella menaruh tangan di dada, pura-pura tersinggung.

"Stella, seharusnya kau mengerti aku. Kau juga sudah menikah. Fiorela juga."

Fiorela tertawa.

"Bedanya, dia sepanjang makan malam pura-pura tidak sadar suaminya melihatnya."

Pipiku menghangat.

"Kalian mau bahas ini lagi?"

Bella tersenyum seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

"Mau. Perjalanannya panjang. Kita punya banyak waktu mengorek semua informasi dari Nyonya Akira."

Luna terbahak.

"Kasihan Stella."

Aku menggeleng, pasrah.

"Sepertinya aku membuat kesalahan besar mengajak kalian jalan-jalan."

Bella akhirnya mengambil tasnya.

"Tidak salah. Sekarang ayo. Aku mau membuatmu menghabiskan uang Kumicho yang agung itu."

"Bella!" seruku sambil tertawa.

Dia mengangkat bahu.

"Kalau dia sanggup membeli rumah semegah ini, dia sanggup membiayai kemewahanmu."

Kami berempat tertawa sebelum keluar kamar bersama.

Perjalanan ke mal berjalan tenang.

Mobil-mobil meluncur diam-diam di jalan-jalan Tokyo. Dari jendela, kuamati kota yang riuh, begitu berbeda dari Italia. Gedung pencakar langit, papan reklame bercahaya, dan kerumunan yang seperti tak pernah berhenti.

Setibanya, aku turun dari mobil dan langsung menyadari sistem pengamanannya.

Anak buah Takeo berbaur dengan prajurit yang dikirim keluargaku. Sekilas mereka tampak pengunjung biasa, tapi aku mengenali beberapa wajah. Mereka selalu berjalan di jarak aman, waspada pada setiap gerakan kami.

"Ayo!" kataku bersemangat.

Bella yang pertama masuk ke butik merek ternama.

"Akhirnya! Kukira kau tak akan pernah beli apa-apa."

Berjam-jam kami mencoba gaun, sepatu, tas, dan perhiasan. Bella mengubah setiap ruang ganti jadi peragaan busana pribadi, mengundang tawa kami semua.

Luna memilih pakaian-pakaian halus berwarna terang, persis seperti dirinya.

Aku dan Bella memaksanya mencoba gaun merah.

Dia langsung menolak.

"Merah terlalu mencolok."

Bella mendengus.

"Justru itu tujuan sebuah gaun."

Saat kami tertawa, kusadari Fiorela tertinggal beberapa langkah.

Dia melirik sekeliling diam-diam sebelum masuk sendirian ke sebuah toko kecil. Diikuti seorang prajurit.

Aku mengernyit.

Menit demi menit berlalu.

Lima...

Sepuluh...

Hampir lima belas.

Bella melirik jam.

"Sedang apa dia, ya?"

Aku mengangkat bahu.

"Kalau Fiorela... apa saja mungkin."

Tak lama dia muncul lagi dengan beberapa tas tambahan, seolah tak terjadi apa-apa.

"Lama."

Dia tersenyum dengan wajar sekali.

"Antreannya panjang."

Aku tak mendesak.

Kami terus berkeliling mal, makan siang di food court, lalu berbelanja lagi. Ketika akhirnya kami mulai mengeluh capek, Fiorela memegang lenganku.

"Stella, ikut aku."

Dia melirik Bella dan Luna.

"Kalian juga."

Kami berempat masuk ke toilet perempuan.

Fiorela menunggu sampai yakin kami sendirian. Lalu dia menutup pintu bilik yang paling luas dan menguncinya.

Raut wajahnya berubah total.

Senyumnya lenyap.

Dia membuka salah satu tas yang dia bawa sejak toko tempat dia menghilang.

Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah tas kulit elegan.

"Ini rencana B, Stella."

Jantungku berdebar.

Dia menaruh tas itu di tanganku.

"Ada dasar palsunya."

Kubuka hati-hati.

Tersembunyi di bawah lapisan dalam, kutemukan sebuah ponsel mati, pistol kecil, dan amplop tebal berisi uang tunai.

Kuangkat mata ke Fiorela.

Dia berbicara pelan agar tak ada yang mendengar selain kami.

"Papa sedang menyusupkan seseorang ke dalam organisasi Takeo. Kalau ada yang tidak beres... dia akan membawamu keluar dari sini."

Perutku mengencang.

Kupegang tas itu erat.

"Ini bisa membahayakan banyak orang."

"Aku tahu."

Bella juga kehilangan senyum.

"Tapi kami tak akan meninggalkanmu sendirian."

Luna menggenggam tanganku seketika.

"Tidak akan pernah."

Aku menelan ludah.

Untuk pertama kalinya hari itu, seluruh beban kenyataan kembali jatuh di bahuku.

Kupandangi lagi ponsel tersembunyi itu, pistol itu, dan uang itu.

Ini bukan sekadar tas.

Ini jalur pelarian.

Bukti bahwa keluargaku yakin, kapan saja, aku mungkin harus kabur dari pria yang kunikahi.

Aku mengangguk diam-diam, merasakan takut menekan dadaku.

"Kuharap... dari lubuk hatiku... aku tak pernah harus memakai rencana B ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!