Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.
Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.
Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.
Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.
Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.
Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.
Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.
Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Di Antara Lampu Blitz dan Senyuman
Bella
Aku terbangun oleh nada dering ponsel yang tak mau berhenti.
Aku menghela napas, mematikan alarm, dan bangun dengan cepat. Masih mengantuk, aku berjalan ke jendela dan menyibak tirai.
Di luar, pemandangannya masih kacau.
Wartawan berserakan di jalan, mobil-mobil stasiun televisi diparkir di depan rumahku, dan para fotografer menunggu gerakan sekecil apa pun demi satu gambar eksklusif.
Tapi tidak seperti kemarin, kali ini ada penghalang.
Anak buah Papa telah membentuk kordon beberapa meter dari gerbang, mencegah pers mendekati properti. Setidaknya hari ini kami sepertinya bisa keluar rumah tanpa ditelan kerumunan.
Dan aku harus keluar.
Hari ini jadwal relawanku di rumah sakit.
Anak-anak di ruang bermain sedang menungguku, dan sekalipun dunia di luar jungkir balik, aku tidak akan absen.
Aku masih mengamati keramaian lewat jendela ketika terdengar ketukan halus di pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka dan Papa melangkah masuk.
Dia menatapku beberapa saat, seperti ingin memastikan aku baik-baik saja. Tatapannya mengatakan jauh lebih banyak daripada kata-katanya.
Akhirnya dia memecah keheningan.
"Papa yang akan mengantar kamu dan Mama ke rumah sakit hari ini. Kita pakai pengaturan pengamanan yang berbeda, principessa."
Hatiku menghangat.
"Terima kasih, Papa."
Dia hanya mengangguk kecil.
Sebelum keluar, dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu lagi. Bibirnya bahkan sempat bergerak, tapi dia urung. Dia meninggalkan kamar dalam diam, menutup pintu di belakangnya.
Aku menarik napas dalam.
Aku ke kamar mandi, mandi cepat, lalu mulai bersiap nyaris tanpa sadar.
Kupilih pakaian nyaman untuk menghabiskan pagi bermain dengan anak-anak, mengikat rambut, memakai kacamata hitam, dan sebelum keluar kamar, kupejamkan mata sesaat.
"Tuhan, kumohon... buat semuanya lancar hari ini."
Ketika aku menuruni tangga, orang tuaku sudah siap menunggu.
Mama tersenyum lembut.
Papa hanya memberi isyarat ke arah pintu keluar.
Kami berjalan bersama ke pintu.
Begitu kakiku melewati ambang pintu, ledakan lampu kilat menerangi segalanya.
Para fotografer menjepret tanpa henti.
Para wartawan meneriakkan namaku bersamaan, berusaha menerobos blokade keamanan.
"Bella!"
"Bella, benarkah Anda bersama presiden?"
"Lihat ke sini!"
"Bisa beri kami wawancara?"
Beberapa mencoba menembus garis pembatas, tetapi anak buah Papa langsung menahan mereka.
Jantungku berdegup.
Aku menunduk dan berjalan secepat mungkin ke mobil.
Begitu masuk, aku menutup pintu dan mengembuskan napas yang tak sadar kutahan.
Napasku tersengal.
Ya Tuhan...
Ciuman sialan itu.
Kupejamkan mata sesaat.
Lalu, di luar logika, sebuah senyum kecil lolos dari bibirku.
Tidak.
Aku tidak menyesal.
Begitu mobil keluar dari jalan kami, aku diam-diam melirik keluar jendela.
Tak lama aku menyadarinya.
Kami diikuti.
Dua mobil liputan terus berada tepat di belakang pengawalan, sementara sebuah sepeda motor berusaha menyamai laju kami.
Papa mengamati semuanya lewat kaca spion.
Rahangnya mengeras.
"Dasar kawanan pemakan bangkai..." gumamnya di sela gigi.
Dia mengambil radio dan bicara cepat dengan tim pengamanan. Kata-katanya berupa sandi yang tak kumengerti, tapi anak buahnya langsung paham.
Dalam hitungan detik, formasi pengawalan berubah.
Kami berbelok di satu tikungan.
Lalu tikungan lain.
Memasuki jalan raya yang berbeda, melewati jalan yang lebih kecil, lalu kembali ke jalan utama.
Papa mengubah rute berkali-kali, mengecoh siapa pun yang mencoba membuntuti.
Kutoleh ke belakang lagi.
Salah satu mobil liputan menghilang.
Lalu satunya lagi.
Akhirnya, sepeda motor itu pun tertinggal.
Mama mengembuskan napas panjang.
"Rasa ingin tahu orang-orang ini sudah nyaris gila."
Keheningan menyelimuti mobil beberapa saat.
Papa mengangkat mata ke kaca spion dan bertemu pandang denganku.
Tatapannya serius.
Berat.
"Hidup sebagai Ibu Negara seperti inikah yang kamu inginkan, Bella?"
Pertanyaan itu menghantamku seperti pukulan.
Aku membuka mulut, tapi tak ada jawaban.
Sebelum sempat mengatakan sesuatu, Mama melemparkan tatapan menegur padanya.
"Matteo..."
Suaranya pelan, tapi tegas.
"Ini bukan saatnya."
Papa mengalihkan pandang ke jalan.
Wajahnya tetap keras.
"Papa hanya ingin dia tahu persis berapa harga dari pilihan-pilihannya."
Kucengkeram erat tali tasku.
Jauh di dalam hati, aku tahu dia tidak berniat menyakitiku.
Dia sedang berusaha melindungiku.
Tapi untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa mencintai seseorang seperti Riccardo mungkin berarti hidup dikelilingi tatapan, kamera... dan kehilangan selamanya ketenangan yang selama ini kukenal.
Mobil masuk lewat belakang rumah sakit, jauh dari pintu utama.
Begitu berhenti, aku turun cepat-cepat. Aku tidak menoleh dan tidak bicara dengan siapa pun. Aku hanya ingin sampai ke bangsal anak.
Sambil berjalan terburu-buru melewati lorong servis, aku masih bisa mendengar suara Mama.
"Jangan keras padanya, Matteo. Dia tidak salah apa-apa."
Aku tidak mendengar jawaban Papa.
Aku terus berjalan, berusaha meninggalkan percakapan itu di belakang.
Kutarik napas dalam dan menuju bangsal anak.
Tapi bahkan sebelum sampai, aku bertabrakan dengan Luca.
Berbalut jas dokter putih, dia bersandar di dinding dengan senyum mengejek di wajahnya.
Begitu melihatku, dia melipat tangan.
"Wah, wah... lihat siapa yang akhirnya muncul. Calon Ibu Negara datang untuk tugas relawan?"
Aku memutar mata dan menepuk pelan lengannya.
"Biarkan aku tenang, Luca. Hidupku sudah seperti neraka."
Senyumnya langsung hilang.
Tanpa berkata apa pun, Luca menarikku ke dalam pelukan erat.
Kupejamkan mata sesaat, membiarkan beban yang kupikul menguap lewat gestur sesederhana itu.
Dia bergumam di atas kepalaku:
"Jangan panik, Bella."
Lalu dia melepaskan pelukan, cukup jauh untuk menatapku.
Senyum geli muncul lagi di bibirnya.
"Tapi, mengenal kamu... kamulah yang menyerang presiden."
Aku langsung tertawa.
"Luca!"
Dia mengangkat tangan tanda menyerah.
"Jujur saja. Pria itu bertahun-tahun berpolitik tanpa satu skandal pun. Cukup menyeberang jalan bersama badai bernama Bella..."
Kutepuk lengannya sekali lagi, masih tertawa.
"Kamu menyebalkan."
"Tapi aku salah?"
Aku menggeleng, menyangkal sambil berusaha menyembunyikan senyum.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Ada Luca di dekatku selalu punya efek itu.
Bahkan saat dunia seakan runtuh, dia selalu menemukan cara membuatku tertawa.
Sebelum sempat menjawab, seorang perawat muncul tergesa di lorong.
"Dokter Luca, kami membutuhkan Anda."
Dia meringis, ingin sekali terus menggodaku, tapi kewajiban lebih penting.
"Aku segera ke sana."
Luca melangkah beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh ke balik bahunya.
Dia memamerkan senyum percaya diri yang hanya dia punya.
"Tuh kan? Aku tidak pernah salah."
Aku memutar mata, menahan tawa.
"Sana kerja, Dokter."
Dia tertawa dan menghilang di koridor.
Aku melanjutkan langkah.
Begitu membuka pintu ruang bermain, seluruh dunia tertinggal di luar.
Aroma cat poster, lilin mainan, dan buku anak-anak memenuhi ruangan.
Dinding-dinding warna-warni, gambar-gambar berserakan, tawa anak-anak... semuanya punya efek nyaris ajaib padaku.
Di sini, selama beberapa jam, aku bisa melupakan siapa diriku.
Aku melupakan para fotografer.
Aku melupakan para wartawan.
Aku melupakan ciuman itu.
Aku melupakan kekacauan yang seolah tak pernah berakhir.
Di sini, aku bukan gadis yang menghiasi berita utama seluruh negeri.
Aku hanya Bella.
Dan saat ini, hanya itu yang kubutuhkan.