Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Nadia, sini kakak bantuin kamu," ucap Darren sambil membawa belanjaan Nadia.
"Loh, kok kakak bisa ada di sini?. Jangan kak nanti merepotkan mu," ucap Nadia.
Darren membawa semua barang belanjaan Nadia dan memasukkannya ke dalam taksi. Ia pun menarik tangan Nadia untuk masuk ke dalam taksi, dan ia pun ikut mengantar Nadia pulang ke rumah Dimas. Di perjalanan mereka hanya diam dan akhirnya Darren membuka suara terlebih dahulu.
"Apa Lo enggak sakit ketika ngeliat suami Lo bersama wanita lain? Apa kakak harus memberi tau kakak Lo tentang suami Lo itu? Dimas itu sudah keterlaluan nad?," ucap Darren serius.
Nadia menatap Darren dengan tatapan gelisah, dan Nadia memegang tangan Darren.
"Aku mohon jangan kak, aku enggak mau sampai kakak ku tau tentang suamiku. Kalau kakak ku tau, dia pasti marah dan memisahkan aku dengan suamiku," ucap Nadia sambil memohon.
"Tapi kakak enggak sanggup ngeliat Lo sakit, Lo juga butuh kebahagiaan Nadia. Kakak aja yang ngeliat mereka sakit hati banget. Tega banget suami Lo, dia udah nikah sama Lo, masih saja berhubungan dengan wanita seperti itu. Nadia, kakak sudah menganggap Lo sebagai adik kandung kakak. Melihat Lo sakit, kakak juga ngerasa sakitnya," ucap Darren sambil memegang bahu Nadia.
"Kakak sudah lama kan bersahabatan dengan kakakku. Jadi, kakak pasti tau apa yang akan terjadi jika kakakku tau masalah ini? Suamiku akan terluka oleh kakakku, aku tidak ingin dia kenapa Napa kak," ucap Nadia sambil memohon.
"Lo bodoh atau apa sih Nadia, Lo mau aja bertahan dengan pria yang tidak pernah mencintai Lo. Kalau kakak jadi Lo, sudah kakak tinggalin dia. Kakak tau dia cinta pertama dan sahabat Lo semasa kecil yang sudah lama Lo tunggu, tapi dia tidak mengingat Lo Nadia, enggak bakal mungkin, kakak sudah lama berteman dengan Dimas. Kakak tau gimana Dimas, dia enggak bakal inget masa kecil kalian. Itu orang sudah terlanjur bucin dengan wanita tidak tau malu itu. Lo di lupain nad," ucap tegas Darren.
"Aku mohon kak, jangan beri tau kakakku. Ini demi kebaikan suamiku," ucap Nadia sambil memohon.
Darren merasa kasihan kepadanya gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Akhirnya Darren memilih diam dan tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Nadia. Taksi pun berhenti tepat di depan rumah Dimas. Nadia keluar dan membawa batang barang belanjaannya ke dalam rumah. Darren melihat kepergian Nadia dengan tatapan sendu.
"Untuk sekarang kakak akan diam, tapi jika dia sudah menyakiti hati Lo lebih dalam lagi, kakak tidak akan tinggal diam. Kakak akan memberi tau kakak Lo tentang masalah ini Nadia," gumam Darren dan masuk ke dalam taksi untuk pulang ke rumahnya.
*********
Nadia terduduk di dapur dengan ke Asan cemas. Gadis itu benar benar takut jika Darren memberi tau kepada kakak laki lakinya yang sedang bekerja di luar kota mengurus perusahaan ayah mereka.
"Semoga saja kak Darren enggak kasih tau kakak tentang suamiku. Aku takut suamiku kenapa napa ya tuhan," gumam Nadia.
Tiba tiba aja ponsel Nadia berdering, gadis itu terkejut saat melihat kakak laki lakinya menelepon. Nadia menghela nafas pelan dan mulai gugup. Ia memberanikan diri untuk mengangkat telepon dari Nathan, yang berstatus sebagai kakak kandungnya.
"Halo, ada apa kak. Tumben sekali kakak menelepon," ucap Nadia.
["Tidak ada apa apa, emangnya tidak boleh jika kakak menelepon mu? Mentang mentang sudah menikah, Hehehe,"] ucap Nathan.
"Bukan begitu, hanya saja aku kaget kakak tiba tiba meneleponku tanpa mengirim pesan terlebih dahulu," ucap Nadia.
["Kakak hanya rindu dengan adik kesayangan kakak ini, apakah adik kecil kakak baik baik aja di sana?,"] ucap Nathan.
"Nadia baik baik aja kak, gimana dengan kakak?," ucap Nadia.
["Syukurlah, kakak baik baik aja. Oh ya, sebentar lagi kakak akan pulang ke jakarta. Jadi kakak akan membelikanmu hadiah pernikahan untukmu yang dulu belum sempat di beli hehehe,"] ucap Nathan.
"Astaga kak, masih saja ingat hadiah itu hehehe," ucap Nadia.
["Tentu saja Janji kan harus ditepati. Oh ya, kakak lanjut kerja dulu ya. Kamu baik baik saja kan di sana? Jika ada yang menyakitimu, beri tau saja kepada kak oke?,"] ucap Nathan.
Gadis itu terkejut saat mendengar ucapan dari kakaknya. Ia mulai gugup kembali dan terdiam beberapa detik, setelah itu ia menjawab ucapan Darren.
"B-baik kak, semangat kerjanya," ucap Nadia gugup.
Nathan mematikan teleponnya dan menatap keluar jendela kantornya.
"Kakak yakin kamu menyembunyikan sesuatu Nadia. Tapi kakak akan menunggumu memberitahu pada kakak. Jika kamu masih tidak memberi tau juga, kakak akan mencari tau apa yang kamu sembunyikan. Jika kakak tau ada orang yang menyakitimu, siap siap saja orang itu akan menangis darah. Bahkan termasuk suamimu sendiri, karena tidak ada orang yang boleh menyakiti adik kecilku," gumam Nathan yang mencoba menenangkan diri sambil meminum alkohol.
********
Pukul 21.00 WIB. Dimas pulang dan Nadia langsung membuka pintu rumahnya sambil tersenyum. Namun senyumannya itu seketika hilang saat melihat Jessica yang tengah memeluk tangan Dimas. Kemudian Nadia membuka lebar pintu rumah agar kedua orang itu masuk. Ingin marah, namun Nadia tidak bisa karena Dimas pasti akan marah. Nadia tidak ingin membuat Dimas marah, karena pria itu pasti lelah karena baru pulang kerja.
Dimas dan Jessica pun duduk di sofa. "Buatkan saya minum, saya haus," ucap Jessica.
Nadia menatap Jessica dan langsung berjalan ke arah dapur dengan wajah sendu. Dimas hanya diam dan terus saja mengecup punggung tangan Jessica. Hati Nadia sakit saat melihat suaminya yang tengah bermanja manja dengan wanita lain. Setelah membuatkan minum, Nadia berjalan ke arah ruang tamu. Ia meletakkan minuman di atas meja, tanpa melihat suaminya yang tengah bersama wanita lain.
Jessica menatap remeh Nadia. "Aish, modelan kayak gini malah nikah sama pacar saya. Mata keluarga pacar saya sudah enggak bener ini, penampilan biasa kayak gini di bilang cantik. Bajumu terlalu kampungan aish menjijikkan," ucap Jessica.
Nadia menatap Jessica dan memilih untuk tidak menjawab ucapan wanita itu. Ia tidak suka berdebat, saat ia akan masuk ke dalam kamar, tiba tiba bel rumah berbunyi. Nadia langsung saja membuka pintu rumah dan terkejut saat melihat orang yang bertamu pada malam ini.
"Kak Darren, ada apa?," ucap Nadia.
"Ini gue tadi beli brownis, jadi gue beliin buat Lo satu. Lo kan paling suka dengan brownis," ucap Darren.
Nadia tersenyum dan langsung terima brownis tersebut. "Terima kasih kak, masuk du----- eh,"
Ucapan Nadia terpotong saat melihat Darren langsung masuk ke dalam rumah. Darren langsung mengepalkan kedua tangannya saat melihat Dimas dan Jessica tengah berciuman panas.
"Asli enggak punya otak dan perasaan kalian berdua!," bentak Darren.
Ciuman pun terhenti dan mereka berdua menatap Darren, Nadia hanya diam dan berdiri di belakang Darren sambil menundukkan kepalanya.
"Enggak ada tempat lain hah?, enggak cukup kalian sakiti hati gadis baik seperti Nadia?, kalau mau mesra mesraan jangan di sini. Lo Dimas!, bisa enggak Lo hargai perasaan istri lo?!," ucap Darren benar Baner marah.
Nadia memegang tangan Darren. "Udah kak, lebih baik ka------,"
"Ngapain juga Lo Dateng ke rumah gue malem malem gini?," ucap Dimas memotong ucapan istrinya.
"Kak Darren cum------,"
"Lah, Lo aja ajak cewek murahan Lo ke sini. Jadi suka suka gue lah kalau mau datang ke sini," ucap Darren.
Bugh!
Ucapan Darren di hadiahi pukulan keras dari Dimas. Nadia langsung panik dan menjauhkan Darren dari suaminya.
"Udah, Kak Darren cuman mau ngasih brownis ke aku. Jangan pukul dia kak," ucap Nadia yang tak sanggup melihat pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya di pukuli.
Dimas menatap Nadia. "Lo belain dia? Lo suka sama temen gue? Iya? Inget Lo udah punya suami Nadia. Gatel banget Lo jadi cewek!," bentak Dimas.
Nadia langsung menundukkan kepalanya. Darren kesal dan langsung mencengkeram baju yang di kenakan Dimas.
"Apa bedanya sama Lo?, udah nikah, malah bawa pacar ke sini, parah banget jadi cowok!," bentak Darren.
Dimas dan Darren saling melemparkan tatapan tajam. Jessica hanya diam, sedangkan Nadia menahan rasa sedihnya. Dimas akan memukul Darren kembali namun Nadia memegang tangannya.
Kedua matanya sudah berkaca kaca. "Jangan pukul dia, hanya dia orang yang dapat aku percaya, lebih baik kamu fokus saja kepada kekasihmu. Aku tidak akan mengganggu kalian, mesra mesraan saja sesuka hati kalian," ucap Nadia sambil menatap kedua mata Dimas.
Hanya kakaknya dan Darren yang bisa Nadia percaya. Dia ingin mempercayai suaminya sendiri, sepertinya sangat sulit untuk Nadia. Sejak mereka menikah Dimas terus saja memperlihatkan rasa tidak sukanya kepada Nadia. Dimas menepis tangan Nadia dan menarik tangan Jessica untuk keluar dari dalam rumah. Darren menatap Nadia yang tengah menahan air matanya.
Darren memegang kedua pipi Nadia dengan kedua tangannya. "Lo enggak papa? Maafin kakak nad," ucap Darren.