NovelToon NovelToon
AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dosen / Anak Genius
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author: Sara Zefa

Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.

Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.

Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.

Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?

Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WAJAH YANG DIHAPUS

Anaxa hanya tersenyum lemah membalas pertanyaan Keenan. Dirinya sama sekali tidak oke. Apalagi dengan intensitas terror yang meningkat dan sampai ke kos temannya.

Sepanjang pelajaran berlangsung, Anaxa juga tak fokus. Buku bindernya kosong dari catatan. Pulpen hanya digenggam. Omongan dosen juga seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Anaxa baru tersadar dari lamunan nya ketika mahasiswa yang lain pada berdiri dari tempat duduk dan keluar kelas untuk istirahat

Anaxa tetap di tempat duduknya. Dia memijat kepalanya yang sedikit pusing. Dirinya terlalu setres. Sampai akhirnya teman sekelompok nya mengerubungi tempat duduknya.

"King! Lagi gak enak badan lagi kah?" Tanya Keenan. Tatapan matanya terlihat khawatir.

Anaxa berhenti memijat kepalanya. Kemudian menggeleng. "Enggak... Cuma lagi setres sama urusan kerja."

"Serius nih? Kamu terlihat berantakan, Anaxa" Ucap Ribka tak kalah khawatir.

Anaxa menjawab pertanyaan nya dengan anggukan kepala.

"Itu kardus apa? Wahh laptop Apple?" Ucap Dimas yang malah salah fokus saat tatapan nya menyasar ke lantai dekat kursi Anaxa.

"Iya. Baru beli. Upgrade. Masalah kantor."

"Inimah Anaxa udah menang telak hahaha. Laptop Apple. Ehh ponselmu juga baru ya?" Ribka tertawa ringan

Teman kelompok yang lain malah jadi heboh soal perangkat Apple yang Anaxa punya, namun Alya tetap memandang Anaxa dengan khawatir. Dan akhirnya Alya menjulurkan tangannya menyentuh dahi Anaxa seolah-olah mengukur panas tubuhnya.

"Tidak demam. Baguslah. Perlu istirahat supaya lebih fokus belajar." Ucap Alya kemudian menarik kembali ukuran tangannya.

Sementara Anaxa sedikit tertegun. Dia tidak pernah kontak fisik seperti itu dengan perempuan. Dan akhirnya Anaxa malah gelagapan sendiri. Dia menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.

"Ciee Alya perhatian banget. Kiww." Keenan menggoda Alya. Namun Alya tak menggubris nya. Dimas dan Ribka terkekeh pelan karena moment lucu itu.

"A.. Ayo ke kantin. Makan" Ucap Anaxa seakan ingin kabur dari situasi memalukan tersebut. Yang lain menyetujui ucapan Anaxa. Lalu mereka pergi ke kantin bersama.

Anaxa memesan mie ayam. Dimas dan Keenan memesan fried chicken. Sementara Alya dan Ribka memesan nasi bento.

Mereka duduk bersama tepat di tengah-tengah kantin. Awalnya Anaxa sempat ingin memprotes pemilihan tempat duduknya. Karena biasanya dia duduk di pojokan makan sendiri tidak ada yang menemani. Namun melihat teman-teman nya yang pada duduk di tengah-tengah kantin sambil berceloteh dengan senang, membuat Anaxa mengurungkan perkataannya.

Anaxa duduk di kantin dengan suasana yang baru. Dan anehnya, semakin lama dia bersama teman-teman nya di kantin... Rasanya semakin nyaman. Dan itu perasaan baru bagi Anaxa.

Anaxa tersenyum tipis lalu lanjut menyantap mie ayamnya. Namun dia kembali tertegun saat Alya tanpa kata sedikitpun menaruh sebuah egg roll bentonya ke mangkuk Anaxa.

Alya hanya mengatakan ini saat Anaxa menatapnya dengan bingung. "Makan yang banyak. Biar gak terlalu kurus."

Kali ini Ribka yang cie-cie in Anaxa. Sedangkan Keenan? Tentu saja Keenan sudah heboh sendiri berceloteh ria. Dimas hanya tersenyum melihat moment manis didepan nya.

Wajah Anaxa sedikit bersemu merah. "Rhh... Terimakasih banyak." Dan dibalas dengan anggukan Alya. Sedangkan Keenan masih asik cie-cie in Anaxa.

Dan tak terasa waktu berjalan cepat hingga sampai lah di sore hari. Saat ini Anaxa dan teman sekelompok nya sedang melanjutkan tugas di perpustakaan. Anaxa kembali meminjam buku kemarin yang tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang.

Anaxa kembali tenggelam dalam bacaannya. Sesekali tangannya bergerak mencoret buku bindernya dengan analisis yang didapatkan nya. Sampai beberapa saat kemudian, perhatian Anaxa malah salah fokus ke salah satu halaman. Anaxa menemukan kode EVA-213. Dan detail kecil tersebut sukses mengaktifkan rasa penasaran Anaxa.

Dengan cepat Anaxa bangun dari kursinya dan melangkah ke komputer yang tersedia di perpustakaan. Dia mencari-cari tentang EVA-213 di data base perpustakaan.

Anaxa mendapatkan arsip perpustakaan. Skripsi lama. Dan juga banyak nama projek yang di sensor. Anaxa mengernyitkan alisnya karena bingung. "Apa-apaan semua ini?"

Dan Anaxa mencari informasi EVA-213 dengan lebih dalam. Sampai akhirnya dia menemukan foto angkatan lama dengan satu wajah dicoret

Anaxa memperbesar foto itu dan meneliti fotonya. Tampak seperti foto dari kegiatan mahasiswa beberapa tahun yang lalu. Sekumpulan mahasiswa berdiri di depan gedung fakultas dengan senyum lebar, sebagian memegang sertifikat, sebagian lagi merangkul teman di sebelahnya.

Tepat di bawah foto terdapat keterangan:

"Kelompok Penelitian EVA-213."

Anaxa mengernyit. "EVA... lagi?"

Jarinya menggeser layar komputer perlahan. Di bawah foto terdapat beberapa nama anggota penelitian. Sebagian masih bisa terbaca, tetapi beberapa bagian telah disensor.

Anaxa membaca satu per satu.

Nama pertama.

Nama kedua.

Nama ketiga.

Kemudian berhenti pada satu baris.

[DATA DIHAPUS]

Anaxa menelan ludah. "Kenapa nama satu orang harus dihapus?" Ujarnya sambil mencari arsip lain yang berkaitan.

Tidak ada!

Kali ini Anaxa membuka skripsi lama yang berkaitan dengan EVA-213. Beberapa halaman masih tersedia, tetapi bagian mengenai subjek penelitian telah dihilangkan.

Anaxa semakin penasaran. Dia kembali ke foto tadi. Matanya memperhatikan wajah yang dicoret. Entah kenapa... Wajah itu terasa familiar. Bukan karena Anaxa mengenalnya. Melainkan karena bentuk wajah, rambut, dan posisi berdirinya mengingatkan Anaxa pada seseorang yang baru beberapa hari terakhir terus muncul dalam kehidupannya.

Anaxa menggeleng cepat. "Tidak mungkin."

Dia memperbesar foto sekali lagi. Kemudian matanya berpindah ke tulisan kecil di bagian bawah. EVA-213 — Observasi Perilaku Mahasiswa Dewasa Awal.

Jantung Anaxa langsung berdegup lebih cepat. "Observasi perilaku..." Tangannya perlahan turun dari mouse.

Kalimat-kalimat dalam amplop coklat kembali terlintas di kepalanya.

Subjek mendapatkan teman baru.

Subjek menunjukkan perubahan perilaku.

Subjek menghabiskan malam di tempat tinggal dua individu yang baru dikenalnya.

Anaxa terdiam.

Formatnya terlalu mirip.

Bukan sekadar laporan biasa.

Ada seseorang yang sedang mengamati perilakunya dengan pola yang sama.

Namun sebelum Anaxa sempat membuka arsip berikutnya....

"Anaxa?"

Suara Ribka terdengar dari belakang.

Anaxa tersentak dan dengan cepat dia menutup halaman pencariannya.

Ribka sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa dua buku.

"Ngapain sendirian di sini?"

Anaxa menatap layar komputer yang sudah kembali ke halaman katalog perpustakaan.

"...Nyari referensi tambahan."

Ribka mengangkat alis. "Serius?"

Anaxa mengangguk. "Serius."

Ribka tidak langsung menjawab, hanya memandang Anaxa beberapa detik, kemudian menyerahkan salah satu buku kepadanya. "Dimas nyuruh kamu balik. Kita mau mulai susun analisis."

Anaxa menerima buku itu. "Iya. Sebentar."

Ribka pergi lebih dulu.

Anaxa kembali menatap komputer. Halaman tentang EVA-213 memang sudah tertutup. Tetapi pikirannya tidak bisa ikut tertutup.

EVA-213.

Subjek.

Observasi perilaku.

Wajah yang dihapus.

Dan sekarang...

Amplop coklat.

Anaxa mendadak diserang pusing lagi. Dia refleks memijat kepalanya. Beberapa saat kemudian dia bangkit dari duduknya sambil membawa buku yang tadi diberikan Ribka.

Sepanjang perjalanan kembali ke mejanya, Anaxa memikirkan suatu rencana untuk menguji teorinya terkait terror amplop coklat

Tak membuang waktu lagi, Anaxa langsung berkata. "Alya. Bisa bicara berdua sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!