Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kentongan malam berbunyi dua kali ketika Yu Tian menyusuri gang sempit di dekat gerbang barat. Lentera-lentera toko sudah lama padam, dan satu-satunya cahaya datang dari warung beratap rumbia di ujung gang, kuning pucat dan bergoyang di antara kabut tipis.
Ia mengenali tiga meja kayu dengan kaki yang diganjal batu itu. Belum lama ini, di tempat yang sama, ia mendengar nama Menara Penguasa Langit dari tiga lelaki yang berdebat sambil menyeruput mi.
Di meja paling ujung, membelakangi dinding, duduk seorang pemuda berjubah abu-abu dengan tudung menutupi separuh wajahnya. Semangkuk mi di hadapannya sudah berhenti mengepul, dan sumpitnya hanya mengaduk kuah tanpa pernah terangkat ke mulut.
Tangan kirinya bertumpu pada kotak kayu kecil di pinggang, jari-jarinya mengetuk tutupnya dalam irama yang gelisah. Embun sudah mengendap di ujung tudung itu, dan Yu Tian tahu pemuda itu menunggu jauh lebih lama daripada yang pantas dilakukan seorang jenius sekte.
Perempuan tua berapron berminyak sedang menyeka mangkuk di dekat tungku dengan mata setengah terpejam.
"Satu mi kuah, yang paling pedas." Yu Tian meletakkan dua keping tembaga di tepi meja, tepat dua, tanpa kembalian. Perempuan itu mengangguk tanpa bertanya dan menghilang ke balik tirai dapur. 'Satu tael untuk semangkuk mi seharga dua koin. Kali ini hitunganku benar.'
Ia menarik bangku di seberang Gu Chen dan duduk dengan punggung bersandar, kedua tangan terlipat di dada. Pemuda itu mengangkat wajah sedikit saja, cukup untuk memperlihatkan matanya di bawah tudung, dan tidak berkata apa-apa. Semangkuk mi datang dengan uap cabai yang menyengat hidung, dan Yu Tian mengambil sumpit tanpa tergesa-gesa.
Setelah satu suapan, barulah ia membuka mulut dengan nada datar. "Topeng ini tidak ketahuan di hadapan penjaga gerbang maupun tetua. Jadi katakan, bagaimana kau bisa mengungkapnya?"
Gu Chen menahan napas sejenak, lalu tertawa pendek dan kering, dan bahunya yang tegang akhirnya mengendur.
"Jangan panggil aku jenius kalau aku malah tertipu dengan penyamaran bodoh ini." Ia menyandarkan siku ke meja dan mendorong tudungnya ke belakang. "Wajahmu boleh berganti, tapi caramu berdiri tidak. Kau menatap semua orang dari atas, bahkan saat menjabat tanganku di lorong istana. Tidak ada teknik yang bisa menyembunyikan itu."
Yu Tian menatapnya lama, dan sudut matanya berkedut sekali.
'Ditegur soal kesombongan oleh bocah yang baru menyentuh Inti Emas.' Ia tidak membantah. Ia menyuap sesendok mi lagi, mengunyahnya pelan, lalu meletakkan sumpit di pinggir mangkuk. "Cukup soal itu. Kau tidak memanggilku jam dua malam untuk membahas caraku berdiri. Ada apa sebenarnya?"
Gu Chen menegakkan punggung, dan senyumnya lenyap begitu saja. Ia melirik ke arah tirai dapur, memastikan perempuan tua itu belum kembali, lalu merendahkan suara. "Kau sudah tahu nama kaisar kita?"
Yu Tian mengangguk dan menyeka bibir dengan punggung tangan. "Gu Zi Mo. Dia sendiri yang menyebutnya."
Jari Gu Chen berhenti mengetuk kotak kayu.
"Gu Zi Mo. Ingat marganya, lalu dengarkan aku." Ia menatap lurus ke mata Yu Tian tanpa berkedip. "Gu Chen bukan nama asliku. Nama itu kupakai sejak kabur dari istana, supaya bisa menjadi lebih kuat di luar sana dan suatu hari kembali untuk merebut takhta lewat kudeta. Nama asliku Gu Zi Chen."
Yu Tian membeku. Sumpit yang baru terangkat berhenti di udara, dan sehelai mi menetes kembali ke kuah.
'Marga Gu, nama Zi. Tadi di aula istana aku bertanya dalam hati, kebetulan atau ada hubungan. Ternyata bukan kebetulan. Pemuda yang menahan tawa di lorong istana itu adalah seorang pangeran.' Ia menurunkan sumpit pelan-pelan dan berkata datar, "Aku baru saja menjabat tangan seorang pangeran tanpa membungkuk."
Gu Chen mendengus, tetapi sudut bibirnya hanya naik setengah. "Dan kuharap kau tidak mulai membungkuk sekarang. Aku sudah terlalu lama dikelilingi orang yang melakukannya."
"Lalu untuk apa kau memberitahuku semua ini?" Yu Tian bersandar lagi, dan matanya menyipit menimbang pemuda di seberangnya.
"Bantu aku mengkudeta Gu Zi Mo." Suara Gu Chen rendah dan mantap, tanpa getar sedikit pun. "Babi itu sudah membuat rakyatnya sengsara."
Dahi Yu Tian berkerut dalam. Ia teringat lorong marmer, atap-atap genting kuning, kolam koi, dan barisan prajurit yang berdiri rapi di sepanjang jalan. "Sengsara? Yang kulihat sejak masuk gerbang barat adalah istana berlapis emas dan jalan yang bersih. Tidak satu pun pengemis, tidak satu pun gelandangan. Dan kau memintaku menggulingkan kaisar dari negeri serapi ini?"
Gu Chen tidak menjawab. Ia berdiri, menarik tudungnya kembali ke atas kepala, dan meletakkan beberapa koin di samping mangkuknya yang tak tersentuh. "Ikut aku. Sebelum fajar, kau akan mengerti sendiri."
Yu Tian melirik mangkuknya yang baru berkurang dua suap, dan menghela napas panjang lewat hidung.
'Mi sepedas ini, dan dia menarikku pergi.' Ia berdiri, menyambar sumpit, memasukkan satu gulungan mi terakhir ke mulutnya sambil mengunyah cepat, lalu mengikuti punggung pangeran itu menyusuri gang yang gelap.