Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN YANG TIDAK TERBALAS
Ruang kerja Elma dipenuhi tumpukan dokumen dan beberapa berkas perkara, serta catatan-catatan kecil yang sejak pagi memenuhi meja kerjanya. Di hadapannya, sebuah laptop menampilkan rangkaian surel antara pihak agensi dan Evelyn, sementara beberapa lembar kontrak terlihat terbuka di sisi kanan meja. Elma menyandarkan punggungnya sejenak, kemudian mengembuskan napas panjang. Kasus Evelyn ternyata jauh lebih rumit daripada yang mereka perkirakan.
Awalnya, Elma mengira persoalan tersebut hanya berkaitan dengan pelanggaran kontrak dan tuntutan ganti rugi dari pihak agensi. Namun, setelah memeriksa dokumen tambahan yang dikirimkan Karin pagi tadi, ia menemukan sejumlah kejanggalan yang berpotensi mengubah arah perkara. Ada ketidaksesuaian tanggal dalam dokumen persetujuan, sejumlah korespondensi yang sengaja tidak disertakan dalam berkas awal, serta satu klausul kontrak yang dapat digunakan pihak agensi untuk memperkuat tuntutannya.
"Kalau kita hanya berpegang pada pernyataan Evelyn, kemungkinan besar kita akan kesulitan di persidangan," ujar Karin sambil meletakkan sebuah map di atas meja.
Elma mengangkat pandangannya. "Karena itu, kita tidak bisa membangun pembelaan hanya berdasarkan ceritanya. Aku ingin tahu siapa yang pertama kali mengajukan perubahan kontrak dan siapa yang memberikan persetujuan atas nama Evelyn."
Karin menarik kursi dan duduk di hadapannya. "Aku sudah meminta salinan komunikasi internal agensi. Mereka belum memberikan semuanya."
"Berarti ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan."Ucap Elma.
"Atau mereka sengaja menunggu sampai kita melakukan kesalahan."
Elma tersenyum tipis. Ia kembali memperhatikan dokumen di hadapannya. "Kalau begitu, jangan berikan kesempatan kepada mereka. Kita harus tahu setiap celah sebelum mereka menggunakannya untuk menyerang."
Karin mengangguk. "Bagaimana dengan strategi persidangannya?"
Elma mengambil pulpen, kemudian melingkari salah satu bagian dalam kontrak. "Kita pisahkan dua persoalan. Pertama, apakah Evelyn benar-benar melakukan pelanggaran sebagaimana yang dituduhkan. Kedua, apakah pihak agensi sudah menjalankan kewajiban mereka sesuai kontrak."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Jangan sampai kita sibuk membantah kesalahan Evelyn, tetapi melupakan kemungkinan bahwa pihak agensi juga melakukan pelanggaran."
Karin memperhatikan penjelasan itu dengan saksama. "Jadi, kita akan menyerang dari dua sisi?"
"Bukan menyerang tanpa dasar. Kita mencari fakta. Kalau memang ada pelanggaran dari pihak mereka, kita gunakan. Kalau tidak ada, kita jangan mengada-ada."
Elma menutup salah satu map, lalu menggesernya ke arah Karin.
"Aku ingin kau menghubungi mantan manajer Evelyn. Cari tahu siapa yang mendampingi proses penandatanganan kontrak tersebut. Sementara itu, aku akan memeriksa seluruh dokumen pembayaran dan korespondensi agensi."
"Baik. Aku kerjakan sekarang."
Karin baru saja berdiri ketika ponsel Elma yang terletak di samping laptop bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Nama Maxime Sinclair terlihat di layar itu. Elma hanya melirik sekilas sebelum kembali memperhatikan dokumennya. Namun, ketika ponsel itu kembali bergetar beberapa detik kemudian, ia akhirnya mengambil benda tersebut. Satu pesan singkat muncul di layar.
Maxime: Maaf.
Elma terdiam. Hanya satu kata, tidak ada penjelasan, tidak ada alasan, bahkan tidak ada kalimat tambahan yang menjelaskan apa sebenarnya yang sedang dimintakan maaf oleh laki-laki itu. Elma membaca pesan tersebut sekali lagi. Pikirannya sempat kembali pada percakapan mereka malam itu, ketika Maxime menolak untuk bicara jujur padanya. Penolakan itu masih meninggalkan kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang. Ia meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Namun, belum sampai satu menit, layar ponsel itu kembali menyala.
Maxime: Kau sibuk?
Elma mengangkat sebelah alis. Beberapa detik kemudian, pesan lain menyusul.
Maxime: Sudah makan siang?
Elma menatap layar dengan ekspresi datar. Ia hampir tidak percaya bahwa laki-laki yang biasanya begitu tegas dalam memberikan instruksi kepada orang lain kini justru terlihat kesulitan memulai percakapan dengannya. Sebelum sempat membalas, sebuah pesan kembali masuk.
Maxime: Aku tahu kau sedang marah kepadaku.
Maxime: Tapi setidaknya jangan lupa makan.
Elma mengembuskan napas pelan. Ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda dari rangkaian pesan itu. Maxime sedang berusaha menghubunginya, meskipun dengan cara yang sangat sederhana.
Sayangnya, Elma belum memiliki keinginan untuk membicarakan persoalan pribadi mereka.
"Elma?"
Suara Karin membuatnya mengalihkan perhatian.
"Ya?"
"Kau sudah menemukan sesuatu?"
Elma segera mengunci layar ponselnya. "Belum. Aku sedang memeriksa bagian yang ini."
Karin mengangguk dan kembali menjelaskan temuannya. Percakapan mereka berlanjut cukup lama. Elma kembali tenggelam dalam pekerjaan, sesekali memberikan instruksi kepada Karin dan mencatat beberapa kemungkinan strategi yang dapat mereka gunakan.
Sementara itu, di tempat lain, Maxime masih menatap layar ponselnya. Tidak ada balasan.
Ia meletakkan ponsel di atas meja, kemudian kembali membuka dokumen yang sejak tadi dibacanya. Namun, perhatiannya beberapa kali teralihkan oleh benda kecil di samping tangannya. Maxime bukan seseorang yang terbiasa mengejar percakapan. Dalam lingkungan bisnis, orang-oranglah yang menunggu instruksi darinya. Ia tidak perlu mengulang perkataan ataupun mencari alasan untuk mendapatkan perhatian seseorang. Namun, situasinya dengan Elma berbeda. Ia tahu bahwa satu kata maaf tidak cukup untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi. Terlebih lagi, ia belum menemukan keberanian untuk menceritakan keseluruhan masa lalu mereka berdua. Meski begitu, ia tidak ingin hubungan mereka terus berada dalam keadaan seperti sekarang.
Akhirnya, Maxime kembali mengambil ponselnya.
Ada satu hal yang perlu ia sampaikan kepada Elma.
Maxime: Minggu depan ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu.
Ia menunggu beberapa saat sebelum kembali mengetik.
Maxime: Alexander dan Viviene mengadakan makan malam keluarga. Kita diundang.
Maxime membaca ulang pesannya sebelum mengirimkan pesan berikutnya.
Maxime: Kalau kau tidak keberatan, kita bisa pergi bersama.
Kali ini, ia tidak langsung meletakkan ponselnya.
Ia menunggu, tapi belum ada balasan dari Elma.
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit, Elma akhirnya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat. Karin sedang keluar untuk menemui salah satu klien, sementara Elma memilih tetap berada di ruang kerjanya. Ia mengambil ponsel dan membuka percakapan yang sejak tadi mengirimkan beberapa notifikasi. Matanya membaca pesan Maxime satu per satu. Permintaan maaf yang singkat. Pertanyaan tentang kesibukannya. Perhatian kecil tentang makan siang. Kemudian undangan menghadiri ulang tahun pernikahan Alexander dan Viviene.
Elma terdiam beberapa saat. Ia tidak memiliki masalah menghadiri acara tersebut. Alexander dan Viviene adalah orang tua Maxime, dan selama ini keduanya selalu memperlakukannya dengan baik. Ia juga memahami bahwa acara itu merupakan salah satu pertemuan keluarga yang penting. Namun, ada satu hal yang membuatnya enggan memberikan jawaban sederhana. Maxime mengajaknya pergi bersama seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Seolah-olah satu kata maaf sudah cukup untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
Elma mengetik balasan.
Elma: Aku akan mengatur waktuku. Kalau tidak ada agenda lain, aku akan datang.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pesan lain.
Elma: Tolong sampaikan ucapan selamat ulang tahun pernikahan dari aku untuk Ayah dan Ibu. Semoga mereka selalu bahagia.
Pesan itu terkirim.
Elma kembali membaca balasannya sebelum meletakkan ponsel. Beberapa saat kemudian, ia teringat bahwa ada satu hal lain yang perlu dipastikan.
Elma: Untuk acaranya, apakah ada ketentuan pakaian tertentu?
Setelah mengirimkan pesan terakhir, Elma meletakkan ponselnya dan kembali membuka laptop. Ia tidak berniat menunggu balasan Maxime. Namun, ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Di ruang kerjanya, Maxime sedang membaca dua pesan pertama yang dikirimkan Elma. Ia menghela napas lega ketika mengetahui istrinya bersedia menghadiri acara tersebut. Setidaknya, Elma tidak menolak ajakannya. Namun, ketika matanya turun pada pesan terakhir, ekspresinya berubah sedikit.
Ia mengetik sebuah balasan.
Maxime: Tidak ada ketentuan khusus. Kenakan apa pun yang membuatmu nyaman.
Beberapa detik berlalu dan Maxime kembali mengetik.
Maxime: Kalau kau mau, kita bisa memilih pakaian bersama.
Kali ini, ia menunggu lebih lama. Tidak ada balasan.
Maxime memeriksa kembali layar ponselnya. Pesan tersebut sudah terkirim dan terbaca, tetapi Elma tidak memberikan tanggapan. Ia menyandarkan punggung pada kursinya.
Sebenarnya, ia ingin mengatakan lebih banyak. Ia ingin bertanya bagaimana pekerjaan Elma, apakah persidangannya berjalan baik, atau apakah istrinya sudah makan siang. Namun, ia mengurungkan niatnya. Mungkin Elma memang sedang sibuk. Mungkin pula perempuan itu sengaja tidak melanjutkan percakapan karena masih menyimpan kekecewaan. Apa pun alasannya, Maxime tidak bisa memaksanya.
☆