NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Benturan Logika dan Realitas

Hantaman realitas yang begitu brutal menghantam kesadaran Lin Wanru tanpa ampun. Setelah bentrok verbal yang menegangkan dengan sang paman, Lin Dehai, sisa-sisa tenaga yang dikerahkannya dari memori tubuh asli mendadak sirna.

Kaki jenjangnya yang di dunia modern terbiasa melangkah tegap di atas lantai marmer kilap gedung pencakar langit, kini terasa begitu ringan, kosong, dan rapuh.

Bruk!

Tubuh kurus kering itu limbung sebelum sempat mencapai tepi ranjang kayu yang keras. Wanru ambruk seketika ke atas kasur jerami yang berdebu, napasnya tersengal-sengal dalam ritme yang tidak beraturan.

Kulit pucatnya dibanjiri keringat dingin, dan pandangannya langsung kabur, digantikan oleh kegelapan pekat yang merayap cepat.

"Wan-er! Ya Tuhan, Wan-er!"

Jeritan histeris Nyonya Lin memecah kesunyian gubuk reyot itu. Wanita paruh baya yang sejak tadi menahan sakit di dadanya langsung merangkak mendekati ranjang, mengabaikan sekujur tubuhnya yang gemetar hebat.

Ia kemudian meraih tangan putri sulungnya yang terkulai lemas. Kulit tangan itu terasa dingin bagaikan es.

"Ibu... Kakak kenapa? Jangan tinggalkan Bao-er..." Lin Bao kecil ikut berlari mendekat, dan memeluk kaki ibunya sambil menangis histeris. Air mata dan ingus bercampur di wajah kecil anak itu yang kotor karena debu lantai. Isakannya begitu memilukan, menggema di dinding-dinding kayu yang lapuk dan berlubang.

Nyonya Lin menempelkan telinganya ke dada sang anak, mendengarkan detak jantung yang terasa begitu lemah, dan nyaris tak bersuara. Ketakutan terbesar seorang ibu adalah kehilangan buah hati tercinta setelah suaminya tiada yang mencengkeram erat tenggorokannya.

"Bawa air... cepat ambilkan air hangat, Bao-er! Kakakmu... detak jantungnya sangat lemah..." racau Nyonya Lin di sela-sela batuknya yang menyiksa. Rumah itu diliputi kepanikan, sebuah pemandangan tragis di mana kemiskinan merenggut segalanya, bahkan hak untuk sekadar hidup sehat.

Sementara dunia nyata bergemuruh dalam tangis dan keputusasaan, di dalam kesadaran bawah sadar Lin Wanru, sebuah pertarungan hebat sedang terjadi.

"Mimpi, ini semua pasti mimpi. Bagaimana bisa aku berada di tempat berbeda seperti ini? Ya, kecelakaan mobil, tadi aku kecelakaan mobil, mungkin aku sedang terbaring koma di rumah sakit dan merasakan mimpi aneh ini," batin Lin Wan berteriak di dalam ruang gelap ingatannya.

Bagi seorang CEO modern yang hidup berpijak pada data empiris, logika bisnis, dan sains rasional, konsep perpindahan jiwa atau transmigrasi adalah lelucon paling tidak masuk akal yang pernah ada.

Di dalam benaknya, memori tentang gedung GreenTerra, laporan keuangan kuartal ketiga, deru mesin mobil mewah yang menabrak pembatas jalan, serta bau sterilisasi rumah sakit modern masih berputar sangat jernih.

"Bangun, Lin Wanru! Buka matamu! Ini hanya efek obat bius atau halusinasi akibat koma di ruang ICU." Ia terus memprotes dirinya sendiri. Ia mencoba memerintahkan otaknya untuk bangun, menggerakkan tangan, dan memanggil perawat rumah sakit modern.

Namun, semakin ia mencoba melawan, semakin kuat pula aroma apek jerami busuk, rasa sakit di sekujur tulang, dan suara isakan tangis bocah kecil menembus batas kesadarannya. Suara itu terasa terlalu nyata, terlalu menyayat hati untuk sekadar disebut sebagai mimpi buruk di alam bawah sadar.

Setelah beberapa jam berada dalam pingsan yang panjang dan melelahkan, perlahan-lahan kelopak mata Lin Wanru bergerak. Bulu matanya yang basah oleh keringat bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka lebar.

Cahaya remang-remang sore hari menyusup melalui celah-celah atap jerami yang bocor, menyinari wajahnya yang pucat. Wanru mengerjapkan matanya berulang kali, berharap saat ia membuka mata untuk kedua kalinya, pemandangan langit-langit kaca rumah sakit modern atau penthouse nya yang mewah akan menyambut.

Namun, yang tertangkap oleh retinanya tetaplah sama, bilah-bilah kayu hitam yang lapuk, jaring laba-laba di sudut ruangan, serta aroma apek tanah dan kemiskinan yang menusuk hidung.

"Wan-er... Oh, para leluhur, kau sudah sadar? Kau benar-benar membuka matamu, Nak!"

Suara tangis penuh syukur pecah dari bibir Nyonya Lin. Wanita itu langsung memeluk tubuh Wanru dengan hati-hati, seolah takut putrinya akan hancur jika disentuh terlalu keras.

Di sampingnya, Lin Bao melompat kecil sambil menyeka air matanya, senyum kelegaan merekah di wajah kecilnya yang kurus.

Bagi Nyonya Lin dan Lin Bao, kesadaran Wanru adalah sebuah keajaiban besar, sebuah anugerah di tengah jurang kematian yang nyaris merenggut nyawa gadis itu.

Namun, bagi Lin Wan sendiri, situasi ini justru memicu gelombang penolakan psikologis yang luar biasa.

Jiwa sang CEO modern berontak sejadi-jadinya. Pikirannya menolak mentah-mentah realitas tempat ia berada saat ini.

"Tidak, ini tidak benar. Aku hanya bermimpi!" batin Lin Wan berteriak histeris, sementara sekujur tubuhnya gemetar hebat.

Ia mencoba meronta dan mengangkat tangannya untuk mendorong wanita paruh baya di hadapannya, dan berteriak bahwa semua ini adalah lelucon buruk.

Namun, tubuh remajanya yang kekurangan gizi sama sekali tidak merespons perintah otaknya. Otot-ototnya kaku, tulangnya terasa remuk, dan tenaganya terkuras habis hingga nyaris tak tersisa.

Melihat putrinya tiba-tiba meronta dengan mata melotot liar dan napas memburu, Nyonya Lin merasa panik. "Wan-er, ada apa? Kenapa tanganmu dingin sekali? Jangan menakuti Ibu, Nak. Apakah dadamu masih sakit?"

"Lepaskan..." suara Wanru keluar begitu serak, parau, dan nyaris seperti bisikan angin. Ia menatap Nyonya Lin dan Lin Bao dengan sorot mata yang dipenuhi kebingungan, kefrustrasian, dan penolakan total.

Bukan karena ia tidak menghargai mereka, melainkan karena otak rasionalnya menolak untuk mempercayai bahwa dunianya telah lenyap dalam satu kedipan mata.

Jabatan CEO, kekayaan miliaran, proyek agrikultur global, dan seluruh pencapaian hidupnya di abad ke-21 musnah begitu saja, menggantikannya dengan sebuah gubuk reot di era dinasti kuno yang bahkan tidak memiliki jaminan untuk makan esok hari.

"Ini tidak masuk akal... Ini sama sekali tidak masuk akal!" bisik Wanru pada dirinya sendiri, air mata kefrustrasian akhirnya tumpah membasahi pipinya, bukan karena kesedihan tubuh asli, melainkan kepedihan jiwa modern yang terperangkap di dalam sangkar sejarah.

Melihat air mata sang putri yang mengalir deras, Nyonya Lin mengira putrinya menangis karena trauma atas ancaman paman mereka dan ketakutan akan dijual ke rumah bordil.

Dengan penuh kelembutan, tangan wanita paruh baya yang kasar dan penuh luka itu mengusap kepala Wanru, dan membelai rambut kusut gadis itu dengan penuh kasih sayang seorang ibu.

"Jangan takut, Wan-er... Jangan takut, Nak," bisik Nyonya Lin dengan suara parau yang bergetar. "Ibu ada di sini. Selama Ibu masih bernapas, Ibu tidak akan membiarkan siapapun membawamu pergi. Walaupun kita harus mati kelaparan di gubuk ini, Ibu akan melindungi kalian..."

Sentuhan hangat itu... elusan tangan seorang ibu yang tulus dan tanpa syarat, perlahan-lahan meresap ke dalam kesadaran Lin Wanru yang sedang kacau balau.

Di dunia aslinya, Wanru adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan sebelum akhirnya berjuang sendirian meniti tangga karier korporasi.

Ia tidak pernah merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Sentuhan sederhana dari Nyonya Lin bagaikan sebuah jangkar yang menahan perahu jiwanya agar tidak hancur berkeping-keping di tengah badai kebingungan.

Secara perlahan, isakan tertahan di dada Wanru mereda. Napasnya yang tadinya memburu mulai teratur.

Ia menatap wajah Nyonya Lin yang penuh kerutan penderitaan, lalu beralih menatap Lin Bao yang memegang erat ujung bajunya dengan mata penuh kekhawatiran.

Di dalam benaknya, sang CEO ulung mulai menarik napas dalam-dalam, membuang jauh-jauh rasa tidak percaya diri, dan mematikan kepanikan emosionalnya.

"Baiklah. Jika semesta ini ingin aku mati di sini, maka aku akan membuktikan bahwa aku bisa hidup. Jika aku harus berada di era kuno yang kejam ini, maka aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menginjak-injak harga diriku lagi," batin Lin Wanru, tatapan matanya yang tadi kosong dan rapuh kini berubah tajam, dingin, dan dipenuhi tekad baja.

Wanru menarik napas panjang, lalu menegakkan sedikit posisi kepalanya meski otot lehernya masih terasa nyeri. Ia menatap ibunya dengan sorot mata yang kini jauh lebih tenang dan berwibawa, sorot mata seorang pemimpin yang sedang menyusun strategi bertahan hidup.

"Ibu," panggil Wanru, suaranya kini terdengar lebih tegas, meskipun masih terdengar lemah.

Nyonya Lin terkejut sesaat, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan putrinya. Sorot mata itu tidak lagi menunjukkan keputusasaan atau ketakutan seperti sebelumnya, melainkan sebuah ketenangan yang mengerikan. "Ya, Wan-er? Ada apa, Nak? Kau butuh sesuatu?"

Wanru menggeleng pelan. Ia melayangkan pandangannya ke seluruh sudut gubuk yang bocor, menghitung dalam kepalanya segala kelemahan dan potensi yang ada di tempat itu.

Utang tiga tael perak kepada Paman Lin Dehai, waktu tenggat tiga hari, perut kosong, tidak ada modal, serta lingkungan masyarakat feodal yang kejam.

Bagi orang biasa, ini adalah vonis mati. Namun, bagi seorang ahli strategi agrikultur dan bisnis modern, ini hanyalah sebuah kasus krisis yang harus diselesaikan dengan analisis pasar dan manajemen risiko.

"Berapa sisa bahan makanan yang kita miliki di dapur, Ibu?" tanya Wanru langsung to the point.

Nyonya Lin tampak ragu-ragu sejenak sebelum menjawab dengan suara pelan dan penuh rasa bersalah, "Dapur... di dapur hanya tersisa setengah mangkuk sekam padi kasar dan segenggam kecil akar sayuran liar yang kemarin kau pungut di pinggir hutan..."

Wanru mengangguk pelan. Setengah mangkuk sekam padi dan akar sayuran. Modal awal yang sangat mengenaskan. Namun, di tangan seorang ahli yang memahami bioteknologi dan nilai tukar bahan pangan, bahkan sehelai rumput liar pun bisa diubah menjadi sumber kehidupan.

"Baiklah," ucap Wanru sambil mencoba menggerakkan kedua kakinya yang terasa kaku, dan bersiap untuk bangkit dari ranjang. "Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh menangis di rumah ini. Kita tidak akan mati kelaparan, dan kita tidak akan pernah membiarkan paman sialan itu menginjakkan kaki di halaman kita lagi."

Nyonya Lin dan Lin Bao tertegun, mereka menatap gadis remaja di hadapan mereka dengan perasaan takjub bercampur gentar.

Mereka tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh gadis itu, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, secercah harapan yang hangat mulai menyala di dalam gubuk reyot yang dingin tersebut.

Bersambung...

1
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!