NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

" Lo bener bener ya !" Ucap ashilla kesal. Ashilla tak bisa berkata-kata Dengan jengkel ia mendiami Dylan. Seolah Dylan hanya lah sosok tak kasat mata . Dylan menarik sala satu tangan ashilla. Tidak kasar tapi membuat ashilla terhuyung menubruk dada bidang nya.

Ashilla mendorong tubuh Dylan dengan sekuat tenaga. Namun Dylan sama sekali tak berpindah sedikit pun dari tempat nya." Lo mau mendorong gua dengan tubuh kecil itu~"ucap nya jelas sedang mengejek ashilla. Ashilla naik pitam dengan sekuat tenaga dia meninju seluruh tubuh Dylan dengan acak dengan ke 2 tangan nya. Namun bukanya lirih kesakitan yang terdengar , hanya suara tawa Dylan yang pecah bergema di taman itu.

Dylan menghentikan tawanya. Dengan raut wajah yang berubah serius . Dia membawa ke 2 tangan itu kembali dan menangkup nya dengan satu tangan besar nya. Dan satu nya lagi mengelus lembut permukaan halus kulit ashilla. Ashilla terdiam menatap Dylan dengan telaten mengelus lembut permukaan kulitnya yang memerah hingga menimbulkan ruam.

" Jika ingin marah lebih baik salurkan dengan tenaga kepada seseorang, bukan di pendam sendiri dan akhirnya menyakiti diri sendiri"ucapnya rendah. Mata mereka bertemu satu sama lain. Tak ada yang mengalihkan pandangannya. Mereka terhanyut dalam dunia yang sama dengan perasaan aneh menganggu ashilla.

Ashilla tak membantah ataupun menyangkal semua perkataan yang dilontarkan oleh Dylan, dia diam namun berbeda dengan pikiran serta hatinya yang rumit.

Karena dia juga bingung kenapa ia merasakan perasaan seperti ini. Begitu sesak dan mengganjal. Membuat perasaan nya tak tenang.

" Jika mau gue siap jadi teman curhat , bahkan sandaran juga mau asalkan itu lo" ucapnya terdengar santai. Mata ashilla membulat . dengan cepat melepaskan tautan tangan nya dari Dylan." Lo jangan kurang ajar Dylan!" Sinisnya.

Dylan terkekeh kecil , sebelum menyandarkan kepalanya pada punggung kursi panjang . Hening, dengan suasana taman yang tak pernah terjamah . masih asri dengan beberapa rerumputan serta pohon yang sengaja di taman. Ia melirik ke arah ashilla yang sedang menatap hamparan bunga di depannya. Begitu indah namun tak banyak orang tau tentang tempat ini.

Seolah keindahan itu hanya di lihat oleh orang yang beruntung sepertinya.

"Cantik ya" ucap Dylan. Ia menatap lekat ke arah ashilla yang tak terusik sama sekali. Namun samar ia bisa melihat anggukan kecil dari nya.

"Gue rasa gue orang yang paling beruntung hari ini. Karena bisa menemukan sesuatu yang cantik seperti itu," ucap Dylan. Tatapannya masih menelusuri Ashilla tajam, misterius, seolah menyimpan sesuatu yang bahkan Ashilla sendiri tidak menyadarinya.

Momen itu menggantung di udara, tidak tersentuh dan tidak terjawab.

*****

Saat ini Vian sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Banyak barang dengan berbagai brand terkenal terpanjang di sana . Seolah menunjukkan bahwa tempat itu hanya bisa di datangi beberapa orang tertentu.

Matanya yang bulat cerah menatap binar ke arah beberapa koleksi sepatu yang di sediakan di sana. Ia mengambil sala satu yang menurut nya keren dan memperlihat pada Revano." Bang mau ini" ucapnya . Revano mengangguk dan memilih beberapa perlengkapan lagi untuk Vian .

Setelah memilih perlengkapan sekolah , sesuai janji mereka pergi ke taman bermain terdekat. Lebih tepatnya alun-alun kota. Banyak anak yang di perkirakan sembaya dengan Vian bermain di sana. Rata-rata dari mereka sedang belajar karena lokasi nya dekat dengan perpustakaan kota. Selain remaja di sana juga terdapat keluarga kecil yang sedang menikmati waktu bersama nya. Ibu yang sedang menyiapkan makan dan ayah yang sedang bermain dengan anak-anak nya . Begitu harmonis, membuat perasaan Vian sedikit memanas.

"Bang nanti kita main di sini ya bareng mommy, Daddy dan juga kak as"ucapnya masih menatap interaksi harmonis di depan nya. Ia memegang ujung baju Vano . Mencoba mencari ketenangan dalam cengkeraman nya" baiklah , nanti kita main sepeda bertiga mengelilingi taman " ucapnya. Ia meraih tangan yang lebih kecil dalam genggaman nya. Dan membawanya masuk lebih dalam .

"Kenapa bertiga? " Tanya nya. Ia menatap lekat mata Vano dengan penasaran . Membuat Vano terkekeh lucu melihat nya.

"Karena mommy dan Daddy udah tua, kasian kalau harus mengayuh sepeda mengelilingi taman "guraunya. Tawa renyah Vian terdengar begitu juga dengan Vano yang tertular tawa nya.

"Abang jangan durhaka nanti di kutuk jadi batu "

"gak akan , soalnya Abang anak berbakati yg menghawatirkan orang tuanya "

"Tapi Abang ngejek , itu gak baik "

" tidak , itu fakta "

Percakapan mereka mengalir bagaikan arus sungai . Banyak topik yang mereka lontarkan setelah itu. Membuat ikatan saudara itu terasa lebih terikat .dan terjalin erat.

Mereka bermain-main kecil yang tak mengeluarkan banyak tenaga , mereka bermain ayunan jungkat-jungkit sampai perosotan kecil yang di sediakan di tempat itu. Tapi hanya Vian yang bermain lebih banyak sedangkan Vano duduk mengawasi setiap pergerakan Vian.

"Abang !!" Teriaknya dari arah ayunan , Vano mengalihkan perhatian dari ponsel . menatap adiknya yang berjalan mendekatinya."mau eskrim " ucapnya menunjuk pada truk penjual eskrim yang baru saja berhenti di parkiran.

" Baiklah , mau rasa apa? "  Vian terdiam sebelum mengucapkan perkataan nya.

"Coklat" ucapnya

"Tunggu di sini" kata Vano sebelum pergi meninggalkan Vian di taman . Karena jaraknya memang tidak terlalu jauh jadi Vano tak khawatir meninggalkan sang adik di sana.

Vian duduk di kursi bekas Vano. Matanya menatap setiap pergerakan Vano dengan pandangan yang berbinar . Sebelum eksistensi seseorang mengalihkan perhatian nya.

Sosok yang familiar dengan punggung tegap dan juga topi yang menutupi sebagian wajahnya. Namun suaranya. Suara yang begitu ia kenal. Dan ia rindukan.

Vian berlari ke arah beberapa kelompok pemuda yang sedang berada di sana. Jelas pemuda itu terlihat tidak baik. Dengan sebagian yang berpenampilan urakan dan juga merokok sembarangan di tempat umum. Tak ada yang menegur dan tak ada yang keberatan. Seolah keberadaan mereka bukan hal yang aneh di sana.

Vian menubruk tubuh yang lebih besar itu begitu saja. Suara ramai yang kelompok pemuda itu keluarkan berubah menjadi senyap. Saat seorang anak kecil yang tiba-tiba memeluk ketua mereka.

Vian memeluk erat tubuh itu dengan sekuat tenaga . Banyak yang ingin ia ucapkan namun semua perkataan nya terendam oleh pelukan serta ketidak berdayaan.

Pemuda itu tanpa belas kasih melepaskan pelukan dari belakang nya dengan kasar. Matanya menatap tajam dan lekat . Pada anak kecil yang bertubuh kurus dengan muka yang sedikit memucat.

"Lo apa-apa sih bangsat" kasarnya. Ia menyentak tubuh itu . Hingga Vian jatuh terduduk tepat di depan gerombolan itu.

"Wess ketua jangan gitu ,kasian tuh bocil" ucap salah satu dari mereka.

"Iya sabar ketua , ini mungkin ada kesalahpahaman. Jadi jangan kasar dulu ya" ucap para anggota yang merasa iba dengan anak yang masih terduduk menatap aneh pada ketua nya.

Vian masih belum sepenuhnya sadar . Dia bisa melihat wajah pemuda itu. Wajah yang sama ,dan juga raut yang sama. Seperti sahabat nya di kehidupan pertama nya.

"Apa-apa ini!?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!