Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap yang Berubah
Sayup-sayup kudengar suara azan Subuh. Semilir angin sejuk mulai terasa. Hawa dingin itu masuk melalui ventilasi jendela kamar yang lupa kututup semalam. Aku mulai mengerjapkan mata.
Keadaan kamar masih remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu tidur berwarna kuning keemasan.
Suara dengkuran halus dengan napas teratur terdengar di sampingku.
Kak Revan tertidur masih mengenakan kemeja kerjanya semalam, bahkan sepatu hitamnya pun belum ia lepas. Mungkin saking lelahnya ia bekerja. Kukira ia akan lembur dan menginap di rumah sakit. Ternyata ia pulang, tetapi entah pukul berapa. Aku tidak tahu pasti. Semalam aku sudah mengantuk berat dan tertidur pulas begitu saja.
Aku bangkit untuk membersihkan diri dan menunaikan kewajiban Subuh. Setelah menyalakan lampu kamar, wajah tampan yang terlihat tenang dalam tidurnya terlihat lebih jelas.
Guratan wajahnya begitu sempurna, dengan hidung mancung, alis tebal, dan rahang tegas. Keberkahan Tuhan seolah sedang melimpah ketika menciptakannya. Kak Revan, seorang dokter spesialis dengan pendidikan tinggi, tetapi mengapa ia mau menikah denganku?
Kenapa aku baru menyadarinya? Apa alasan Kak Revan mau melamar dan menikahiku?
Hawa dingin semakin menusuk. Air wudu yang masih membasahi wajahku terasa sangat menyegarkan, seketika menghilangkan rasa kantuk yang masih bergelayut manja.
Aku menutup jendela karena takut Kak Revan terganggu dengan hawa dingin ini. Kemudian, aku berjalan mendekat ke arah pria itu, melepaskan sepatu hitamnya perlahan, lalu menyelimuti tubuhnya. Pria ini benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Setelah berganti pakaian dengan blouse berwarna putih yang dipadukan dengan rok satin berwarna krem, aku mematut diri sejenak.
Aku sudah menikah. Maka, aku harus lebih baik lagi dalam merawat diri. Berpenampilan rapi dan cantik di depan suami adalah bagian dari ibadah.
Tidak lupa, aku memoles sedikit riasan tipis di wajah agar terlihat lebih segar. Sedikit lipstik berwarna nude juga kupoleskan pada bibir. Aku merapikan rambut yang panjangnya hanya sebahu, kemudian mengikatnya sebagian.
Selesai dengan diriku, aku segera menghampiri Kak Revan.
“Kak....”
Aku menepuk pelan bahunya, membangunkannya untuk salat Subuh.
“Ngantuk....” gerangnya dengan suara serak. “Saya ngantuk. Tolong jangan ganggu tidur saya. Urus saja kehidupanmu, jangan usik kehidupanku.”
Deg.
Kenapa Kak Revan berbicara seperti itu? Bukankah kami sudah sah menjadi pasangan suami istri?
“Sudah jam enam pagi, Kak. Apa Kak Revan ada jadwal pagi hari ini?” Aku tidak menyerah untuk membangunkannya.
Kutepuk pelan lagi bahunya. Kini terlihat alis tebal itu berkerut. Perlahan matanya mengerjap karena silau oleh cahaya lampu.
Aku masih menunggunya di samping ranjang, menatap netra yang berkilau dan berwarna kecokelatan. Terdengar dengusan pelan dari hidungnya. Pria itu perlahan bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang, menarik napas sambil mengumpulkan nyawa yang belum benar-benar terkumpul sempurna.
Dalam hitungan detik, tatapan kami bertemu. Hanya sekejap, karena kami sama-sama memalingkan pandangan. Entah mengapa, netra indah itu selalu membuat denyut jantungku tak karuan.
“Kenapa kamu duduk di sampingku?”
“Aku hanya bangunin kamu, Kak....”
Kak Revan berdecak pelan. Ia mengedikkan rahangnya acuh.
“Tolong siapkan pakaian kerja saya. Kemeja biru muda dan jas putih lengkap.”
Kak Revan bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
“Kak, bukannya tadi malam kamu sudah bertugas, ya?”
“Siapkan saja pakaianku. Menjadi seorang dokter itu tidak mengenal waktu untuk bekerja. Pekerjaanku berkaitan dengan kehidupan seseorang.”
Suara bariton itu terdengar dingin. Mungkin seperti itulah sikap aslinya.
Namun, apa yang ia katakan justru menggambarkan jika Kak Revan memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Di samping ia seorang dokter, ternyata ia juga begitu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Aku semakin kagum padanya.
Ternyata, di balik wajah dingin, acuh, dan sikap sok tidak peduli itu, tersimpan empati yang sangat tinggi.
Aku kembali dengan kegiatanku, menyiapkan pakaian kerja Kak Revan.
Tidak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah terlihat segar. Tetesan air masih menetes dari rambutnya. Aroma maskulin dari sabunnya tercium dari jarak dekat.
Aku bagai patung.
Berdiri di depan lemari sambil memegangi gantungan kemeja yang akan dikenakan Kak Revan.
Sebenarnya tidak harus seperti ini juga. Aku bisa menyimpannya di atas tempat tidur. Namun, itu tidak terjadi karena aku justru langsung terpesona dengan suamiku yang seorang dokter itu.
🌻🌻🌻
Aku melangkah kecil, menyusul Kak Revan yang sudah berjalan cukup jauh di depanku. Langkahnya yang lebih lebar dariku membuatku tertinggal jauh. Aku akan menemani Kak Revan menuju ruang makan.
Kondisi ruang makan sudah terlihat ramai. Ada beberapa saudara Bu Rahayu yang masih menginap di rumah ini. Setibanya aku di ruang makan, beberapa sorot mata tajam langsung tertuju padaku.
Ada pula yang menatapku dengan pandangan meremehkan.
“Oh, ini istri Kak Revan? Kok bisa Kak Revan mau, sih? Tidak jauh dari ekspektasiku. Kampungnya itu ngampung banget....”
“Syut.... Dona....” tegur Bu Rahayu.
Aku hanya bisa tersenyum getir. Baru tinggal sehari, tetapi cobaan berat mulai menyambutku.
“Alya, Dona ini sepupu Revan. Dia memang sedikit ceplas-ceplos. Tolong kamu pahami, ya....” Bu Rahayu tersenyum lembut ke arahku.
Aku melirik Kak Revan di sebelahku. Seperti biasa, pandangannya datar tertuju pada makanan di depannya. Seolah tidak tertarik dengan orang-orang di sekitarnya.
“Iya, Bu, Alya maklumi. Lagi pula, tiada seorang pun yang berhak membungkam orang yang sedang berbicara. Hanya saja, hanya orang bernilai yang bisa membedakan mana ucapan yang bermakna dan mana ucapan yang sebaiknya disimpan saja.”
Aku mengucapkannya sambil tersenyum tipis ke arah Dona. Ia langsung memalingkan wajah dariku.
“Kamu kuliah di mana dan jurusan apa? Terus, kamu mau kerja apa untuk menyeimbangkan posisi kamu di samping Revan?”
“Revan ini adalah dokter, loh. Kamu yang hanya dari desa bisa apa untuk setara di samping Revan?”
Aku mengenal wanita berkacamata itu. Bude Rumi, kakak dari Bu Rahayu. Ucapannya memang terkenal pedas dan ia memang suka merendahkan orang lain. Ayah yang sering bercerita padaku tentangnya.
Deg.
Ada sesuatu yang berdenyut dalam hati ini. Aku melirik Kak Revan yang hanya menunduk. Tidak ada pembelaan darinya. Bahkan, ia seperti tidak berniat mengatakan sepatah kata pun.
“Ya memang, Bude. Kenapa bisa Kak Revan mau sama dia? Cantikan juga ka....”
“Dona....”
Siapa nama wanita yang akan Dona sebutkan?
Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Bu Rahayu lebih dulu menyela.
Apa ada sesuatu yang disembunyikan dari keluarga ini dariku?
Apa Kak Revan memiliki seorang kekasih?
Bersambung