NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Bom waktu

Lanjut...

Senyuman di wajah Surya seketika membeku total. Ujung jarinya yang memegang tablet mendadak terasa sangat dingin.

"K-kau... kau mengancam keluargaku?" bisik Surya dengan suara yang mulai bergetar.

"Ini bukan ancaman, Surya. Ini adalah konsekuensi dari transaksi bisnis dengan Aris Prakasa," jawab Hendra tanpa emosi. "Pak Aris adalah pria yang sangat pemurah pada orang yang mau bekerja sama, tetapi beliau juga sosok yang sangat tidak menyukai ancaman yang berulang. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sekarang, pilihannya ada di tanganmu: ambil uang itu dan hilang selamanya dari hidup kami, atau menolak perjanjian ini dan menanggung akibatnya malam ini juga di dermaga ini."

Dua pengawal bertubuh tegap di belakang Hendra perlahan merogoh bagian dalam jas mereka, memberikan sinyal terselubung yang sangat jelas.

Surya menelan ludahnya yang terasa pahit. Keringat dingin pun membasahi dahinya. Rasa serakahnya kini beradu dengan rasa takut yang amat sangat akan kekuasaan dingin yang dimiliki oleh Aris.

Ia sadar, jika ia menolak atau mencoba bermain gila lagi, Aris tidak akan segan-segan melenyapkannya di tempat terpencil ini.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Surya meletakkan tablet itu di kap mobil, lalu mengambil pulpen yang disodorkan Hendra. Ia menandatangani lembaran kertas perjanjian itu dengan tergesa-gesa.

Setelah menandatangani dokumen tersebut, Surya merogoh sisa jaketnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam beserta sebuah amplop berisi salinan cetak negatif foto kecelakaan. Ia menyerahkannya kepada Hendra dengan sikap yang jauh lebih tunduk dari sebelumnya.

"Ini... ini semua file yang saya miliki. Tidak ada salinan lain di mana pun," janji Surya dengan suara cemas. "Saya bersumpah tidak akan pernah muncul lagi di depan kalian atau menghubungi wanita itu lagi."

Hendra mengambil flashdisk dan salinan foto itu, memastikannya dengan teliti sebelum memasukkannya ke dalam sisa kantong jasnya. Ia kemudian memberikan isyarat kepada pengawalnya untuk menyerahkan akses rekening di tablet kepada Surya.

"Uangmu sudah aktif," ujar Hendra datar. "Kamu punya waktu dua puluh empat jam untuk meninggalkan negara ini. Jika setelah besok malam keberadaanmu masih terdeteksi di wilayah Indonesia... perjanjian ini batal dan prosedur keamanan akan dijalankan."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Surya menyambar tablet tersebut, memutar tubuhnya dengan panik, dan berlari menuju sepeda motornya.

Dalam hitungan detik, suara deru mesin motornya terdengar menjauh, menghilang ditelan kegelapan malam dan deru hujan pelabuhan.

Dua jam kemudian, di dalam ruang kerja pribadi Aris di mansion utama.

Sebuah wadah logam kecil diletakkan di atas meja kerja. Aris berdiri di samping meja, memperhatikan Hendra yang baru saja menyiramkan sedikit cairan alkohol di atas flashdisk, potongan foto negatif dari Surya, dan sisa-sisa surat kaleng yang kemarin sempat membuat Raya panik.

Hendra menyalakan pemantik api perak, lalu menyulutnya ke dalam wadah logam tersebut.

Fwoosh!

Api biru kemerahan membumbung tinggi seketika, memakan habis seluruh kertas, plastik, dan komponen elektronik di dalamnya. Asap tipis membumbung ke udara sebelum terhisap oleh sistem ventilasi ruangan.

Aris menatap nyala api itu tanpa kedipan mata. Di dalam pantulan cahaya api di manik matanya, terpancar campuran antara rasa lega yang luar biasa dan kelelahan mental yang teramat sangat.

Teror dari Surya telah berakhir. Sumber ancaman luar terbesar yang bisa membongkar rahasianya telah dibungkam sepenuhnya dengan uang dan kekuasaan.

"Surya sudah mengonfirmasi jadwal penerbangannya ke luar negeri besok pagi, Pak Aris," lapor Hendra pelan. "Tim kita akan mengawalnya sampai dia benar-benar naik ke atas pesawat. Dia tidak akan pernah berani kembali lagi."

Aris mengangguk pelan, lalu menyandarkan kedua tangannya di pinggir meja saat api di wadah logam perlahan padam, dan menyisakan tumpukan abu hitam yang tak berguna lagi.

"Terima kasih, Hendra," bisik Aris parau. "Kamu sudah menyelamatkan duniaku malam ini."

"Saya hanya menjalankan tugas, Pak," jawab Hendra. "Tapi Pak... ancaman dari luar mungkin sudah selesai. Bagaimana dengan kondisi Ibu Raya di dalam?"

Aris terdiam sejenak. Ia memutar tubuhnya dan menatap ke arah pintu ruang kerja yang terhubung dengan koridor menuju kamar utama.

"Raya percaya pada kebohonganku tentang Ardiansyah," jawab Aris dengan nada yang begitu getir. "Dia mengira Ardiansyah adalah penjahat yang menabrak kami. Ketakutannya pada nama itu... sekarang justru mengunci ingatannya makin dalam."

"Apakah itu artinya... posisi Anda sudah benar-benar aman, Pak?"

"Aman?" Aris terkekeh pahit, seraya menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak ada yang aman, Hendra. Aku mungkin berhasil membungkam Surya, dan aku mungkin berhasil memanipulasi ingatan Raya... tapi setiap kali aku melihat wajah polosnya, jiwaku makin hancur. Kebohongan ini sudah jadi penjara seumur hidup buatku."

Hendra menunduk, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Tak lama ia pun pamit mundur secara perlahan, meninggalkan Aris sendirian di dalam ruang kerja yang kembali hening.

Setelah beberapa saat, Aris melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor yang redup menuju kamar Raya. Ia membuka pintu kamar dengan sangat pelan, bahkan hampir tanpa suara.

Di dalam kamar, lampu tidur berwarna kuning hangat memancarkan pendar lembut. Raya terbaring lelap di atas tempat tidur king-size. Wajahnya tampak begitu tenang dan polos dalam tidurnya, tidak ada lagi jejak ketakutan atau air mata seperti tadi siang.

Di sampingnya, Cyla juga tertidur pulas dalam crib bayi yang diletakkan tidak jauh dari tempat tidur Raya.

Aris melangkah mendekat, lalu berlutut di samping tempat tidur Raya. Ia mengulurkan tangannya yang dingin, dan mengusap lembut anak rambut yang menutupi dahi Raya dengan sangat hati-hati karena takut membangunkan wanita itu.

"Ancaman itu sudah pergi, Raya..." bisik Aris sangat pelan di antara hembusan napasnya. "Tidak akan ada lagi orang yang membahayakanmu, atau membawa cerita kelam itu ke rumah ini. Aku sudah memusnahkan semuanya."

Raya bergerak sedikit dalam tidurnya, mengulum senyum tipis seolah sedang merasakan kehadiran sosok yang membuatnya merasa aman.

Aris mengelus puncak kepala Raya dengan kelembutan yang menyayat hati. Di dalam kegelapan malam yang sunyi itu, Aris sadar bahwa ancaman terbesar bagi hubungannya dengan Raya bukanlah Surya, kepolisian, atau surat kaleng... melainkan waktu.

Suatu hari nanti, jika takdir memutuskan untuk mengembalikan seluruh ingatan Raya, seluruh benteng kebohongan mewah yang ia bangun ini akan runtuh tanpa tersisa, dan saat hari itu tiba, Aris tahu ia harus siap menerima pembalasan atas dosanya.

Hmmm... Apa rahasia itu akan segera terbongkar?

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!