Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: SEROBOT ANTRIAN BBM
Siang itu, mendung tipis menggantung di langit Medan, cukup untuk membuat udara terasa lebih lembap dari biasanya, tapi belum cukup untuk benar benar menurunkan hujan. Tangki motor bebek tua Bang Tua sudah menunjukkan tanda tanda mengkhawatirkan, jarum indikator bensin sudah nyaris menyentuh garis merah sejak kemarin sore, tapi dia terus menunda nunda karena jadwal mengajarnya padat, ditambah lagi dia memang bukan tipe orang yang suka repot mengurus hal hal kecil di tengah kesibukan.
Motor itu sendiri sudah menemaninya sejak tahun kedua kuliah S1 dulu, warnanya sudah pudar di beberapa bagian, joknya sudah ditambal dua kali, tapi Bang Tua enggan menggantinya, katanya motor itu "sudah kenal jalan pintas mana saja di kota ini", meski sebenarnya alasan yang lebih jujur adalah karena dia tidak suka repot mengurus surat surat kendaraan baru.
Baru setelah kelas terakhir selesai, sekitar jam dua siang, dengan suara mesin motor yang mulai terdengar agak tersendat sendat, dia akhirnya memutuskan mampir ke SPBU langganannya di dekat kampus sebelum benar benar kehabisan bensin di tengah jalan, sesuatu yang pernah terjadi dua tahun lalu dan membuatnya harus mendorong motor sejauh setengah kilometer sambil berkeringat di bawah terik matahari, pengalaman yang tidak ingin dia ulangi lagi.
SPBU itu sedang ramai. Wajar, jam segitu adalah jam pulang kerja pertama bagi sebagian orang, ditambah beberapa sekolah yang baru saja bubar, membuat antrian motor sudah mengular sampai ke pinggir jalan raya, bahkan sedikit mengganggu arus lalu lintas yang lewat. Beberapa petugas SPBU terlihat sibuk mengatur arah kendaraan, sesekali meniup peluit kecil untuk memberi aba aba, meski hasilnya tidak terlalu efektif di tengah kepadatan seramai itu.
Bang Tua memarkirkan motornya di ujung antrian dengan sabar, menyalakan standar samping, lalu berdiri menunggu sambil sesekali melihat jam tangannya, arloji sederhana peninggalan ayahnya yang selalu dia pakai meski sudah sedikit lecet di bagian kacanya, masih ada waktu sebelum janji bimbingan dengan promotornya di kampus negeri nanti sore. Dia menghitung dalam hati, kira kira lima belas menit lagi mengantri, cukup waktu untuk sampai tepat waktu.
Di depannya, ada seorang bapak tua dengan motor bebek yang tak kalah tua dari miliknya, sesekali mereka bertukar senyum kecil, semacam solidaritas tak terucap antar pemilik motor tua yang sama sama setia menunggu giliran. Antrian bergerak pelan tapi pasti. Satu per satu motor maju, mengisi bensin, lalu melaju pergi, menciptakan ritme yang cukup membosankan tapi teratur, sesuatu yang biasanya membuat pikiran Bang Tua melayang ke urusan lain, memikirkan bab disertasinya yang belum juga rampung, atau materi kuliah untuk besok pagi.
Bang Tua sudah tinggal empat motor lagi dari petugas pompa ketika sebuah motor matic hitam melaju dari arah belakang dengan kecepatan yang jelas jelas tidak menghormati antrian sama sekali, membelah kepadatan jalan raya dengan gaya yang membuat beberapa pengendara lain terpaksa mengerem mendadak sambil melontarkan umpatan pelan.
Pengendaranya, seorang pria muda berkacamata hitam dengan jaket kulit yang sepertinya sengaja dipakai biar terlihat gagah meski cuaca sedang tidak terlalu terik, langsung menyalip dari sisi kiri dan menyelipkan motornya persis di depan antrian, bukan di belakang orang terakhir, tapi di depan semua orang, termasuk Bang Tua, seolah garis antrian yang sudah tertata rapi itu tidak berarti apa apa baginya.
Suara protes langsung bersahutan dari beberapa orang di belakang. "Woy, ngantri, Bang!" teriak seorang ibu ibu berdaster yang sudah menunggu sejak tadi, tangannya melambai lambai kesal. Bapak tua di depan Bang Tua juga menggerutu pelan, menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Tapi si pria berkacamata hitam itu cuma melambaikan tangan tanpa menoleh, seolah dia terlalu penting untuk berurusan dengan aturan antrian biasa, matanya tetap lurus ke depan seakan tidak mendengar apa apa.
Bang Tua berdiri di posisinya, diam. Wajahnya tetap datar seperti biasa, ekspresi yang sudah dia latih bertahun tahun supaya terlihat tenang dalam situasi apa pun, sesuatu yang bahkan dia praktikkan setiap pagi di depan cermin tanpa dia sadari sendiri sudah menjadi kebiasaan. Tapi di dalam kepalanya, badai sudah dimulai, jauh lebih ramai dari suasana di luar.
"Ini orang mikir dia siapa? Antrian kok diserobot kayak nggak ada aturan. Kalau semua orang begini, ya rusaklah tatanan. Udah dari sononya nggak diajarin sopan santun kali ya. Atau jangan jangan dia pikir dunia ini punya bapaknya. Kayaknya di rumahnya juga dia gitu kali ya, main serobot aja kalau ada yang dia mau, nggak peduli orang lain udah nunggu dari tadi."
Kata kata itu berputar putar di kepalanya, satu demi satu, semakin panjang semakin pedas, bahkan sempat terlintas beberapa perumpamaan lucu yang biasa dia pikirkan kalau sedang benar benar jengkel, tapi tidak satu pun keluar dari mulutnya. Dia hanya menghela napas pelan, melipat tangan di dada, dan menunggu, seperti biasa, seperti yang selalu dia lakukan sejak bertahun tahun lalu.
Si pria berkacamata hitam itu turun dari motornya dengan gaya yang dibuat buat santai, membuka tutup tangki, lalu berbicara dengan petugas pompa sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya, seolah dia sedang terburu buru dan berhak mendapat prioritas dibanding orang lain yang sudah menunggu lebih dulu, bahkan sempat menyuruh petugas untuk "cepetan dikit, Bang, saya buru buru" dengan nada yang terdengar merendahkan.
Bang Tua menatapnya lama. Bukan tatapan marah yang jelas terlihat, lebih ke tatapan datar yang menyembunyikan dengan sempurna apa yang sebenarnya dia rasakan. Dalam hati, gerutuannya semakin memuncak, bercampur dengan rasa gemas melihat petugas SPBU yang terpaksa melayani dengan sabar meski jelas jelas si pemotor itu tidak pantas diperlakukan sebaik itu.
"Orang kayak gini nih yang bikin dunia makin runyam. Nyerobot aja bisa, giliran ada yang beneran susah, ributnya luar biasa. Awas aja kalau nanti kena batunya sendiri."
Kalimat terakhir itu, "awas aja kalau nanti kena batunya sendiri", sempat mendesak keluar dari bibirnya, keluar sebagai gumaman kecil yang nyaris tak terdengar, tertelan suara bising SPBU, deru mesin motor, dan teriakan petugas yang mengatur antrian. Bahkan Bang Tua sendiri tidak sadar dia sempat menggumamkannya, karena perhatiannya sudah teralih lagi ke bapak tua di depannya yang akhirnya mendapat giliran mengisi bensin. Dia hanya merasa sedikit lega setelah itu, seperti melepaskan tekanan kecil dari dadanya, meski masalahnya sendiri belum selesai, si penyerobot tetap saja mengisi bensinnya duluan, tanpa penyesalan sedikit pun.
Setelah selesai, pria itu naik motornya lagi, melambaikan tangan sekali lagi ke arah orang orang yang tadi protes, kali ini dengan senyum meremehkan yang membuat ibu ibu berdaster tadi semakin kesal dan menggerutu lebih keras, lalu tancap gas meninggalkan SPBU dengan kecepatan yang sama tergesa gesanya seperti saat dia datang, meninggalkan bau asap knalpot yang menyengat di udara.
Bang Tua menghela napas panjang, lalu maju beberapa langkah mengikuti antrian yang mulai bergerak lagi. Dalam hatinya dia masih kesal, tapi seperti biasa, dia memilih untuk membiarkannya berlalu. Toh, apa yang bisa dia lakukan? Dunia memang penuh orang orang seperti itu. Yang penting dia sendiri tidak ikut jadi bagian dari masalah, prinsip yang selalu dia pegang erat, meski kadang terasa berat juga untuk terus dijalankan.
Dia tidak tahu, dan tidak akan tahu sampai beberapa waktu ke depan, bahwa gumaman kecil yang keluar dari mulutnya tadi bukanlah sekadar angin lalu.