Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Menyelidiki
Alethea mulai memeriksa lukisan portrait dirinya menggunakan kaca pembesar yang ada senternya. Dia mulai membanding-bandingkan gaya melukis artis Amerika dan Eropa yang memang sedikit berbeda.
“Thea, serius kamu tidak pernah dilukis oleh artis jalanan?” tanya Sandy.
“Serius. Kalian tahu sendiri kan aku tidak pergi keluar Washington dua tahun terakhir ini. Aku lebih banyak di museum bahkan Natal pun aku di sini,” jawab Alethea.
“Tapi bagaimana bisa si pelukis ini bisa tahu kamu sampai detail. Lihat, bahkan tahi lalat diatas bibir kamu juga ada!” ujar Jennifer bingung.
Catherine ikut menimbrung dengan bahasa isyarat. “Aku rasa Thea tidak sadar kalau dilihat oleh si pelukis.”
“Tapi sampai tahi lalat?” tanya Nina. “Kalau tidak dilihat dari dekat, tidak mungkin kelihatan bukan?”
Alethea tersenyum. “Sudah. Begini saja. Aku periksa lukisannya dan kalian mencari tahu siapa pengirimnya. Bukankah tadi kita sudah sepakat akan hal itu?”
“Ah, benar juga!” Jennifer lalu menoleh ke Nina. “Nina, kita harus cari! Tidak perduli sampai lembur pun!”
“Haaaahhh?” Nina hanya bisa menurunkan bahunya.
Alethea tertawa kecil. “Semangat Nina.”
Tim kecil museum itu memang dikenal dengan sebutan Spice Girls karena ada berlima. Jennifer memang dikenal boss yang sangat ketat dalam hal tata aturan museum tapi dia bisa menjadi teman yang asyik kalau sudah selesai pekerjaannya.
Sandy dan Nina adalah pegawai loyal Jennifer. Keduanya sangat teliti tentang pengarsipan dan data penting. Catherine adalah bagian administrasi dan Alethea adalah kurator museum itu.
“Kalian benar. Pelukis ini adalah orang yang belajar seni di Eropa. Lihat, cara mengambil garis dan mengayunkan kuasnya, sepertinya dari kampus Perancis atau Belanda,” ucap Alethea setelah meneliti cukup lama.
“Benarkah?” tanya Sandy.
“Coba bandingkan dengan garis dari artis asal Belanda, Gus Lemmens. Mirip lho,” jawab Alathea sambil membandingkan lukisan itu di layar lebar. “Apakah mereka berada di kampus yang sama?”
“Mirip tapi aku rasa itu bukan Gus Lemmens.” Sandy pun maju ke layar. “Gus Lemmens itu kidal. Garisnya condong ke ke kiri. Sementara lukisanmu itu condong ke kanan. Lihat!”
Semua orang melihat garis yang ditunjuk oleh Sandy. Mereka mengakui bahwa Sandy benar.
“Jadi petunjuknya, pria, Eropa dan tangan kanan.” Alethea menatap lukisannya yang terdapat bunga daisy di belakangnya.
Wanita itu tampak berpikir. Rasanya dia tidak pernah datang ke kebun bunga daisy.
“Ada apa Thea?” tanya Catherine.
“Tidak apa-apa. Aku hanya mencari-cari signature si pelukis. Biasanya seorang artis pasti memberikan tanda tangan atau kode tersendiri sebagai hak cipta.” Alathea memeriksa lebih lanjut.
“Apakah kamu menemukannya?” tanya Jennifer yang berkutat di depan layar monitor laptopnya.
Alethea masih belum yakin dengan tanda bunga daisy itu. “Belum. Bahkan paraf atau kode apapun tidak ada… belum ada.”
“Oke. Sisihkan dulu lukisanmu, Alethea. Kita masih ada beberapa karya seni yang butuh perhatian.” Jennifer mengedikkan dagunya. “Kalian semua, cek yang di meja sana.”
Sandy dan Catherine mengambil barang-barang itu sementara Alethea memeriksa kertas coklat yang membungkus lukisan dirinya. Dia melihat ada kode pos di sana.
“Jenny ….” panggil Alethea.
Jennifer menoleh. “Ya Thea?”
“Aku menemukan angka yang … sepertinya kode pos. E3 A5F. Ini negara mana?” Alethea menatap semuanya sambil memperlihatkan kertas coklat itu.
“Hah? Kota mana itu?” tanya Jennifer.
“Bukan dari Amerika yang jelas. Kita tidak punya kodepos seperti itu kan?” jawab Sandy.
“Oke. Simpan dulu. Nina, kamu cari tahu ya?” pinta Jennifer.
“Yes Jenny.”
Mereka pun kembali bekerja dan sedikit melupakan lukisan yang membuat kebingungan semua orang. Alethea mengakui barang-barang antik dan seni yang datang, sangat berharga dan bernilai tinggi.
Menjelang jam enam sore, semua orang pun pulang kecuali Jennifer dan Nina yang masih penasaran. Sebenarnya Jennifer yang penasaran, dan Nina tidak bisa menolak permintaan Bossnya.
***
Alethea pun tiba di apartemennya yang terasa sepi. Sudah dua tahun tidak ada canda tawa bersama dengan suaminya, Toshiro. Alethea memang suka pria Asia terutama Jepang. Toshiro sama dengan dirinya, pecinta seni dan sama-sama sendirian. Kedua orang tua mereka sama-sama menjadi korban saat terjadi angin topan di Texas.
Alethea dan Toshiro adalah kekasih dari jaman SMA di Texas. Mereka sama-sama kuliah di Columbia University. Alethea di jurusan kuratorial sementara Toshiro di jurusan bisnis.
Lulus dari Columbia University, Alethea dan Toshiro mendapatkan pekerjaan di Washington. Alethea sebagai kurator sementara Toshiro bekerja di sebuah bank. Setahun mereka di Washington, Texas diterjang angin topan. Rumah keluarga mereka pun terkena dampaknya.
Tidak memiliki keluarga lagi, Alethea dan Toshiro pun menikah. Namun kebahagiaan mereka hanya berjalan dua tahun. Saat mereka berlibur ke Swiss, Toshiro mengalami kecelakaan fatal. Meskipun sudah ditopang dengan alat penopang hidup, nyawa Toshiro tidak selamat. Alethea pun sendirian lagi dan menyandang gelar janda di usia 25 tahun.
“Aku pulang, Toshiro,” sapa Alethea yang melihat foto mereka berdua di atas meja bufet.
Alethea lalu menuju dapur dan membuka kulkasnya. Dia pun memanaskan makanan yang sudah disiapkan tadi pagi sebelum berangkat bekerja.
“Kamu tahu, Toshiro … ada yang melukis wajahku. Benar-benar wajahku! Bagaimana bisa ya Toshiro? Aku kan tidak pernah pergi-pergi. Menurutmu apa ya?” tanya Alethea sambil makan di meja makan dan memandang foto suaminya.
Alethea tersenyum. “Apakah kamu … pernah memesan seorang pelukis untuk melukis wajahku? Jika memang begitu, apakah itu hadiah terakhir kamu?”
Wanita itu tertawa kecil. “Kok aku mikirnya kejauhan ya. Tapi bukan pemikiran yang jelek kan?”
Alethea menghabiskan lasagna buatannya dan membersihkan alat makannya. Dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama, dia pun tertidur.
Baru terasa tidur sebentar, Alethea mendengar pintu apartemennya digedor-gedor orang. Dia pun turun dengan memakai kimononya. Alethea mengintip dari lubang pintu dan terkejut melihat Jennifer di depan pintu.
Lekas-lekas Alethea membuka pintu apartemennya. “Jenny? Jam berapa ini?”
Jennifer langsung masuk, mengacuhkan tatapan bingung Alethea. “Jam satu malam. Apartemen aku kan dekat dengan apartemen kamu. Anyway, aku dan Nina sudah mendapatkan alamat kode pos itu!” ucapnya heboh.
“Ya ampun … kalian benar-benar lembur?” kekeh Alethea sambil duduk di sofa dan diikuti Jennifer.
“Benar. Dengar, aku tahu dari mana lukisan itu dikirim!” jawab Jennifer bersemangat.
“Dari mana?” balas Alethea sambil menguap.
“Irlandia!”
Alethea melongo. “Irlandia?”
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia