NovelToon NovelToon
Tahta Senja Untuk Aira

Tahta Senja Untuk Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. SATU BULAN SEBELUM PENYESALAN

Aira tersentak bangun dari tidurnya dengan napas yang tersengal-sengal. Dadanya naik dan turun secara tak beraturan, sementara peluh dingin membasahi pelipis dan lehernya.

Tangannya yang gemetar hebat secara refleks langsung meraba leher, dada, hingga pergelangan tangannya. Tidak ada rasa sakit yang membakar. Tidak ada bekas siksaan, tidak ada cairan darah kering yang menempel, dan yang paling membingungkan—tulang tangan kanannya terasa utuh tanpa rasa remuk sedikit pun.

Aira mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat melayang dalam ketakutan. Ia memandang ke sekeliling ruangan dengan sepasang mata yang berbinar tak percaya.

Kamar tidur berukuran sedang dengan ornamentasi kayu hangat, meja belajar yang tertata rapi, serta aroma khas bunga lili favorit almarhum ibu kandungnya melingkupi udara. Ini adalah kamar tidurnya di kediaman keluarga kandungnya—suasana hangat yang telah lama hilang setelah rumah ini disita dan disulap oleh ibu tirinya di kehidupan lalu.

Dengan langkah kaki yang masih terasa agak ringan dan goyah, Aira berjalan mendekati meja kecil di samping jendela. Matanya tertuju pada sebuah kalender meja yang berdiri anggun di sana. Jemarinya yang gemetar menyentuh angka dan bulan yang tertera di kertas tebal itu.

Satu bulan sebelum hari pertunangan.

Aira membeku di tempatnya. Gejolak emosi yang begitu hebat menghantam dadanya secara bertubi-tubi hingga air mata menetes hangat di pipinya.

Ia benar-benar kembali ke masa lalu—tepat empat tahun sebelum kematian mengenaskannya di dalam gudang kotor keluarga Gunawan. Takdir baru saja memberinya kesempatan kedua yang sangat berharga.

Aira melangkah perlahan ke arah cermin rias berukiran klasik di sudut kamar. Ia menatap bayangan dirinya di dalam kaca. Tidak ada lagi wanita pucat dengan wajah lebam, bibir pecah-pecah, dan tatapan mata yang membisu pasrah. Yang ada di dalam cermin itu adalah Aira yang masih muda, sehat, cantik, dengan sepasang mata jernih yang kini berkilat dingin bagaikan belati tajam yang siap menghujam.

"Kali ini," bisik Aira pada bayangannya sendiri dengan nada suara yang penuh penekanan,

"kalian tidak akan pernah bisa menghancurkanku lagi."

Siang harinya, suasana di lantai bawah kediaman keluarga Aira mendadak riuh dan ramai. Gelak tawa serta suara percakapan formal terdengar saling bersahutan. Hari ini adalah hari di mana keluarga cabang Gunawan datang bertandang untuk meminang Aira secara resmi.

Azka hadir mendampingi kedua orang tuanya. Pria itu tampak sangat rapi dan gagah dengan balutan setelan jas eksklusif rancangan desainer ternama. Sikapnya di hadapan ayah Aira terlihat begitu santun dan terpelajar.

Dahulu, di kehidupan pertamanya, saat pertama kali Aira melihat sosok Azka yang tampan, tegap, dan berpendidikan tinggi, Aira sempat terpikat. Ia bahkan mengabaikan beberapa petunjuk kecil tentang sifat asli pria itu dan menganggap Azka sebagai pahlawan yang akan membawanya keluar dari penderitaan di rumahnya sendiri.

Namun saat ini, saat Aira melangkah turun dan menyaksikan Azka duduk tegak di sofa dengan dagu terangkat tinggi serta tatapan mata yang tersirat merendahkan orang-orang di sekitarnya, perut Aira serasa diaduk hebat.

Rasa mual dan jijik yang sangat mendalam menyeruak mendominasi isi dadanya. Aira merutuki betapa buta dan lugunya ia di kehidupan pertama karena telah menyerahkan masa depan dan seluruh hidupnya pada pria yang memiliki tabiat seburuk Azka.

Di tengah acara ramah tamah dan pembicaraan bisnis yang membosankan, Aira memohon izin dengan sopan untuk pergi ke kamar mandi. Ia berdiri, merapikan gaun sederhananya, lalu melangkah menyusuri koridor samping rumah yang cenderung sepi.

Setelah membasuh mukanya dengan air dingin di toilet untuk menenangkan gejolak emosinya, Aira melangkah kembali menuju ruang tamu.

Namun, saat ia menyusuri lorong berlantai marmer di dekat ruang kerja ayahnya, langkah Aira terhenti secara mendadak di balik sebuah pilar besar.

Dari balik tembok, ia menangkap bayangan dua orang yang sangat ia kenal. Rani sedang berjalan terburu-buru dengan gaun berkembangnya yang berdesir. Dari arah berlawanan, Azka baru saja keluar setelah menyelesaikan perbincangan singkat dengan ayah Aira.

Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah lagi, Rani secara dramatis memutar pergelangan kakinya. Gadis itu berpura-pura tersandung ujung gaunnya sendiri, mengeluarkan jeritan kecil yang menggemaskan, dan melempar tubuhnya tepat ke arah dada Azka.

Dengan sigap, Azka merengkuh dan menangkap tubuh lentur Rani agar tidak terjatuh ke lantai. Tubuh mereka menempel erat dalam jarak yang sangat dekat, dan sepasang mata mereka saling bertabrakan.

Aira yang berdiri tersembunyi di balik pilar menyaksikan adegan sandiwara itu dengan tontonan yang sangat jelas.

Ia melihat bagaimana garis wajah Azka yang semula tegang, keras, dan sombong seketika melunak lembut. Binar ketertarikan liar dan gairah terselubung terpancar jelas dari mata pria itu saat menatap bibir Rani yang sedikit terbuka.

Di sisi lain, Rani menatap Azka dengan bulu mata yang dikedipkan manja, menyunggingkan senyum malu-malu yang sangat lihai memikat pria.

Benih-benih cinta terlarang dan penuh kecurangan baru saja bersemi dengan sangat subur di antara mereka berdua di lorong rumah ini.

Aira bersandar santai di tembok dingin di balik pilar. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu menyunggingkan sebuah senyum tipis yang sarat akan muslihat gila dan tekad pembalasan dendam. Tidak ada lagi rasa cemburu atau sakit hati di dalam dirinya; yang ada hanyalah kepuasan melihat dua orang licik mulai masuk ke dalam perangkap yang akan ia susun.

Bagus sekali, batin Aira dingin sambil memperhatikan dua orang tersebut yang masih enggan melepaskan dekapan satu sama lain.

Dua ular berkepala dua sedang saling menemukan pasangannya. Aku tidak akan menghalangi kalian. Justru, aku akan memfasilitasi hubungan terlarang kalian ini, dan memastikan kalian bersatu di atas kehancuran nama baik kalian sendiri.

1
Yasa
suka banget sama fl yang Badas gini.
Senja_Puan: makasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!