NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Memeras "Anak Bawang"

Reynard baru dua langkah masuk ke dapur ketika Keira menyusul dan menghadang di depan kulkas.

"Sebelum kamu membuktikan apa pun, kita bikin aturan," katanya. "Pisau ada di laci kanan. Kompor yang kiri agak susah menyala. Kalau ada suara ledakan, aku lari duluan."

"Cici selalu menyambut tamu dengan optimisme seperti ini?"

"Cuma tamu yang mengaku bisa masak."

Reynard membuka kulkas. Isinya menyedihkan: tiga butir telur, setengah ikat sawi, tomat, tahu, dan sebotol air. Ia tidak mengeluh. Setelah memeriksa lemari bumbu, ia mengambil ponsel dan memesan beberapa bahan dari minimarket bawah.

"Tunggu dua puluh menit," ujarnya.

"Kamu yakin nggak mau menyerah dan pesan makanan?"

"Kalau aku menyerah sekarang, sampai lulus kuliah aku bakal dipanggil anak bawang."

Keira mengangguk bijak. "Kamu cepat belajar."

Pesanan tiba. Reynard mencuci bahan, memotong ayam, mengiris bawang, lalu menemukan celemek kartun kucing lucu yang tergantung di balik pintu. Ia mengangkatnya dengan dua jari.

"Pakai," perintah Keira.

"Serius?"

"Sangat serius. Mama yang membelikannya. Celemek itu sudah menganggur enam bulan karena aku jarang masak."

Reynard menatap gambar kucing berpipi merah di bagian depan, lalu memasangnya tanpa protes. Tali merah muda melingkari pinggangnya yang ramping. Bahunya yang lebar membuat celemek mungil itu terlihat semakin tidak cocok.

Keira tertawa sampai harus bersandar ke meja makan. "Tunggu. Aku foto buat Nessa."

"Kalau dikirim ke Cici, aku tambahkan cabai ke piringmu."

"Kamu berani mengancam tuan rumah?"

"Aku yang pegang pisau sekarang."

Keira buru-buru menurunkan ponsel, meski senyum masih lebar di wajahnya. Dapur yang biasanya sunyi berubah hidup oleh bunyi talenan, desis minyak, dan tutup panci yang beradu pelan. Reynard bergerak tanpa ragu. Ia tahu kapan api harus dikecilkan, kapan kuah perlu dicicipi, dan bagaimana membersihkan meja sambil menunggu masakan matang.

Tidak sampai setengah jam, dua piring ayam kecap dan tumis sawi tersaji bersama semangkuk sup tahu tomat.

Keira memandang meja. Lalu memandang Reynard. Kemudian kembali memandang meja.

"Kamu beli ini diam-diam?"

"Aku masak di depan mata Cici."

"Mungkin aku ketiduran sambil berdiri."

Reynard meletakkan nasi di hadapannya. "Coba dulu sebelum menuduh."

Keira mengambil satu potong ayam. Dagingnya lembut, rasa manis dan gurihnya pas, bahkan kuah sup yang tampak sederhana terasa ringan dan segar. Sendoknya berhenti di udara.

"Enak?"

"Lumayan."

"Cici sudah ambil potongan kedua."

Keira menatap sumpitnya sendiri, lalu berdeham. "Oke. Enak banget. Puas?"

Tatapan Reynard melembut. Ia tidak langsung makan, seolah jawaban Keira jauh lebih mengenyangkan daripada hidangan di depan mereka.

"Belajar dari siapa? Mama Josephine?"

"Belajar sendiri. Iseng doang."

"Iseng sampai bisa bikin tiga menu dalam setengah jam?"

"Kalau sering latihan, ya bisa."

"Keluargamu tahu?"

"Belum pernah kubuatkan."

Keira nyaris tersedak. "Jadi aku kelinci percobaan?"

"Cici yang pertama."

Cara ia mengucapkannya membuat kalimat biasa itu terasa terlalu khusus. Keira buru-buru menunduk, menyendok sup agar Reynard tidak melihat telinganya yang mulai hangat.

Sesudah makan, Keira mencoba membawa piring ke wastafel, tetapi Reynard mengambilnya lebih dulu.

"Duduk saja."

"Ini rumahku."

"Mulai sekarang aku masak, belanja, sama bersih-bersih. Anggap saja pengganti uang kos."

"Kamu tinggal di unit Nessa, bukan di sini. Aku juga nggak menarik uang kos."

"Tetap saja aku bakal sering makan di sini." Reynard membuka keran. "Aku nggak mau merepotkan Cici atau bikin Cici keluar uang buat aku."

Keira bersedekap. "Aku bisa mengurus diri sendiri."

"Aku tahu. Tapi bukan berarti Cici harus mengurus semuanya sendiri."

Air mengalir di antara mereka. Keira ingin membantah, tetapi kalimat itu menahan kata-katanya. Sudah lama tidak ada orang di apartemen ini yang menganggap hal kecil seperti piring kotor sebagai beban yang bisa dibagi.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan memeras anak bawang keluarga Hartono sampai Nessa pulang."

"Silakan."

Jawaban Reynard terlalu cepat.

Menjelang malam, mereka memindahkan beberapa kebutuhan ke unit 8A. Vanessa sudah meninggalkan seprai bersih, peralatan mandi, dan kartu akses cadangan. Reynard mengganti baterai kunci digital, lalu membuka menu pengaturan.

"Pakai kode yang gampang diingat," kata Keira dari ambang pintu. "Kalau lupa, aku nggak mau turun menemui teknisi tengah malam."

Jari Reynard menekan enam angka tanpa ragu.

Nol. Nol. Satu. Dua. Dua. Delapan.

"001228," katanya.

Keira mengulang angka itu dalam hati. Ada rasa familier yang menggelitik, tetapi otaknya sudah terlalu penuh dan tubuhnya terlalu lelah untuk menangkap hubungan sederhana di baliknya.

"Kok kayak familiar, ya?"

Reynard menutup panel kunci. "Angka acak. Cici mau mencatatnya?"

"Nanti saja."

"Jangan bilang aku yang lupa kalau Cici sendiri nggak catat."

Mereka kembali ke unit 8B untuk menyinkronkan kartu akses dan memeriksa jadwal hari berikutnya. Keira menguap beberapa kali. Setelah Reynard pulang ke seberang, ia mandi lama, lalu mengenakan gaun rumah bertali tipis yang paling nyaman.

Sebelum masuk kamar mandi, Keira sempat membuka kulkas sekali lagi. Rak yang pagi tadi hampir kosong kini berisi kotak-kotak bahan makanan yang sudah dibersihkan dan diberi label kecil. Ayam untuk Senin, sayur untuk Selasa, kaldu untuk hari ketika ia pulang malam. Bahkan satu botol kopi dingin di pintu kulkas ditempeli catatan: gula dua kali, seperti yang Cici suka.

Keira menyentuh kertas itu dengan ujung jari. Mereka baru menghabiskan beberapa jam bersama, tetapi Reynard sudah mengisi ruang yang selama ini hanya dipenuhi suara pendingin ruangan. Perasaan hangat itu membuatnya tersenyum sebelum akal sehat datang mengingatkan bahwa cowok tersebut hanyalah adik sahabatnya.

Ia mencabut catatan kecil itu dan menyelipkannya ke bawah magnet kulkas, seolah tindakan tersebut cukup untuk menyembunyikan senyumnya sendiri.

Sudah hampir tengah malam. Lorong pasti sepi, dan Reynard seharusnya sudah tidur.

Keira keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut. Ketika sampai di ruang tamu untuk mengambil air, langkahnya mendadak berhenti.

Reynard duduk di sofa dengan laptop terbuka. Rupanya ia kembali lewat pintu yang tadi belum terkunci untuk menguji sinkronisasi aplikasi kunci. Cahaya layar memantul di wajahnya saat ia mengangkat kepala.

Pandangan mereka bertemu.

Mata Reynard turun sepersekian detik ke tali tipis di bahu Keira, lalu kembali ke wajahnya. Gerakan itu singkat, tetapi cukup jelas untuk membuat udara di ruang tamu terasa berubah.

Keira menggenggam handuk lebih erat di depan dada. "Kamu belum pulang?"

"Tadi sudah." Suara Reynard lebih serak dari biasanya. "Aku balik karena aplikasinya belum tersambung."

Tidak satu pun dari mereka bergerak.

Bunyi pendingin ruangan terdengar terlalu keras. Tetes air dari ujung rambut Keira jatuh ke tulang selangkanya, dan tatapan Reynard tertahan di sana satu detik lebih lama sebelum akhirnya ia memalingkan wajah.

"Maaf, Ci Kei," katanya pelan. "Aku harusnya mengetuk lagi."

Namun ketika Reynard menutup laptop dan berdiri, Keira menyadari satu hal yang jauh lebih mengganggu daripada rasa malunya.

Untuk beberapa detik tadi, ia sendiri tidak ingin lelaki itu mengalihkan pandangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!