NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:89.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Jejak Pengkhianatan di Struk Belanja

Kata-kata Annisa yang dingin dan penuh penekanan di ruang makan tadi pagi seolah menguap begitu saja bagi Rian, Bu Rini, dan Sisil. Bagi mereka, ucapan Annisa hanyalah gertakan sambal dari seorang istri lemah yang frustrasi karena tidak bisa membela diri. Rian bahkan sempat tertawa sinis sebelum akhirnya menyambar tas kerjanya dan pergi membanting pintu rumah tanpa pamit, disusul Sisil yang berangkat kuliah dengan muka dilipat karena hanya diberi uang jajan seadanya.

Kini, rumah berlantai dua itu mendadak hening. Bu Rini sudah masuk ke kamarnya untuk menonton televisi, meninggalkan meja makan yang berantakan dengan sisa piring kotor dan cangkir kopi yang pecah di lantai.

Annisa melangkah perlahan ke area tangga menuju kamar utama di lantai dua. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya memancarkan kilatan yang sangat berbeda. Ia membuka pintu kamar, menguncinya dari dalam, lalu berjalan menuju lemari pakaian milik Rian.

Selama tiga tahun ini, Annisa adalah istri yang sangat penurut. Ia selalu mencuci, menyetrika, dan merapikan pakaian Rian dengan tangannya sendiri tanpa pernah menggeledah dompet atau barang-barang pribadi suaminya. Ia percaya sepenuhnya pada Rian. Namun hari ini, kepercayaan itu sudah mati.

Annisa mengambil jas kerja Rian yang kemarin sempat dipakai dan digantung di dekat cermin. Jemari lentiknya meraba saku bagian dalam jas tersebut. Kosong. Lalu ia meraba saku bagian luar.

Tangannya menyentuh sebungkus kertas tebal bermodel lipat. Annisa menariknya keluar.

Itu adalah sebuah nota dan sertifikat pembelian dari toko perhiasan ternama di salah satu pusat perbelanjaan mewah di Jakarta Pusat. Annisa membukanya perlahan.

> Daftar Pembelian: 1 Set Gelang Berlian White Gold (2.4 Carat)

> Total Pembayaran: Rp 48.500.000,-

> Nama Pemilik Sertifikat: Eriska Kurniasih

> Metode Pembayaran: Debit Card & Transfer Bank

Dada Annisa berdesir tajam. Angka empat puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah tertera sangat jelas di sana. Tanggal pembeliannya baru tiga hari yang lalu—tepat saat Rian berpamitan izin lembur hingga larut malam dengan alasan mengejar target proyek kantor.

"Empat puluh delapan juta ...," gumam Annisa dengan senyum getir yang sangat dingin.

Rian rela mengeluarkan uang hampir lima puluh juta rupiah demi membelikan gelang berlian untuk Eriska, wanita simpanannya di kantor. Sementara untuk Annisa—istri sah yang sudah mendampinginya dari nol—Rian selalu mengeluh kehabisan uang dan dengan gampang memotong jatah uang belanja yang tak seberapa itu demi gengsi adiknya.

Annisa mengepalkan tangannya hingga kertas sertifikat itu sedikit terlipat. Ia tidak menangis. Tak ada satu tetes pun air mata yang jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit hatinya sudah menjelma menjadi tekad pembalasan yang bulat.

Ia merogoh ponsel pintarnya dari dalam saku gaun rumahan, lalu membuka aplikasi perbankan pribadi dan sebuah kontak berlabel "Pak Danu - Kuasa Hukum".

"Selamat pagi, Pak Danu," ucap Annisa begitu sambungan telepon terhubung. Suaranya terdengar sangat tenang, tegas, dan berwibawa—suara yang tak pernah didengar oleh Rian maupun Bu Rini.

"Selamat pagi, Mbak Annisa. Ada yang bisa saya bantu?" sahut suara pria paruh baya di ujung telepon dengan nada sangat hormat. Pak Danu adalah pengacara senior kepercayaan Pak Yusuf Al Ghazali, ayah Annisa, yang sudah mengurus seluruh dokumen hukum keluarga Al Ghazali selama belasan tahun.

"Saya minta tolong siapkan dua hal," kata Annisa tanpa berbelit-belit. "Pertama, tolong audit seluruh transaksi kartu kredit tambahan dan rekening yang terhubung atas nama saya yang selama ini dipakai untuk membayar fasilitas rumah ini dan biaya kuliah Sisil."

"Baik, Mbak. Lalu yang kedua?"

"Blokir semua kartu kredit tambahan itu mulai siang ini. Cabut otomatisasi pembayaran cicilan rumah, internet, dan tagihan listrik atas nama saya. Biarkan semua tagihan itu jatuh tempo," lanjut Annisa.

Di ujung telepon, Pak Danu sempat hening sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan mantap. "Siap, Mbak Annisa. Dokumen penghentian fasilitas akan segera saya proses. Apakah ada instruksi lain terkait posisi Mas Rian di anak perusahaan?"

"Belum untuk hari ini, Pak Danu. Biarkan dia menikmati hadiah berliannya dulu di kantor. Saya sendiri yang akan mengurus kejutan untuknya di perusahaan esok hari."

"Baik, Mbak Annisa. Pilihan yang sangat bijak. Saya akan kirimkan laporan auditnya sore ini."

Setelah mematikan telepon, Annisa berjalan ke arah jendela kamar, menatap halaman depan rumahnya. Di luar, sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru milik Rian terparkir manis. Mobil yang cicilannya saban bulan diam-diam selalu dibayar dari rekening Annisa tanpa Rian sadari.

Gedoran pintu kamar yang kasar mendadak mengejutkan Annisa. Suara teriakan Bu Rini kembali bergema dari balik pintu.

"Nisa! Keluar kamu! Kamu ini niat jadi menantu tidak, sih?! Piring kotor di meja makan belum dicuci, pecah piring di lantai belum dibersihkan, kamu malah enak-enakan ngurung diri di kamar!"

Annisa menyimpan kertas sertifikat berlian itu ke dalam tas pribadinya, lalu melangkah santai membukakan pintu kamar.

Bu Rini berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang, mukanya memerah menahan amarah. "Kamu dengar Ibu panggil-panggil dari tadi tidak?!"

"Nisa dengar, Bu," sahut Annisa datar, menatap mertuanya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Kalau dengar kenapa tidak langsung turun?! Dasar menantu pemalas! Bikin darah tinggi saja!" semprot Bu Rini sambil menunjuk wajah Annisa. "Sekarang kamu turun, cuci semua piring itu! Terus kasih Ibu uang dua ratus ribu. Ibu mau beli sayur dan lauk buat makan siang!"

Annisa bersedekap dada, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. "Uang belanjanya kan sudah dipotong sama Mas Rian tadi pagi, Bu. Mas Rian bilang jatah bulan ini dikurangi dua juta untuk dikasih ke Sisil. Jadi Nisa tidak punya uang tunai lagi."

Bu Rini melotot tidak percaya. "Lho! Ya kamu minta lagi sama Rian, atau pakai uang tabunganmu! Masa Ibu mertua mau beli sayur saja tidak kamu kasih uang?! Kamu mau bikin Ibu mati kelaparan di rumah anak Ibu sendiri?!"

"Uang di tabungan Nisa sudah habis untuk bayar cicilan dan kebutuhan rumah bulan lalu, Bu," jawab Annisa santai dengan nada polos yang dibuat-buat. "Kalau Ibu butuh uang belanja tambahan, coba Ibu telepon Mas Rian saja. Kan Mas Rian baru saja beli barang mewah puluhan juta rupiah pekan ini. Masa uang dua ratus ribu untuk Ibunya sendiri tidak ada?"

Bu Rini mengerutkan keningnya, tampak bingung sekaligus curiga. "Barang mewah puluhan juta? Rian beli apa?!"

Annisa tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang membuat Bu Rini mendadak merinding.

"Tanya saja langsung sama anak kesayangan Ibu itu," bisik Annisa pelan, lalu melangkah melewati Bu Rini begitu saja tanpa niat mencuci satu pun piring kotor di meja makan.

Bersambung...

1
Cicih Sophiana
anak tetap anak darah daging qta... walau itu jg darah daging sang mantan... semoga si Risa nya cepat tertangkap atau lebih bagus lg di tangksp Fandi biar lebih seru..
Cicih Sophiana
ya Allah kok tega sekali sesama perempuan...
Kar Genjreng
pasti sudah ada rencana yang baik buat calon anak Anissa yang tidak bisa di selamatkan,,,ya karena ada jalan yang lebih baik mungkin nantinya badai pasti berlalu,,,sabar ya Niss semoga mantan Fandy cepat' di ringkus dan di suruh menginap di hotel prodeo,,, aamiin 🤲🤲 belum waktunya di kasih kepercayaan oleh Mommy Ghina sabar ya jangan sedih terus 😭😭
Rusmini Mini
menguras emosi jiwa...
Rusmini Mini
kenapa ingatkan update 😤😤😤
Rusmini Mini
innalillahi wa inna lillahi roji'un 🥹🥹🥹🥹🥹
Rusmini Mini
cemburu tak beralasan bisa membutakan akal dan kewarasan Rissa...
Rusmini Mini
waduh celaka....😦😦
Rusmini Mini
Rissa gak main main dgn dendamnya tp apa salahnya Annisa sm kamu ....
Rusmini Mini
Annisa apa gak pernah pulang ke rmhnya mom ceritanya di kantor mulu
Rusmini Mini
kamu bodoh Rissa sama saja kamu bunuh diri...hanya krn ingin validasi masyarakat atas klg suamimu dan tentunya takut miskin makanya jgn slh pergaulan.... 😤😤
Rusmini Mini
jahat jahat sekalian udh tanggung jg
Kar Genjreng
ternyata segala sesuatu bila belum akan menjadi. milik ya ahir nya terlepas mungkin setelah badai akan datang pelangi' 😮
Wiek Soen
sabar Nissa,mommy blm mempercayakan calon dedek bayi padamu, nanti hamil lagibdlm keadaan bahagia dan membangun keluarga yg utuh👍👍
Mommy Ghina: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Wiek Soen
yaah Nisa keguguran... kayaknya Mak Lampir Rissa ,bayi yg dikandung Nissa dikira anaknya Fandi, Rissa benar' bi....b
Perempuan
tak ada lagi pertalian darah dgn si mantan. 👍👍
Rusmini Mini
lah kenapa kamu yg marah Rissa kalo mantan suamimu deket wanita lain secara Fandi kan duren nyawit, makanya intropeksi diri ....😤😤😤
Rusmini Mini
💪💪💪💖💖💖🔥🔥🔥🔥
Naufal Affiq
sabar nisa,entar buat lagi kalau kau nikah sama fandi,untuk anak yang kau kandung itu anak dari lelaki yang menghianatimu
Rusmini Mini
pungguk merindukan bulan,katak dlm tempurung bu Rini dan Sisil kamu itu rakyat jelata gak usah bermimpi aneh kalian gak bisa menang reti ora Son 😤😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!