Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 33
BAB 33
Kepulan asap hitam dari ventilasi bawah lantai seketika sirna begitu Rendra dengan sigap menginjak pedal pembuangan darurat. Udara bengkel kembali bersih, menyisakan pendar lampu gantung berwarna kuning hangat yang memayungi ruang kerja itu dan menciptakan bayangan-bayangan panjang yang meliuk di dinding.
Setelah badai verifikasi yang mencekat dada di laboratorium netral Gedung Pusat Kurasi Mode mereda, ketegangan bukannya menguap, melainkan bertransformasi menjadi keheningan yang sarat beban psikologis. Dito dan Nila telah dipulangkan satu jam lalu oleh Maya. Hanya menyisakan Maya yang duduk mematung di hadapan manekin, serta Rendra yang berdiri mengamati dari dekat lemari kayu berisi sampel material.
Maya memegang jarum jahit dengan jemari yang dingin. Di hadapannya, gaun sutra organza berwarna krem pucat itu berdiri anggun, menunggu ikatan kelim kuningan tempaan Rendra disatukan pada bagian pinggang dan bahu. Namun, sudah sepuluh menit berlalu, dan tak satu pun tusukan jarum berhasil dieksekusi oleh Maya.
Rendra melangkah mendekat. Langkah kakinya yang mantap bergema pelan di atas lantai kayu.
"Jangan menahan napasmu seperti itu, Maya. Sutra halus punya cara sendiri untuk merespons ketakutan orang yang memegangnya."
Maya tersentak kecil. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya gemetar. Tangannya ditarik kembali dari permukaan kain, bertengger di atas pangkuannya.
"Aku tidak takut," bisik Maya, meski suaranya sendiri mengkhianati pemicu getar di dadanya. Ia mendongak, menatap Rendra yang berdiri tepat di samping manekin. "Aku hanya... masih merasa pening. Kemenangan di laboratorium tadi siang terasa begitu ganjil. Semua orang menatap kita seolah kita adalah penyihir yang memutarbalikkan kenyataan."
Rendra bersedekap, menatap lurus ke dalam mata Maya.
"Kita tidak memutarbalikkan kenyataan. Kita hanya memaksa orang-orang yang buta oleh angka dan sertifikat kertas untuk melihat kebenaran material. Pembatasan yang dilakukan Victor dan Clarissa adalah cara orang tak berbakat bertahan hidup."
"Tapi taruhannya terlalu besar, Rendra!" Maya tiba-tiba berdiri, membuat kursi kayunya bergeser kasar dan menimbulkan derit keras di dalam ruangan yang sunyi. Matanya berkaca-kaca, memancarkan letupan emosi yang sejak tadi ditahannya di depan umum.
"Kau mempertaruhkan seluruh reputasimu sebagai kurator senior dan maestro Pencagai di depan puluhan kamera! Bagaimana kalau tadi Tim Penguji tidak sanggup membaca serat molekul kuningan itu? Bagaimana kalau mereka menganggap penjelasanmu tentang relief Candi Sewu Jati hanya bualan akademis untuk menyelamatkan mukaku?" Maya melangkah satu tapak mendekati Rendra, dadanya naik-turun oleh napas yang memburu. "Kenapa kau harus melangkah sejauh itu untukku?"
Rendra tidak bergeming. Wajahnya yang tegas tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. Pria itu justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Maya dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari tubuh pria itu.
"Kau pikir aku melakukan semua ini hanya untuk menyelamatkan mukamu, Maya?" suara Rendra bergema rendah, tajam, dan sarat intensitas yang membakar. "Aku tidak pernah sudi mempertaruhkan nama Pencagai untuk sesuatu yang dangkal. Aku berdiri di sana, mematahkan tuduhan busuk itu, karena aku tahu karya di atas meja itu adalah harga diri dari setiap tetes keringat yang kita keluarkan di depan bara api."
Rendra menunjuk gaun di atas manekin dengan gestur tegas.
"Gaun itu bukan cuma milikmu, dan bukan cuma milikku. Gaun itu adalah persilangan dua jiwa yang menolak tunduk pada cara-cara kotor industri ini. Jika aku membiarkan Clarissa menginjak-injak karya ini, sama saja aku membiarkan Pencagai mati."
Maya terdiam, tenggorokannya terasa menyempit. Tatapan mata Rendra yang menghujam tajam membuat seluruh pertahanan emosionalnya runtuh. Di balik ketegaran dan keanggunan yang selalu ia tampilkan di depan publik, Maya hanyalah seorang desainer muda yang kelelahan dihantam konspirasi dan manipulasi dari orang-orang terpandang.
"Aku hanya... merasa lelah," bisik Maya lirih. Sebuah titik air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. "Sejak awal kompetisi ini, aku selalu merasa berjalan di atas benang tipis. Satu langkah salah, dan Studio Nilakandi akan hancur."
Melihat kerentanan itu, raut wajah Rendra perlahan melunak. Suasana kaku di antara mereka meleleh secara drastis. Rendra mengangkat tangannya, jemarinya yang kasar oleh bekas tempaan logam terulur ragu sejenak, sebelum akhirnya menyapu lembut jejak air mata di pipi Maya.
Sentuhan itu hangat, begitu kontras dengan citra pria dingin dan berjarak yang selama ini dikenal publik. Maya memejamkan mata sejenak, meresapi kehangatan yang menjalar dari jemari Rendra—sebuah sensasi nyaman yang seketika menenangkan gemuruh di dadanya.
"Kau tidak berjalan sendiri, Maya," tutur Rendra pelan, suaranya kini berubah menjadi bisikan hangat yang mengalun di dekat telinga Maya. "Benang itu kita pegang berdua. Sekarang, duduklah. Kita selesaikan apa yang sudah kita mulai."
Maya membuka matanya, menatap Rendra dengan pendar kehangatan dan ketakjuban yang dalam. Ia mengangguk pelan, lalu kembali duduk di kursi kayunya.
Rendra mengambil posisi di sisi lain manekin. Tangannya meraih pelat kuningan tempaan yang berbentuk garis sulur organis, menempelkannya secara presisi pada bagian rusuk gaun.
"Pegang bagian ujung ini," perintah Rendra lembut.
Maya mengulurkan tangannya, meletakkan jemarinya di atas permukaan kuningan, tepat di sebelah jemari Rendra. Pada detik ketika kulit jemari mereka saling bersentuhan di atas pelat logam yang terikat kain sutra tersebut—sebuah fenomena aneh mendadak terjadi.
Logam kuningan yang semula dingin kaku itu mendadak mengalirkan gelombang hangat yang menyengat halus. Bukan sekadar suhu, melainkan denyutan berirama konstan—persis seperti detak jantung yang bergetar selaras dengan detak nadi Maya dan Rendra.
"R-Rendra..." desis Maya, matanya melebar seketika. "Kau... merasakannya?"
"Jangan lepaskan tanganmu," tahan Rendra, suaranya terdengar berat dan dalam. Matanya terpejam sejenak, meresapi getaran yang merambat dari logam ke dalam lengannya.
Di dalam keheningan bengkel, sensasi itu memuncak secara drastis. Cahaya lampu gantung di atas kepala mereka seolah mendadak meredup, digantikan oleh pendar cahaya keemas-emasan yang gaib. Pandangan mata Maya dan Rendra mendadak terkunci dalam satu frekuensi kesadaran yang sama.
Suara gesekan kain berubah menjadi deru angin malam yang berembus di antara celah batu-batu tua. Aroma benang dan minyak mesin jahit berganti menjadi bau harum asap kayu jati dan belerang pembakaran. Di hadapan kesadaran mereka yang bertaut, terbentang pelataran batu kuno Candi Sewu Jati di bawah pendar purnama abad silam.
Di sana, di bawah naungan relief sulur pilin yang terukir di dinding batu, terlihat sosok seorang wanita berbusana kemben kain tenun halus dengan ornamen logam mengilat di pinggangnya, berdiri berdampingan dengan seorang pria bertubuh tegap yang memegang pahat perunggu. Keduanya menatap ke arah tempat Maya dan Rendra berdiri—menyampaikan sebuah keheningan yang sarat akan janji warisan yang tak terputus oleh zaman.
ZAP!
Sensasi gaib itu terputus seketika. Lampu gantung bengkel kembali berpendar normal. Maya tersentak hebat, menarik tangannya dari atas pelat kuningan seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang seolah baru saja berlari maraton.
Di hadapannya, Rendra juga menatap pelat kuningan itu dengan binar mata yang sarat kejutan mendalam. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban logis untuk segala hal itu kini terdiam mematung, meresapi sisa getaran gaib yang baru saja menghantam jiwa mereka.
"Itu... itu bukan sekadar ilusi atau bayangan masa lalu, kan?" suara Maya gemetar, matanya menatap Rendra mencari kepastian. "Pengalaman kita di reruntuhan Candi Sewu Jati waktu itu... relief itu... semuanya terhubung ke dalam gaun ini!"
Rendra perlahan menarik napas dalam-dalam, menguasai kembali ketenangannya. Ia menatap gaun sutra organza berhias kuningan itu dengan rasa hormat yang baru.
"Logam dan batu menyimpan memori, Maya," sahut Rendra pelan namun pasti. "Saat kita menempa kuningan ini di Pencagai dengan intensitas penuh, dan saat kau menjahitnya dengan ketulusan jiwa tanpa kepalsuan, material ini menyerap frekuensi itu. Reruntuhan Candi Sewu Jati tidak pernah mati—ia hidup kembali di dalam karya ini."
Rendra melangkah mendekati Maya, meraih jemari wanita itu yang masih gemetar, lalu melingkupinya dengan kedua telapak tangannya yang hangat.
"Victor dan Clarissa mungkin punya modal ratusan miliar rupiah, mesin-mesin canggih pabrikan, dan pengacara papan atas," ujar Rendra, matanya menyala oleh kebanggaan dan tekad yang tak tergoyahkan. "Tapi mereka tidak akan pernah memiliki ini. Mereka tidak punya jiwa di dalam karya mereka."
Maya menatap jemarinya yang berada di dalam genggaman Rendra. Rasa takut, lelah, dan keraguan yang sejak tadi menyiksanya perlahan menguap, berganti menjadi pendar keberanian yang membakar dada.
"Ayo kita selesaikan gaun ini, Rendra," ucap Maya tegar, sebuah senyum tipis penuh keyakinan terbit di bibirnya. "Kita tunjukkan pada mereka di malam final, seperti apa rupa karya yang lahir dari kejujuran tangan dan warisan leluhur."
Rendra tersenyum—sebuah senyum langka yang amat tulus dan menawan. Ia melepaskan genggamannya, lalu meraih kembali jarum jahit dan memberikan tangkainya ke tangan Maya.
Di bawah pendar hangat lampu gantung bengkel Pencagai, malam terus merambat makin larut. Namun, di dalam ruangan yang berbau minyak dan jelaga itu, tak ada lagi keraguan. Setiap tusukan jarum, setiap pintalan benang, dan setiap ketukan kelim kuningan menjadi simfoni yang padu.
Namun, di tengah keheningan malam yang larut, bayangan seseorang merayap perlahan dari luar pagar bengkel, menggenggam pemantik api yang siap menyulut cairan kimia berbahaya ke dinding kayu Pencagai.