NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Part 2

Satu jam kemudian.

Suasana di ruang tamu kontrakan gendis terasa menyesakkan. Segelas air putih sudah berdiri di depan meja sebagai mahar, karena dompet Arya hilang. Pak Penghulu yang diseret dari tidurnya tampak menguap sesekali, merapalkan kalimat ijab kabul dengan cepat.

Gendis menunduk dalam, air matanya terus menetes membasahi punggung tangannya. Pikirannya melayang pada Galang.

Mas Galang... Maafkan aku... maafkan Gendis, Mas... batinnya menjerit pilu. Bayangan wajah teduh suami pertamanya yang meninggal karena terbakar saat kecelakaan mobil itu berkelebat. Rasanya seperti ia sedang mengkhianati cinta sucinya. Tapi ia tak punya pilihan. Warga sudah menyiapkan bensin di luar rumah jika mereka menolak.

"Saya terima nikah dan kawinnya Gendis Annisa Atmajaya binti almarhum Broto Atmajaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Arya mengucapkan kalimat sakral itu dengan satu tarikan napas,tidak ada rasa haru disana karena dilakukan dengan keterpaksaan.

"Sah?"

"Sah!"

Kata sah itu terdengar menyakitkan di telinga Gendis. Bu Marni dan warga lain tersenyum puas, merasa sudah menegakkan moral di kampung mereka. Setelah itu satu persatu mulai bubar dari sana, meninggalkan pasangan pengantin baru itu dalam keheningan yang mencekam.

Pintu tertutup. Kini, hanya tinggal mereka berdua. Para warga sudah kembali pulang kerumah mereka masing-masing.

Gendis masih menunduk, tidak berani mengangkat wajah. Ia mendengar suara langkah kaki Arya mendekat. Aroma maskulin bercampur bau darah dan keringat menguar, membuat Gendis merinding.

Tangan kekar Arya mencengkeram dagu Gendis, memaksanya mendongak. Untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu dalam jarak dekat. Mata Arya indah, tapi sorotnya memancarkan kebencian yang begitu dalam.

"Dengar baik-baik, Nyonya Gendis," bisik Arya, suaranya pelan tapi menusuk tajam tepat ke ulu hati.

"Ka-kamu salah paham, Tuan..." cicit Gendis gemetar. Siapa yang tidak takut di hadapkan dengan pria arogan seperti Arya, niat mau menolong malah kejebak nikah paksa begini.

"Simpan aktingmu. Saya tidak peduli siapa kamu, atau seberapa miskin hidupmu sampai harus menjebak saya seperti ini," potong Arya. Ia mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Bukan untuk mencium, tapi untuk mengintimidasi. Pernikahan dadakan ini sungguh membuat nya tersiksa. Kalau dalam novel, pernikahan paksaan ini pasti keduanya sama-sama single. Tapi, istri siri nya ini... Dia seorang janda!

"Kamu mungkin sudah berhasil mendapatkan apa yang kamu rencanakan'. Tapi ingat satu hal... Saya pastikan, pernikahan ini akan jadi neraka buat kamu. Jangan harap saya akan menganggapmu ada, apalagi menyentuhmu. Saya jijik dengan barang bekas seperti kamu!"

Arya menghempaskan wajah Gendis kasar, lalu berjalan tertatih menuju kamar tidur satu-satunya di situ.

"Tidur di sofa. Jangan berani masuk kamar, karena malam ini kamar mu milikku."

Gendis terpaku di tempatnya. Tangisnya pecah tanpa suara. Di luar sana, bulan bersinar terang, seolah menertawakan nasibnya yang kini terikat pada pria asing yang membencinya setengah mati. Apa dia menginginkan pernikahan ini, tentu tidak. Sementara jauh di sana, di sebuah ranjang rumah sakit di luar kota, sebuah jari tangan yang sudah lama kaku, perlahan bergerak kecil.

Takdir baru saja memulai permainannya.

_____________

Sinar matahari pagi yang menerobos celah ventilasi membangunkan Gendis dari tidur ayamnya. Badannya terasa remuk redam. Semalam, ia hanya tidur beralaskan tikar tipis di lantai ruang tamu, mengalah pada suami barunya yang menguasai satu-satunya kasur di rumah itu.

Gendis mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan nyawa. Namun, saat pandangannya menyapu ke arah kamar, matanya menyipit tajam. Arya tidak ada di sana. Gendis segera bangkit, merapikan kerudungnya, dan melangkah cepat ke pintu depan yang sedikit terbuka. Matanya menyapu halaman kecil kontrakannya hingga ke ujung gang.

Mobil mewah itu sudah lenyap. Gendis menghela napas kasar. Ia kembali masuk dan pandangannya tertumbuk pada meja kayu kecil di samping sofa. Ada lima lembar uang seratus ribuan tergeletak di bawah gelas bekas minum Arya.

Gendis menatap uang merah itu. Rahangnya mengeras. Ia merasa tersinggung dengan perlakuan laki-laki bernama Arya tadi, rasa sabar nya semalam berubah jadi bara yang membakar dada.

"Lima ratus ribu?" gumamnya sinis. Ia menyambar uang itu, meremasnya kuat-kuat. "Dia pikir harga diriku sebatas uang jajan ini?"

Sebenarnya Gendis bukan orang miskin seperti yang di duga Arya atau warga desa sana, ia sengaja mennepi kesana karena ingin sejenak melupakan kenangan suaminya. Ia menyewa rumah temannya Siska untuk beberapa bulan saja. Tapi lihat... Dari pertama dia datang kesini, para tetangga sudah menatapnya sinis. Ia pikir karena pakaiannya yang terlalu mencolok, jadi dia sengaja meminta Siska mencari beberapa baju sederhana. Tapi, dia sadar kalau semua itu bukan karena pakaiannya, tapi statusnya sebagai janda muda yang di tinggal mati suaminya.

Sekarang, bukan ketenangan yang dia dapatkan, justru masalah baru yang sepertinya lebih serius.

"Tadi malam dia menikahiku hanya dengan mahar segelas air putih, tapi pagi ini... Dia meninggalkkan aku uang 500 ribu?" Gendis meremas uang itu lalu melemparkannya ke lantai.

Arya jelas kabur. Pria itu lari dari tanggung jawab, meninggalkannya sendirian menghadapi mulut buas warga kampung, dan mencoba membungkam mulutnya dengan uang receh.

"Wah, wah, wah! Lihat siapa yang bengong di pintu pagi-pagi!" Suara cempreng Bu Marni langsung memecah keheningan. Wanita itu sudah berdiri di pagar, berkacak pinggang dengan wajah penuh kemenangan. Di sampingnya, dua ibu-ibu lain menatap Gendis dengan senyum mengejek.

"Mana suaminya, Neng Gendis? Kok sepi?" tanya Bu Marni dengan nada dibuat-buat manis. "Mobil mewahnya mana? Kok sudah nggak ada?"

Gendis menegakkan punggungnya. Ia berjalan mendekati pagar, menatap Bu Marni lurus tepat di manik mata. Tidak ada gurat ketakutan di wajahnya.

"Dia kerja, Bu Marni. Bukan nganggur dan mengurusi hidup orang lain," jawab Gendis tenang namun tajam.

Senyum Bu Marni luntur seketika. "Halah! Kerja atau kabur? Paling semalam cuma dinikahi biar nggak digebuki warga, terus paginya ditinggal. Dibuang kayak sampah!"

"Kasihan ya," timpal ibu di sebelahnya. "Berarti sekarang statusnya janda dua kali dong?"

Gendis tersenyum tipis, senyum yang dingin. "Bu, daripada sibuk menghitung status janda saya, lebih baik Ibu cek kompor di rumah. Takutnya gosong, sama seperti hati Ibu yang panas melihat orang lain."

Tanpa menunggu balasan, Gendis menutup pintu rumahnya dengan tegas.

Bam!

Di balik pintu, Gendis bersandar sejenak, mengatur napasnya yang memburu. Tangannya masih mengepal erat. Ia sakit hati, tentu saja. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan membiarkan orang-orang ini melihatnya hancur.

"Lihat saja, kamu Arya," desisnya pelan. "Aku akan kembalikan uangmu ini, tepat di depan wajahmu."

Bersambung...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!