NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 "KAMU KENAPA HARUMI?!"
"AAAAAAAAA!!!"
Jeritan melengking dari salah satu penonton di barisan terdepan sukses menyayat kesunyian yang sempat membeku di udara.
Jeritan itu menarik paksa kesadaran semua orang. Detik itu juga, mereka sadar bahwa adegan tertusuknya Haruma oleh bilah pisau tajam di tangan Harumi, sama sekali bukanlah bagian dari naskah pertunjukan.
"Haruma!!" raung Yuda.
Pemuda itu menghambur ke tubuh Haruma, merengkuh tubuhnya yang kini tergeletak lemas bersimbah darah di atas lantai panggung yang disinari cahaya lampu kekuningan terang.
Bau anyir darah Haruma seketika menguar, menusuk penciuman Yuda.
Kepanikan meledak!
Teman-teman mereka yang menjadi lakon pendukung berhamburan dari balik tirai, mengerumuni tubuh Haruma.
Di bangku penonton, keriuhan berubah menjadi kekacauan massal. Wajah-wajah pucat pasi berhias horor tak percaya melihat adegan berdarah antara kakak dan adik itu.
Dion, yang berdiri paling dekat setelah dirinya berlari dari pinggir panggung, menatap ngeri pada bilah pisau yang masih meneteskan darah di genggaman Harumi. Tanpa berpikir panjang, ia menepis kasar pergelangan tangan gadis itu hingga senjata tajam tersebut terpelanting ke sudut panggung dan berdenting nyaring.
"KAMU KENAPA, HARUMI?!" bentak Dion, memposisikan dirinya sebagai tameng di depan gadis itu.
Lalu... sebuah keanehan mencekam menyusul.
Aura pekat dan tatapan mengerikan yang sejak tadi membelenggu Harumi seolah menguap begitu saja, ditarik paksa oleh kekuatan tak kasat mata.
Tubuh gadis itu mendadak gemetar hebat. Kesadarannya kembali hanya untuk disuguhi pemandangan yang menghancurkan kewarasannya.
Napasnya tersengal memburu. Sepasang netranya terbelalak maksimal, menatap nanar tubuh kakaknya yang terkapar dengan luka menganga yang terus memuntahkan darah segar.
"A—apa... a-apa yang..." Suara Harumi tercekat di tenggorokan. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah Kakaknya itu.
Kakinya memaku di lantai panggung, terlalu kaku untuk sekadar melangkah. Dunia seakan runtuh melihat kakaknya tak sadarkan diri di tengah kepungan panik teman-teman dan panitia.
Keadaan semakin kalut!
Beberapa panitia bergegas menggotong tubuh Haruma turun dari panggung. Di sisi lain, lutut Harumi kehilangan daya topangnya. Tubuh gadis itu merosot lemas, yang untungnya dengan cepat ditangkap dan ditahan oleh dua orang panitia.
Di sudut lain, seseorang panitia juga terlihat berteriak panik ke arah ponselnya, memanggil ambulans darurat.
Sungguh...
Panggung pagelaran lomba seni drama yang seharusnya menjadi saksi bisu kemegahan kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang malam itu...
TELAH BERUBAH MENJADI PANGGUNG BERDARAH YANG MENCEKAM.
.....
.....
🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕
🚑🚑🚑🚑🚑🚑🚑
Niiinuuu... Niiinuuu... Niiinuuu...
Raungan sirene ambulans melolong nyaring, membelah lautan kendaraan yang cukup padat di bawah pekatnya langit malam.
Sang kernet yang duduk di sebelah bangku kemudi tak henti-hentinya meneriakkan instruksi lewat pelantang suara, berusaha memecah kemacetan.
"MINGGIR!! TOLONG KASIH JALAN!! ADA PASIEN KRITIS! TOLONG MINGGIR DULU!!"
Dan sang sopir berusaha tetap fokus agar laju ambulans tetap lancar tanpa menabrak kendaraan lain di depannya.
Di kabin belakang yang berbau obat-obatan, Haruma tergolek tak berdaya.
Kesadarannya telah lama raib.
Luka tusuk yang menganga di perutnya terus ditekan kuat-kuat oleh kedua belah tangan Yuda yang kini ikut berlumuran darah. Yuda menekan lukanya dengan putus asa, mencoba menahan laju pendarahan hebat yang tak kunjung berhenti.
Kulit tangan dan wajah Haruma semakin memucat, sedingin es.
Pemandangan itu meremukkan pertahanan Yuda yang menemaninya seorang diri di dalam ambulans.
Air matanya tak lagi bisa dibendung.
"Hiks-hiks... Haruma... Kumohon! Bertahanlah..." isaknya bergetar di sela deru mesin ambulans yang melaju gila-gilaan.
.....
.....
🏥🏥🏥🏥🏥🏥🏥
Decit ban beradu dengan aspal memecah keheningan malam saat ambulans mengerem mendadak, tepat di depan lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD). Lampu rotator merahnya masih menyala terang, menyapu dinding kaca rumah sakit dengan warna merah pekat.
Pintu kabin belakang didobrak buka dari luar oleh kernet. Sepersekian detik kemudian, beberapa petugas medis berseragam hijau berhamburan keluar menyambut mereka, mendorong brankar beroda dengan gerakan tergesa namun terukur.
"Satu, dua, tiga! Angkat!" instruksi salah satu perawat.
Yuda terpaksa melepaskan tekanan tangannya di perut Haruma, membiarkan para petugas memindahkan tubuh tak berdaya Haruma yang semakin mendingin itu ke atas brankar.
Darah segar kembali merembes tatkala tangannya diangkat.
Dengan pergerakan cepat, para perawat itu langsung melesat membawa Haruma menembus pintu ganda ruang IGD.
Sementara Yuda, ia tak ikut berlari. Pemuda itu tertinggal di depan pintu ambulans yang terbuka, mematung bagai kehilangan ruh.
Perlahan, ia mengangkat kedua belah tangannya.
Merah pekat!
Bau anyir yang sangat tajam menguar dari telapak tangannya sendiri, menyajikan teror psikologis yang meremukkan kewarasannya.
Dengan langkah gontai yang nyaris tanpa tenaga, Yuda melangkahkan kakinya memasuki ruang IGD. Tatapannya kosong.
Seorang perawat yang menyadari keadaannya segera menuntun Yuda ke wastafel terdekat, membantunya membasuh darah yang mulai mengering di sela-sela jarinya karena terpapar dinginnya udara AC ruang tersebut.
"Mas, silakan duduk dulu di ruang tunggu, ya. Tenangkan diri Mas. Temannya sedang kami tangani semaksimal mungkin," ucap perawat itu lembut.
Yuda hanya menurut.
Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi tunggu dengan tulang-tulang yang seolah meluruh.
Wajah pucatnya menoleh pelan.
Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat kerai kaca ruang tindakan ditarik kasar dari dalam, menghalangi pandangan. Namun, siluet dokter dan para perawat yang bergerak panik dari balik kaca buram itu, sudah cukup untuk menjelaskan seberapa kritis kondisi Haruma di dalam sana.
Waktu terasa berjalan sangat lambat, hingga suara derap langkah terburu-buru memecah keheningan lorong rumah sakit.
"Yuda!!" Seruan parau Dion menggema.
Pemuda itu berlari mendekat dengan napas memburu, disusul oleh rombongan teman-teman dramanya dan dua orang panitia yang wajahnya sama tegangnya.
"Gimana Haruma, Yud?! Dia langsung ditangani, kan?!" cecar Dion.
Namun yang ditanya membisu.
Yuda tetap menunduk menatap lantai, tubuhnya menggigil didera sensasi dingin yang bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari trauma yang mencekik batinnya.
Melihat seorang perawat tergopoh-gopoh hendak menuju ke ruang rindakan tersebut, Dion langsung beralih mencegatnya. "Mbak, pasien luka tusuk yang baru datang tadi gimana kondisinya?!"
"Mohon sabar dan tenang dulu ya, Mas. Jangan panik. Pasien sedang ditangani secara intensif di dalam," jawab perawat itu cepat. Ia segera bergegas kembali masuk dan menutup rapat-rapat pintu ruangan itu.
Jawaban tersebut setidaknya memberikan sedikit embusan napas lega bagi Dion dan teman-teman yang lain.
Sedangkan Yuda, masih saja tenggelam dalam kebisuan yang kalut.
"Yud..." panggil Dion memelankan suaranya, menjatuhkan tubuhnya duduk di sebelah sahabatnya itu.
Dion ingin melontarkan pertanyaan, namun kata-katanya tertahan di kerongkongan.
Lidahnya kelu.
Jangankan untuk bertanya atau menghibur Yuda, otak dan pikirannya sendiri masih lumpuh, berusaha keras mencerna sebuah teka-teki gila...
TENTANG APA YANG SEBENARNYA TERJADI PADA HARUMI, HINGGA TRAGEDI BERDARAH ITU BISA TERJADI DI ATAS PANGGUNG.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda