NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengaji Berdua

*KLEK.*

Suara kunci pintu kayu jati itu terdengar pelan tapi jelas. Bukan kunci yang kasar, kunci yang hati-hati.

Ning Sopiah yang masih duduk di kursi tamu dengan mukena putihnya yang kebesaran langsung duduk makin tegak. Tangannya meremas ujung mukena. Gugupnya balik lagi, padahal tadi di masjid sudah agak tenang.

Gus Azam membalikkan badan setelah mengunci. Wajahnya yang tadi wibawa sebagai imam, sekarang lebih lembut, tapi tetap menjaga jarak. Ia tidak langsung mendekat. Ia justru menarik kursi kebesarannya mundur sedikit, memberi jarak sekitar satu meter lebih dari kursi Ning Sopiah. Di antara mereka, ada meja kayu jati yang kokoh menjadi pembatas. Adab.

Di atas meja, tidak ada satu mushaf. Ada dua. Dua mushaf dengan sampul hijau tua yang sama, sudah disiapkan Gus Azam sebelum Ning Sopiah masuk. Satu di sisi kanan meja, satu di sisi kiri.

"Ning," sapa Gus Azam pelan, duduk dengan tenang, "Maaf saya kunci pintu. Bukan karena apa-apa. Di luar itu Ning Latifah kalau sudah mode kepo, bisa teriak-teriak dari jendela. Saya kunci biar khusyu kita tidak terganggu."

Ning Sopiah mengangguk kecil, suaranya hampir tidak terdengar, "Nggih, Gus..."

Gus Azam tersenyum, lalu menatap dua mushaf di depannya.

"Ning, sebelum kita mulai rapat tugas mengajar ini, saya mau kita sepakati satu hal dulu. Kita baru selesai Dhuha. Wudhu kita masih ada. Sayang kalau batal hanya karena hal sepele. Jadi kita jaga wudhunya ya. Ilmu itu berkahnya ada di adabnya."

Ning Sopiah langsung mengangguk semangat, matanya berbinar karena merasa dihargai, "Nggih Gus! Sopiah setuju. Sopiah juga tadi kepikiran begitu."

"Bagus. Jadi tidak ada pegangan tangan, tidak ada sentuhan. Mushafnya pun masing-masing. Kamu pegang punya kamu, saya pegang punya saya. Kalau saya mau membenarkan bacaan kamu, saya pakai lisan saja, tidak pakai tangan. Setuju, Ustadzah Sopiah?"

Ning Sopiah yang dipanggil Ustadzah langsung merah padam, "Gus... jangan panggil Ustadzah, Sopiah malu... Sopiah masih belajar..."

"Ya sudah, kalau malu dipanggil Ustadzah, saya panggil Ning saja. Ning Sopiah yang paling kecil yang paling pinter jaga wudhu."

Gus Azam membuka mushafnya, Ning Sopiah pun membuka mushafnya sendiri, dengan hati-hati karena tangannya masih gemetar.

"Coba sekarang, Ning. Buka mukena bagian wajahnya saja, pelan-pelan. Bukan dilepas semua. Cukup yang menutupi wajah. Saya mau melihat makhrajnya ketika kamu membaca, biar saya bisa koreksi dengan benar. Saya janji, saya lihat dari sini saja."

Dengan gerakan pelan dan sangat hati-hati, Ning Sopiah membuka kain mukena yang menutupi wajahnya. Ia melipatnya ke belakang dengan rapi. Terlihatlah ciput putih yang ia pakai, wajah bulatnya yang bersih karena habis wudhu, pipinya yang masih merah, dan mata sembabnya yang tadi habis menangis saat dzikir pagi.

Gus Azam yang melihat itu langsung menghela nafas pelan dan beristighfar lirih, "Astaghfirullah... MasyaAllah..."

Ning Sopiah panik, "Kenapa Gus? Ada yang salah?"

Gus Azam menggeleng cepat, matanya tidak lepas dari mushaf tapi sesekali melirik ke arah Ning Sopiah, "Tidak salah, Ning. Justru bagus sekali. Adem lihatnya. Wajah habis wudhu, mata habis nangis karena dzikir, dibalut mukena putih... ini pemandangan yang bikin imam betah di ruangan kerjanya."

Ning Sopiah langsung menunduk, menutupi wajahnya dengan mushaf kecilnya, "Gus gombal..."

"Bukan gombal, Ning. Ini pujian yang jujur. Makanya saya bilang, tugas kamu bukan hanya mengajar santri putri nanti sore, tapi juga mengajari saya bagaimana caranya melihat sesuatu yang indah tanpa harus menyentuhnya. Itu pelajaran tasawuf yang paling tinggi."

Ning Sopiah menurunkan mushafnya perlahan, mulai memberanikan diri menatap Gus Azam dari seberang meja.

Gus Azam memberi isyarat dengan tangannya, tetap tanpa menyentuh, "Mulai ya, Ning. Kita mulai dari Surat Ad-Dhuha. Surat yang tadi pagi hampir salah saya baca karena melihat kamu di saf depan. Kamu baca, saya dengarkan dari sini. Kalau salah waqof atau tajwid, saya benerin."

Ning Sopiah menarik nafas panjang, menenangkan debar jantungnya, lalu mulai membaca dengan suara pelan tapi tartilnya sangat bagus, karena ia memang hafidzah.

"Wad-duha..."

Gus Azam memejamkan mata sejenak, mendengarkan, lalu membuka mata dan tersenyum, "MasyaAllah... bagus, Ning. Tapi waqofnya kurang panjang sedikit. Coba lagi, Wad-duhaaaaa... biar kerasa rindunya."

Ning Sopiah mengulang, kali ini lebih panjang dan lebih percaya diri, "Wad-duhaaaaa..."

"Nah! Pintar! Itu baru muridnya Gus Azam. Lanjut, ayat kedua, Ning."

"Wallylaili idza saja..."

"Allah... suaranya, Ning... kalau kamu ngaji begini, ruangan kayu yang pengap ini jadi adem seperti habis hujan. Lanjut, Ning, jangan berhenti. Saya betah dengarnya."

Setiap ayat yang dibaca Ning Sopiah, Gus Azam memberikan pujian yang tulus, bukan rayuan yang berlebihan. Pujian seorang guru yang bangga pada muridnya, pujian seorang suami yang kagum pada istrinya.

"Ma wadda'aka rabbuka wa ma qala..."

"Bagus, Ning. Jelas makhrajnya. Kamu kalau ngajar santri putri nanti pasti mereka betah, karena gurunya bacaannya bagus, adabnya bagus, wudhunya dijaga."

Sampai mereka tiba di ayat yang paling dalam, "Wa la saufa yu'thika rabbuka fa tardha."

Ning Sopiah berhenti. Ia menatap Gus Azam dari balik mushafnya, matanya berkaca-kaca lagi.

"Gus, artinya apa? Sopiah lupa tafsirnya..."

Gus Azam menutup mushafnya pelan, lalu menatap Ning Sopiah dengan tatapan yang sangat khusyu, tatapan yang tidak perlu sentuhan untuk menyampaikan rasa.

"Artinya, dan sungguh kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga kamu menjadi puas, menjadi ridha. Kamu tahu apa karunia terbesar saya setelah pesantren ini, Ning?"

Ning Sopiah menggeleng pelan.

"Karunia saya adalah, saya punya tiga bidadari. Ummah yang bijak, Latifah yang ceria, dan kamu... Sopiah yang paling kecil, yang mengajari saya bahwa romantis itu tidak harus pegangan tangan. Romantis itu adalah ketika dua orang menjaga wudhu bersama, menjaga jarak karena Allah, tapi hatinya saling mendekat. Itu yang bikin saya puas, Ning. Fa tardha."

Air mata Ning Sopiah menetes lagi, jatuh di atas kain mukenanya. Ia tidak minta dihapuskan oleh Gus Azam. Ia menghapusnya sendiri dengan ujung mukenanya, menjaga adabnya.

"Gus..." suaranya gemetar, "Sopiah juga puas... kalau Gus puas sama bacaan Sopiah..."

Gus Azam tertawa pelan, tawanya hangat dan khusyu, "Puas, Ning. Sangat puas. Makanya tugas mengajar resmi kamu hari ini saya nyatakan lulus. Nilai A plus plus. Kamu pegang kelas Tahsin putri mulai sore ini. Jadwalnya sudah saya tulis."

Ia mendorong sebuah kertas jadwal ke tengah meja, tidak sampai menyentuh tangan Ning Sopiah.

"Dan tugas tidak resminya..."

Ning Sopiah menatap kertas itu, lalu menatap Gus Azam lagi, "Apa Gus?"

"Tugas tidak resminya adalah, setiap habis Dhuha, kamu datang ke sini lagi. Dengan mukena putih ini, dengan dua mushaf ini, dengan jarak satu meter ini. Kita murojaah berdua, tanpa sentuhan, tanpa batal wudhu. Karena bagi saya, melihat kamu ngaji dari seberang meja seperti ini... itu sudah lebih dari cukup. Itu khusyu yang paling romantis."

Ning Sopiah mengangguk dengan senyum yang akhirnya lepas, senyum yang tidak lagi malu, tapi senyum bahagia, "Nggih, Gus. Sopiah janji. Sopiah akan datang setiap habis Dhuha. Asal..."

"Asal apa, Ning?"

"Asal Gus tidak kunci pintunya lama-lama, nanti Kak Latifah ngintip lagi dan teriak 'cie' lagi, Sopiah malu..."

Gus Azam langsung ngakak, ngakaknya lepas di ruangan yang seharusnya formal itu, "Hahaha, itu dia! Saya kunci pintu karena saya mau jaga kamu dari Latifah! Kalau tidak dikunci, dia sudah masuk dan duduk di tengah-tengah kita sambil bawa gorengan!"

Dan benar saja, dari luar jendela yang sedikit terbuka, terdengar suara Ning Latifah yang setengah berbisik setengah teriak,

"Kak Ummah! Kok gak ada suara pegangan tangan? Kok malah suara ngaji? Wah gak seru! Kirain ada yang..."

Lalu terdengar suara Ning Ummah yang bijak menimpali sambil menarik kerudung Ning Latifah,

"Sstt, Latifah. Diam. Mereka lagi belajar menjaga wudhu. Itu pelajaran cinta yang paling tinggi. Kamu kapan pahamnya?"

Di dalam ruangan, Gus Azam dan Ning Sopiah saling pandang, lalu tertawa bersama, tanpa sentuhan, tanpa batal wudhu, hanya dengan dua mushaf yang terbuka di pangkuan masing-masing dan hati yang sama-sama merasa puas, Fa Tardha.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!