NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Tinggal, Shadow

PRANG!

Pecahan kaca pintu belakang berhamburan bagai kristal es yang digilas badai. Bersamaan dengan suara hantaman itu, bayangan hitam melesat masuk ke dalam ruang tengah. Semburan kilat dari moncong SIG Sauer milik Elikai merobek keheningan dalam hitungan sepersekian detik.

Dua kepulan asap membubung. Dua pria bertopeng yang paling dekat dengan jendela langsung tumbang. Peluru Elikai menembus tepat di titik tengah dahi mereka sebelum saraf motorik mereka sempat menarik pelatuk. Tubuh mereka ambruk menimpa lantai kayu dengan bunyi debum yang berat.

"Penyusup! Tembak—"

Kalimat itu terputus di tenggorokan pria bertopeng ketiga. Elikai tidak memberikan waktu bagi musuh untuk bernapas. Ia berguling di balik sofa, membiarkan rentetan peluru senapan serbu HK416 mencabik-cabik busa dan kain beludru di atas kepalanya. Serpihan kayu dan kapuk berterbangan di udara, memenuhi ruangan dengan bau hangus.

Dari posisi tiarap, Elikai mengarahkan senjatanya ke bawah kolong sofa, membidik pergelangan kaki dua penembak lainnya. Dua tembakan beruntun berbunyi pfft-pfft karena peredam suara. Jerit kesakitan bergema saat kedua orang itu ambruk dengan lutut hancur. Elikai bangkit kilat, melepaskan dua tembakan eksekusi ke kepala mereka. Empat tumbang dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

Tapi, saat Elikai memutar tubuhnya untuk mengunci target kelima, sebuah bayangan tegap melesat dari balik pilar. Ujung laras senapan serbu menghantam pergelangan tangan Elikai dengan keras. Senjata Elikai terlempar, mendarat jauh di bawah meja makan.

Elikai mendengus, menahan sakit yang menjalar di tangan kanannya. Memanfaatkan momentum, ia menarik pisau komando yang terselip di sepatu botnya, berniat merobek leher penyerang terakhir itu. Namun, kepalanya mendadak dihantam dari belakang oleh popor senjata penembak keenam yang ternyata masih bertahan.

BUM!

Pandangan Elikai berkunang-kunang. Sensasi hangat dan kental langsung mengalir dari pelipisnya, membasahi separuh wajahnya. Ia berlutut di lantai, napasnya memburu, sementara dua laras senapan langsung ditekan keras-keras ke punggung dan tengkuknya, memaku tubuh sang agen legendaris itu ke lantai.

"Cukup," sebuah suara berat meredam kekacauan.

Pria bertopeng yang sejak awal berdiri di dekat orang tua Elikai melangkah maju. Sepatu botnya melompati genangan darah anak buahnya sendiri tanpa peduli. Ia berdiri tepat di depan Elikai yang terkapar. Jarinya bergerak ke belakang kepala, melepas simpul topeng balaklava hitam yang membungkus wajahnya.

Ketika kain itu terlepas, jantung Elikai rasanya berhenti berdetak. Amarah yang membakar dadanya mendadak membeku menjadi rasa tidak percaya yang luar biasa dingin.

Wajah di balik topeng itu sangat familier. Garis rahang yang tegas, struktur hidung yang mirip dengannya, dan setelan jas mahal yang kini berbercak darah.

"Paman... Gaizka?" suara Elikai tercekat di tenggorokan, parau dan bergetar.

Gaizka Wijaya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh penghinaan yang biasa ia tunjukkan saat memenangkan tender bisnis. "Kau terlalu hebat di lapangan, Elikai. Sayangnya, kau terlalu buta untuk melihat siapa yang memegang kendali di belakangmu."

Sebelum Elikai sempat mencerna kenyataan pahit itu, langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah pintu depan rumah. Seorang pria paruh baya dengan seragam militer lengkap berjalan masuk. Di pundaknya, bintang emas berkilau di bawah lampu ruang tengah yang bergoyang.

Jenderal Jendra. Mentor yang memungut Elikai dari jalanan, pria yang melatihnya menjadi mesin pembunuh paling mematikan di Phantom, kini berdiri di sana dengan cerutu yang menyala di sela jarinya.

"Pekerjaan yang berantakan, Gaizka," ucap Jendra dingin, menatap empat mayat anak buahnya di lantai. Mata elangnya kemudian beralih pada Elikai. Tidak ada penyesalan, tidak ada rasa bersalah. Hanya tatapan kosong seorang atasan yang sedang menyingkirkan alat yang sudah tidak berguna.

"Jenderal... kenapa?" bisik Elikai. Seluruh kesetiaannya pada organisasi, semua luka tembak dan sayatan yang ia terima demi menjalankan misi negara, mendadak terasa seperti lelucon paling bodoh di dunia.

"Phantom membutuhkan struktur baru, Kai," Jendra mengembuskan asap cerutu ke wajah Elikai. "Dan pamanmu menawarkan modal yang tidak bisa ditolak oleh negara ini untuk memperluas jaringan bisnisnya. Kau? Kau terlalu lurus. Agen sepertimu hanya akan menjadi batu sandungan bagi masa depan organisasi."

Gaizka melangkah mendekati kursi tempat ayah Elikai terikat. Ia mencabut sebuah pistol revolver berlapis krom dari balik jasnya.

"Gaizka! Jangan! Dia kakak kandungmu!" ibunya Elikai menjerit histeris, sumpal kainnya telah terlepas saat ia merangkak, memohon dengan bersujud di depan kaki Gaizka.

"Kakak kandung yang terlalu banyak tahu," desis Gaizka dingin.

Tanpa ragu sedikit pun, Gaizka mengarahkan moncong pistolnya ke pelipis ayahnya Elikai.

"Tidak! Paman, hentikan! Bunuh saja aku! Sialan, cepat bunuh aku!" Elikai meraung, mencoba bangkit sekuat tenaga. Akan tetapi, injakan sepatu bot Jendra di punggungnya membuat tulang rusuk Elikai berderit, memaksanya kembali mencium lantai.

DOR!

Suara tembakan revolver mengguncang ruangan. Kepala ayah Elikai terkulai ke samping. Darah segar menyemprot, menodai dinding putih di belakangnya. Ibunya menjerit dengan lengkingan yang begitu menyayat hati hingga suaranya pecah menjadi serak.

"Dan untukmu, Kakak ipar..." Gaizka memutar tubuhnya, mengarahkan senjata pada ibunya Elikai yang masih menangis histeris di atas lantai.

DOR!

Satu tembakan lagi. Tubuh ibunya Elikai ambruk seketika di atas genangan darah suaminya. Matanya yang terbuka menatap kosong ke arah Elikai, menyiratkan luka yang mendalam sebelum cahayanya padam sepenuhnya.

Dunia Elikai runtuh. Pekikan kemarahan tertahan di dadanya, berubah menjadi raungan binatang buas yang terluka. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya saat melihat kedua orang tuanya dibantai seperti binatang di depan matanya sendiri.

"Sekarang, giliran si kecil," Gaizka mengalihkan pandangannya ke arah sudut ruangan.

Di sana, di balik meja yang terguling, Lily meringkuk dengan tubuh bergetar hebat. Kedua tangannya menutup telinga, mencoba meredam suara tembakan yang baru saja merenggut nyawa orang tuanya. Bando mahkota kecilnya sudah jatuh ke lantai.

"Paman, aku mohon... jangan Lily... dia tidak tahu apa-apa..." suara Elikai melemah, berubah menjadi rintihan putus asa. Sang Shadow yang legendaris kini mengemis nyawa di atas lantai rumahnya sendiri.

Gaizka tidak mendengarkan. Ia melangkah mendekati Lily, menjambak rambut bocah sepuluh tahun itu hingga mendongak. Lily menatap pamannya dengan mata yang dipenuhi horor mutlak.

"Selamat ulang tahun, Lily," bisik Gaizka kejam.

DOR!

Tubuh kecil Lily terhempas ke lantai. Gaun ulang tahun merah mudanya berubah warna dalam sekejap, tenggelam dalam warna merah pekat yang terus melebar. Kotak kado merah muda di dalam saku jaket Elikai mendadak terasa membakar kulitnya. Hadiah itu tidak akan pernah sampai.

Elikai berhenti meronta. Jiwanya serasa tercabut paksa dari raga. Pandangannya kosong, menatap tubuh adiknya yang tidak lagi bergerak. Di dalam dadanya, sesuatu yang hangat dan manusiawi telah mati bersama keluarganya. Yang tersisa hanyalah kekosongan hitam yang pekat dan dingin.

Jendra melepaskan injakannya dari punggung Elikai. Ia berjalan ke arah dapur, mengambil sebotol minyak tanah yang biasa digunakan ibunya, lalu mulai menyiramkannya ke atas karpet, sofa, dan tubuh orang tua Elikai. Gaizka mengeluarkan korek api gas, memantiknya, lalu melemparkannya ke atas genangan minyak.

WUSS!

Api berkobar instan, menjilat dinding dan melahap kenangan masa kecil Elikai dalam hitungan detik. Hawa panas mulai memanggang seisi ruangan.

Gaizka berjalan mendekati Elikai yang masih terpaku menatap jasad adiknya. Ia mengarahkan revolvernya tepat ke dada kiri Elikai, tepat di mana jantungnya berdetak.

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat, Elikai. Tapi untukmu, kurasa ini sudah cukup," kata Gaizka dengan senyum kemenangan.

DOR!

Peluru kaliber 38 merobek jaket kulit Elikai, menembus jaringan kulit, otot, dan bersarang tepat di dalam dadanya. Dampak tembakan itu melempar tubuh Elikai ke belakang, menghantam lantai yang mulai panas oleh kobaran api. Darah hangat menyembur dari dadanya, menyatu dengan darah keluarganya di atas lantai.

Napas Elikai terasa berat, paru-parunya mulai terisi oleh darah dan asap hitam yang pekat. Kesadarannya perlahan kabur. Melalui celah matanya yang kian meredup, ia melihat siluet Gaizka dan Jendra berjalan keluar menembus pintu depan, meninggalkan dirinya yang sekarat di tengah kepungan api yang kian membesar.

Atap rumah mulai runtuh sedikit demi sedikit, mengirimkan bara api yang jatuh menimpa tubuhnya. Dalam kegelapan yang perlahan menjemputnya, satu-satunya hal yang menjaga Elikai tetap terjaga adalah dendam yang membara lebih panas dari api yang membakar rumah dan jasad keluarganya.

Jika aku harus membusuk di neraka, batin Elikai sebelum matanya tertutup sepenuhnya, aku akan menyeret kalian berdua bersamaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!