NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror Sang Mami

Pukul delapan pagi di distrik perkantoran paling elite Amsterdam. Gedung pencakar langit Thorne Tower menjulang megah, membelah langit biru dengan fasad kaca modern yang memantulkan sinar matahari pagi. Di lantai paling atas, ruang kerja pribadi Victor Thorne tampak begitu hening, rapi, dan intimidatif. Tidak ada satu pun barang yang keluar jalur. Semua tertata presisi, mencerminkan isi kepala sang pemilik yang perfeksionis, dingin, dan tidak kenal kompromi.

Victor berdiri di balik dinding kaca raksasa, mengenakan setelan jas tailor-made dari desainer Italia ternama yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Tinggi badan yang hampir mencapai seratus sembilan puluh sentimeter, bahu bidang, rahang tegas yang dihiasi bayangan janggut tipis terawat, serta kulit putih bersih khas pria Eropa utara membuat auranya begitu mendominasi. Di usia yang tinggal menghitung bulan menginjak angka tiga puluh, Victor berada di puncak rantai makanan dunia bisnis. Kekayaannya melimpah, pengaruhnya mencengkeram berbagai sektor industri di Belanda, dan namanya selalu menghiasi halaman depan majalah finansial global.

Namun, di balik kesempurnaan visual dan imperium bisnis yang ia bangun dengan darah serta keringat, ada satu hal yang sangat dibenci oleh Victor: ketenangan semu di dalam rumahnya sendiri.

Drrr... drrr...

Getaran ponsel di atas meja marmer memecah keheningan ruangan. Victor melirik sekilas layar benda pipih itu. Nama yang tertera di sana membuat keningnya langsung berkerut dalam, menciptakan garis-garis halus di antara kedua alisnya.

Nyonya Valen.

Victor menghela napas berat, menghembuskan udara perlahan dari rongga hidungnya. Ia tahu persis apa isi kepala wanita yang telah melahirkannya itu. Belum sempat ia mengangkat panggilan tersebut, deringnya berhenti sesaat, lalu bergetar lagi. Panggilan kedua. Tanda bahwa sang mami tidak akan menyerah sampai suaranya didengar.

Dengan gerakan malas namun tetap elegan, Victor menyambar ponselnya dan menempelkannya ke telinga. "Ya, Mami? Aku sedang sibuk. Jadwal meeting hari ini padat sampai—"

“Meeting, meeting, meeting terus! Hidup kamu itu isinya cuma angka, grafik, saham, dan proyek miliaran euro, Victor! Sampai lupa kalau umur kamu itu udah mau nyentuh kepala tiga!” potong suara bariton elegan namun sarat akan omelan khas seorang ibu bangsawan di ujung sana. Suara Nyonya Valen menggelegar, tidak memberikan celah bagi Victor untuk berkelit.

Victor memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Ia kembali membalikkan badan menghadap pemandangan kota Amsterdam dari ketinggian. "Mami, umur三十 (tiga puluh) itu bukan sebuah dosa besar atau penyakit menular. Itu cuma angka. Hidupku baik-baik saja, bisnis berjalan lancar, dan aku tidak punya waktu untuk hal-hal yang tidak esensial."

“Hal yang tidak esensial kamu bilang?!” Valen hampir berteriak di seberang sana. “Mencari pendamping hidup, menikah, dan memberikan Mami cucu itu bukan hal tidak esensial, Victor Thorne! Kamu mau jadi bujangan tua paling keras kepala di seluruh Amsterdam, hah? Teman-teman seangkatan kamu, anak-anak kolega Mami, semuanya sudah menggendong anak dua atau tiga. Kamu? Pulang ke rumah cuma ditemani pelayan dan keheningan!”

Skakmat. Victor tahu ia tidak akan pernah bisa memenangi perdebatan verbal melawan wanita paling berpengaruh di dalam silsilah keluarga Thorne itu. Nyonya Valen adalah tipe ibu yang perfeksionis, sosialita kelas atas yang sangat menjaga prestise keluarga, dan saat ini, obsesi terbesar beliau adalah melihat anak tunggalnya segera melepas masa lajang.

"Aku sibuk, Mami," ulang Victor dengan nada datar, mencoba mengakhiri teror pagi itu. "Kalau cuma soal pernikahan, pembahasan kita sudahi sampai di sini. Aku tutup teleponnya."

*“Eits, jangan berani-beraninya kamu matiin telepon Mami, Victor! Kalau kamu berani putus, Mami pastikan aset investasi proyek terbarumu di Rotterdam dibekukan hari ini juga!”*ancam Valen tanpa ragu-ragu. Senjata pamungkas yang selalu berhasil membuat Victor terdiam.

Victor mendengus pelan. Wanita itu benar-benar tahu cara memegang kendali. "Fine. Apa lagi sekarang? Jangan bilang Mami mau ngatur jadwal kencan buta konyol lagi kayak bulan lalu."

Di ujung telepon, nada suara Nyonya Valen mendadak berubah drastis—dari yang tadinya bernada mengancam, kini berubah menjadi sangat antusias, licik, dan penuh kemenangan. Perubahan ritme itu justru membuat bulu kuduk Victor meremang. Naluri bisnisnya mengatakan bahwa ia sedang masuk ke dalam perangkap.

“Nah, anak pintar. Bagus kalau kamu punya sedikit kepekaan,” ujar Valen dengan nada manis yang dibuat-buat. “Mami sudah merancang semuanya dengan sangat, sangat matang. Kali ini beda, Vic. Wanita pilihan Mami ini bukan dari kalangan sembarangan. Namanya Annelise. Darah bangsawan campuran, berambut blonde alami, kulit putih bersih, sangat lembut, tutur katanya anggun, dan tipikal wanita idaman semua pria berkelas di kota ini.”

Victor memutar bola matanya jengah. Wajah Annelise langsung melintas di kepalanya—wanita terlalu sempurna yang terasa begitu hambar dan membosankan. "Mami, aku sudah bilang kalau aku tidak tertarik dengan tipe wanita seperti Annelise. Dia terlalu diatur, terlalu kaku, dan membosankan."

“Coba dulu! Jangan jadi pria pengecut yang takut sama komitmen, Victor Thorne!” sergah Valen tajam. “Mami sudah atur semuanya. Malam ini, jam tujuh tepat, di restoran French bistro langganan kita di pusat kota. Kamu harus datang. Tidak ada penolakan, tidak ada alasan lembur, dan tidak ada pembatalan. Kalau kamu mangkir, jangan harap kamu bisa tenang menginjakkan kaki di mansion utama minggu ini.”

Tut... tut... tut...

Panggilan langsung diputus sepihak oleh Nyonya Valen.

Victor tertegun menatap layar ponselnya yang kini sudah gelap. Ia mendengus kasar, lalu melemparkan ponsel mahalnya itu ke atas sofa kulit di sudut ruangan. Rasa kesal dan frustrasi bergemuruh di dadanya. Tekanan demi tekanan dari sang mami mengenai status usianya yang hampir menginjak kepala tiga benar-benar menjadi teror psikologis tersendiri.

Bagi dunia luar, Victor Thorne adalah penguasa mutlak yang memegang kendali atas segalanya. Namun di hadapan Nyonya Valen, ia tetaplah seorang anak laki-laki yang tidak bisa berkutik dari titah sang ibu.

Victor melangkah kembali ke meja kerjanya, menatap dokumen kontrak bernilai jutaan euro yang terbentang di hadapannya. Pikirannya mendadak kacau. Bayangan tentang malam panjang yang membosankan bersama Annelise sudah terbayang di pelupuk mata, membuatnya merasa muak sebelum acara itu bahkan dimulai.

Sialan, batin Victor mengumpat dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!