NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Nona Lemon

"Ganti panggilan dulu."

Naila berkedip. "Apa?"

Pria itu mengetuk kemudi dengan telunjuk. Wajahnya tetap datar, tetapi alis yang terangkat tadi belum turun.

"Aku kelihatan setua itu sampai dipanggil Pak?"

Oh, rupanya dia tersinggung karena itu.

Naila menaksir usianya. Paling-paling dua puluh empat atau dua puluh lima. Memang terlalu muda untuk dipanggil Pak, meski sorot matanya membuatnya tampak seperti atasan yang gemar memotong gaji orang.

Ia tersenyum manis. "Mas sopir, tolong buka bagasinya, ya."

Bibir pria itu bergerak tipis. Entah hendak tersenyum atau mengumpat.

Klik.

Pintu bagasi akhirnya terbuka.

Bi Yani keluar untuk membantu, tetapi pria itu sudah turun lebih dulu. Tingginya membuat Naila harus mendongak. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat dua koper besar ke bagasi seolah benda-benda itu tidak memiliki berat.

"Non, kabari Bi kalau sudah sampai," pesan Bi Yani.

"Iya, Bi."

Naila memeluk perempuan yang sudah menjaga rumah mereka selama bertahun-tahun itu. Ketika ia masuk ke mobil, Bi Yani masih berdiri di depan pagar dan melambaikan tangan. Pemandangan itu mengecil di kaca spion sampai mobil berbelok keluar dari jalan rumahnya.

Barulah Naila sadar, pagi ini ia sudah mengucapkan selamat tinggal tiga kali.

Ia memasang sabuk pengaman dan menaruh tas di pangkuan. Kabin mobil beraroma kulit baru bercampur wangi kayu yang sejuk. Tidak ada parfum mobil menyengat yang biasanya membuat perutnya bergejolak.

Pria di sampingnya melirik. "Mabuk perjalanan?"

"Sedikit. Kok tahu?"

"Kelihatan. Wajahmu pucat."

Padahal Naila merasa baik-baik saja. Mobil bergerak dengan kecepatan stabil, setiap pengereman begitu halus hingga air dalam botol di cup holder nyaris tidak bergoyang.

"Kalau mual, bilang."

"Iya, Mas sopir."

Jari pria itu mengencang pada kemudi.

Naila pura-pura tidak melihat.

Beberapa menit berlalu dalam suara pendingin udara yang lembut. Jalanan Jakarta mulai padat, tetapi pengemudi muda itu tidak sekali pun menekan klakson. Ia tenang, terlalu tenang, seolah kemacetan di depannya yang harus menyingkir.

"Kamu nggak merasa aku mirip seseorang?" tanyanya tiba-tiba.

Naila menoleh. "Siapa?"

"Makanya lihat baik-baik."

Permintaan itu aneh. Namun karena penasaran, Naila memiringkan tubuh dan mengamati profilnya. Hidung lurus. Garis rahang tegas. Ada bayangan lelah tipis di bawah mata, tetapi tidak mengurangi ketampanannya. Malah membuatnya tampak seperti aktor yang baru selesai syuting semalaman.

Pria itu berdeham. "Udah ketemu?"

"Kayaknya iya."

Ia menoleh sekilas, menunggu.

"Kamu mirip aktor film lama waktu masih muda. Aku lupa namanya. Mama suka nonton filmnya."

Sunyi.

Naila menahan tawa ketika melihat rahang pria itu mengeras.

"Bukan?"

"Bukan."

"Ya sudah. Berarti wajahmu pasaran."

Pria itu menarik napas melalui hidung. "Nggak punya hati."

"Kok malah marah? Mas sendiri yang tanya."

Ia tidak menjawab lagi.

Namun di balik tatapannya yang lurus ke jalan, ingatan Radhika sudah melompat jauh ke Dago. Seorang anak perempuan berumur dua tahun pernah memanjat sofa dengan kaki pendek, lalu menangkup wajahnya memakai dua tangan lengket.

Mas Aka, main sama Lemon.

Waktu itu Radhika baru delapan tahun. Ia sedang menyelesaikan tugas sekolah, tetapi Naila menarik pipinya sampai mulutnya tidak bisa menolak. Beberapa menit kemudian, buku tugasnya penuh coretan krayon kuning dan Naila tertawa paling keras.

Sekarang gadis itu duduk di sebelahnya, menganggap wajahnya pasaran.

Pagi tadi Radhika sebenarnya sudah berada setengah jalan menuju kantor. Lalu foto Naila dalam sweter putih muncul di grup keluarga. Wajah mungil yang dulu selalu mencarinya sudah berubah, tetapi tahi lalat kecil di bawah mata kanan itu masih sama.

Ia menyuruh sopir berbalik, mengambil mobilnya sendiri, dan mengabaikan rapat pagi.

Alasannya sederhana. Naila mudah mabuk perjalanan. Pak Slamet suka menginjak rem mendadak.

Hanya itu.

Radhika menurunkan suhu pendingin udara satu tingkat ketika melihat Naila mengusap tengkuk.

"Dingin?"

"Pas."

"Kalau mau tidur, tidur saja."

"Nggak. Nanti Mas sopir bawa aku kabur."

"Kalau mau kubawa kabur, dari tadi kita sudah lewat jalan tol."

Naila buru-buru melihat peta di ponselnya. Titik biru bergerak ke arah Menteng dengan benar. Dari samping terdengar tawa rendah, sangat singkat, tetapi cukup membuat telinganya panas.

"Ngeselin," gumamnya.

"Baru tahu?"

Tidak sampai dua puluh menit kemudian, gerbang hitam tinggi terbuka. Mobil masuk ke halaman luas dengan deretan pohon palem rapi. Rumah utama berdiri di balik taman, bergaya kolonial modern dengan jendela-jendela tinggi dan teras putih.

Wirya dan Larasati sudah menunggu di anak tangga depan.

Begitu mobil berhenti, Naila segera turun. "Assalamualaikum, Tante Laras. Om Wirya."

"Waalaikumsalam. Ya Allah, akhirnya sampai juga!"

Larasati memeluknya erat, seolah mereka baru berpisah seminggu, bukan bertahun-tahun. Wangi melati dari bajunya mengingatkan Naila pada pelukan Mama pagi tadi. Bedanya, pelukan Tante Laras tidak terburu-buru lepas.

Wirya tersenyum hangat. "Selamat datang, Nak. Anggap saja rumah sendiri."

"Terima kasih, Om. Maaf merepotkan."

"Nggak ada yang direpotkan."

Bi Rohmah dan dua pegawai rumah tangga mengambil koper dari bagasi. Naila menoleh hendak berterima kasih kepada pengemudi muda tadi, tetapi Rolls-Royce sudah bergerak lagi.

"Eh, Mas sopirnya belum aku bilang terima kasih."

Larasati menatap mobil yang menjauh, lalu menahan senyum. "Biarkan. Anak nakal memang begitu."

Naila tidak mengerti mengapa seorang majikan menyebut sopirnya anak nakal. Ia hendak bertanya, tetapi Larasati sudah menggandeng tangannya masuk.

Rumah Adiwangsa memiliki tiga lantai. Larasati menjelaskan lantai pertama ditempati dirinya dan Wirya. Lantai dua milik putra sulung mereka, Damar, yang lebih sering menginap dekat kantor. Lantai tiga seluruhnya digunakan Radhika.

"Kamar di lantai satu dan dua sama-sama siap. Naila mau yang mana?" tanya Larasati.

Pesan semalam muncul lagi di kepala Naila.

Jangan naik ke lantai tiga.

"Lantai satu saja, Tante. Biar dekat Tante."

"Nggak mau di lantai dua? Lebih dekat ke lantai tiga, lho. Dulu kamu selalu cari Mas Radhika."

"Sekarang sudah nggak."

Jawabannya terlalu cepat. Larasati berkedip, sementara Naila pura-pura sibuk melihat lukisan di dinding.

Bi Rohmah mengantarnya ke kamar di sisi taman. Seprai baru sudah terpasang, meja belajar menghadap jendela, bahkan ada stopkontak tambahan di dekat kepala tempat tidur untuk mengisi daya ponsel.

"Bajunya biar Bi rapikan, Non."

Naila buru-buru menahan koper yang hendak dibuka perempuan itu. "Aku sendiri saja, Bi. Nanti Bi kasih tahu tempat mesin cuci, ya. Aku biasa urus pakaian sendiri."

Bi Rohmah tersenyum kecil. "Di rumah ini Non Naila bukan tamu. Nggak perlu sungkan."

Kalimat serupa sudah dua kali ia dengar hari ini. Naila tetap mengangguk dan membuka koper sendiri. Menjadi bukan tamu ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mendengarnya.

Setelah makan siang dan tidur sebentar, Naila diajak berkeliling taman. Larasati menunjukkan rumah kaca kecil milik Wirya, deretan anggrek, dan rumpun mawar merah muda yang sedang mekar penuh.

"Cantik banget," kata Naila sambil membungkuk mendekati satu bunga.

Cahaya sore jatuh pada sisi wajahnya. Ujung rambutnya bergerak disentuh angin, dan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya terlihat jelas ketika ia menutup mata untuk menghirup aroma mawar.

Klik.

Naila menoleh. "Tante motret aku?"

"Bunganya," jawab Larasati tanpa rasa bersalah.

Ia mengunggah foto itu ke status, lalu mengirimkannya ke satu kontak secara pribadi.

Larasati: Cakep nggak, Dhika?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!