NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Dukun di Bawah Tanah

Nyi Ageng Rukmi tidak menjawab pertanyaan Permaisuri. Ia hanya meletakkan belatinya di lantai, perlahan, dan berlutut.

Di Keputren, seorang pemimpin Prajurit Estri hanya meletakkan senjatanya di depan satu orang. Rukmi tidak pernah melakukannya di depan siapa pun selain Prabaswari. Tetapi malam itu, ia meletakkannya di depan pintu bilik seorang anak yang baru saja muntah racun, dan ia menunduk ke arah lantai.

"Ayahanda Gusti," ucapnya akhirnya, nyaris tak terdengar. "Rakryan Wiradipa menyuruh hamba menjemputnya kembali dari Gerbang Selatan. Beliau bilang Nyai masih punya satu pekerjaan untuk Srigading."

Prabaswari tidak bergerak. Ia menatap perempuan yang telah menjaganya sejak ia berusia lima belas tahun. Lalu ia menoleh ke kasur kecil, ke putranya yang tertidur dengan jemari masih melingkar di jari Dyah Ayu.

"Untuk Srigading," ulangnya.

Ia tertawa. Tawa itu kering, pendek, dan tidak memiliki apa pun di dalamnya.

Lurah Lembu Peteng tidak menunggu sampai tawa itu selesai. Ia memberi isyarat kepada dua prajuritnya untuk mengikat tangan Rukmi. Lalu ia berbalik ke lorong.

"Paviliun Permaisuri. Bilik dupa. Sekarang."

***

Bilik dupa itu kosong ketika pintunya didobrak.

Bau kemenyan basi dan minyak kelapa tengik menyergap hidung para prajurit yang menerobos masuk lebih dulu. Satu pelita jarak masih menyala di atas rak, nyalanya miring oleh angin dari pintu. Di lantai tanah, sehelai tikar pandan yang sudah lusuh. Sebuah bakul jamu dengan tutup terbuka. Dan di sudut tikar, setumpuk kecil daun sirih segar, sebagian sudah dilipat menjadi segitiga.

Lembu Peteng berjongkok di samping tikar. Ia menyentuh noda merah di tanah dengan ujung jarinya. Basah. Hangat.

"Baru saja," ucapnya.

Seorang prajurit muda menyibak rak kemenyan di dinding belakang. Di balik rak itu, di sudut yang tidak terkena cahaya pelita, salah satu papan lantai tergeser setengah dari tempatnya. Di bawahnya, sebuah lubang. Gelap. Udara dingin berbau tanah dan lumut naik dari dalamnya.

Para prajurit saling melirik.

"Lorong pelayan," ucap seseorang di belakang mereka.

Ki Bongkok berdiri di ambang pintu bilik dupa. Punggungnya yang bengkok tampak lebih membungkuk dari biasanya, dan pelita tempurung kelapa di tangannya bergoyang pelan. Dyah Ayu yang mengirimnya. Dari Kedaton, sebelum Lembu Peteng berangkat, ia menyuruh lelaki tua itu menyusul lewat jalannya sendiri.

"Lubang itu tersambung ke lorong lama," lanjut Ki Bongkok. "Yang digali waktu Prabu kedua masih bertakhta. Lebih tua dari lorong-lorong yang hamba pakai."

"Ke mana ujungnya?"

Ki Bongkok menatap lubang itu lama sebelum menjawab.

"Ke banyak tempat, Ki Lurah. Tapi kalau ia tahu lorong ini dari zaman dulu, ia akan pergi ke tempat yang paling tidak ingin didatangi orang."

***

Lima prajurit turun bersama mereka. Dua lainnya menolak.

Bukan karena takut pada gelap. Salah satu dari mereka menunjuk ke bibir lubang, di mana sebuah kantong kain kecil tergantung pada sebatang paku yang ditancapkan ke papan. Kantong itu diikat benang lawe merah, dan dari dalamnya menguar bau yang membuat perut mual. Bau rambut terbakar dan sesuatu yang lebih busuk.

"Itu jimat penjaga, Ki Lurah," bisik prajurit itu. Wajahnya pucat di bawah obor. "Siapa yang melewatinya akan..."

Lembu Peteng merenggut kantong itu dari paku dan melemparnya ke sudut bilik. Lalu ia turun lebih dulu, tanpa menoleh.

Prajurit itu tetap tinggal di atas.

***

Lorong itu lebih sempit dari bahu seorang lelaki dewasa. Mereka harus berjalan menyamping di beberapa tempat, bahu menggesek dinding tanah yang basah. Langit-langitnya rendah. Akar-akar pohon menjuntai dari atas seperti rambut orang mati, menyentuh dahi dan tengkuk siapa pun yang lewat.

Air menetes dari celah-celah di atas. Tik. Tik. Setiap tetes menggema jauh ke depan, dan gemanya kembali dari arah yang tidak terduga, sehingga terasa seolah lorong itu memiliki ratusan cabang yang tidak terlihat.

Obor-obor menyala kecil, kekurangan udara. Asapnya menggumpal di bawah langit-langit dan membuat mata perih.

Ki Bongkok berjalan di depan. Ia tidak membutuhkan obor. Ia menyentuh dinding dengan telapak tangannya sambil berjalan, seperti orang buta yang mengenali rumahnya sendiri.

"Dulu lorong ini tidak sesempit ini," gumamnya, kepada siapa pun yang mendengar. "Waktu hamba masih muda, hamba bisa berjalan tegak di sini sambil membawa kotak sirih Gusti Ratu dari dapur ke menara barat. Beliau tidak suka sirihnya dingin."

Tidak ada yang menjawab. Para prajurit di belakangnya hanya mendengar napas mereka sendiri dan bunyi sepatu yang tenggelam di lumpur lorong.

Lalu Ki Bongkok berhenti.

Ia mendekatkan pelita tempurungnya ke dinding sebelah kiri. Di sana, setinggi bahu, sebuah noda merah kecokelatan menempel di tanah liat. Bulat dan masih basah, dengan jejak cipratan kecil di sekelilingnya.

Ludah sirih.

"Ia meludah setiap kali berbelok," ucap Ki Bongkok. "Dua puluh tahun lalu pun begitu. Ia selalu meninggalkan jejak, karena ia tidak pernah mengira ada yang cukup berani untuk mengikutinya."

Mereka mengikuti noda-noda itu. Belok kanan. Belok kiri. Turun beberapa anak tangga tanah yang licin. Satu kali, lorong bercabang tiga, dan Ki Bongkok berdiri lama di persimpangannya, mengendus udara, sebelum memilih yang paling kiri. Satu noda merah lagi di dinding, sepuluh langkah kemudian, membuktikan pilihannya benar.

Di cabang yang lain, salah satu prajurit tersandung sesuatu. Ia menunduk dan mengangkat obornya.

Tulang. Kecil dan rapuh, setengah terkubur di lumpur. Tulang tangan, mungkin. Atau kaki binatang.

Prajurit itu tidak bertanya. Ia hanya melangkah lebih cepat.

***

Udara berubah ketika mereka mendekati ujung lorong.

Lebih kering. Lebih dingin. Dinding tanah liat berganti menjadi bata merah tua yang sudah berlumut tebal, disusun tanpa perekat dengan ketelitian yang tidak dimiliki tukang batu zaman sekarang. Di beberapa tempat, bata-bata itu runtuh dan menumpuk di lantai lorong.

Ki Bongkok melambat. Langkahnya yang biasanya menyeret kini menjadi ragu.

"Ini fondasi menara barat," bisiknya. "Bagian yang lama. Sebelum Prabu ketiga membangun yang baru di atasnya."

Ia berhenti di depan sebuah tikungan. Tangannya yang memegang pelita tempurung gemetar.

"Ki?"

"Hamba tidak pernah turun ke sini lagi sejak beliau jatuh," ucap Ki Bongkok tanpa menoleh. "Dua puluh tahun. Hamba menggosok kotak sirihnya setiap hari, tapi hamba tidak pernah berani turun ke sini."

Lembu Peteng menatap punggung bengkok lelaki tua itu. Lalu ia meletakkan tangannya yang besar di bahu Ki Bongkok, sebentar, dan melangkah melewatinya.

Ia berbelok di tikungan dengan obor terangkat tinggi.

***

Lorong itu berakhir di dinding bata yang utuh.

Dan di depan dinding itu, di atas tumpukan bata yang runtuh, seorang perempuan tua duduk bersila.

Ia mengenakan kain lurik cokelat yang pudar, kakinya telanjang dan pecah-pecah di tumit. Rambutnya yang putih dan tipis terurai sampai ke pinggang, berminyak dan kusut. Di pangkuannya, sebuah kantong kain berisi daun-daun sirih dan bumbung bambu kecil. Rahangnya bergerak perlahan, mengunyah.

Ketika cahaya obor jatuh di wajahnya, ia tidak memejamkan mata. Wajahnya penuh kerutan sedalam alur sungai kering, dan bibirnya merah kecokelatan sampai ke dagu. Matanya sipit dan basah, berkilat seperti mata tikus di dalam lumbung.

Para prajurit Sayap Dalam berhenti di tikungan. Tidak ada yang melangkah lebih jauh.

Perempuan tua itu meludah ke samping. Noda merah yang baru menempel di bata.

"Banyak sekali yang datang," ucapnya dengan suara serak, seperti daun kering yang diremas. "Dua puluh tahun aku turun ke lorong ini, dan tidak ada yang pernah datang sejauh ini."

Lalu matanya bergeser. Melewati Lembu Peteng. Melewati para prajurit di tikungan. Ke lelaki tua bungkuk yang berdiri di belakang mereka semua, dengan pelita tempurung kelapa yang bergetar di tangannya.

Ia berhenti mengunyah.

Lalu ia tertawa. Tawanya pecah dan kasar, terbatuk-batuk di tengah, menggema di sepanjang dinding bata dan kembali dari kegelapan lorong di belakang mereka seperti ada sepuluh perempuan tua yang tertawa sekaligus.

"Kau masih hidup, Kasim?"

***

Ki Bongkok melangkah maju. Para prajurit menyingkir untuk memberinya jalan.

Ia berhenti tiga langkah dari perempuan itu. Pelita di tangannya kini tidak lagi gemetar.

"Kau yang meletakkan sirih segitiga itu di bawah bantal Gusti Ratu," ucapnya. Suaranya rendah dan serak. "Pagi itu. Sebelum beliau naik ke menara."

Nyai Ganggeng memiringkan kepalanya. Ia menatap punggung bengkok lelaki itu dengan rasa ingin tahu, seperti seseorang yang menemukan barang lama di dasar peti.

"Mereka memukulmu empat puluh kali, bukan? Aku mendengarnya dari dapur Rakryan." Ia meludah lagi. "Kau seharusnya mati di cambukan ketiga puluh. Punggungmu kuat."

"Jawab pertanyaanku."

"Sirih itu untuk menenangkannya. Ia sudah tujuh hari tidak tidur." Nyai Ganggeng mengangkat bahu. "Aku hanya meracik, kasim. Aku meracik untuk siapa pun yang membayar. Aku tidak pernah naik ke Keputren. Aku tidak pernah menyentuh cawannya. Tangan lain yang membawanya."

"Tangan siapa?"

Perempuan tua itu tersenyum. Gigi-giginya merah dan hitam di bawah cahaya obor.

Lembu Peteng tidak membiarkan senyum itu bertahan lebih lama. Ia memberi isyarat, dan dua prajurit melangkah maju, menarik perempuan itu dari tumpukan bata. Kantong sirih di pangkuannya jatuh. Daun-daun hijau dan bumbung bambu berhamburan di lantai lorong. Lembu Peteng memungut bumbung itu dan menyelipkannya ke sabuknya sendiri, dibungkus kain.

Nyai Ganggeng tidak melawan. Tubuhnya ringan seperti ranting kering di tangan kedua prajurit itu. Kakinya terseret di lumpur ketika mereka mulai menariknya ke arah tikungan.

Di tikungan, ia menahan langkahnya. Ia memutar kepalanya ke belakang, melewati bahu prajurit yang memegangnya. Matanya mencari Ki Bongkok.

"Kau ingin tahu siapa yang membawa wedang itu, kasim?" Suaranya kini pelan, hampir lembut, dan justru karena itu terdengar sampai ke ujung lorong. "Jangan tanya aku. Tanyakan pada Rajamu."

Ki Bongkok tidak bergerak.

"Tanyakan pada Rajamu siapa yang membawa wedang itu setiap malam." Nyai Ganggeng tertawa kecil, batuk, dan meludah ke lumpur. "Ia melihatnya. Anak kecil itu berdiri di ujung selasar setiap malam, menunggu ibunya tidur. Ia melihat siapa yang lewat di depannya. Ia hanya pura-pura lupa selama dua puluh tahun."

Para prajurit menyeretnya pergi. Suara tawanya menjauh di lorong, bercampur dengan bunyi tetesan air, sampai akhirnya hilang di balik tikungan-tikungan yang gelap.

***

Lembu Peteng tetap berdiri di depan dinding bata. Obor di tangannya mendesis.

Ia menoleh ke Ki Bongkok. Lelaki tua itu masih berdiri di tempat yang sama, menatap tumpukan bata tempat Nyai Ganggeng tadi duduk. Daun-daun sirih yang berhamburan di lumpur.

"Ia berbohong," ucap Lembu Peteng. Tetapi suaranya tidak terdengar yakin.

Ki Bongkok tidak menjawab untuk waktu yang lama.

Ia memejamkan matanya. Di dalam gelap kelopak matanya, ia melihat selasar Keputren dua puluh tahun lalu. Lantai kayu yang dingin. Lentera di ujung selasar, dekat pintu menara barat. Ia sedang membawa kotak sirih yang terakhir malam itu.

Dan di bawah lentera, duduk di atas lantai dengan lutut ditarik ke dada, seorang anak lelaki berusia delapan tahun dengan kain tidur yang terlalu besar. Matanya terbuka lebar, menatap ke arah tangga menara. Setiap malam, di tempat yang sama. Menunggu.

"Ia tidak berbohong, Ki Lurah," bisik Ki Bongkok akhirnya. "Hamba juga melihat anak itu. Setiap malam. Hamba hanya tidak pernah bertanya apa yang ia lihat."

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!