Bhaskara hanyalah pemuda biasa ... hingga sebuah kecelakaan merenggut hidupnya.
Saat membuka mata, ia telah berada di Jagaddhita—dunia yang perlahan ditelan kegelapan. Sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
《Misi Utama》
-Pulihkan Prisma Kirana.
-Satukan Enam Negeri.
-Selamatkan Jagaddhita.
Untuk menyelesaikan misi itu, Bhaskara harus mencari lima putri pewaris elemen—Anala, Nirmala, Sekar, Samira, dan Vajra.
Namun, menyatukan mereka tidak cukup. Ia harus membentuk Simpul Kirana, ikatan suci yang dapat membangkitkan kembali cahaya dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: BARA DI BALIK BENTENG MAGMA
"Langkahi dulu mayatku, Paman!"
Geram Putri Anala memecah kesunyian malam di dalam Bait Pawaka, ruang ritual paling suci yang tertanam di jantung Kerajaan Agnivara.
Udara di dalam ruangan itu begitu pekat dan panas, seolah-olah dinding-dinding batu vulkanik di sekeliling mereka siap meleleh menjadi lahar.
Gadis bermata merah menyala bagai akik mulia itu berdiri tegar di tengah lingkaran pilar. Gaun perang merah keemasannya berkibar diterpa angin panas.
Di genggaman tangannya, sebuah pedang berukir Burung Garuda Merah terkepal erat, menyemburkan lidah-lidah api murni yang meletup gelisah.
Di hadapannya, Pangeran Dahana—paman kandung Anala sekaligus wali kerajaan—melangkah maju dengan senyum yang dingin. Belasan prajurit berzirah baja merah mengurung sang putri dengan tombak teracung.
"Kau terlalu muda dan naif, Anala," ujar Dahana, suaranya tenang, tapi penuh racun. "Prisma Kirana telah retak, dunia di luar sana sedang membusuk oleh Kelam Abadi. Seharusnya kau mempersiapkan pasukan untuk menguasai benua, bukan menghamburkan energi Agni hanya untuk mengirim bantuan ke Tirtamaya dan Aranyani! Fragmen Bara terlalu berharga berada di tangan gadis pemimpi sepertimu!"
"Agnivara adalah bagian dari Jagaddhita!" sergah Anala. "Jika Tirtamaya jatuh dan Aranyani hancur, api kita juga akan padam!"
"Tahan dia!" perintah Dahana tanpa memedulikan ucapan keponakannya. "Jangan bunuh dia, cukup lumpuhkan dan ambil Fragmen Bara dari dadanya!"
Para prajurit bergerak maju serempak. Anala memacu Prana-nya, bersiap menerjang kepungan prajurit terbaik kerajaannya sendiri dalam pertarungan yang sia-sia.
Namun, sebelum bilah-bilah senjata itu bersentuhan, sebuah ledakan energi asing berdenyar dari arah jendela kaca patri di bagian atas bangsal.
PRANG!
Pecahan kaca berwarna merah berserakan di lantai batu. Dari balik kepulan asap debu vulkanik yang menerobos masuk, sebuah sosok pria asing mendarat dengan mantap di tengah-tengah arena.
Pendar cahaya emas tipis berputar di sekeliling tubuhnya, membiaskan energi netral yang sangat asing bagi siapapun di Jagaddhita.
Beberapa menit sebelum ledakan itu terjadi, Bhaskara sebenarnya masih merayap di lorong rahasia di bawah tebing vulkanik.
Jalan setapak menuju Bait Pawaka itu ia temukan bukan karena keberuntungan, melainkan berkat pendar prasasti gaib yang membimbing setiap langkahnya sejak ia menembus gerbang luar Agnivara yang tak terjaga.
> 《Cahaya tidak memilih yang terkuat. Cahaya memilih yang layak.》
> [EVALUASI LOKASI: BANGSAL UTAMA BAIT PAWAKA]
> 🔥 Tingkat Konsentrasi Energi Agni: 85% (Terdistorsi)
> ⚠️ Status Bahaya: Tinggi
> [UPDATE MISI]
> Ancamannya tidak mengenakan zirah perang, melainkan jubah sutra sang penjaga. Langkah sang putri telah dikunci di dalam Bait Pawaka oleh darahnya sendiri.
> 《Prisma mengamati pilihanmu.》
Bhaskara sempat berhenti sejenak di balik pilar luar, mengunyah kata demi kata yang terpampang di lontar emas melayang itu.
"Darahnya sendiri... jubah sutra sang penjaga," gumamnya pelan.
Dugaannya terbukti sempurna. Pangeran Dahana mengisolasi Putri Anala melalui kudeta senyap. Tanpa bantuan dari luar, sang putri akan dilumpuhkan sebelum matahari terbit, dan Fragmen Bara akan jatuh ke tangan yang salah.
Prasasti gaib itu meredup, menyisakan kehangatan samar di balik telapak tangan kanan Bhaskara. Ia mengepalkan tangan, merasakan energi Bara mengalir tipis di pembuluh darahnya. Ia tidak punya jurus pedang yang hebat atau ketahanan fisik setebal Raksasa Batu.
Namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki siapa pun di sini: petunjuk takdir yang nyata.
Mengumpulkan seluruh keberaniannya, Bhaskara memanjat pilar terluar dan melompati jendela kaca patri tepat di saat pertempuran akan pecah.
"Siapa kau?!" teriak Dahana kaget, refleks menarik diri beberapa langkah ke belakang. "Penyusup! Dari mana datangnya bangsat ini?!"
Bhaskara bangkit berdiri, menyapu debu di pakaian kain tebal berhias sulaman melati yang melekat di tubuhnya. Ia mengabaikan bentakan Dahana dan perlahan memutar tubuhnya membelakangi barisan musuh.
Di hadapannya, Putri Anala membelalakkan mata. Gadis itu menatap punggung pria asing berambut gelap yang kini berdiri tepat di depannya—menghalangi jalan para prajurit yang hendak menerjangnya.
Di atas kepala Putri Anala, sebuah indikator gaib yang hanya bisa dilihat oleh mata Bhaskara tampak melayang redup:
> [PUTRI ANALA]
> Tingkat Hubungan: 🤍 Asing
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 0% (Sangat Curiga)
"Kau... siapa?" bisik Anala terpana, kewaspadaannya justru makin memuncak.
Bhaskara melirik gadis itu dengan sudut matanya. Ia menyunggingkan senyum tipis—senyum yang penuh ketenangan di tengah kepungan belasan senjata berapi.
"Namaku Bhaskara," ujar pria itu pelan, suaranya terdengar jernih menembus deru gemuruh lahar di luar bangsal. "Dan aku di sini untuk memastikan takdirmu tidak berhenti di ruangan berdebu ini, Putri."
“Serahkan kepalamu atau serahkan Fragmen Bara itu, Pria Asing!”
Teriakan Pangeran Dahana menggema, memantul keras di dinding-dinding batu Bait Pawaka. Udara di dalam ruangan seketika menebal, terdistorsi oleh hawa membakar dari belasan bilah senjata prajurit yang mulai terselimuti lidah api merah.
Bhaskara tidak bergeming. Meski peluh dingin mulai membasahi pelipisnya akibat tekanan Prana lawan yang begitu pekat, matanya tetap tenang melirik ke arah Putri Anala.
> [STATUS HUBUNGAN: PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 5% (Sedikit Bingung)
> Catatan: Sang Putri ragu apakah kau sekutu atau pengacau baru.
"Kau dengar ancamannya, Putri?" bisik Bhaskara tanpa berpaling dari barisan musuh. "Mereka menginginkan kepala atau kristalmu. Tapi kurasa, kau tidak berniat memberikan keduanya malam ini."
Anala mengeratkan genggamannya pada hulu pedang Garuda Merah. "Siapa pun kau, pria asing... jika kau bermaksud menghentikan Paman Dahana, berdirilah di sampingku, bukan di depanku. Aku bukan wanita lemah yang perlu dilindungi!"
"Aku tahu," jawab Bhaskara mantap. "Aku di sini bukan untuk menjadi perisaimu, melainkan untuk menjadi matamu."
Syuut!
Dua prajurit berzirah merah menerjang maju sekaligus. Pedang api mereka membelah udara, mengincar leher Bhaskara dan pinggang Anala secara bersamaan.
Di mata orang biasa, gerakan itu terlalu cepat untuk dihindari. Namun di pandangan Bhaskara, sebuah garis pendar emas tipis tiba-tiba terukir melayang di udara—sebuah arahan tak kasatmata dari Prasasti Gaib.
> 《Prisma mengamati pilihanmu.》
> Celah di lutut kiri prajurit pertama. Titik buta prajurit kedua ada pada tebasan susulan.
"Mundur setengah langkah, tebas lutut kirinya!" seru Bhaskara memberi aba-aba cepat.
Anala merespons tanpa ragu. Mengikuti naluri dan instruksi mendadak dari Bhaskara, ia merendahkan tubuhnya setengah langkah. Pedang Garudanya menyambar bawah, memutus aliran energi pada zirah lutut prajurit pertama hingga lawan ambruk tersungkur.
Di saat bersamaan, Bhaskara memanfaatkan kebingungan prajurit kedua. Ia tidak menggunakan pedang, melainkan memusatkan seluruh Prana tingkat Bara miliknya ke telapak tangan kanan. Sebuah Pendar Kirana meletup tipis, menghantam dada zirah sang prajurit hingga terdorong mundur beberapa meter.
Brak!
Suasana bangsal mendadak hening. Pangeran Dahana membelalakkan mata tidak percaya melihat dua prajurit terbaiknya dirubuhkan dalam hitungan detik oleh kombinasi spontan dua orang yang baru saja bertemu.
Dada Anala naik turun, napasnya terengah halus. Ia menatap Bhaskara dengan binar mata yang berbeda. Pancaran kecurigaan di manik merahnya perlahan surut, berganti dengan kejutan yang mendalam.
> [STATUS HUBUNGAN: PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 20% (Terpukau & Mulai Percaya)
> Notifikasi: Resonansi awal berhasil. Serangan kombinasi pertama memicu riak kecil pada Fragmen Bara.
"Bagaimana kau bisa melihat celah gerakan mereka?" bisik Anala, matanya tak lepas dari sosok Bhaskara.
"Sudah kubilang," ujar Bhaskara sambil mengepalkan tangannya yang masih memancarkan asap tipis sisa energi Bara. "Aku adalah matamu. Dan jika kita ingin keluar hidup-hidup dari tempat ini untuk menyatukan Jagaddhita, kita harus menjatuhkan pamanmu ini sekarang juga."
Pangeran Dahana menggeram murka, menghentakkan tongkat sutranya ke lantai batu hingga menyemburkan gelombang api ke udara. "Penyusup keparat! Jangan harap kalian berdua bisa keluar dari Gunung Pawaka hidup-hidup!"
...****************...