NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Noda Merah di Gaun Biru

Begitu lampu gantung kristal menyala terang, Aira langsung mengembuskan napas panjang.

Selesai juga siksaannya. Beban di kakinya berasa baru aja diangkat setelah dipaksa berdansa formal bareng Evan.

Aira melirik sekilas pria di sampingnya. Sempurna tanpa cela, tapi dinginnya minta ampun.

Gadis itu langsung memasang wajah cuek. Namun, karena ratusan pasang mata mengawasi, dia terpaksa menyunggingkan senyum tipis yang sangat palsu.

Sandiwara suami-istri harmonis harus tetap berjalan.

Lantai dansa itu langsung diserbu gerombolan konglomerat. Jajaran taipan bisnis papan atas merapat demi bisa menjabat tangan Evan, sang CEO muda Wirasena Group.

Evan otomatis terdistraksi. Dia harus membalas sapaan formal para kolega penting dengan keangkuhannya yang khas.

Posisi berdirinya tergeser beberapa langkah dari Aira.

Aira melirik kakinya yang mulai lecet. Ah, mending kabur.

Dia memilih mundur perlahan. Berniat jalan sendirian balik ke meja VIP keluarga untuk menghindari topeng formalitas sini.

Brak!

"Ah!"

Tepat saat Aira melewati barisan tamu, seorang pelayan pria yang membawa nampan penuh gelas red wine mendadak tersandung. Jatuhnya dibuat-buat banget.

Tubuh pelayan itu limbung ke depan. Dalam hitungan detik, nampan di tangannya miring.

BYUR!

Cairan merah pekat yang mengandung alkohol itu melayang di udara. Mendarat membasahi bagian depan gaun milik Aira.

Aira mematung.

Dinginnya cairan alkohol langsung menembus kulit. Tapi yang bikin darahnya mendadak berdesir dingin adalah pemandangan di bawah dadanya.

Gaun sutra indah yang tadinya berkilau menawan, kini menyisakan noda hitam kemerahan yang super besar.

Kontras banget. Rusak total, tidak tertolong lagi.

Suasana ballroom yang tadinya penuh bincang hangat seketika hening. Mati total.

Ratusan pasang mata di dalam ruangan megah itu serentak menoleh. Semua pandangan lurus tertuju ke arah Aira yang berdiri kaku.

"Ya ampun... lihat deh," salah seorang nyonya sosialita di barisan depan, sengaja mengeraskan suaranya. "Benar-benar merusak pemandangan."

Di meja utama keluarga besar Wirasena, suasana langsung berubah mencekam.

Helena langsung menaruh gelasnya dengan kasar hingga berdenting nyaring. Wajahnya memerah padam karena menahan malu.

"Bikin malu saja! Benar-benar tidak tahu cara membawa diri," desis Helena tajam dari kursinya.

Tepat di sampingnya, Kakek Baskara langsung berdiri dari kursinya.

Gerakan lambat namun tegas dari sang patriark keluarga Wirasena itu seketika membuat para pengawal bersiaga. Sorot mata sang kakek menatap lurus tanpa ekspresi, membungkam seisi meja.

Bianca yang sejak tadi sembunyi di balik pilar besar langsung melangkah maju bersama kelompoknya. Sudut bibirnya terangkat. Senyuman kemenangan yang puas banget terpancar di wajahnya.

"Aduh, Nyonya Aira," suara Bianca terdengar melengking palsu. "Kok bisa teledor banget, sih? Sayang banget gaun semahal itu harus dikotori sama hal-hal yang... nggak pantas."

Teman-teman Bianca di belakangnya langsung ikut terkekeh sinis.

"Latar belakang emang nggak pernah bohong, ya," cibir salah satu teman Bianca dengan nada menghakimi. "Baru sebentar mencicipi kemewahan, udah bikin kekacauan."

"Benar. Kalau dasarnya udah biasa di tempat kotor, dibawa ke tempat bersih pun tetap aja bawa sial," sahut yang lain.

Bisik-bisik di dalam ballroom pun makin riuh memojokkan Aira.

Aira mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, meremas kain gaunnya yang basah. Wajahnya memanas hebat.

Bukan karena malu, melainkan menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Dia tahu persis, ini jebakan Bianca!

Melihat kakak iparnya dipojokkan, Sean yang berdiri tak jauh dari sana langsung bergerak cepat dengan wajah mengeras.

"Kak Aira, pakai jas gue aja dulu buat nutupin—" ucap Sean cepat sambil melangkah maju hendak menyampirkan jasnya ke bahu Aira.

Sret!

Belum sempat jas Sean menyentuh tubuh Aira, sebuah tangan kekar langsung mencengkeram lengan Sean dengan gerakan super cepat dan dominan. Menahannya di udara.

Evan sudah berdiri di sana. Wajahnya mengeras sempurna, sedingin es batu. Tatapannya melemparkan kilatan peringatan yang tajam pada adiknya sendiri. Sean tertegun, lalu perlahan menurunkan jasnya karena paham sang kakak tidak suka areanya diganggu.

Tanpa sepatah kata pun, Evan langsung melepas jas miliknya. Dengan gerakan tegas dan protektif, dia menyampirkan jas itu ke bahu Aira.

Karena postur tubuh Evan yang tinggi tegap dan tubuh Aira yang mungil, jas itu terurai ke bawah dengan sempurna. Membungkus rapat bagian dada yang basah sekaligus menjuntai panjang hingga menutupi batas pahanya.

Dia sama sekali tidak melirik Bianca. Wanita itu dianggap tidak ada, tak lebih dari debu di lantai.

Sorot mata Evan mengunci lurus, tajam, dan penuh keangkuhan hanya pada kerumunan di depannya.

"Evan..." cicit Aira lirih sambil mendongak. Tatapan matanya yang biasa cuek kini sedikit bergetar karena terkejut.

"Diam. Tidak usah banyak protes," bisik Evan dingin, namun tangannya merapatkan kancing jas di bagian depan tubuh istrinya dengan sangat protektif.

Evan memutar tubuhnya perlahan. Pandangannya menyapu seluruh tamu VIP dengan sarat merendahkan yang amat pekat.

"Siapa yang merasa malam ini terganggu karena kehadiran istri saya?" tanya Evan lantang. Suaranya berat, dingin, dan menusuk.

Suasana ballroom makin mencekam. Tidak ada satu pun konglomerat atau sosialita yang berani bersuara. Mereka semua langsung menunduk ketakutan.

"Tidak ada?" Evan mendengus sinis, penuh keangkuhan seorang penguasa.

Dia kembali menatap lurus ke arah Aira, mengabaikan kehadiran Bianca yang wajahnya sudah merah padam karena menahan malu diabaikan di depan umum.

"Kalau ada yang merasa acara malam ini rusak cuma karena noda di gaun istri saya, pintu keluar hotel terbuka lebar," tegas Evan tanpa kompromi. "Silakan angkat kaki dari sini sekarang juga."

Aira menatap suaminya dengan perasaan campur aduk. Sifat protektif Evan yang ugal-ugalan di depan publik seperti ini sukses mengacaukan benteng pertahanan di hatinya.

"Ayo pergi," bisik Evan lagi, kali ini nadanya melunak khusus untuk Aira agar sandiwara mereka tetap terlihat mulus.

"Jas lo kotor kena sisa wine di gaun gue."

"Tinggal dibuang. Saya bisa beli pabriknya kalau mau."

Aira mendengus pelan, menyembunyikan rasa gelinya di balik kerah jas besar suaminya. "Dasar sombong."

"Biarin."

Tangan kekar Evan merangkul pinggang Aira erat-erat, menarik tubuh mungil itu agar menempel pas di dadanya.

Dia menuntun Aira berjalan maju, menembus kerumunan tamu yang otomatis terbelah memberikan jalan karena takut dengan aura intimidasi sang CEO.

Mereka berjalan tegas, meninggalkan kekacauan ballroom. Menyisakan Bianca yang berdiri mematung dengan wajah iri dan amarah yang meledak-ledak di belakang mereka.

Sementara itu, Sean masih berdiri diam di posisinya. Matanya menatap lurus ke arah punggung Evan dan Aira yang mulai menjauh.

Jas miliknya masih menggantung lemas di tangan kanan. Perlahan, Sean meremas kain jas itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Sorot matanya yang tadi penuh perhatian, mendadak meredup dan dipenuhi kilatan emosi tersembunyi yang sulit diartikan.

Ada rasa tidak puas yang tertahan di dadanya saat melihat tangan kakaknya mencengkeram pinggang Aira begitu posesif.

Sean menarik napas dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyum tipis yang terasa getir.

"Gue telat lagi," gumamnya sangat lirih.

Sean berbalik, menatap pecahan gelas di lantai. Matanya sedingin tatapan Evan tadi. Satu hal yang belum dia ketahui, perhatian ini bukan sekadar kasih sayang saudara. Dan rahasia itu perlahan mulai terkuak.

1
falea sezi
jangan nyesel klo lu cerai ma Aira trs Aira ma adek. lu ya bangsat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!