Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09
Di kamarnya, Aurora sedari tadi terus berbolak-balik kesana kemari.
Ia menunggu jiwa itu kembali datang, terus menatap ke arah cermin. Namun tidak ada respon apapun.
"Ini percuma, aku sudah satu jam bolak-balik ke sana kemari. Namun di mana Jiwa Aurora? Mengapa ia tidak muncul, hai Aurora. Muncullah! Aku sangat membutuhkanmu saat ini."
Melihat semuanya percuma, wanita itu pun kini memilih untuk tidur. "Ini salahmu karena tidak muncul, jangan coba-coba bangunkan aku di tengah malam seperti sebelumnya. Aku juga ingin tidur!" Ucapnya bergumam sendiri.
Dalam tidurnya, ia merasa sangat gelisah. Sebuah ingatan, terlintas di dalam pikirannya lewat alam bawah sadar.
Seorang pria berjas hitam, membawa dua koper berisikan senjata api. Pria itu pergi menemui Kris dan menberikan koper itu.
Pria itu tertawa menyeringai, menatap Aurora yang terlihat sangat amat ketakutan.
"Lepaskan aku! Aku mohon!" Wanita itu menutup satu matanya dengan sebuah kain penutup mata.
Kris lalu berjalan mendekatinya, menatap wanita yang sudah sangat lemah di hadapannya. Semua pelayan di rumah itu hanya menonton, tak ada yang berani menegur, atau bahkan menolong Aurora yang tengah di siksa oleh suaminya.
Lengan tangan kris, mulai mencekik leher Aurora, pria itu mulai berdiri. Tubuh wanita itu mulai terangkat, sedikit demi sedikit.
Aurora menggeggam tangan kekar suaminya, memukul lengan pria itu, berusaha agar lepas dari cekikan yang menyakitkan itu.
"Aku mohon, le-lepa-s-kan, a-ku..." Kris tertawa, semua pelayan yang ada di sana tak berani menatap kejadian itu.
Lalu setelahnya, seorang pelayan tua dengan tekatnya menghampiri Aurora. Ia mencoba mendorong Kris. Namun gagal, Kris justru mendorong pelayan itu balik.
Ia kemudian melepaskan cekikan tangannya, dan beralih menodongkan sebuah pistol, tepat di jidat pelayan itu.
Aurora yang melihat kejadian itu seketika langsung membeku. Kris kini semakin menjadi-jadi.
"Baiklah, jika kau memang ingin membantah. Maka kau saja yang akan menjadi kelinci percobaan."
Kris menarik pelatuk pistol, dan setelah itu.
"Dor..."
Suara peluru yang melesat, tepat mengenai sasaran. Membuat Aurora semakin ketakutan, dentuman suara tembakan itu kencang. Menggema di ruangan itu.
"Sekarang, giliranmu. Aurora..." Ucap Kris, sebari tersenyum menyeringai menodongkan senapan kepada wanita itu.
Pria itu mulai menarik pelatuknya, dan akhirnya,
"TIDAAAAAAKKKKKKK" Aurora terbangun dari mimpinya, hal itu benar-benar bagaikan mimpi buruk untuknya.
"Ternyata semua itu hanya mimpi." Aurora menghela napasnya lega. Namun, masalahnya baru di mulai sekarang.
Jam kembali berhenti berdetak, seolah waktu kembali terhenti tepat pada tengah malam.
"Jiwa Aurora, dia pasti telah kembali." Wanita itu dengan cepat langsung berlari menuruni ranjang.
Ia pergi ke kaca, melihat bayangan yang memantul di kaca itu, masih bergerak mengikutinya.
"Dia belum muncul rupanya." Aurora kini berbalik badan, wajahnya tampak lesu.
"Siapa bilang, aku di sini Aurora." Ucapan itu seketika membuat langkahnya terhenti. Membuatnya kembali menoleh dan mendapati jiwa Aurora yang asli telah kembali.
"Rora, kau tahu. Sedari tadi aku terus mencarimu, dari mana saja kau?"
Dengan wajah santainya, jiwa itu malah berkata, "Dari masa depan." Ucapan itu sontak membuat Aurora langsung terkejut.
"Rora, kau bisa ke masa depan?" Pertanyaannya, berserta wajah polosnya. Mampu membuat Jiwa itu tertawa.
"Kau polos sekali, tentu saja tidak. Ya, mungkin. Hanya saja aku sebelum kau ada di sini, jiwaku sudah sempat lebih dahulu melayang di sana."
Aurora tidak paham apa maksud jiwa itu, kini ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, lantaran saking bingungnya dengan perkataan wanita itu.
"Kau tidak paham maksudku?" Tanya jiwa itu dan di balas anggukan olehnya.
"Sudahlah, intinya kau datang ke sini lebih dahulu dari pada aku."
Tak ingin ambil pusing, wanita itupun langsung mengangguk paham begitu saja.
"Jadi, dari mana saja kau?" Tanya Aurora kepada jiwa yang asli.
"Gentayangan," Ucapan itu simple, namun mampu membuat lawan bicaranya seketika langsung terdiam di tempat.
"Tidak, aku hanya bercanda." Mendengar hal itu, kini Aurora kembali menghembuskan napasnya lega.
"Aurora!" Panggil jiwa itu.
"Ya, aku di sini!"
"Kau sudah ke kantor polisi?"
Aurora kini langsung teringat akan penculik itu, ia lupa untuk menjenguknya di kantor polisi. Lalu bertanya pada penjahat itu, untuk bertanya siapa dalang di balik ini semua.
Bukannya ia tak tahu, namun untuk menjadi bukti kuat baginya dan Kris. Untuk meminta putus.
"Aurora...." Arwah itu benar-benar sangat kesal padanya kali ini.
"Ya, Ya maaf, besok aku akan ke sana."
"O iya, ada beberapa hal yang ingin aku beritahu padamu." Suasana yang semula tampak tenang, kini mulai mencekam.
"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya jiwa itu setelah melihat Aurora yang tampak serius kali ini.
"Aku mendapatkan mimpi aneh, Kris menembak seseorang, dia mempunyai senjata api. Tak hanya itu saja, aku rasa itu serpihan ingatanmu. Aku seperti mengingat, bahwa kau memergoki Kris yang berselingkuh dengan seorang wanita di bar."
Jiwa itu kini hanya bisa tersenyum pilu, ia kemudian menunduk. "Itu semua memang benar, tunggu!" Jiwa itu kini kembali mendongak.
"Bagaimana mungkin kau bisa? Padahal itu ingatanku?" Tanyanya dan jelas akan di jawab gelengan kepala olehnya.
"Aurora, aku tak bisa lama lagi, jam itu akan kembali. Aku juga setelah ini akan benar-benar menghilang."
Seketika Aurora langsung panik, ia memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Hai, jangan menghilang dulu! Beri tahu padaku! Apa yang harus aku lakukan! Selanjutnya?"
"Putus dengan Kris, itu yang harus kau lakukan!" Ucap Jiwa itu, Aurora masih mau menanyainya banyak hal, akan tetapi. Jiwa itu kini langsung menghilang.
"Hai, jangan hilang dulu, jiwa Aurora, aku butuh mau. Hai, jangan menghilang dulu! Kau benar-benar akan pergi begitu saja? Setidaknya beri aku solusi yang jelas! Hai..."
Wanita itu mengetuk-ngetuk cermin, namun bayangan itu terus mengikutinya. Yang menandakan bahwa jiwa itu telah kembali pergi.
"Tak tak tak..." Jam kembali berdetak, Aurora kini duduk di tepian ranjang, ia harus bisa mencerna sendiri bagaimana point selanjutnya.
"Jika mimpi itu adalah serpihan ingatannya, dan Kris benar-benar mempunyai senjata itu. Maka aku... Akan benar-benar dalam bahaya."
Sepanjang sisa malam itu, Aurora tak tidur, ia terus memikirkan cara bagaimana untuk mengakhiri semua ini tanpa ada korban. Jika memang harus ada yang mati, maka itu adalah Kris dan Anne. Namun wanita itu tak akan mungkin bisa melakukannya seorang diri.
***
Kini pagi telah tiba, Aurora yang sudah dari tengah malam terus berjaga. Kini tampak kantung matanya yang seperti panda.
"Haha, ini membuatku gila..." Aurora menutup wajahnya dengan bantal, dan membenamkan wajahnya di atas bantal itu.
Ia kemudian teringat pada Jordan, "Benar, aku harus beritahu dia soal Anne." Tanpa pikir panjang, wanita itu kini langsung turun dari ranjang dan berlari keluar kamar.
Saat ia akan membuka pintu, "Brukkkk" Seseorang sudah terlebih dahulu membukanya.
Orang itu membuka pintu secara tiba-tiba, papan pintunya tepat mengenai jidat Aurora dan membuatnya terjatuh.
"Astaga, Aurora..." Rupanya itu adalah Grace, ia membawakan makanan untuk Aurora, lantaran gadis itu tak kunjung keluar kamar.
Aurora yang kini terkapar di lantai pun langsung melantur tak jelas, "haha, banyak sekali bintangnya. Jordan, aku harus beritahu dia, tidak boleh mati dulu..." Setelah ia bergumam seperti itu, kini wanita itu langsung pun langsung pingsan.
"Jordan?" Grace mendengar hal itu, ia tampak kebingungan dan terus bertanya-tanya. Siapa itu Jordan?
Namun ia tak mau ambil pusing, kini ia lebih memilih mengurus putri sambungnya yang sudah seperti ulat bulu, lantaran tergeletak di tangah jalan.
"Pelayan! Pelayan!" Mendengar panggilan itu, sontak membuat beberapa pelayan kini langsung berdatangan.
***
Di kantor polisi, seorang pria berjas hitam, dengan beberapa orang ajudannya, tengah menunggu seorang tahanan di ruang bilik tunggu.
Seorang polosi membawa tahanan itu masuk, menemui pria itu di ruangan bilik tunggu.
"Pak Darren, silahkan, namun kami hanya bisa memberimu waktu 20 menit." Ucap sipir itu, dan di jawab anggukan oleh Darren.
"Itu cukup!"
Darren kini tengah menemui penculik putrinya, meskipun pria itu sempat gagal. Namun tetap saja, pemikiran Darren tak akan sedangkal itu. Orang itu pasti punya atasan.
"Beritahu padaku! Siapa yang menyuruhmu!"
BERSAMBUNG...