NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Suasana di dalam mobil hening sepanjang perjalanan. Anindya menatap ke luar jendela, melihat deretan gedung dan orang-orang yang berlalu-lalang, namun pikirannya tertinggal di ruangan itu, pada sosok yang kini harus menanggung segalanya sendirian. Pipi yang memerah perlahan mereda, namun rasa perih di dada tak kunjung surut.

‎‎Hansen melirik sekilas dari kursi pengemudi, suaranya terdengar lembut.

‎‎"Jangan dipikirkan terlalu berat, Anindya. Tuan Reynand... beliau tidak pernah mengkhawatirkan seseorang sampai seperti ini."

‎‎Anindya tersenyum tipis, namun tak sampai ke matanya.

‎‎"Justru itu yang saya takutkan, Pak Hansen... saya menjadi alasan segalanya berantakan."

‎‎"Kamu bukan alasan keruntuhan mereka," jawab Hansen tenang. "Keretakan itu sudah ada sejak awal. Kamu hanya... menjadi cermin yang memperlihatkan apa yang sebenarnya sudah lama rusak."

‎‎Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sederhana tempat Anindya tinggal. Anindya membuka pintu, menoleh sekali lagi.

‎‎"Terima kasih sudah mengantar, Pak Hansen. Tolong... sampaikan pada Pak Reynand, untuk tidak gegabah mengambil keputusan."

‎‎Hansen hanya tersenyum.

‎‎"Sampaikan sendiri saja kalau ada kesempatan. Sekarang masuk dan istirahatlah. Saya harus kembali ke perusahaan untuk berdiri di sisi Tuan Reynand."

‎‎Anindya mengangguk, melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup pelan di belakangnya, menyisakan kesunyian yang sama beratnya seperti di ruangan itu.

-

-

-

‎Pintu ruang rapat utama terbuka. Suasana seketika hening.

‎‎Di meja rapat duduk seluruh jajaran Dewan Direksi Reynand Group — wajah-wajah tegang, penuh pertanyaan yang tak terucap. Di sisi ruangan, berdiri Hendra Wijaya. Dia bukan anggota dewan, kehadirannya bukan atas hak jabatan, melainkan sebagai perwakilan keluarga mitra terbesar sekaligus ayah dari Gisella, istri Reynand. Kedua tangannya bersilang di dada, rahangnya mengeras, kemarahannya tak lagi disembunyikan.

‎‎Reynand duduk di kursi utamanya, meletakkan berkas di atas meja dengan tenang.

‎‎"Baiklah," suaranya rendah namun terdengar jelas ke segenap ruangan. "Kalian memanggil saya ke sini untuk meminta penjelasan. Saya datang untuk menjawabnya."

‎‎Salah satu direktur tertua mengangkat suara, nadanya berat dan penuh keberatan.

‎‎"Reynand... kami menerima kabar bahwa Keluarga Wijaya mengancam menarik seluruh investasi dan memutus semua kerja sama strategis. Apakah benar... ini berkaitan dengan masalah rumah tanggamu?"

‎‎Reynand mengangguk pelan, tatapannya tak bergeming.

‎‎"Benar. Saya telah meminta cerai dari Gisella. Dan saya siap menanggung segala konsekuensi dari keputusan ini."

‎‎Ruangan bergemuruh pelan. Beberapa orang saling bertukar pandang cemas.

‎‎Hendra yang berdiri di sisi ruangan tak dapat menahan diri lagi. Suaranya menggelegar, penuh kemarahan yang tertahan sejak tadi.

‎‎"Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih! Selama bertahun-tahun keluarga kami mendukungmu, menopang perusahaan ini di masa-masa sulit... dan ini balasan yang kau berikan?!"

‎‎Reynand menoleh ke arahnya, tenang namun tegas.

‎‎"Saya tidak menolak dukungan Anda dengan sengaja. Pernikahan kami memang tidak pernah bahagia sejak awal. Memaksakannya hanya akan menyakiti Gisella seumur hidup. Saya tidak ingin menyiksanya dengan kebersamaan yang hampa."

‎‎"Jangan berdalih dengan kata-kata indah!" bentak Hendra. "Kau membuang putriku demi wanita lain! Dan kau kira kami akan diam saja membiarkanmu menghancurkan nama baik keluarga kami?!"

‎‎Ia berhenti sejenak, menatap seluruh ruangan.

‎‎"Baiklah... jika kau memilih jalur itu, maka terimalah akibatnya. Mulai hari ini, Wijaya Group mencabut seluruh pendanaan, menghentikan semua proyek bersama, dan memutus kerja sama sepenuhnya. Lihatlah seberapa kuat kau mampu berdiri sendirian tanpa kami!"

‎‎Beberapa direktur tampak pucat. Dampaknya terlalu besar, terlalu langsung, mampu mengguncang fondasi perusahaan dalam sekejap.

‎‎Reynand menarik napas panjang, lalu menatap ayah mertuanya lurus.

‎‎"Saya paham konsekuensinya. Saya sudah mempertimbangkannya matang-matang. Kerugian yang mungkin terjadi, beban yang akan dipikul perusahaan... semuanya sudah saya hitung."

‎‎Ia berhenti sejenak, suaranya tak bergetar sedikit pun.

‎‎"Namun tak ada satu pun dari hal itu yang mampu mengubah keputusan saya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Anda, memaksa saya menghabiskan sisa hidup dalam kebohongan."

‎‎Lalu ia menatap seluruh jajaran direksi.

‎"Dan mengenai tuduhan yang beredar... bahwa ini karena sekretarisku, Anindya... ia tidak ada kaitannya dengan keputusan ini. Jangan libatkan dia. Apapun yang terjadi, biarkan jatuh pada saya sendirian."

‎‎Aditya yang duduk di salah satu sisi meja, akhirnya berbicara dengan suara berat.

‎"Reynand... kau mempertaruhkan masa depan perusahaan yang dibangun kakekmu dan ayahmu ini dengan susah payah. Apakah... apakah benar-benar sepadan?"

‎‎Reynand terdiam sejenak. Bayangan wajah Anindya melintas di benaknya, tatapan tulusnya, rasa ibanya pada Gisella, kelembutan yang tak pernah ia temukan di mana pun.

‎‎"Ya," jawabnya pelan namun tegas. "Sepadan."

‎‎Keheningan menyelimuti ruangan. Keputusan telah diucapkan, tak dapat ditarik kembali. Pintu perang telah terbuka.

‎‎Hendra mendengus kasar, "Kau akan menyesali keputusanmu ini, Reynand!"

‎‎Ia berbalik, berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah berat.

Pintu ruang rapat tertutup, meninggalkan keheningan yang mencekam. Tatapan seluruh anggota dewan direksi kini tertuju kepada Reynand, sebagian penuh kecemasan, sebagian lain ragu, namun satu pasang mata menatapnya dengan bangga sekaligus prihatin.

‎‎Aditya berdiri dari kursinya, berjalan mendekat ke arah putranya. Tangan kanannya mendarat lembut di bahu Reynand.

‎‎"Kau sudah melakukannya dengan benar, Nak," ucapnya pelan namun tegas, terdengar jelas di ruangan yang hening itu. "Memaksakan kebersamaan yang hampa... itu bukan pernikahan. Itu penjara untuk kalian berdua."

‎‎Beberapa direktur berbisik pelan.

‎‎"Tapi Pak Aditya..." salah satu dari mereka menyela ragu. "Dampaknya pada perusahaan..."

‎‎Aditya menoleh, tatapannya tenang namun berwibawa.

‎‎"Saya tahu risikonya. Saya paham betul seberapa besar keterikatan kita dengan Wijaya Group. Tapi saya lebih tahu satu hal, perusahaan ini tidak dibangun di atas fondasi kebohongan. Jika harus bangkit kembali dari nol, biarlah. Asalkan dengan jujur."

‎‎Ia kembali menatap Reynand, matanya menyiratkan dukungan tanpa syarat.

‎‎"Papa mendukung keputusanmu, apa pun yang terjadi."

‎‎Reynand menahan napas, dadanya terasa sesak oleh rasa haru yang tak disangka. Ia mengangguk pelan, menatap ayahnya lekat.

‎‎"Terima kasih, Pa..."

‎‎Aditya mengusap bahu putranya sekali lagi, lalu menoleh ke arah seluruh jajaran direksi.

‎‎"Kami akan menghadapi ini bersama. Langkah-langkah penanganan akan segera disusun. Kita cari mitra baru, atur ulang prioritas, kerjakan lebih keras. Tidak mudah, memang. Tapi kita tidak sendirian."

‎‎Suasana di ruangan itu perlahan berubah. Keraguan belum sepenuhnya hilang, namun kepanikan mulai mereda.

‎‎"Rapat hari ini cukup sampai di sini," tutup Reynand, suaranya kembali mantap. "Kembali ke tugas masing-masing. Saya akan menyampaikan pengumuman resmi kepada seluruh karyawan sore ini."

‎‎Satu per satu orang bangkit dan melangkah keluar. Hening kembali menyelimuti ruangan, kini hanya menyisakan ayah dan anak itu.

‎‎Aditya kembali duduk di kursi, menatap putranya lekat.

‎‎"Papa tahu beban ini berat," ucapnya pelan. "Dan Papa tahu... ada seseorang yang menjadi alasan di balik ketegasanmu ini."

‎‎Reynand terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan.

‎‎"Ya, Pa. Tapi bukan seperti yang dikatakan mereka. Anindya tidak pernah meminta apa-apa. Dia hanya... membuka mataku."

‎‎Aditya tersenyum tipis.

‎‎"Kau tidak perlu menjelaskan. Papa melihatnya dari caramu melindunginya. Dan Papa bangga, kau tidak mengorbankannya demi nama baik perusahaan."

‎‎Ia berdiri, menepuk meja pelan.

‎‎"Tapi tetap waspadalah. Keluarga Wijaya tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja. Dan Gisella... dia tahu betul di mana letak kelemahanmu."

‎‎"Aku tahu," jawab Reynand rendah. "Aku akan menjaganya."

‎‎Aditya mengangguk, melangkah menuju pintu, lalu berhenti sesaat sebelum keluar.

‎"Kau tidak sendirian, Reynand. Papa ada di sini. Dan soal Mamamu, biar itu menjadi urusan Papa."

‎‎Pintu tertutup pelan. Reynand berdiri sendirian, namun kesendiriannya tak lagi terasa seberat tadi. Ia meraih ponsel, menatap layarnya, hendak menelpon tapi ia urungkan.

‎‎"Tidak... Sebaiknya aku temui saja dia."

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!