NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:46.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Suara jeritan serak terdengar menyayat hati dari dalam kamar utama kediaman Baskoro.

"Pergi! Jangan mendekat! Aku belum mau mati!" jerit Baskoro melempar gelas kaca ke sudut ruangan yang kosong.

Prang!

Gelas itu hancur berkeping-keping membentur dinding kamar yang dingin.

Pria paruh baya yang dulunya sangat berkuasa itu kini meringkuk ketakutan di sudut ranjang.

Tubuhnya kurus kering hanya menyisakan tulang berbalut kulit pucat dalam waktu empat hari.

Garis-garis hitam kini sudah menjalar naik menutupi separuh wajahnya seperti akar pohon busuk.

Baskoro terus berhalusinasi melihat sosok hitam tinggi besar membawa sabit berdiri di sudut kamarnya.

Malaikat maut benar-benar sudah datang untuk menagih nyawanya.

Brak!

Pintu kamar dibuka dengan kasar dari luar.

Hana dan Rizki berjalan masuk dengan kondisi yang sangat menyedihkan dan berantakan.

Pakaian mahal mereka kotor oleh tanah dan rumput.

Bahkan rahang Rizki terlihat bengkak kebiruan dan cara bicaranya sedikit aneh karena dua gigi depannya copot.

"Ayah! Ayah sedang apa?!" teriak Hana panik melihat ayahnya ketakutan sendiri.

Baskoro menoleh perlahan menatap putri dan menantunya dengan mata cekung yang mengerikan.

"Mana pemuda itu?! Mana Dokter Dewa yang bisa menyelamatkan nyawaku?!" tuntut Baskoro dengan suara bergetar hebat.

Hana langsung terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Air mata penyesalan mulai mengalir membasahi pipi gadis arogan itu.

"M-maafkan kami Ayah, pemuda itu menolak untuk datang," jawab Hana sambil terisak pelan.

"Dia bilang nyawa Ayah tidak bisa dibeli dengan uang seratus miliar," lanjutnya dengan suara parau.

Baskoro membelalakkan matanya mendengar kegagalan tersebut.

"Lalu kenapa kalian tidak membawanya dengan paksa?! Bukankah Rizki membawa puluhan pengawal elit?!" bentak Baskoro murka.

Rizki memegang rahangnya yang bengkak dan mendengus kesal mendengar bentakan mertuanya.

"Pengawal elit apanya! Pemuda udik itu menghajar habis lima puluh orang hanya dalam dua menit!" lapor Rizki penuh amarah.

"Ayah tahu? Dia bukan cuma tabib kampung, dia itu monster bela diri yang sangat mengerikan!"

Baskoro terhenyak lemas mendengar fakta baru tersebut.

Harapan terakhirnya untuk memaksa pemuda itu datang kini hancur berkeping-keping.

"Bahkan dia menampar rahangku sampai gigiku rontok!" keluh Rizki menunjuk mulutnya sendiri.

"Ini semua gara-gara anakmu yang bodoh ini! Coba saja dia tidak merobek surat perjodohan itu!"

Rizki mulai mencari kambing hitam dan menyalahkan istrinya.

Hana langsung melotot tidak terima disalahkan oleh suaminya.

"Kenapa kau menyalahkanku?! Bukankah kau yang menyuruh satpam mematahkan kakinya kemarin?!" balas Hana berteriak marah.

"Kau juga yang melempar cek lima ratus juta itu ke dadanya! Jangan merasa paling benar sendiri Rizki!"

Ruang perawatan darurat itu kini berubah menjadi arena pertengkaran suami istri yang saling menyalahkan.

Kepanikan dan keputusasaan membuat mereka lupa diri.

"Diam kalian berdua! Diam!" raung Baskoro mengeluarkan sisa tenaga terakhirnya.

Uhuk! Uhuk! Huek!

Baskoro kembali terbatuk parah dan memuntahkan darah hitam kental ke atas selimut putihnya.

Pertengkaran Hana dan Rizki langsung terhenti melihat kondisi Baskoro yang semakin kritis.

"Besok adalah hari kelima," ucap Baskoro dengan nafas yang putus-putus seperti orang tenggelam.

"Kalau besok pemuda itu tidak mengobatiku, aku akan benar-benar mati menjadi bangkai busuk."

Baskoro menatap tajam ke arah putri sulungnya dengan tatapan penuh penyesalan dan keputusasaan.

"Hana, kau dengar baik-baik perintah terakhirku ini."

"Buang semua kesombonganmu, buang semua gengsi Keluarga Baskoro."

"Besok pagi-pagi sekali, kau harus merangkak dari gerbang depan rumah Keluarga Liem sampai ke kaki pemuda itu!"

Hana membelalakkan matanya lebar-lebar seolah tersambar petir di siang bolong.

"A-apa?! Ayah menyuruhku merangkak seperti anjing di depan gembel itu?!" jerit Hana menolak keras.

"Aku ini pewaris Keluarga Baskoro! Mana mungkin aku merendahkan diriku sehina itu!"

Plak!

Sisa tenaga Baskoro digunakan untuk menampar pipi putrinya dengan cukup keras.

"Gara-gara kesombonganmu itulah kita berakhir seperti ini dasar anak bodoh!" maki Baskoro dengan berlinang air mata.

"Apakah gengsimu lebih berharga dari nyawa ayah kandungmu sendiri?!"

Hana memegangi pipinya yang memerah dan menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya yang tragis.

Dia tidak pernah menyangka, pria kampung yang sangat dihinanya kemarin kini menjadi dewa penentu hidup dan mati keluarganya.

Di saat Keluarga Baskoro sedang dilanda penderitaan hebat, suasana berbeda terjadi di rumah Keluarga Liem.

Di dalam kamar tidurnya, Arif sedang duduk bersila di atas kasur dengan mata terpejam rapat.

Keringat sebesar biji jagung terus mengucur deras dari dahi dan lehernya membasahi kemeja mahalnya.

Wajah Arif terlihat sangat merah padam menahan rasa panas yang luar biasa di dalam organ tubuhnya.

"Sial, ramuan herbal bau busuk itu ternyata cuma bertahan setengah hari," batin Arif menggerutu.

Racun Api di dalam tubuhnya kini mengamuk jauh lebih parah dari sebelumnya.

Itu karena dia menggunakan terlalu banyak tenaga Qi saat menghajar puluhan pengawal Baskoro pagi tadi.

Hawa panas itu seolah ingin membakar jantung dan paru-parunya menjadi abu.

"Aku tidak bisa menahannya lagi dengan cara meditasi biasa," gumam Arif membuka matanya.

"Aku harus mencari sumber energi Yin murni sekarang juga."

Arif langsung turun dari kasurnya dan berjalan terhuyung-huyung keluar kamar.

Dia menuruni tangga menuju ruang keluarga di lantai satu.

Telinganya mendengar suara acara televisi dari arah ruang santai.

Arif berjalan mendekat dan melihat Shinta sedang duduk sendirian di sofa panjang.

Gadis itu sedang memakan keripik kentang sambil fokus menonton drama Korea kesukaannya.

Kakinya diselonjorkan santai ke atas meja kaca di depannya.

Tap. Tap. Tap.

Arif berjalan masuk dan langsung duduk di sebelah Shinta tanpa permisi.

Saking fokusnya pada televisi, Shinta sampai terlonjak kaget melihat ada orang duduk di sampingnya.

"Astaga! Kau ini hantu ya? Datang tidak bersuara sama sekali!" omel Shinta memegangi dadanya yang kaget.

Arif tidak membalas omelan itu dan hanya menatap wajah Shinta lekat-lekat.

Nafas Arif terdengar sedikit memburu dan berat.

Melihat wajah Arif yang sangat merah dan berkeringat deras, Shinta mulai merasa ada yang tidak beres.

"H-hei, kau kenapa? Wajahmu merah sekali seperti pantat monyet," ejek Shinta mencoba menutupi rasa gugupnya.

Arif masih diam, dia berusaha mengatur nafasnya agar tidak terlihat terlalu lemah di depan gadis judes ini.

"Geser sedikit, aku butuh tempat," ucap Arif dengan suara serak.

"Ini sofanya kan luas! Kenapa kau harus duduk mepet-mepet denganku?!" protes Shinta kesal tapi tetap menggeser tubuhnya sedikit.

Bukannya menjaga jarak, Arif malah ikut bergeser dan kembali duduk sangat rapat dengan Shinta.

Paha mereka bahkan saling bersentuhan saking dekatnya.

Deg!

Jantung Shinta langsung berdegup kencang karena jarak mereka sekarang sangat intim.

"K-kau mau apa dasar udik mesum! Jangan macam-macam ya atau aku teriak panggil Kak Nana!" ancam Shinta menutupi dadanya dengan bantal sofa.

"Berikan tanganmu," perintah Arif datar dan langsung mengulurkan tangan kanannya.

"Tidak mau! Untuk apa aku memberikan tanganku padamu?!" tolak Shinta membuang muka.

Meski mulutnya menolak, pikiran Shinta langsung teringat kejadian pelukan paksa di sofa pagi tadi.

"Apakah dia mau memelukku lagi?" batin Shinta yang entah kenapa pipinya langsung merona merah memikirkan hal itu.

"Cepat berikan tanganmu cerewet, Racun Apiku sedang kumat parah," desak Arif menahan sakit di dadanya.

Shinta melirik Arif sekilas dan melihat tangan pemuda itu sedikit bergetar menahan sakit.

1
brajamusti
pertanyaan yg sama yg ga bisa dijawab.. asuuuuu
Utuh Gelapung
shinta mati cari pacar baru.gitu aja repot.repot aja gk gitu.
kiyoe: kan Shinta yang punya energi yin murni kak
total 1 replies
Was pray
gak bisa apa-apa ngeyelan lagi, cewek begini kok dipiara
Was pray
alur cerita mengupas tuntas kecerobohan dan dampak percaya diri yg berlebihan dari Arif dan kebohongan tingkat dewa shinta
Abady Ehm
kalo sudah perempuan ikut campur, hancurlah semuanya, dasar cerita sampah,.....
Night Watcher
kan didepan matamu arya... kok "kudengar"?... haddduhhhh.. ni cerita minta diapain ya...?
hapus ajalah.. cerita asal tulis ini mah..🤦
Night Watcher
ini lagi... macan putih dan naga hitam kan suruhan reyhan bambang...
Night Watcher
kata suster "jangan kena air dulu dua hari", tapi mau dikompres...🤦
Night Watcher
yg mahasiswa baru kan arya, kok malah dia ngatain arif mhsw baru?🤦
Night Watcher
lah.. jelas² duduk di kursi sampingnya, masih ditanya "teman sekelas?"
ini di kantin atau di mana?
Night Watcher
gelar master itu apa gak S2 atau ditempuh setelah lulus S1 ya?
kok kembali ke...
duh bingung aku... gak pernah makan bangku kuliah sih...🤭🤭
Night Watcher
cerita dunia bawah tanah...
menyerahkan musuhnya ke pihak berwajib??? khaaahhhh..!!!
Night Watcher
ada ya jalan tol macet?😇
Night Watcher
perasaan sebelumnya reyhan dkk br muncul dr pintu kantin, tau² udah ada makanan yg penuh saus...
Was pray
kok lama lama bosan ya baca cerita ini.....
Abady Ehm
lama lama kok seperti cerita sampah ini, mana pasukan bayangan malam pelindung keluarga?....
Abady Ehm
mantap ceritanya, lanjut Thor, aku suka kata kata yg sebenarnya, gak dibuat buat,...
Risman Caniago
sekolah aja nggak pernah.....tau2 kuliah.....halu cerita nya lebih mirip dongeng bobok balita..... nggak ada bobot nih cerita.....
Adelina Lin
Saya gk suka dengan sifat Sinta yang selalu memanggil arif, dengan udik, ganti panggilan Sinta ke si arif, jangan dipanggil udik si arifnya
Was pray: Arif dan Shinta cocok jadi pasangan... yg laki laki bermulut pedas dan sering tertipu oleh truk murahan musuh2 nya, sedangkan yg wanita gak menghargai calon suaminya.... masak manggil calon suami udik. .dibilang bodoh kok statusnya mahasiswi tapi mau bilang cerdas tapi pemikirannya kayak bukan mahasiswa. ..... 😄😄
total 2 replies
kiyoe
iyaa kak biar cerita nya menantang hehe tapi next nya udah clear kok pasti
Was pray: bukan bikin cerita lebih menantang Thor, tapi menunjukan kelemahan fatal Arif yang katanya agoan tapi kenyataan nol besar... dan itu jadi alur cerita yg membosankan, segala sepak terjangnya cuma bikin orang2 terdekatnya jadi kurban
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!