NovelToon NovelToon
Bos Itu Mantan Pacarku

Bos Itu Mantan Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas Dendam
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.

Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.

Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.

apakah yang akan terjadi kepada mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tsania 2

Jemari Tsania gemetar saat meraih tumpukan berkas setebal lima ratus halaman itu. Bobot kertas-kertas di tangannya terasa seberat beban emosi yang mendadak menindih dadanya.

Arsen sudah kembali duduk di kursi eksekutifnya. Ia menyesap kopi hitam tanpa gula dari cangkir porselen putih, memutar pena mahal di antara jemarinya dengan gerakan tenang namun penuh dominasi. Mata tajam itu tak lagi menatap Tsania, berakting seolah wanita di depannya hanyalah seorang bawahan biasa.

"Masih berdiri di sana?" suara Arsen memecah keheningan, dingin dan berjarak.

"Jam terus berjalan, Tsania. Kamu sudah membuang sepuluh menit untuk mematung."

Tsania menarik napas panjang, menekan rasa sesak yang bergejolak di dadanya. "Di mana meja kerja saya, Pak?"

Arsen mengangkat pandangannya singkat, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan, sebuah meja kayu kecil bersandar pada dinding kaca, persis menghadap ke meja kerjanya.

"Di sana," jawab Arsen datar.

"Saya tidak suka membuang waktu untuk menunggu laporan dikirim antar lantai. Mulai hari ini, kamu bekerja di ruangan saya agar saya bisa memantau performamu secara langsung."

Tsania tersentak. Bekerja satu ruangan dengan Arsen selama delapan jam sehari bahkan mungkin lebih adalah bentuk siksaan psikologis yang tak pernah ia bayangkan.

"Tapi Pak, bukankah tim Brand Strategy punya kubikel sendiri di lantai delapan?" tanyanya, berusaha mencari celah.

Arsen menyandarkan punggungnya, menatap Tsania dengan pandangan menantang. "Siapa CEO di perusahaan ini, Tsania? Kamu atau saya?"

"Bapak," jawab Tsania pelan namun tegas.

"Bagus kalau kamu sadar. Jadi ikuti perintah saya tanpa protes, atau kamu mau bayar denda penalti itu sekarang?" Arsen tersenyum miring, senyuman cemooh yang begitu asing di mata Tsania.

Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Tsania berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia menghempaskan tumpukan berkas itu ke atas meja, menarik kursi, lalu duduk. Bau wangi kayu dan parfum Arsen menyusup ke indra penciumannya, memicu ingatan masa lalu yang berusaha mati-matian ia kubur.

Dua tahun lalu, pria ini akan membalut tubuhnya dengan mantel hangat saat hujan turun. Pria ini akan menyeduhkan teh chamomile hangat ketika ia mengeluh lelah. Sekarang, pria yang sama menatapnya seolah ia adalah musuh terbesar dalam hidupnya.

Tsania menggelengkan kepala cepat, mengusir bayangan itu. Ia membuka halaman pertama laporan strategi pemasaran. Tulisan-tulisan analisis pasar dan grafik penjualan mulai memenuhi pandangannya, namun konsentrasinya buyar setiap kali mendengar dentang pulpen Arsen yang mengetuk meja atau helaan napas berat pria itu.

Tiga jam berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang. Perut Tsania mulai membunyikan protes ringan karena ia belum sempat makan siang sejak pagi.

Tiba-tiba, interkom di meja Arsen berbunyi.

"Ya, Maya?" jawab Arsen pendek.

"Pak Arsen, makan siang Bapak sudah diantarkan oleh pihak katering. Mau saya bawakan ke dalam?" suara Maya terdengar dari pengeras suara.

"Bawa masuk."

Beberapa saat kemudian, Maya masuk membawa nampan berisi hidangan mewah berupa steak dan salad segar, lengkap dengan secangkir kopi hangat yang baru diseduh. Bau aroma daging panggang gurih seketika memenuhi ruangan.

Maya melirik Tsania yang fokus menatap layar laptop dan tumpukan berkas dengan wajah agak pucat.

"Mbak Tsania... mau saya belikan makan siang juga di kantin bawah?" tawar Maya ramah.

Sebelum Tsania sempat menjawab, suara tegas Arsen memotong dari mejanya.

"Tidak perlu, Maya. Pekerjaan Tsania belum selesai. Di perusahaan ini, deadline adalah prioritas di atas kebutuhan pribadi."

Maya tampak serba salah. Ia menatap Tsania dengan tatapan prihatin, lalu membungkuk sopan pada Arsen sebelum bergegas keluar dari ruangan.

Tsania mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa marah dan sakit hati bercampur menjadi satu. Ia menatap Arsen yang kini santai memotong daging steaknya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mantan pacarnya itu benar-benar sedang menghukumnya.

"Sen... maksud saya, Pak Arsen," panggil Tsania dengan suara menahan geram.

"Ini sudah melewati jam makan siang. Saya berhak mendapatkan waktu istirahat satu jam sesuai undang-undang ketenagakerjaan."

Arsen meletakkan pisau dan garpunya dengan bunyi denting halus pada porselen. Ia menatap Tsania lurus-lurus.

"Undang-undang ketenagakerjaan?" Arsen tertawa sinis.

"Lucu sekali mendengar kata 'hak' dan 'aturan' keluar dari mulut seorang wanita yang pergi begitu saja tanpa memikirkan hak orang lain untuk mendapatkan penjelasan."

Dada Tsania naik turun menahan napas. "Itu hal yang berbeda! Pekerjaan dan masa lalu kita tidak ada hubungannya!"

Arsen berdiri mendadak, membuat kursinya terdorong ke belakang. Langkah kakinya yang lebar dan cepat membawa dirinya menghampiri meja Tsania. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di atas meja Tsania, menatap wanita itu dari jarak yang sangat dekat.

"Semua hal di ruangan ini ada hubungannya dengan masa lalu, Tsania," bisik Arsen, suaranya bergetar penuh amarah yang tertahan.

"Kamu pikir saya bisa lupa? Kamu pikir saya bisa tidur nyenyak selama dua tahun ini sementara saya bertanya-tanya, salah apa saya sampai kamu tega tinggalkan saya di saat bisnis keluarga saya di ambang kehancuran?"

Tsania terpaku. Tenggorokannya terasa tersumbat. Di ambang kehancuran?

"Aku... aku tidak tahu kalau..."

"Tentu saja kamu tidak tahu dan tidak mau tahu!" potong Arsen cepat.

"Kamu cuma peduli pada dirimu sendiri. Kamu menghilang tepat saat saya paling membutuhkanmu. Jadi jangan bicara soal hak atau keadilan di depan saya!"

Air mata yang dipendam Tsania akhirnya menetes, melintasi pipinya yang pucat. Arsen sempat tersentak kaget melihat lelehan bening itu. Ada kilatan penyesalan spontan di matanya untuk sepersekian detik, namun dengan cepat disapunya kembali dengan tatapan dingin.

"Usap air matamu," serah Arsen dingin sambil berbalik arah menuju mejanya.

"Air mata tidak akan menyelesaikan revisi file peluncuran produk itu sebelum jam lima sore."

Tsania menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Rasa sakit di dadanya membakar habis sisa kelemahannya, menggantinya dengan tekad yang bulat.

Ia tidak boleh hancur di sini. Ia tidak boleh membiarkan Arsen menginjak-injaknya, apalagi membiarkan pria itu tahu bahwa ia melarikan diri dua tahun lalu justru karena diancam oleh ayah Arsen sendiri untuk menyelamatkan posisi Arsen di perusahaan.

"Baik, Pak Arsen," sahut Tsania, suaranya kini kembali tenang, teratur, dan penuh kejujuran yang menantang.

"Laporan ini akan selesai tepat pukul lima sore. Dan saya akan buktikan bahwa saya berada di perusahaan ini karena kemampuan saya, bukan karena belas kasihan atau dendam masa lalu Bapak."

Arsen menghentikan tangannya yang hendak meraih cangkir kopi. Ia menatap Tsania cukup lama, terdiam oleh keteguhan wanita yang pernah sangat dicintainya itu.

Tsania tidak membuang waktu lagi. Jarinya mulai menari cepat di atas papan ketik laptop, membedah setiap strategi, memperbaiki kesalahan perhitungan pasar, dan meracik konsep branding baru yang segar. Selama tiga jam berikutnya, ruangan itu hanya dihiasi bunyi ketukan keyboard yang konstan dan napas teratur dari keduanya.

Pukul empat lewat lima puluh delapan menit.

Tsania berdiri dari kursinya. Ia merapikan berkas-berkas yang sudah dijilid rapi, lalu melangkah mantap menuju meja Arsen. Ia meletakkan berkas revisi setebal lima puluh halaman berisi usulan strategi baru di atas meja pria itu.

"Empat puluh delapan halaman analisis risiko, strategi media sosial, dan kampanye produk baru sudah selesai direvisi. Silakan diperiksa, Pak Arsen," ucap Tsania tegak, menatap lurus mata hitam Arsen.

Arsen meraih berkas itu dengan alis bertaut. Ia membuka halaman demi halaman. Niat awalnya untuk mencari celah kesalahan mendadak runtuh. Analisis yang dibuat Tsania sangat tajam, terstruktur, dan memperhitungkan celah pasar yang bahkan sempat terlewat oleh tim direksi sebelumnya. Kemampuan Tsania sebagai brand strategist memang tak bisa diragukan.

Arsen menutup berkas itu perlahan, lalu mendongak. "Tidak buruk untuk kerja lima jam," ujarnya singkat, berusaha menyembunyikan rasa kagumnya.

"Terima kasih. Jika tidak ada tugas tambahan, jam kerja saya sudah selesai. Saya permisi pulang," kata Tsania formal, langsung berbalik untuk mengambil tasnya.

"Tsania."

Langkah Tsania terhenti di depan pintu. Tanpa menoleh, ia merespons. "Ya, Pak?"

"Besok jam delapan pagi, ikut saya ke lokasi survei tempat peluncuran acara di Bogor. Kamu yang menyetir," perintah Arsen.

Tsania memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. "Baik, Pak Arsen. Selamat sore."

Pintu ruangan tertutup rapat saat Tsania melangkah keluar. Di dalam ruangan yang kini hening, Arsen menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, mengusap wajahnya yang tampak lelah. Matanya tertuju pada berkas di mejanya, lalu beralih pada cangkir bekas kopi di meja kecil tempat Tsania duduk seharian tadi.

"Kenapa harus kamu, Tsania... Kenapa kamu harus kembali dan bahkan tak mau memberikan penjelasan apapun setelah meninggalkan aku!" gumam Arsen lirih pada ruangan yang kosong, menyisakan kerinduan yang samar di balik topeng dendamnya.

1
Jumi Saddah
semoga lancar deh,,tidak ada yg menggagalkan,,biar semua kembali ke tempat nya sebagai mesti nya💪💪💪arsen semangat
kymlove...
sabar nya tinggal 2 hari lagi, kalau sehari up 2 x berarti kurang 4+1 part lagi untuk menjelang malam Sabtu, kalau sehari up sekali berarti nunggu kurang 2-3 part lagi menjelang Sabtu malam... jadi harus bisa sesabar itu nunggunya aku🥲🤣
Oma Gavin
menunggu sabtu lama banget 🥺
nely_48
cinta mu begitu besar n tulus pd arsen ya tsania ☹️
nely_48
sama² terluka n hancur,,,
nely_48
semoga tsania mendengarkan curhatan mu ya arsen
nely_48
tenang tsania karna itu ada
nely_48
udh ga sabar nunggu detik² bpak nya arsen n aurelia live
nely_48
tsania km tenang, jgn histeris gtu,
nely_48
langkah yg tepat arsen,, liatt dr jauh az gpp, pastikan bpak dajjal mu itu hancur kehilangan semua harta n nama yg sll dia agung²kan
nely_48
gila bpak nya arsen jahat nya udh level dajjal
Eva Karmita
Tsania please jgn berpikir yg tidak" cukup kamu diam tenang jgn sampai membuat kesalahan dan itu bisa membuat Arsen dlm bahaya...ini demi keselamatan kamu dan Arsen 🥺
Eva Karmita
syukurlah Nia sudah mendengar semua pengakuan Arsen 🥺
Eva Karmita
bukan Arsen tidak mau mendengarkan penjelasan mu tapi kamu Nia yg ngak pernah mau menjelaskan dengan Arsen 🥺 ... kalian berdua sama"terluka dan korban ke jahat si Bisma dan keluarga Aurel, semoga kesalah pahaman ini cepat terbongkar
kymlove...
lalu kamu mau apa tsania?? pergi lagi dan berharap arsen akan tenang hidup nya?? atau mau menghalangi niat arsen untuk membongkar kejahatan bapaknya!!! trs apa lagi yang mau kamu mau?? sudah tau kalian sama2 korban kekejaman bapak nya arsen, harus nya kamu kalau bisa dukung tindakan arsen, jangan malah menghalangi dengan alasan takut arsen di hancur kan lagi, INGAT SEBELUM INI KALIAN JUGA UDAH HANCUR!! JANGAN SELALU JADI LEMAH ATAS NAMA CINTA!! CUKUP SUDAH PENDERITAAN MU INI!!
kymlove...
sabtu malam nanti segera lah tiba!! tapi ini. masih senin sore jadi kira2 kurang berapa. part lagi untuk mencapai. sabtu itu🥲 gak sabar banget. lihat para orang jahat itu hancur...
kymlove...: kayaknya kita harus sabar dulu nunggu sabtu nya kk.. soalnya sekarang masih malam selasa🤣😀
total 2 replies
Oma Gavin
kenapa menuju sabtu saja lama banget
Sri Suryati
kan Arsen nanya stania . kenapa kamu meninggalkan aku
kymlove...
kalian semua sama-sama jadi korban tapi menurut ku tsania lebih menyakitkan sampai kehilangan orang tuanya dan masih harus menerima kebencian yang mendarah daging dari keluarga arsen, jadi kalau dengan arsen menghancurkan keluarga nya dan langsung tsania maafin gitu aja, kayaknya gak terlalu adil banget buat tsania yang tersiksa terlalu lama...
gina altira
Puas kamu Arsen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!