NovelToon NovelToon
CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

CINTA YANG JATUH LEBIH DULU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.

Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.

Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Telepon dari Ibu

Rangga bangkit dari kursinya, berjalan sedikit menjauh dari meja untuk mengangkat telepon, namun Kirana masih bisa mendengar sebagian percakapan dari nada suaranya yang berubah jauh lebih formal dan sedikit tegang.

"Iya, Ma. Saya masih di luar," terdengar suara Rangga, nadanya berbeda dari yang biasa Kirana dengar—lebih kaku, seperti anak yang sedang berhadapan dengan orang tua yang cukup ia segani.

Kirana duduk diam di mejanya, mencoba tidak terlihat menguping meski telinganya secara alami tertarik mendengar setiap kata yang terlontar dari seberang sana.

"Ma, soal itu, saya masih perlu waktu buat mikir," lanjut Rangga, suaranya semakin pelan, seolah berusaha menahan emosinya. "Saya belum siap buat ketemu sama... iya, saya tahu Ma pengen saya cepat nikah, tapi bukan gini caranya."

Kirana merasakan jantungnya mencelos mendengar potongan kalimat itu—ketemu, nikah—kata-kata yang tiba-tiba membuat suasana hangat yang baru saja mereka bangun terasa jauh lebih rapuh dari yang ia kira.

Setelah beberapa menit, Rangga kembali ke meja dengan raut wajah yang jauh lebih tegang dari sebelumnya, berusaha tersenyum meski terlihat dipaksakan. "Maaf, itu ibu saya."

"Nggak apa-apa, Pak," Kirana mencoba tersenyum normal, meski hatinya dipenuhi pertanyaan yang tidak berani ia lontarkan langsung. "Kedengarannya penting banget teleponnya."

Rangga menghela napas panjang, tampak mempertimbangkan seberapa banyak yang ingin ia bagikan. "Ibu saya lagi ngotot pengen saya segera menikah. Beliau udah nyiapin beberapa... kandidat, dari keluarga-keluarga relasi bisnis."

Kirana terdiam, mencoba menyembunyikan gejolak aneh di dadanya mendengar kata "kandidat" itu—sesuatu yang terdengar begitu dingin dan transaksional, jauh dari gambaran pernikahan yang selama ini ia bayangkan.

"Perjodohan, gitu, Pak?" tanya Kirana pelan, mencoba terdengar biasa saja meski suaranya sedikit bergetar.

"Kira-kira begitu," Rangga menjawab jujur, wajahnya tampak lelah. "Ibu saya khawatir soal keberlangsungan perusahaan, katanya saya butuh pendamping yang bisa mendukung posisi saya secara strategis, bukan cuma soal perasaan."

"Terus, Bapak gimana? Setuju?" Kirana bertanya, menahan napas menunggu jawaban yang entah kenapa terasa begitu penting baginya malam itu.

Rangga menatap Kirana lama, matanya penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan—keraguan, kebingungan, namun juga ketegasan yang perlahan mulai terbentuk. "Saya nggak pernah setuju sama konsep perjodohan kayak gitu, Kirana. Dari dulu saya selalu nolak setiap kali ibu saya coba kenalin saya sama anak relasi bisnisnya."

Kirana merasakan kelegaan kecil mendengar jawaban itu, meski masih ada kekhawatiran yang mengganjal di hatinya. "Tapi kalau Ibu terus maksa gimana, Pak?"

"Saya akan tetap nolak," jawab Rangga tegas, matanya menatap Kirana dengan intensitas yang membuat gadis itu kembali merasakan debaran aneh di dadanya. "Saya nggak akan nikah sama orang yang saya pilih cuma karena alasan bisnis atau strategi. Kalau saya menikah nanti, itu harus karena saya beneran mencintai orangnya, bukan karena kalkulasi untung rugi."

Kirana terdiam, menatap Rangga yang balas menatapnya dengan cara yang membuat jantungnya berdebar semakin kencang, seolah ada sesuatu yang ingin diucapkan pria itu namun tertahan oleh keraguan yang masih tersisa.

"Tanya apa, Pak?" Kirana menjawab, suaranya nyaris berbisik, merasakan momen yang terasa begitu penting sedang terbentuk di antara mereka.

Namun sebelum Rangga sempat melanjutkan pertanyaannya, pelayan resto tiba-tiba datang membawakan pesanan tambahan yang sempat mereka pesan sebelumnya, memecah momen intens yang baru saja terbangun.

Rangga menghela napas, tampak sedikit kecewa dengan interupsi itu, namun akhirnya memilih untuk menunda pertanyaannya. "Nggak, nggak jadi. Ayo makan dulu, keburu dingin."

Kirana mengangguk, meski rasa penasaran dengan pertanyaan yang tertunda itu terus menggelayuti pikirannya sepanjang sisa makan malam mereka. Obrolan mereka kembali ke topik yang lebih ringan, namun ada nuansa berbeda yang tersisa di antara keduanya—kesadaran baru bahwa hubungan mereka, apa pun bentuknya, kini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dari sekadar gosip kantor atau kecemburuan rekan kerja.

Dalam perjalanan pulang malam itu, setelah Rangga bersikeras mengantar Kirana sampai ke depan kosnya, keduanya duduk dalam diam di dalam mobil, suasana canggung namun hangat menyelimuti mereka berdua.

"Pak," Kirana akhirnya memberanikan diri bicara, saat mobil berhenti di depan gang menuju kosnya. "Soal ibu Bapak tadi... saya harap Bapak bisa nemuin jalan keluar yang bikin Bapak bahagia. Bukan cuma yang bikin orang lain seneng."

Rangga menatap Kirana lama, senyum tipis namun tulus muncul di wajahnya. "Makasih, Kirana. Itu artinya banyak buat saya."

"Sama-sama, Pak. Makasih juga buat makan malamnya, dan buat... semuanya hari ini," Kirana tersenyum, tangannya sudah memegang gagang pintu mobil, siap untuk turun.

"Kirana," panggil Rangga sekali lagi, membuat gadis itu menoleh.

"Iya, Pak?"

Rangga tampak ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya menggeleng pelan, tersenyum kecil. "Nggak jadi. Hati-hati masuk ya. Istirahat yang cukup."

Kirana mengangguk, sedikit kecewa namun juga memahami bahwa mungkin belum saatnya bagi mereka berdua untuk mengucapkan hal-hal yang lebih dalam. Ia turun dari mobil, melambaikan tangan singkat sebelum berjalan menuju kosnya, sementara Rangga masih duduk di dalam mobil, menatap kepergiannya dengan pikiran yang dipenuhi keputusan besar yang harus segera ia ambil.

Aku harus bicara sama Mama, pikirnya, menyalakan mesin mobil sambil menghela napas panjang. Aku nggak akan biarkan siapa pun memutuskan masa depan aku, terutama soal siapa yang aku cintai.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
moana family: terima kasih kk🥰
total 1 replies
moana family
hiii readers mohon dukungan yaa...🥰🥰
ini novel saya pertama🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!