Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Ganti Pengantin Pria
Lima belas menit setelah Keira meninggalkan kamar 1708, lorong Highland Resort tidak lagi sunyi.
Manajer resort berdiri kaku di dekat lift dengan wajah bingung, dua staf housekeeping menunduk dalam-dalam, sementara suara langkah beberapa orang dewasa terdengar berat dari ujung koridor. Pintu kamar yang sengaja dibiarkan Keira terbuka akhirnya ditutup oleh Brandon sendiri, tetapi apa gunanya pintu jika foto dan video sudah lebih dulu sampai ke dua kepala keluarga?
Setengah jam kemudian, semua orang duduk di ruang tamu suite keluarga Hartono.
Gunawan Hartono duduk di sofa tengah dengan jas tidur yang dipakai asal di atas kemeja. Wajahnya tegang, bukan karena putri angkatnya dikhianati, melainkan karena besok siang ada ratusan tamu yang sudah menerima undangan. Di sebelahnya, Yuliana Wijaya-Hartono memegang tisu, menepuk-nepuk punggung Celine yang sejak tadi menangis pelan.
Di sisi lain ruangan, Hendrick Liem berdiri dekat jendela dengan satu tangan masuk ke saku celana. Christina Soenarjo-Liem duduk tegak, wajahnya dingin seperti porselen mahal yang nyaris retak. Brandon berdiri di belakang ibunya dengan rambut masih basah karena terburu-buru mandi, tetapi bau bersalah tidak bisa dibersihkan secepat itu.
Keira duduk sendirian di kursi tunggal.
Ia sudah mengganti sepatu hak tingginya dengan sandal hotel, tetapi posisinya tidak terlihat kalah sedikit pun. Ponselnya tergeletak di atas meja, layar menghadap ke bawah, seperti pisau yang sengaja diletakkan agar semua orang ingat ujungnya masih tajam.
"Keira," Gunawan akhirnya membuka suara. "Papa tahu kamu marah."
Keira menatapnya. "Papa tahu?"
Gunawan terdiam sepersekian detik.
"Maksud Papa, semua orang di sini mengerti situasinya rumit," lanjutnya, memilih kata dengan hati-hati. "Tapi besok bukan acara kecil. Hartono Group dan Liem Group sudah mengumumkan pernikahan ini. Vendor sudah dibayar. Media sudah diundang. Kalau tiba-tiba dibatalkan, efeknya ke perusahaan tidak sederhana."
Keira hampir tertawa.
Perusahaan.
Tentu saja kata itu yang pertama keluar. Bukan, "Kamu baik-baik saja?" Bukan, "Apa Brandon menyakitimu?" Bukan juga, "Papa akan melindungimu."
Di kehidupan yang dulu, kalimat seperti ini pernah membuatnya diam. Ia pernah mengira menjadi anak baik berarti menelan semua luka agar nama keluarga tetap utuh.
Sekarang, kata "keluarga" hanya terdengar seperti label di map kontrak.
Hendrick berbalik dari jendela. "Saya tidak akan membela Brandon."
Brandon menunduk.
"Apa yang dia lakukan memalukan," lanjut Hendrick. Suaranya rendah, tetapi menekan seluruh ruangan. "Namun Pak Gunawan benar. Pembatalan pernikahan sebesar ini akan mengguncang dua perusahaan. Saya bisa menambah kompensasi untuk Keira. Lima persen saham proyek joint venture yang sudah kita bicarakan, plus apartemen di Jakarta Selatan atas namanya."
Yuliana segera mengangkat wajah. Ada kilatan lega yang terlalu cepat di matanya.
"Keira," katanya lembut, seolah sedang membujuk anak kecil. "Om Hendrick sudah sangat berbesar hati. Brandon memang salah, Celine juga salah. Tapi semua orang bisa tersesat. Kamu dan Brandon sudah bersama lama. Jangan hancurkan masa depan kalian hanya karena satu malam."
Christina menatap Yuliana tajam. "Satu malam?"
Ruangan langsung membeku.
Yuliana menegang, baru sadar mulutnya terlalu cepat.
Christina berdiri. "Putri Anda tidur dengan putra saya tiga bulan sebelum pernikahan. Jangan mengecilkan aib ini seolah dia cuma tersandung di tangga."
Celine menangis lebih keras. "Tante Tina, aku benar-benar minta maaf..."
"Diam dulu, Celine." Suara Christina tidak tinggi, tetapi cukup membuat Celine menutup mulut. "Saya belum selesai."
Keira mengamati perempuan itu. Christina bukan membelanya. Keira tahu itu. Christina sedang membela nama Liem, membela posisi Brandon, membela wajahnya sendiri di depan lingkaran arisan dan para istri konglomerat. Namun untuk malam ini, arah amarah mereka kebetulan sama.
Gunawan mengusap dahinya. "Kita tidak perlu saling menyerang. Yang paling penting adalah bagaimana acara besok tetap berjalan."
"Dengan siapa?" Keira bertanya.
Semua mata berpaling kepadanya.
Gunawan mengerutkan kening. "Tentu dengan Brandon. Kita akan membuat Brandon meminta maaf secara pribadi. Setelah menikah, kalian bisa memperbaiki hubungan pelan-pelan."
"Tidak," kata Keira.
Satu kata itu membuat udara terasa lebih tipis.
Brandon mengangkat wajah. "Keira..."
"Aku tidak akan menikah denganmu."
Celine berhenti menangis, lalu cepat-cepat menunduk, tetapi Keira sempat menangkap harapan kecil di matanya. Harapan itu menjijikkan sekaligus lucu.
Yuliana juga menangkap arah yang sama. Ia menarik napas, lalu bicara dengan nada hati-hati. "Kalau Keira memang tidak sanggup, mungkin..."
"Tidak," potong Christina, kali ini lebih dingin. "Jangan pernah berpikir Celine bisa menggantikan posisi pengantin perempuan."
Wajah Celine memucat.
Yuliana tampak tersinggung. "Bu Christina, Celine juga putri keluarga Hartono."
"Tapi dia bukan perempuan yang kami umumkan kepada publik," balas Christina. "Dan setelah malam ini, saya tidak akan membiarkan anak saya menikahi perempuan yang masuk kamar calon kakaknya sebelum upacara pemberkatan."
Brandon menatap ibunya. "Mama..."
"Kamu juga diam." Christina bahkan tidak menoleh. "Kamu sudah cukup membuat Mama malu."
Keira melihat semua itu dengan tenang. Mereka bertengkar tentang nama baik, tentang siapa yang layak dipajang di depan tamu, tentang bagaimana menambal skandal sebelum bocor. Tidak ada yang benar-benar bertanya apa yang ia inginkan.
Bagus.
Lebih mudah bernegosiasi dengan orang yang hanya punya satu dewa bernama kepentingan.
"Kalau pernikahan besok harus tetap berjalan," ucap Keira pelan, "maka ganti pengantin prianya."
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Bahkan AC ruangan terdengar terlalu keras.
Gunawan menatapnya seperti baru mendengar bahasa asing. "Apa maksudmu?"
"Maksudku jelas." Keira merapikan ujung lengan bajunya. "Aku tetap menjadi pengantin perempuan. Tapi bukan Brandon yang berdiri di sisiku."
Brandon tertawa pendek, lebih mirip suara orang tercekik. "Kamu mau menikah dengan siapa? Jangan bilang kamu sudah menyiapkan pria lain untuk membalas dendam."
Keira menatapnya. "Kenapa? Kamu takut posisi pengkhianat direbut orang?"
Brandon tidak bisa menjawab.
Hendrick menyipitkan mata. Ia lebih cepat daripada yang lain memahami bahwa Keira tidak sedang bicara sembarangan. "Siapa?"
Keira mengangkat wajah, menatap langsung ke mata kepala keluarga Liem itu.
"Reynard Liem."
Nama itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.
Christina berdiri terlalu cepat hingga gelang di pergelangan tangannya berbunyi. "Tidak."
Brandon terpaku. "Koh Rey?"
Celine lupa menangis. Yuliana menutup mulutnya. Gunawan menatap Keira seolah putrinya tiba-tiba berubah menjadi orang asing.
Hendrick tidak langsung bicara. Matanya bergerak pelan, dari wajah Keira ke ponsel di atas meja, lalu kembali ke Keira. Ada sesuatu yang rumit lewat di sana. Hitungan, kecurigaan, dan mungkin sedikit rasa tidak nyaman.
"Kamu tahu kondisi Reynard?" tanyanya.
"Aku tahu dia putra sulung keluarga Liem," jawab Keira. "Aku juga tahu besok keluarga Liem butuh seorang pengantin pria."
Christina tertawa dingin. "Reynard tidak bisa berdiri di altar. Dia duduk di kursi roda dan pikirannya tidak seperti dulu."
"Pemberkatan tidak mensyaratkan pengantin pria harus berdiri," balas Keira. "Dan untuk pikiran, aku rasa malam ini kita sudah melihat orang yang tampak normal pun bisa mengambil keputusan paling bodoh."
Brandon seperti ditampar. "Keira, jangan bawa Koh Rey ke masalah kita."
"Masalah kita selesai saat aku membuka pintu kamar itu."
Gunawan memukul lengan sofa. "Keira, jangan bertindak impulsif! Reynard itu..."
"Apa, Papa?" Keira menoleh padanya. "Cacat? Bodoh? Memalukan untuk dikenalkan sebagai menantu?"
Gunawan tercekat.
Keira tersenyum tipis. "Aneh. Semalam Papa tidak malu punya calon menantu yang mengkhianati putrimu. Tapi Papa malu jika putrimu menikahi pria yang tidak pernah menyakitinya."
Yuliana segera berkata, "Keira, bukan begitu maksud Papa."
"Aku belum meminta pendapat Mama Yuli."
Wajah Yuliana menegang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia kehabisan senyum lembutnya.
Keira kembali menatap Hendrick. Dari semua orang di ruangan itu, dialah yang memegang kunci. Bukan karena ia paling benar, melainkan karena ia paling takut kehilangan kendali.
"Pak Hendrick," ucap Keira. "Foto dan video itu belum keluar dari ponselku dan ponsel Papa. Besok media tetap bisa melihat pernikahan keluarga Hartono dan Liem. Nama Liem tetap tersambung dengan nama Hartono. Brandon bisa disebut sakit mendadak, atau apa pun cerita yang Anda sukai. Tapi kalau Anda memaksa aku menikah dengan Brandon, aku tidak menjamin file itu tetap diam."
Brandon memucat. "Kamu mengancam kami?"
"Aku memberi pilihan."
Hendrick berjalan mendekat ke meja. Sepatunya berhenti tepat di depan ponsel Keira. "Kenapa Reynard?"
Pertanyaan itu lebih pelan dari sebelumnya.
Di dada Keira, ada bayangan singkat yang melintas. Berita tiga tahun kemudian. Nama Reynard Liem yang mendadak kembali ke dunia bisnis. Harga saham yang bergerak hanya karena satu keputusan. Orang-orang yang dulu menyebutnya Si Bodoh Liem menunduk dan memanggilnya Direktur Liem.
Ia tidak menjelaskan semua itu.
"Karena Brandon sudah kotor," jawab Keira. "Dan Celine terlalu ingin menjadi pengantin."
Celine gemetar. "Kak..."
"Jadi pilihannya sederhana." Keira berdiri. Sandal hotelnya tidak setajam hak tinggi tadi, tetapi setiap orang tetap mengikuti geraknya. "Kalau keluarga Liem masih ingin pernikahan besok berjalan, pengantin prianya Reynard. Kalau tidak, batalkan acara dan biarkan semua orang bertanya kenapa."
Gunawan berdiri juga. "Keira!"
Keira menoleh padanya tanpa takut. "Entah ganti pengantin pria, atau ganti pengantin perempuan. Silakan pilih."
Kalimat itu membuat ruangan jatuh ke dalam diam yang panjang.
Brandon tampak ingin bicara, tetapi tidak ada kata yang keluar. Celine meremas tisu sampai hancur di telapak tangannya. Yuliana menatap Gunawan, berharap suaminya menghentikan Keira, tetapi Gunawan sendiri sedang menghitung kerugian dengan wajah pucat.
Christina menutup mata sebentar. Kebenciannya pada skandal bertarung dengan penolakannya pada nama Reynard.
Hendrick akhirnya mengambil ponsel dari sakunya. Ia tidak menekan nomor siapa pun. Hanya menggenggamnya kuat-kuat, seperti benda itu bisa memberinya jawaban.
"Reynard tidak mudah diatur," katanya.
Keira tersenyum, kali ini benar-benar dingin.
"Kalau begitu, besok akan jadi hari yang menarik."