Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Jebakan yang Gagal
Lira mengangkat wajah, matanya berbinar patuh. “Dengan cara apa, Yang Mulia?”
Seana berjalan pelan, jari-jarinya menyentuh dinding batu dingin. “Campurkan sesuatu di makanannya. Buat dia lelah terus-menerus. Atau… sebarkan rumor di kalangan dayang dan prajurit bahwa dia membawa kutukan dari dunia manusia. Buat semua orang menjauhinya. Jika perlu, rusak obat-obatan yang dia pakai untuk mengobati kakakku. Aku tidak peduli caranya… selama dia hancur pelan-pelan.”
Lira menunduk lebih dalam. “Saya mengerti. Saya akan mulai malam ini.”
Seana tersenyum puas. Dia menepuk pipi Lira pelan, seperti memuji anjing peliharaan.
“Bagus. Dan ingat… jika ketahuan, kau yang akan menanggung akibatnya. Jangan libatkan namaku secara langsung.”
“Siap, Yang Mulia Putri.”
Seana melambaikan tangan, dan dayang itupun segera pergi. Dia menatap kosong ke arah koridor yang baru saja dilalui Alena.
“Bertahanlah selama yang kau bisa, Alena,” gumamnya sinis. “Karena aku dan Ibu tidak akan membiarkanmu lama-lama di samping kakakku. Istana ini… bukan tempat untuk pengkhianat seperti kau.”
Dengan langkah angkuh, Seana berbalik dan berjalan menjauh, diikuti dayang-dayangnya.
Sementara itu, di ujung koridor lain, Alena yang tidak tahu apa-apa terus melangkah menuju kamar Raka. Dia hanya merasa angin koridor tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya. Alena akhirnya sampai di kamar Raka. Ia segera menutup pintu dan mengunci dari dalam, lalu langsung menuju tempat tidur.
Raka masih terbaring lemah. Wajahnya sedikit lebih tenang dari sebelumnya, tapi napasnya masih pendek. Alena duduk di tepi tempat tidur, memeriksa balutan luka satu per satu. Tidak ada yang terbuka. Demamnya juga agak turun.
“Syukurlah…” bisiknya lega. Dia menggenggam tangan Raka sebentar. “Aku kembali. Istirahatlah.”
Malam semakin larut. Di luar, istana mulai sepi. Hanya suara langkah prajurit jaga yang sesekali terdengar di koridor. Tidak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu. “Yang Mulia Ratu,” suara dayang dari luar. “Saya Lira. Saya diminta mengantarkan sup penghangat dan penambah tenaga untuk Anda. Setelah seharian lelah, Anda perlu menjaga stamina.”
Alena mengerutkan dahi. Dia membuka pintu pelan. Lira berdiri di luar dengan nampan perak. Di atasnya, mangkuk sup hangat mengepul, aromanya harum. Gadis itu tersenyum ramah. “Terima kasih,” kata Alena singkat. Dia menerima nampan, lalu menutup pintu kembali.
Alena meletakkan nampan di meja kecil. Dia menatap mangkuk sup itu lama. Aromanya memang menggoda, tapi firasatnya tiba-tiba tidak enak. Ada sesuatu yang aneh—bau samar di balik harum rempah.
Dia pura-pura menyeruput sedikit, cukup untuk membuat suara terdengar jika Lira masih menguping di luar. Lalu dia menunggu. Beberapa detik kemudian, suara langkah Lira menjauh. Alena langsung berdiri dan menuang seluruh isi mangkuk ke dalam vas bunga di sudut ruangan. Dia membilas mangkuk dengan air, lalu meletakkannya kembali seolah sudah diminum.
Alena mematikan sebagian lampu hingga ruangan menjadi sangat redup. Dia lalu berbaring di sofa panjang di sisi tempat tidur, memejamkan mata, dan mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang pingsan. Tubuhnya dibuat lemas, tangan tergeletak lemah di sisi. Waktu berlalu. Tidak lama kemudian, pintu kamar dibuka pelan dari luar—ternyata Lira punya kunci cadangan.
Dayang itu masuk dengan langkah hati-hati, memastikan Alena tidak sadar. Senyumnya berubah menjadi sinis saat melihat Alena tergeletak lemas di sofa. “Mudah sekali,” bisiknya.
Lira tidak langsung mendekati Alena. Sebaliknya, dia berjalan menuju tempat tidur Raka. Dari dalam lengan bajunya, dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening. Dia membuka sumbatnya, lalu mendekatkan botol itu ke bibir Raka yang terpejam.
“Maaf, Yang Mulia Raja,” gumam Lira pelan. “Perintah harus dijalankan. Dengan ini, Ratu tidak akan punya alasan lagi untuk tinggal di sisi Anda.”
Tepat saat cairan di botol kecil hampir menyentuh bibir Raka, Alena bergerak cepat. Dia bangkit dari sofa dan menerjang Lira dari belakang. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan dayang itu, memelintirnya hingga botol racun jatuh dan pecah di lantai. Dengan gerakan tegas, Alena mendorong Lira hingga gadis itu tersungkur, lalu menahan kedua tangannya di belakang punggung.
“Jangan coba-coba!” hardik Alena.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar. Jenderal Kael masuk bersama dua prajurit, pedang sudah terhunus. Matanya langsung menyapu ruangan—Raka yang masih tidak sadar, botol pecah di lantai, Alena yang menahan Lira.
“Apa yang terjadi di sini?!”
Lira melihat kesempatan. Dia berteriak, “Jenderal! Ratu mencoba meracuni Yang Mulia Raja! Saya hanya mencoba menghentikannya!”
Kael mengerutkan dahi. Alena langsung membalas tegas, “Bohong! Dialah yang membawa racun dan hendak menuangkannya ke mulut Raka. Saya melihatnya sendiri.”
Lira terkejut dan mencoba membela diri, "bagaimana mungkin? Bukankah Anda sudah pingsan?"
Alena tersenyum, "hanya pura-pura... obat dalam sup itu baunya terlalu tajam."
Wajah Lira makin pucat, dia tidak menyangka wanita itu ternyata licik. Kael melangkah maju, memeriksa pecahan botol. Wajahnya mengeras. “Ini racun dosis tinggi.”
Dia memberi isyarat pada prajurit. “Tahan dia!”
Saat prajurit mendekat, Lira tiba-tiba memberontak dengan kekuatan yang tidak terduga. Dari dalam lipatan bajunya, dia mengeluarkan belati kecil tersembunyi. Alih-alih menyerang, dia mengarahkan ujung tajam itu ke lehernya sendiri.
“Saya tidak akan menyerah!” teriaknya histeris, air mata berlinang. “Lebih baik mati daripada ditahan.”
“Jangan!” Kael maju cepat.
Tapi sudah terlambat. Lira menusukkan belati itu ke lehernya sendiri dengan satu gerakan putus asa. Darah menyembur. Tubuhnya ambruk di lantai sebelum prajurit sempat menahannya. Keheningan sejenak memenuhi kamar. Kael berlutut, memeriksa denyut nadi Lira. Beberapa detik kemudian, dia menggeleng pelan. “Sudah meninggal.”
Alena berdiri kaku, masih terkejut. Dia menatap mayat dayang itu, lalu ke Raka yang tidak tahu apa-apa. Kael berdiri, wajahnya gelap. “Dia memilih bunuh diri daripada membuka mulut. Jelas ada seseorang di belakangnya… seseorang yang dia takuti lebih dari kematian.”
Dia menoleh pada prajurit. “Bersihkan ini. Laporkan padaku saja untuk sementara. Jangan sebarkan sebelum saya izinkan.”
Tapi di istana, tidak ada yang benar-benar bisa dirahasiakan terlalu lama. Hanya dalam waktu singkat, kabar kematian Lira sudah sampai ke Paviliun Putri Seana.
Seana yang sedang duduk di depan cermin, membiarkan dayang lain merapikan rambutnya, langsung membeku saat mendengar laporan.
“Apa katamu?” suaranya rendah.
Dayang yang melapor menunduk gemetar. “Lira… memilih bunuh diri di kamar Yang Mulia Raja. Setelah tertangkap mencoba meracuni beliau. Dia tidak sempat mengucapkan nama siapa pun.”
Seana terdiam. Jari-jarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-bukunya memutih. Di cermin, wajahnya terlihat pucat… lalu berubah menjadi murka yang dingin.
“Bodoh…” gumamnya pelan. “Dia bahkan tidak bisa menyelesaikan tugas kecil.”
Dia berdiri, melempar sisir perak di tangannya hingga berdenting di lantai. “Keluar. Semua.”
Dayang-dayang segera undur diri. Begitu sendirian, Seana berjalan menuju jendela, menatap kabut abadi di luar. “Alena…” bisiknya, penuh racun. “Kau berhasil lagi. Tapi ini belum selesai. Aku akan buat kau menyesal pernah kembali ke istana ini.”