Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kopi Pembawa Petaka
Setelah makan siang selesai, Ara mengira Dante akan kembali ke kantor. Ia bahkan sudah membayangkan dirinya bisa kembali ke kamar, melanjutkan novel yang tadi belum selesai dibaca.
Namun ketika Dante berdiri, ia justru berkata kepada Luca, "Atur pekerjaanku siang ini. Bawa semuanya ke mansion."
Ara yang baru saja hendak berdiri langsung berhenti.
"Ke mansion?" ulangnya memastikan ia tidak salah dengar.
Dante tidak menoleh. "Ya."
Tanpa sadar kedua pupil mata Ara membola.
"Kenapa?" tanya Ara tak berdaya.
Dante meliriknya. Tatapannya dingin. "Karena aku bosnya. Alasan ini cukup untuk melakukan apa yang kulakukan sekarang."
Itu jawaban paling menyebalkan yang pernah Ara dengar.
Dante adalah pemilik perusahaan. Dia bisa bekerja dari mana pun yang dia mau.
Ara hanya mengembuskan napas. Ia bergidik pelan.
Sebelum Dante pergi ke ruang kerjanya, ia berkata," Sebaiknya kau pergi ke dapur."
Ara mengerutkan kening. "Untuk apa?"
Dante menatapnya dengan ekspresi datar. "Siang ini aku ingin kau belajar dua hal." Ia mengangkat satu jari. "Pertama, buatkan aku kopi."
Ara berkedip. "Kopi?"
Dante tak menggubris. Ia mengangkat jari kedua. "Kedua, buatkan aku kudapan kecil."
Ara menatapnya tidak percaya. "Kau menyuruhku belajar membuat kopi dan kudapan?"
"Benar," tegas Dante tidak menyisakan tawar menawar.
"Di mansion ini bukankah selalu ada pelayan. Mereka dapat melakukannya untukmu," protes Ara membantah.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa aku harus—"
Dante menatapnya.
Ara langsung berhenti. Tatapan pria itu cukup membuat kalimatnya tertelan kembali.
"Jika aku mendengar satu bantahan lagi," ujar Dante dingin, "hukumanmu bertambah."
Ara langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
Dante memalingkan wajahnya. "Aku menantikan kinerjamu." Kemudian ia berjalan pergi.
"Dia sengaja..."
Kepala pelayan yang berada di dekatnya hanya menundukkan kepala.
Ara menatapnya.
"Dia sengaja bikin gara-gara, kan?"
Kepala pelayan berusaha menahan senyum.
"Nyonya, sebaiknya kita ke dapur."
Ara menghela napas.
"Baiklah," ujar Ara pasrah. Ia menyeret kakinya ke dapur.
Setibanya di dapur, kepala pelayan berdiri di samping Ara dan menjelaskan dengan sabar.
"Pertama, takaran kopi."
Ara memperhatikan. "Berapa?"
"Sesuai yang Tuan suka."
"Berapa tepatnya?"
Kepala pelayan menyebutkan takaran.
Ara mencatat.
"Air?"
"Suhunya harus tepat."
"Berapa?"
Kepala pelayan menjelaskan.
Ara mengangguk. Ia sebenarnya cukup teliti. Kalau Dante menginginkan kopi dengan takaran tertentu, ia bisa melakukannya.
Namun semakin banyak aturan yang diberikan, semakin Ara merasa ini bukan belajar membuat kopi. Ini hukuman terselubung. Ia telah membuat kopi pertama. Kepala pelayan memeriksa.
"Sudah cukup baik."
Ara tersenyum simpul.
"Kalau begitu, apakah artinya aku sudah lolos membuat kopi?"
Kepala pelayan tersenyum kaku.
"Belum. Kita perlu meminta Tuan mencobanya."
Ara menghela napas. Ia membawa kopi itu ke ruang kerja.
Dante sedang duduk di balik meja. Laptop terbuka. Beberapa dokumen tersusun rapi.
Ara meletakkan cangkir di hadapannya. "Kopimu." Ia mundur dan menunggu Dante mencicipinya.
Dante mengangkat mata. Ia mengambil cangkir itu dan hanya mencium aroma nya di ujung hidung lalu dengan mudahnya berkata, "Kurang."
Ara menarik napas. "Baiklah." Ia menarik cangkir itu ke nampan yang ia bawa. Ia kembali ke dapur.
Kopi kedua. Dante mencicipi. "Masih kurang."
Ara menatapnya. Ia mengepalkan tangan menahan kekesalan. Cuma pada akhirnya tak ada protes di bibirnya selain satu kata, "Baiklah." Dan ia membawa kopi itu pergi.
Kopi ketiga. Kopi keempat. Kopi kelima....... Kopi kesepuluh.
Lama-kelamaan Ara merasa dirinya sedang menjalani ujian paling absurd dalam hidupnya.
Kepala pelayan pun mulai merasa kasihan.
"Nyonya..."
"Aku baik-baik saja." Ara tidak akan menyerah. Ini cuma membuat kopi. Ia pasti bisa. Ya kecuali Dante memang sengaja mempersulit.
Ara membawa kopi berikutnya. Dante kembali mencicipi.
"Sudah mendekati," katanya datar.
Ara hampir tersenyum. "Berarti aku sudah lolos?"
"Belum." Dante menatap dingin dan mengembalikan cangkir itu ke Ara.
Senyum Ara langsung hilang. "Kenapa?"
"Masih belum sempurna." Dante menjawab tanpa perasaan. Seolah ia tidak melihat usaha Ara dari tadi yang terus-menerus tak berhenti bolak-balik dari dapur ke ruang kerja.
Ara menatap Dante. Speechless.
Dante menatap balik. Wajahnya tetap dingin.
Namun di balik tatapan tenang itu, ada seringai kesenangan. Ia menikmati ekspresi kesal istrinya.
Ara benar-benar kesal. Ia membuka wadah gula. Ia juga melirik wadah garam pada saat yang sama. Tangannya perlahan bergerak.
Kepala pelayan langsung menyadarinya.
"Nyonya."
Ara berhenti. "Apa?" Wajahnya pura-pura polos.
"Itu garam."
"Aku tahu." Ara tersenyum polos. "Aku hanya ingin sedikit bereksperimen."
Kepala pelayan buru-buru menahan tangannya.
"Jangan Nyonya. Karena kalau Tuan tahu, Tuan akan murka. Nyonya akan dihukum." Kepala pelayan itu ketakutan. Ia mencoba melarang dan memperingatkan Ara.
"Dia tidak akan tahu. Percayalah!" ujar Ara meyakinkan kepala pelayan di mansion Dante.
Kepala pelayan menggeleng cepat.
"Bagaimana jika Tuan melihat CCTV dapur."
Ara membeku. "CCTV?"
"Ya."
Ara perlahan menoleh ke sudut dapur. Ada kamera kecil di sana. Ara memandangnya. Kamera itu seolah sedang memandang balik. Ia mendengus.
"Dia paranoid sekali," geramnya.
Di ruang kerja, Dante memang sedang melihat monitor CCTV dapur. Dan ia melihat semuanya. Ia melihat tangan Ara yang tadi hampir mengambil garam. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Tikus kecil ini benar-benar tak kenal takut."
Sore berubah menjadi malam.
Ara tidak jadi mengganti gula dan garam. Ia masih terus kembali ke dapur membuat begitu banyak cangkir kopi sampai ia menjadi tidak yakin apakah dirinya masih bisa mencium aroma kopi dengan benar.
Setiap kali satu cangkir dianggap belum sempurna, ia harus kembali.
Bahkan ketika kepala pelayan sudah mengatakan salah satu kopi sebenarnya sudah tepat, Dante tetap meminta Ara membuat yang baru.
Kepala pelayan akhirnya hanya bisa berkata, "Nyonya, bersabarlah."
Ara menghela napas. "Aku sedang berusaha."
Di ruang kerja, Dante melihat mereka melalui CCTV. Wajahnya tetap serius. Matanya menunjukkan sedikit kepuasan.
Hari sudah semakin malam ketika Ara kembali masuk ke ruang kerja Dante. Tangannya membawa satu cangkir kopi.
Dante sedang fokus pada laptop. Dokumen di layar memenuhi perhatiannya.
Ara berdiri di depan meja. "Kopimu." Ada nada ketus dalam suaranya.
Dante tidak langsung melihat. "Letakkan."
Ara meletakkannya. Ia tidak mengatakan apa-apa.
Dante akhirnya mengambil cangkir. Ia menyeruput. Sepersekian detik kemudian—ia langsung memuntahkan kopi itu ke lantai.
"ARA!!!" bentakannya menggema di seluruh ruang kerja. Tatapannya tajam mengarah kepada Ara.
Ara mundur satu langkah.
Dante menatap cangkir itu. Ia menatap Ara.
"Kau mengganti gula dengan garam," geramnya murka.
"Kurasa aku sudah terlalu lelah membuatkanmu kopi hari ini, jadi tidak bisa membedakan lagi mana gula mana garam." Ara dengan wajah polosnya mencari alasan masuk akal untuk menyelamatkan diri.
Kepala pelayan yang segera muncul di pintu. Ia kaget melihat tuannya membentak Ara.
Dante menatap Ara beberapa detik. "Kau pikir ini lucu?"
"Tidak. Aku juga tidak sengaja melakukannya."
Dante mengembuskan napas panjang. Wajahnya benar-benar dingin sekarang.
"Pel lantainya!!" perintah Dante emosi.
Ara menatap lantai. Ia mengambil alat pel dari kepala pelayan. Pelayan ingin membantu tapi diusir pergi oleh Dante. Kepala pelayan itu hanya bisa menunggu di luar pintu. Ia menunggu Ara selesai mengepel sehingga ia bisa mengembalikan alat pel itu ke tempatnya.
Dante lalu menunjuk sudut ruangan. "Setelah selesai mengepel, kau berdiri di sudut ruangan sampai aku selesai kerja!"
Ara mengangkat kepala. "Jam makan malam?"
Dante tidak menggubris pertanyaan Ara. Ia menekuni laptop. Karena pekerjaan, ia luput tidak melihat cctv dapur sebelum Ara masuk. Siapa sangka Ara benar-benar melakukan apa yang dipikirkannya.
Ara mulai mengepel lantai.
Hari itu ia ia tidak sempat belajar membuat kudapan. Sebagian besar waktunya tersita hanya untuk membuat kopi yang menurut Dante belum sempurna.
Dan sekarang, karena satu aksi balas dendam kecil yang sebenarnya sangat ia nikmati selama beberapa detik... ia harus berdiri di sudut ruang kerja sampai waktu makan malam.
Dante kembali duduk. Laptop kembali terbuka. Ia bekerja seolah barusan tidak terjadi apa-apa.
Namun beberapa menit kemudian, tanpa mengangkat wajah, ia berkata, "Besok kau belajarlah lagi."
Tangan Ara yang sedang memegang gagang pel langsung berhenti.
"Belajar membuat kopi lagi?" ulang Ara tak percaya.
Dante menatapnya. Senyum tipis terlihat jelas di wajah dinginnya.
"Besok jangan salah lagi mengambil gula dan garam," sindir Dante.
Ara menatapnya dengan wajah masam. Dalam hati ia bersumpah— Suatu hari nanti, ia akan menemukan cara untuk mengalahkan pria itu.
Namun untuk malam ini, ia hanya bisa berdiri di sudut ruang kerja Dante sambil menunggu waktu makan malam.
"Bukankah besok jadwal instruktur wanita tua yang kau benci itu untuk berkunjung?" tutur Dante mengingatkan.
Wajah Ara langsung berubah muram.
"Tenang, besok aku akan bekerja di kantor. Kau bisa bereksperimen apapun yang kau mau," sindir Dante makin membuat Ara bergidik.
Pria ini benar-benar tidak waras. Ia sengaja mengatakan kata-kata pedas itu ke telinga nya. Karena pria itu tentu tahu di hadapan instruktur kejam itu ia tidak bisa berkutik, apalagi bereksperimen.
***