NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

#2

Flashback. 

Abel baru saja tidur pulas setelah puas menikmati ASI sang bunda. Adinda tersenyum lembut, telapak tangannya membelai pipi mungil bayi perempuannya yang baru berusia tiga bulan itu. Abel adalah bayi yang cantik, kulitnya putih kemerahan, serupa dengan kulit bundanya. Selain itu wajah Abel pun cantik, perpaduan darah sunda asli dan juga paras rupawan Bagaspati. Hingga membuat siapapun terpesona ketika pertama kali melihat wajah Isabel Kirana Putri Samudera. 

“Sayangnya Bunda, bobo dulu, ya? Bunda mau selesaikan desain yang semalam terbengkalai,” bisik Dinda pada bayi mungilnya, lalu membaringkan bayi mungil yang tengah mengenakan rok mungil serba ungu termasuk selimut yang menghangatkan tubuhnya usai mandi. 

Kelambu yang menutupi box bayi Abel, kini telah tertutup rapat, Adinda pun keluar karena sang putri sudah istirahat dengan nyaman. 

“Makan yang banyak, Bi— Kakak mandi dulu, ya,” pamit Adinda pada adik iparnya yang sedang menginap di rumahnya. 

Adik bungsu Bagas itu, baru saja pulih dari depresi yang dideritanya selama beberapa bulan terakhir. Bahkan dokter jiwa yang menanganinya sempat memvonis wanita itu hampir gila, tapi Mama Yanti tak terima jika putri bungsunya divonis gila, begitupun Bagas dan papanya. 

Syukurlah semua membaik seiring waktu. Kini Biandra sudah bisa diajak berkomunikasi, meski masih terbatas. 

Setelah melihat Biandra mengangguk, Adinda pun kembali ke kamarnya, sekilas ia melirik Abel yang ada di ruangan sebelah, yang terhubung connecting door dengan kamarnya bersama Bagas. 

Beberapa menit Adinda di kamar mandi, wanita itu kembali keluar dengan tubuh yang segar usai membersihkan diri. Segera ia mengambil buku sketsa dan duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Ia tak curiga dengan pintu kamar yang terbuka, karena di jam-jam begini, Adinda mengizinkan ART membuka pintu kamar tanpa seizinnya, sebab Bagas tak ada di rumah. 

Setelah menghabiskan waktu sejenak dengan buku sketsanya, Adinda kembali berdiri guna menengok Abel, sebab biasanya dia akan menangis karena lapar. 

Tapi, jantungnya seperti melompat keluar dari tempatnya, serta darahnya berhenti mengalir seketika, karena Dinda tak melihat Abel di tempat tidurnya. “Abel!” teriaknya reflek. 

Setelah itu ia berlari keluar kamar, meja makan sudah kosong, Biandra tak ada di sana, Bi Sani pun tak terlihat di teras rumah, padahal Adinda melihat wanita itu ada di sana tepat sebelum ia masuk ke kamar untuk mandi.

“Bi Sani!” pekik Adinda, ia berharap Abel bersama sang ART yang biasa membantunya menjaga Abel. Tapi, Bi Sani kembali dari luar pagar dengan sekantong sayuran. 

“Ada apa, Bu? Kok wajah Ibu pucat begitu?” tanya Bi Sani heran. 

Makin lemas tubuh Adinda, sebab ia tak melihat  Abel bersama Bi Sani. “Dimana Abel?!” tanya Adinda, kedua tangannya mencengkeram bahu Bi Sani. 

“Lho, bukannya tadi sama Ibu? Saya tadi ke sebelah, belanja sayuran sebab Mang Didin yang baru saja datang.” Jawaban Jujur Bi Sani membuat Adinda seperti kehilangan akal sehatnya. 

“Jadi, kamu gak lihat Abel?!” 

“Nggak, Bu. Saya berani sumpah.” Wajah Bi Sani ikut pucat ketakutan. “Apa jangan-jangan…” 

Membayangkannya saja mereka sudah ketakutan, bagaimana bila itu benar terjadi. Abel dibawa pergi Biandra yang kondisinya masih di antara sadar dan tidak. 

“Abel!” 

“Abel!” 

Adinda dan Bi Sani pun berpencar, pertama mereka mencari di sekitaran rumah besar milik Bagas dan Dinda. Setelah pencarian tak membuahkan hasil, maka lokasi. Pencarian diperluas, yakni ke sekitaran komplek perumahan. 

Sepanjang pencarian, Adinda panik dan bingung seperti orang hilang kewarasan. Belahan jiwanya, putri kecil yang ia lahirkan susah payah tiga bulan lalu, kini lenyap dari. Pelukannya, siapa yang tak merasa nyaris gila? 

Seputaran komplek sudah di obrak abrik, para tetangga ikut berpencar mencari-cari keberadaan Biandra yang kemungkinan besar membawa Abel pergi dari rumah. 

CCTV di sekitar pintu keluar komplek pun diperiksa, sebab Bagaspati cukup punya kuasa untuk menggerakkan para polisi. Karena yang mereka cari adalah bayi beserta orang yang membawanya. Mengingat hal itu saja, rasanya batin dinda terasa sesak, sakit melebihi sayatan sembilu tajam. 

“Dimana kamu, Nak?” rintih Adinda setelah 24 jam pencarian yang tak membuahkan hasil apa-apa. Bahkan keberadaan Biandra pun masih menjadi misteri. 

Bagas pun rasanya seperti mayat hidup, tubuhnya bergerak, tapi jiwanya entah melayang kemana. Seolah terus mengembara mengaduk-aduk setiap sisi dan lipatan ibukota demi bisa menemukan secuil kabar tentang Abel. 

Tapi kenyataan pahit harus mereka terima, sebab seminggu pencarian sudah berlalu, dan keberadaan Abel masih menjadi misteri. Bahkan Biandra ditemukan terlantar di jalanan cukup jauh dari lokasi perumahan Adinda dan Bagas berada. 

Ingin rasanya Adinda meraung marah, memaki, bahkan mencabik wajah adik iparnya itu. Tapi akalnya yang tak waras membuat Adinda hanya bisa memeluk kesedihan dan kepiluannya seorang diri. 

Flashback End. 

•••

“Mbak— Mbak Dinda—” Suara lembut Lestari membangunkan Adinda, wajah dan tubuh wanita itu bersimbah keringat setiap kali memimpikan peristiwa hilangnya Abel. 

Tak terhitung rasanya sesal dan amarah yang menumpuk di dalam rongga dadanya, sayangnya semua itu tak lantas membuat Abel kembali ke pelukannya. 

Andai ada kejelasan, meski dalam kondisi meninggal sekalipun, mungkin Adinda kan berusaha berbesar hati menerimanya. Tapi ini— benar-benar tak ada kabar sama sekali, sebab pelaku yang diharapkan memberi pernyataan, sudah meregang nyawa. 

Di puncak depresinya, serta rongrongan pertanyaan yang mengarah padanya, membuat Biandra kian tertekan, hingga akhirnya ia pilih mengakhiri hidup di tengah kesepian, dan kehilangan yang juga pernah dialaminya. 

Beberapa bulan sebelumnya, Biandra pun mengalami keguguran, dan hingga ajal menjemput, ia tak mau mengatakan siapa pria yang menghamilinya. 

“Eh, maaf, Mbak ketiduran lagi, ya?” sahut Adinda, lalu melepas kain sholat yang masih menutupi kepala dan tubuhnya. 

“Nggak papa, Mbak. Aku dan tim yang lain masih bisa menghandle pameran, kok. Tapi sekarang, pameran hari ini sudah hampir berakhir, saatnya kita pulang.” 

“Oh,” sahut Adinda. “Baiklah, aku siap-siap juga,” kata Adinda sedikit malu pada para pegawainya. 

Hari terakhir pameran, ia ikut terjun ke lapangan, tapi malah tertidur, dan memimpikan masa paling kelam yang selalu menghantui hidupnya selama beberapa tahun terakhir. 

Entah bagaimana dengan Bagas, sebab pria itu sepertinya sudah bisa melupakan masa lalu dan siap memulai lembaran baru. 

Setelah boot dibereskan, Adinda tersenyum lega, namun hal tak terduga terjadi. 

“Ketemu! Akhirnya aku menemukanmu!” kata Bagas, dengan nafas ngos-ngosan sebab ia berlari dari ruangannya yang ada di lantai sepuluh gedung bertingkat ini. 

Karena penasaran dengan apa yang ia lihat pagi tadi, Bagas pun kembali mencari-cari. Namun, kali ini pencarian ia lakukan melalui CCTV di lokasi terselenggaranya acara. Setelah beberapa jam mengamati CCTV, pencarian pria itu pun membuahkan hasil. 

Tanpa menunggu lama, Bagas berlari kencang meninggalkan ruangan, menghampiri Adinda, sekaligus menghilangkan rasa rindu pada mantan istrinya. Rasa yang senantiasa menghantui malam-malamnya tanpa kehadiran wanita itu di pelukannya. 

“Mas Bagas?” 

Adinda pun tercengang melihat keberadaan sang mantan suami. 

1
Bunda Aish
ada apa lagi nih 🤔
Shee_👚
ini Tari kakaknya bagas kan ya🤔
aku lupa nama Kaka nya bagas
Dew666
Tari tuh kakaknya bagas ya
moon: iya kak
total 1 replies
Dew666
Smangat bagas
falea sezi
wahh kenapa
🌷Vnyjkb🌷
gerceppp amattt mass 🤭 takut keduluan yg itu tuuu😜😜
Esther
Sikap Tari mencurigakan, ada apa?
Bunda Idza
ada apa dengan mbak Tari??? readers kepoo ni....☺️
Esther
Semangat Bagas untuk bersaing dengan dokter Angga🤭
Sh
ada apa dengan Tari ? selingkuh ? atau mengekorin suami yang dicurigai selingkuh?
Sh
aku jahat ga kalau aku bilang aku suka Ama Mama Juwita yang nyiksa Bagas😂😂. Aku curiga karena kecelakaan mobil, Dinda ga bisa hamil lagi. itu yang menyebabkan Dinda ga mau nikah lagi. Kalau dengan Angga pakai alasan Dinda selama anaknya belum ketemu, Dinda ga berhak bahagia
Bunda Aish
wah mulai nih persaingan perebutan perhatian dan cinta Dinda 🙄
Bunda Aish
ngeselin juga ya sama tingkah nya Bagas dulu waktu kehilangan Abel
Nar Sih
brati kemungkinan bnr ya kak klau alicia ank nya dinda yg hilang dulu
Nar Sih
setujuuu dan 👍bagas lamar lgi dinda jadikan istri mu lgi dan bareng mencari putri mu yg hilang moga sgra ketemu
Shee_👚
nah betul kata bastian, ngapain kan ya orang bukan eyangnya lagi. jadi ya tolak aja
Shee_👚
yang polisi kan kak??
Sh
ga puas episode ini walau menurut ku lumayan panjang
Dew666
🥰😍
Bunda Idza
next Thor.... ditunggu selalu kelanjutannya 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!