NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Tungku Mendidih di Halaman Angin Mati

​Malam semakin larut ketika Awan akhirnya tiba kembali di Halaman Angin Mati. Gubuk kayunya yang reyot masih berdiri menantang badai yang berhembus tanpa henti dari atas tebing.

​Ia menjatuhkan bungkusan raksasa berisi ratusan kilogram daging Beruang Zirah Baja ke lantai dengan suara berdebum keras, lalu duduk bersila di atas ranjang kayunya. Di tangannya terdapat Kantong Penyimpanan Terkompresi milik pembunuh bercadar.

​Awan menuangkan isi kantong itu ke atas kasur.

​Gunungan kecil kristal bercahaya biru langsung menerangi ruangan yang temaram. Lima ratus keping Batu Roh tingkat menengah memancarkan energi spiritual yang sangat pekat hingga membuat napas Awan terasa lebih ringan. Ini adalah kekayaan yang bisa membuat seorang kultivator tingkat rendah membunuh saudaranya sendiri.

​Selain Batu Roh, ada juga peta perkamen usang bertuliskan Reruntuhan Lembah Angin, beberapa botol giok berisi Pil Penyembuh dan Pil Penghindar Racun, serta sebuah gulungan bambu hitam berjudul [Seni Penyamaran Bayangan].

​"Lima ratus Batu Roh menengah setara dengan lima puluh ribu Batu Roh tingkat rendah," gumam Awan, matanya memancarkan cahaya kalkulatif. "Dengan kekayaan ini, aku tidak butuh Pil Pengumpul Qi. Aku butuh racikan obat pembentuk tubuh yang paling brutal."

​Keesokan paginya, Awan turun gunung menuju Kota Batu Merah, sebuah kota perdagangan yang memfasilitasi transaksi antara manusia fana dan kultivator dari Sekte Daun Angin.

​Dengan mengenakan jubah berkerudung untuk menutupi wajahnya, Awan mendatangi Paviliun Obat terbesar di kota tersebut. Ia menghabiskan empat ratus Batu Roh menengah—hampir delapan puluh persen dari kekayaannya—hanya dalam waktu kurang dari satu jam.

​Pemilik toko menatap Awan seolah melihat orang gila yang berniat bunuh diri. Pasalnya, Awan tidak membeli pil spiritual atau ginseng panjang umur. Ia memborong berton-ton ramuan ekstrem seperti Rumput Tulang Besi, Akar Darah Naga Tanah, dan Teratai Magma.

​"Tuan," pemilik toko memperingatkan dengan suara bergetar, "Bahan-bahan ini biasanya hanya digunakan untuk memberi makan Siluman Buas tipe pertahanan tingkat tinggi. Jika manusia merendam tubuhnya dengan rebusan Teratai Magma, dagingnya akan melepuh dan tulangnya akan meleleh!"

​"Bungkus saja semuanya," jawab Awan datar, melemparkan sekantong penuh Batu Roh menengah ke atas meja. "Aku tahu apa yang aku lakukan."

​Tiga hari kemudian, Halaman Angin Mati berubah menjadi neraka kecil.

​Di tengah halaman yang terus-menerus disapu angin kencang, Awan meletakkan sebuah tong kayu raksasa berlapis besi yang biasa digunakan untuk menampung air hujan. Di bawah tong itu, api unggun berkobar hebat, memanaskan air di dalamnya hingga mendidih.

​Air di dalam tong itu tidak bening, melainkan berwarna merah kehitaman, mendidih berbuih-buih, dan memancarkan uap panas yang sangat menyengat. Itu adalah rebusan Rumput Tulang Besi dan Teratai Magma.

​Sambil bertelanjang dada, Awan memakan satu kilogram daging Beruang Zirah Baja mentah-mentah untuk mengisi lambungnya dengan kalori ekstrem, lalu tanpa ragu, ia melompat masuk ke dalam tong yang mendidih tersebut.

​SSSSHHH!

​Suara desisan mengerikan terdengar saat kulit Awan bersentuhan dengan cairan tersebut. Rasa sakit yang melampaui toleransi manusia biasa langsung menyerang sistem sarafnya. Rasanya seolah-olah jutaan semut api sedang merayap di bawah kulitnya, menggigit dagingnya, dan menyuntikkan lahar panas ke dalam sumsum tulangnya.

​Bagi kultivator spiritual, mereka akan menggunakan Qi untuk melindungi kulit mereka dari panas obat. Tetapi Awan tidak punya Qi. Ia membiarkan obat itu membakar kulit luarnya.

​Ia menggertakkan giginya hingga nyaris retak. Otot-otot di sekujur tubuhnya menegang hebat, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon purba.

​Tarik napas... Tahan... Sebarkan ke otot.

​Di dalam tong yang mendidih, Awan mulai mempraktikkan gerakan pernapasan Seni Pedang Dasar Angin Jatuh. Setiap tarikan napasnya seirama dengan detak jantungnya. Melalui kontraksi dan relaksasi otot yang luar biasa ekstrem, Awan menjadikan tubuh fananya ibarat spons raksasa.

​Ia menyerap esensi obat yang membara itu langsung ke dalam pori-porinya, memaksa energi obat itu menembus daging, masuk ke dalam otot, dan meresap ke dalam tulangnya. Ini adalah metode "Penyucian Tulang" tingkat kedua yang jauh lebih kejam dari apa yang ia alami saat menelan Pil Pemecah Batas.

​Satu jam. Dua jam. Lima jam berlalu.

​Air yang tadinya berwarna merah kehitaman perlahan berubah menjadi bening. Seluruh esensi obat yang brutal itu telah terserap habis ke dalam tubuh Awan.

​Awan melompat keluar dari tong kayu tersebut. Seluruh tubuhnya memerah seperti besi pijar. Ia mengambil pedang Kayu Besi Hitamnya dan langsung membelah angin Halaman Angin Mati dengan rentetan tebasan tanpa henti untuk mengalirkan panas obat itu ke seluruh jaringannya.

​Ia mengulang rutinitas neraka ini setiap hari selama dua minggu. Makan daging beruang, berendam di rebusan Teratai Magma, menebas pedang puluhan ribu kali, dan melatih Langkah Besi Jatuh di bawah tekanan angin badai.

​Malam sebelum Ujian Reruntuhan Lembah Angin dimulai, Awan duduk di gubuknya, membaca gulungan [Seni Penyamaran Bayangan] peninggalan sang pembunuh.

​Teknik ini menuntut penggunanya memanipulasi Qi Elemen Gelap atau Angin untuk membiaskan cahaya di sekitarnya, membuat tubuh mereka tidak kasatmata. Tentu saja, Awan tidak bisa melakukannya.

​Namun, Awan adalah jenius dalam membongkar prinsip dasar.

​"Inti dari teknik ini bukanlah sihir menghilangnya," gumam Awan, matanya menelusuri setiap baris kalimat. "Melainkan cara si pembunuh menurunkan detak jantungnya hingga dua puluh kali per menit, mendinginkan suhu tubuhnya agar tidak memancarkan hawa panas, dan menyelaraskan tarikan napas dengan suara angin."

​Awan tidak butuh sihir pembias cahaya. Ia memodifikasi teknik ini secara fisik. Ia menggunakan kontrol otot organ dalamnya—yang kini sekuat banteng—untuk melambatkan detak jantungnya. Ia menggunakan teknik pernapasan untuk menurunkan suhu darahnya.

​Dalam hitungan menit, jika seseorang menutup mata dan berdiri di depan Awan, mereka tidak akan merasakan keberadaan manusia di sana. Awan terasa seperti sepotong batu mati yang dingin.

​Hawa buas dari ototnya yang mengerikan disembunyikan dengan sempurna di balik lapisan ketenangan yang absolut.

​"Bagus. Saat aku harus memburu siluman atau manusia di Lembah Angin, langkahku tidak akan terdengar oleh dewa kematian sekalipun."

​Keesokan paginya.

​Sinar matahari pagi menyinari Pelataran Raksasa Sekte Daun Angin. Pemandangan di sana luar biasa megah. Lebih dari tiga ribu Murid Luar telah berkumpul. Mereka mengenakan zirah ringan, membawa berbagai senjata spiritual tingkat rendah, dan memancarkan aura Qi yang saling bersahutan.

​Hari ini adalah hari di mana gerbang Reruntuhan Lembah Angin, sebuah dimensi saku peninggalan sekte kuno, akan dibuka. Di dalamnya terdapat harta karun, warisan teknik, rumput spiritual langka, dan juga siluman buas mematikan.

​Di depan pelataran, melayang sebuah Perahu Spiritual raksasa yang terbuat dari kayu giok, cukup besar untuk menampung seluruh murid.

​Ketika Awan berjalan memasuki pelataran, suasana yang tadinya riuh seketika mereda. Ribuan pasang mata menoleh padanya.

​Awan tampak sangat biasa. Jubah birunya bersih, pedang Kayu Besi Hitam terikat di punggungnya. Ia tidak memancarkan aura menakutkan seperti saat di arena. Faktanya, ia terlihat begitu lemah dan tidak signifikan, layaknya manusia fana yang baru saja masuk sekte.

​Namun, tidak ada yang berani tertawa. Mereka masih mengingat dengan jelas bagaimana kayu tumpul itu menghancurkan pergelangan tangan Wu Jian.

​Dari kejauhan, sekelompok murid yang mengenakan lencana keluarga berlambang Pedang Silang—simbol Klan Wu—menatap Awan dengan niat membunuh yang terang-terangan. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda berwajah keras bernama Wu Kang, sepupu tertua Wu Jian yang berada di Puncak Alam Pengumpul Qi Tingkat Sembilan.

​Wu Kang menyapukan jari telunjuknya di depan lehernya, memberi isyarat pemenggalan yang ditujukan langsung pada Awan.

​Awan melihat ancaman itu. Wajahnya sedatar permukaan air telaga. Ia hanya menatap Wu Kang selama sedetik, lalu mengalihkan pandangannya, sepenuhnya mengabaikan keberadaan sang jenius Klan Wu tersebut seolah ia hanyalah debu di jalanan.

​Penghinaan tak bersuara itu membuat wajah Wu Kang memerah karena amarah yang meledak.

​"Perhatian!"

​Suara berat Penatua Kuang bergema dari atas geladak Perahu Spiritual, menekan seluruh keributan di pelataran.

​"Reruntuhan Lembah Angin akan dibuka selama satu bulan! Di dalam sana, tidak ada hukum sekte yang bisa melindungi kalian. Misi utama kalian adalah mengumpulkan Inti Siluman Angin dan mencari warisan kuno. Siapa pun yang berhasil keluar hidup-hidup dan membawa hasil terbanyak, akan langsung diangkat menjadi Murid Dalam dan mendapat bimbingan langsung dari Tetua Inti!"

​Mata ribuan Murid Luar berkobar penuh ambisi.

​"Naik ke perahu! Kita berangkat!"

​Satu per satu murid melompat naik ke geladak menggunakan teknik peringanan tubuh mereka yang indah. Awan tidak melompat. Ia berjalan menaiki tangga tali yang disediakan untuk pelayan, langkahnya pelan dan konstan, persis seperti saat ia menaiki Tangga Seribu Beban.

​Saat angin gunung mulai bertiup dan Perahu Spiritual raksasa itu perlahan terangkat membelah awan, Awan berdiri di sudut geladak yang sepi. Ia menatap ke arah Halaman Angin Mati di kejauhan, lalu meraba pedang kayunya.

​Masa damai di sekte telah berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!