Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Fajar Berdarah dan Bangkitnya Pasukan Bayangan
Dua hari berlalu dalam hitungan detik bagi Han Do-Yoon. Ia tidak beranjak dari balkon gedung administrasi sejak malam rapat terakhir. Selama empat puluh delapan jam penuh, tubuhnya memproses ribuan benang energi kematian yang ia serap dari sisa-sisa pertempuran di seluruh Seoul.
Saat cahaya matahari pertama hari ketujuh kiamat menyentuh cakrawala, dunia tidak menyambutnya dengan warna jingga yang hangat. Langit di atas Seoul tampak memar, diselimuti awan tebal yang perlahan berubah menjadi warna merah tembaga yang mengerikan.
DONG... DONG... DONG...
Suara lonceng raksasa menggema dari dimensi lain, menggetarkan setiap molekul udara di bumi.
[Peringatan Global!]
[Malam Bulan Berdarah telah dimulai.]
[Seluruh monster yang mati dalam 24 jam terakhir akan bangkit kembali dengan kekuatan 150%.]
[Selamat bertahan hidup.]
Do-Yoon membuka matanya. Pupil hitamnya kini memiliki garis perak tipis yang berputar pelan—efek samping dari meditasi panjang yang menyatukan energi Ketiadaan dengan esensi jiwanya. Ia bangkit berdiri, merasakan aliran kekuatan yang jauh lebih padat mengalir di setiap saraf tubuhnya.
"Waktunya tiba," bisiknya.
Ia melompat turun dari balkon menuju lapangan penjara. Di sana, pemandangan yang terlihat jauh lebih tangguh daripada dua hari lalu menyambutnya.
Kwak Min-Soo telah menyelesaikan mahakaryanya. Di setiap sudut tembok beton penjara, menara-menara logam setinggi lima meter telah berdiri. Di puncaknya, kumparan tembaga besar (Tesla Coil) berdengung pelan, memancarkan listrik statis berwarna biru yang membuat bulu kuduk berdiri. Barikade meja besi dan ranjang tua yang diperkuat dengan lempengan logam hasil jarahan Min-Soo dari pabrik Guro membuat tembok penjara terlihat seperti benteng militer.
Kang Tae-Ho berdiri di depan gerbang utama, menyeka debu dari Perisai Menara Baja Hitam-nya. Ji-Ah dan Hyun-Woo berdiri di sampingnya, memantau dari menara pengawas.
"Ketua!" Tae-Ho berteriak saat melihat Do-Yoon. "Para tahanan sudah siap di pos mereka. Min-Soo mengatakan sistem pertahanan listrik sudah aktif 100%."
Do-Yoon mengangguk. Ia berjalan menuju tumpukan mayat monster yang tersisa di sudut lapangan—sisa-sisa dari serbuan beberapa jam yang lalu. Ia menatap mayat-mayat itu, lalu mengulurkan tangannya.
"Panggilan Raja Bayangan."
Udara di sekitar tumpukan mayat itu mendadak dingin. Bayangan hitam yang panjang dan pekat merambat dari kaki Do-Yoon, menyusup ke dalam rongga dada dan kepala monster-monster yang sudah tidak bernyawa itu.
Tanah di bawah tumpukan mayat bergetar. Perlahan, satu per satu, mayat-mayat itu bangkit.
Tidak lagi sebagai monster buas yang liar, melainkan sebagai sosok yang diselimuti kabut hitam. Mata mereka kini tidak lagi berwarna merah atau hijau, melainkan cahaya putih redup yang dingin. Mereka berdiri kaku, menunduk di hadapan Do-Yoon.
Tiga ekor Orc tingkat tinggi dan lima Goblin Logam kini berdiri sebagai prajurit setianya.
"Bangkit," ucap Do-Yoon singkat.
Suara geraman rendah keluar dari tenggorokan para Orc bayangan itu, sebuah suara yang sangat berbeda dari saat mereka hidup. Mereka kini tidak memiliki kemauan sendiri; mereka adalah perpanjangan tangan dari kehendak Do-Yoon.
Ji-Ah dan Hyun-Woo yang melihat kejadian itu dari atas menara pengawas mematung.
"D-dia... dia membangkitkan orang mati?" bisik Hyun-Woo, busurnya nyaris terlepas dari tangannya. Sebagai seseorang yang terbiasa dengan kematian, ia tahu perbedaan antara mayat yang digerakkan oleh wabah dan mayat yang terikat oleh kontrak jiwa. Ini adalah sihir tingkat tinggi yang melampaui logika Sistem.
"Bukan sekadar membangkitkan," Ji-Ah menjawab dengan tatapan kagum. "Dia menundukkan kematian itu sendiri."
Di luar perisai biru penjara, pemandangan neraka mulai terjadi.
Gerombolan monster yang mati selama dua hari terakhir mulai bergetar. Daging mereka yang membusuk bersatu kembali, otot-otot yang putus menyambung dengan sendirinya. Mereka bangkit dari kuburan massal, dari selokan, dan dari jalanan, kini dengan aura yang jauh lebih ganas dan warna kulit yang lebih gelap.
ROAAR!
Suara itu datang dari segala penjuru. Ribuan monster hasil kebangkitan Bulan Berdarah mulai menyerbu ke arah satu-satunya titik cahaya di distrik itu: Rumah Tahanan Seoul.
"Min-Soo!" teriak Do-Yoon.
"Siap, Ketua! Mengaktifkan Tesla Coil!"
ZZZT! ZZZT!
Kilatan listrik berwarna biru menyambar-nyambar dari menara-menara logam di sepanjang tembok penjara. Saat gelombang pertama monster mendekati radius seratus meter, arus listrik bertegangan puluhan ribu volt menyambar secara otomatis, memanggang monster-monster itu hingga menjadi abu sebelum mereka sempat menyentuh tembok.
BUM!
Tetapi, Bulan Berdarah tidak hanya membangkitkan monster biasa. Di kejauhan, Do-Yoon melihat sesosok makhluk raksasa—sebuah Golem Batu yang dulu pernah ia lawan di museum, kini bangkit kembali dengan ukuran dua kali lipat, tubuhnya dilapisi dengan lempengan baja hasil mutasi Bulan Berdarah.
Golem itu menghantam Tesla Coil pertama hingga hancur berkeping-keping.
"Tae-Ho! Tahan di depan! Jangan biarkan struktur gerbang utama retak!" perintah Do-Yoon.
Tae-Ho melesat maju, perisai bajanya menghantam dada Golem yang menerjang. KLANG! Suara benturan itu memekakkan telinga. Pria raksasa itu terdorong mundur, namun ia berhasil mengunci posisi Golem tersebut.
"Hyun-Woo! Incar sendi-sendi Golem itu!"
Hyun-Woo melepaskan serentetan panah bayangan dengan kecepatan kilat. Setiap anak panah menghantam titik lemah Golem, memperlambat gerakannya.
Do-Yoon berdiri di tengah lapangan, mengamati pertempuran itu seperti seorang jenderal yang sedang bermain catur. Pasukan bayangannya—tiga Orc dan lima Goblin—kini dikirim ke garis depan untuk memotong jalan monster-monster tingkat rendah lainnya.
"Ini baru permulaan," bisik Do-Yoon.
Ia bisa merasakan kehadiran entitas yang jauh lebih kuat di balik kabut merah di ufuk timur. Sesuatu yang bukan sekadar monster kebangkitan biasa, melainkan Panglima yang dikirim oleh Rasi Bintang 'Penguasa Wabah' untuk menghancurkan mereka.
Do-Yoon memanggil Bilah Penebas Malam. Kegelapan meluap, menelan cahaya di sekitarnya.
"Jika mereka ingin bermain dengan kematian," ucap Do-Yoon, menatap Golem raksasa yang masih berjuang melawan Tae-Ho, "maka aku akan menunjukkan pada mereka siapa yang memegang kendali atas pintu gerbang neraka."
jangan lupa hadir juga 😉