NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Delapan Pembunuh dalam Kegelapan

Lampu villa padam satu per satu.

Dari luar, rumah besar di lereng bukit itu tampak seperti tertelan malam. Hanya kamera inframerah yang masih bekerja diam-diam, mengirimkan gambar hijau pucat ke tablet di tangan Arya.

Delapan orang.

Mereka tidak masuk seperti preman. Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman. Mereka bergerak dalam dua kelompok, empat orang dari sisi timur melewati pagar bawah, tiga orang dari sisi barat menutup jalur keluar, dan satu sosok tetap di belakang sebagai pengendali.

Tiga Belas.

Kode itu muncul di layar setelah sistem mengenali pola wajah sebagian dari arsip lama Suryanegara. Anggota Balai Bayangan, departemen intelijen keluarga yang seharusnya hanya bergerak atas perintah tingkat tertinggi.

"Tuan Muda," bisik Pak Satria dari ruang kontrol, "tim Eko siap."

"Tahan."

"Mereka bersenjata."

"Aku tahu."

"Jika mereka menembak lebih dulu?"

Arya menatap denah villa di tablet. Titik-titik merah bergerak pelan, mengukur pagar, mencari sudut buta. "Kita pakai peluru karet, gas iritan, dan kuncian. Tapi kalau ada staf sipil terancam, prioritas berubah. Semua orang paham?"

Di earpiece, suara Eko menjawab singkat, "Paham."

Arya mematikan komunikasi utama dan memasang earpiece cadangan. Ia tidak memakai rompi mencolok. Hanya jaket gelap, sarung tangan tipis, dan sepatu ringan. Di pinggangnya ada launcher peluru karet, kabel zip tie, dan pisau lipat kecil untuk memotong, bukan membunuh.

Kopassus mengajarinya bahwa malam bukan milik orang yang membawa senjata paling banyak. Malam milik orang yang tahu medan.

Dan villa ini adalah medannya.

Penyusup pertama masuk lewat jendela servis yang sengaja dibiarkan tampak lemah. Begitu kakinya menyentuh lantai dapur, sensor tekanan mengaktifkan lampu strobo singkat. Pria itu silau sepersekian detik.

Cukup.

Arya muncul dari balik pintu pantry, menekan lengan bersenjata ke dinding, memutar siku, lalu menembakkan peluru karet ke paha. Pria itu jatuh tanpa sempat berteriak. Mulutnya ditutup, tangannya diikat.

Satu.

Dua orang berikutnya naik melalui balkon samping. Arya tidak menghadapi mereka di balkon terbuka. Ia mundur ke koridor sempit, membiarkan mereka masuk. Saat orang pertama melewati ambang, ia menarik kabel tipis yang tersambung ke alarm pintu.

Suara frekuensi tinggi menusuk telinga.

Penyusup itu refleks memegang sisi kepala. Arya menendang lututnya, menekan tengkuknya ke dinding, lalu mengunci pergelangan. Orang kedua mengangkat pistol berperedam, tetapi Eko dari ruang kontrol menyalakan sprinkler tepat di atasnya. Air deras merusak visibilitas. Arya meraih pergelangan senjata, memutar laras ke lantai, dan menghantam ulu hati lawan dengan siku.

Dua.

Tiga.

Di luar, kelompok barat menyadari sesuatu salah. Mereka mempercepat langkah.

"Masuk paksa," suara Eko terdengar di earpiece.

"Biarkan pintu belakang terbuka."

"Pak?"

"Biarkan."

Pintu belakang terbuka dengan bunyi klik lembut. Dua penyusup masuk, mengira sistem gagal. Mereka tidak tahu koridor belakang villa sudah diubah menjadi ruang perang kecil: cermin sudut, lantai licin di titik tertentu, dan lampu otomatis yang bisa menyala dari arah berlawanan.

Ketika lampu menyala tepat ke wajah mereka, Arya sudah berada di samping.

Ia tidak menukar pukulan. Ia memutus keseimbangan. Satu lawan didorong ke lantai licin, jatuh keras. Satu lagi mencoba menembak, tetapi Arya menghantam pergelangan dengan gagang launcher. Senjata jatuh. Lutut Arya masuk ke perutnya, lalu kuncian bahu menutup gerak.

Empat.

Lima.

Tiga Belas akhirnya bergerak.

Ia tidak masuk lewat jalur jebakan. Ia memanjat dinding batu di sisi utara, memotong kabel kamera cadangan, lalu masuk melalui ventilasi ruang kerja bawah tanah. Gerakannya bersih. Tidak terburu-buru. Tidak emosional.

Arya melihatnya di layar cadangan dan tersenyum tipis.

"Dia bagus."

Pak Satria menjawab, "Terlalu bagus."

"Jangan ikut."

Ruang kerja bawah tanah gelap ketika Tiga Belas turun. Ia mengenakan pakaian taktis hitam, wajah tertutup masker, pistol pendek di tangan kanan. Ia bergerak tanpa suara.

Tetapi Arya sudah menunggu di belakang rak server.

"Kau datang untuk membunuhku?" tanya Arya.

Tiga Belas berhenti. "Saya datang untuk mengambil barang."

"Hard disk."

Diam.

Jawaban itu cukup.

"Prabu mengirimmu untuk mencuri dari darahnya sendiri?" tanya Arya.

"Saya tidak dibayar untuk menilai perintah."

"Itu kalimat orang yang sudah lama berhenti memilih."

Untuk pertama kalinya, mata Tiga Belas bergerak sedikit.

Tiga Belas menembak lebih dulu, bukan ke arah kepala, melainkan lampu darurat di belakang Arya. Ruangan benar-benar gelap. Suara langkah hampir tidak terdengar.

Arya menutup mata.

Dalam gelap total, telinga lebih jujur daripada mata.

Gesekan kain. Napas pendek. Berat badan berpindah ke kaki kiri.

Serangan datang dari samping.

Arya menunduk, membiarkan lengan Tiga Belas lewat di atas bahunya, lalu masuk ke jarak dekat. Tiga Belas mencoba memukul tenggorokan. Arya menahan, tetapi lawan memutar tubuh dengan teknik yang bukan militer biasa.

Mereka bertukar kuncian dalam diam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga Belas hampir berhasil mematahkan pegangan Arya, tetapi lantai ruang server sempit. Arya sengaja membiarkan bahunya terdorong ke rak, menggunakan pantulan tubuh untuk memutar pinggul, lalu mengunci siku lawan dari arah yang tidak nyaman.

KRAK kecil terdengar.

Bukan patah. Cukup untuk membuat tangan Tiga Belas kehilangan tenaga.

Arya menekan lutut ke belakang kaki lawan dan menjatuhkannya ke lantai. Dalam satu gerakan, leher, siku, dan pergelangan Tiga Belas terkunci.

"Selesai," kata Arya.

Pintu ruang bawah tanah terbuka.

Beberapa senter menyala.

Bukan hanya tim Eko.

Seorang pria tua bertubuh tegap masuk dengan langkah komandan. Rambutnya sudah memutih, tetapi posturnya lurus. Di belakangnya ada empat pengawal profesional.

Pak Waskito.

Kepala keamanan Keluarga Pradipta, purnawirawan perwira tinggi Kopassus.

Ia melihat Tiga Belas di lantai, lalu melihat Arya. Untuk pertama kalinya, matanya menunjukkan hormat yang tidak dibuat-buat.

"Mbah Pradipta meminta saya memastikan Anda tidak diganggu malam ini," katanya.

Arya melepaskan napas pendek. "Anda terlambat sedikit."

Pak Waskito melihat lima penyusup yang sudah diikat di layar, lalu dua lainnya yang sedang diamankan Eko. Sudut bibirnya bergerak tipis.

"Sepertinya memang begitu."

Tiga Belas yang terkunci di lantai tiba-tiba tertawa pelan.

Arya menekan sedikit kunciannya. "Apa yang lucu?"

"Anda pikir Tetua Prabu hanya ingin membunuh Anda?" suara Tiga Belas serak. "Tidak. Kalau hanya membunuh, kami tidak akan membawa tas ekstraksi data."

Darah Arya terasa dingin.

Tiga Belas melanjutkan, "Yang dia inginkan adalah hard disk itu. Dia tahu Nyonya Lestari meninggalkan sesuatu."

Ruangan menjadi hening.

Pak Satria yang baru masuk berhenti di ambang pintu.

Arya menunduk dekat telinga Tiga Belas. "Sejak kapan Prabu tahu?"

Tiga Belas tidak menjawab.

Namun diamnya lebih buruk daripada pengakuan.

Arya berdiri, menyerahkan tahanan pada Eko.

Di luar, malam masih gelap. Tetapi bagi Arya, satu hal menjadi sangat jelas.

Pak Waskito mendekat dan menatap tas ekstraksi data yang dibawa salah satu penyusup. Di dalamnya ada perangkat cloning drive, adaptor forensik, dan kantong pelindung sinyal.

"Mereka datang bukan untuk menakut-nakuti," katanya.

"Aku tahu."

"Mereka datang dengan peralatan orang yang sudah tahu barangnya ada di sini."

Kalimat itu menekan ruangan lebih berat daripada pertarungan tadi.

Prabu bukan hanya takut pada dirinya.

Prabu takut pada apa yang disimpan ibunya.

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!