NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Mobil melaju menuju kawasan pusat kota Palu yang mulai ramai. Saat berbelok ke jalan utama, Lukas mendongak perlahan, matanya tertuju pada gedung pencakar langit yang menjulang paling tinggi di antara bangunan lain—menara kaca berwarna biru muda yang memantulkan cahaya matahari pagi, menjadi penanda paling jelas bagi siapa pun yang berada di kota ini. Ia sudah sering melihat gedung itu dari kejauhan, bahkan pernah berhenti sejenak untuk memandangnya saat pulang sekolah, bertanya-tanya seperti apa rasanya hidup di tempat yang begitu tinggi, di mana langit terasa lebih dekat daripada tanah.

Kini, mobil itu berbelok masuk ke gerbang bawah tanah gedung tersebut. Pagar besi otomatis terbuka lebar begitu petugas keamanan melihat plat nomor kendaraan. Di dalamnya, lantai dipasang marmer putih yang berkilau, sorot lampu LED terang benderang di setiap sudut, dan mobil-mobil mewah berjejer rapi di tempat parkir khusus. Mobil Kirana berhenti tepat di depan pintu lift pribadi yang tertutup kaca tebal.

“Ini adalah Apartemen Kirana Residence,” ucap Kirana pelan saat mereka berjalan masuk ke dalam lift. “Lantai teratas adalah kediaman pribadiku. Tidak banyak orang yang memiliki akses ke sini.”

Tombol lantai 35 ditekan, dan pintu lift tertutup rapat. Pergerakan lift begitu halus hingga Lukas hampir tidak merasakan ketinggian yang terus bertambah, hanya sedikit rasa penekan di telinganya. Ia menatap pantulan dirinya di dinding kaca—pakaiannya masih kusam dan sedikit kotor, wajahnya masih terlihat lelah, berdiri di samping wanita yang tampak seolah tak tersentuh oleh dunia luar. Perbedaan di antara mereka terasa begitu nyata, seolah mereka berasal dari dua dunia yang tak akan pernah bertemu jika bukan karena takdir yang aneh ini.

Pintu lift terbuka perlahan, dan napas Lukas tertahan sejenak.

Di hadapannya terbentang ruangan yang luas tanpa sekat, dengan lantai kayu jati yang halus mengkilap. Dinding sisi utara sepenuhnya terbuat dari kaca tempered besar, menampilkan pemandangan seluruh kota Palu, teluk yang biru, hingga bukit-bukit hijau di kejauhan. Cahaya matahari pagi masuk dengan bebas, menerangi setiap sudut ruangan yang dihiasi furnitur berdesain minimalis namun terlihat sangat mahal. Di tengah ruangan terdapat sofa kulit berwarna abu-abu yang cukup besar untuk menampung sepuluh orang, di sampingnya meja kopi dari batu alam asli, dan di sudut lain terdapat rak buku yang mencapai langit-langit.

Lukas melangkah pelan masuk ke dalam, matanya tak lepas dari setiap detail di sekelilingnya. Ia berjalan mendekati dinding kaca, menempelkan telapak tangannya perlahan pada permukaannya yang dingin. Dari ketinggian ini, mobil-mobil di jalan raya tampak seukuran mainan, orang-orang tampak seperti titik-titik kecil yang bergerak cepat. Selama ini ia hanya bisa melihat kemewahan seperti ini dari layar televisi atau halaman majalah lama yang ia temukan di perpustakaan sekolah—kini ia berdiri tepat di tengahnya, seolah bermimpi yang terlalu nyata.

“Silakan duduk dulu,” suara Kirana terdengar dari belakangnya. Ia meletakkan tas kecilnya di meja, lalu menunjuk ke arah sofa. “Aku akan minta asistenku menyiapkan pakaian baru untukmu, serta makanan. Kamu butuh istirahat dan makan yang cukup.”

Lukas duduk di tepi sofa, berusaha tidak mengotori kain halus itu dengan pakaiannya yang masih berdebu. Ia menatap sekeliling ruangan lagi, lalu bertanya pelan: “Apakah… apakah saya benar-benar boleh tinggal di sini? Tempat ini terlalu bagus untuk orang seperti saya.”

Kirana duduk di kursi seberangnya, menatapnya dengan tatapan yang tenang namun tegas.

“Tempat ini hanya batu dan kaca, Lukas. Yang menentukan siapa yang pantas tinggal di sini bukan pakaian atau asal-usul yang diketahui orang lain, melainkan kebenaran yang kamu pegang. Dan ingat satu hal penting: mulai detik ini, ada dua versi dari siapa kita.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nada bicaranya berubah menjadi serius seolah sedang memberikan instruksi kerja yang paling krusial.

“Di depan publik—rekan bisnis, pegawai, kerabat, bahkan musuh kita—kita adalah pasangan suami istri yang saling mencintai, yang baru saja menikah dengan penuh pertimbangan. Kamu adalah suamiku yang saya cintai, seseorang yang saya pilih karena kebaikan hatimu dan kebijaksanaanmu. Kamu berhak berada di sampingku di setiap acara, di setiap pertemuan, di setiap tempat yang saya masuki. Jangan pernah merasa rendah diri di hadapan siapa pun—karena secara hukum, kamu adalah pemilik sah hak yang sama besarnya dengan saya.”

Lukas mendengarkan saksama, mencoba membayangkan dirinya berjalan berdampingan dengan wanita ini di hadapan orang-orang yang dulu mungkin akan menertawakannya.

“Dan di balik pintu ini?” tanyanya hati-hati.

“Di sini, di antara kita berdua saja,” jawab Kirana lembut namun jelas, “kita adalah rekan kerja. Kita adalah dua orang yang memiliki tujuan yang sama: membongkar kejahatan, memulihkan hak yang dirampas, dan mencari keadilan bagi orang-orang yang dikorbankan. Tidak ada kewajiban untuk bersikap manis, tidak ada tuntutan untuk berpura-pura merasakan hal yang tidak ada. Kita saling menghormati, saling percaya, dan saling melindungi. Itu saja.”

Penjelasan itu membuat dada Lukas terasa lebih lega. Ia takut harus berpura-pura merasakan cinta yang belum tumbuh, takut harus menipu dirinya sendiri di saat ia sedang berjuang mencari identitas aslinya. Memiliki batasan yang jelas seperti ini justru membuatnya lebih berani melangkah maju.

Tak lama kemudian, pintu samping terbuka dan seorang wanita muda berpakaian rapi masuk membawa tumpukan pakaian bersih dan nampan berisi makanan. Namanya Rina, asisten pribadi Kirana yang sudah bekerja bersamanya selama lima tahun. Ia menyapa Lukas dengan sopan tanpa sedikit pun menatapnya dengan pandangan aneh, lalu meletakkan barang-barang di meja.

“Pakaian ini ukurannya disesuaikan dengan perkiraan Nona Kirana, Pak. Jika ada yang kurang pas, silakan beritahu saya segera,” ucapnya hormat sebelum pamit keluar.

Lukas makan dengan perlahan, merasakan makanan yang jauh lebih lezat daripada apa pun yang pernah ia santap selama di rumah keluarga Chandra. Namun di sela-sela kunyahannya, pikirannya terus melayang pada kata-kata Kirana tadi. Ia harus membiasakan diri dengan dua dunia yang berbeda sekaligus: dunia mewah yang penuh kepura-puraan di luar sana, dan dunia penyelidikan yang penuh rahasia di dalam sini.

Setelah selesai makan, ia masuk ke kamar tamu yang disiapkan khusus untuknya—kamar yang ukurannya saja sudah dua kali lipat kamar yang dulu ia tempati di rumah keluarga Chandra. Di sana ia membersihkan diri, memakai pakaian kemeja putih dan celana bahan berwarna gelap yang terasa sangat nyaman di kulit. Saat berdiri di depan cermin besar di kamar, ia hampir tidak mengenali bayangannya sendiri. Wajahnya masih sama, namun tatapannya kini tampak lebih tegas, lebih berani.

Saat ia kembali ke ruang tengah, Kirana sedang berdiri di depan meja kerja yang terletak di sudut ruangan, menatap peta lama yang tertempel di dinding. Di atas peta itu terdapat lingkaran merah di beberapa titik—lokasi perusahaan keluarga Chandra, bekas kantor pusat Grup Wijaya, dan rumah masa kecil ayahnya sendiri.

“Mulai besok,” ucap Kirana tanpa menoleh, “kita akan mulai menyusun rencana. Kita akan mencari tahu siapa saja orang-orang yang terlibat dalam pengambilan alih aset keluargamu, dan bagaimana cara mendekati mereka tanpa dicurigai.”

Lukas berjalan mendekat, berdiri di sampingnya menatap peta itu. Ia belum tahu betapa rumitnya jaringan yang harus mereka urai, belum tahu seberapa tajam pisau yang menanti di balik senyum ramah orang-orang di dunia elit ini. Namun kini ia tidak lagi berdiri sendirian di pinggir jalan yang gelap. Ia berdiri di tempat tertinggi di kota ini, berdampingan dengan satu-satunya orang yang berani berjalan bersamanya ke dalam kegelapan masa lalu.

Dunia yang berbeda ini bukanlah penjara yang harus ia masuki, melainkan panggung tempat ia akan menampilkan kebenaran yang selama ini disembunyikan. Dan topeng yang mereka pakai bukanlah kebohongan yang menyakitkan, melainkan perisai yang akan membawanya pulang ke tempat yang seharusnya ia miliki sejak awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!