Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seleksi di Menara Adiwangsa
Menara Adiwangsa berdiri kokoh di pusat Distrik Bisnis Sentral Megapura, sebuah pencakar langit megah yang dilapisi kaca antipantul berwarna biru gelap. Gedung ini tidak hanya memancarkan kemegahan finansial, tetapi juga sebuah benteng modern yang dijaga sangat ketat di jantung kota.
Tepat pukul 08.45 pagi, sebuah taksi konvensional berhenti di lobi utara. Nathan turun dengan tenang. Ia mengenakan setelan jas hitam polos yang pas di tubuh tegapnya, kemeja putih bersih tanpa dasi, dan sepatu pantofel kulit hitam yang mengilat. Rambut hitamnya dipotong rapi dengan gaya militer klasik yang sangat bersih.
Penampilannya sangat standar untuk seorang pengawal profesional—rapi, tidak mencolok, dan siap menyatu dengan latar belakang. Sesuai dengan identitas palsu yang dibuatkan oleh Rendra, hari ini ia adalah "Nathan", mantan prajurit infanteri angkatan darat dengan rekam jejak tugas di perbatasan dan catatan pemulihan trauma ringan.
Begitu melangkah melewati gerbang pendeteksi logam di lobi megah Menara Adiwangsa, Nathan langsung memetakan sistem keamanan gedung tersebut. Delapan kamera pengawas di lobi utama. Tiga titik buta di dekat pilar marmer sebelah kiri. Empat penjaga bersenjata tersembunyi di balik meja resepsionis. Hanya butuh waktu kurang dari lima detik bagi Nathan untuk menganalisis seluruh tata letak keamanan tersebut dan menemukan rute pelarian tercepat jika situasi memburuk.
"Kandidat dari PT Bravo Satria?" tanya seorang petugas keamanan bertubuh kekar yang mengenakan seragam safari abu-abu.
Nathan mengangguk kecil, menyodorkan kartu undangan digital di ponselnya. "Nathan."
"Lantai empat puluh dua. Aula pelatihan fisik VIP. Silakan langsung naik, seleksi akan dimulai lima belas menit lagi," ujar petugas itu setelah memindai kode batang di ponsel Nathan. Tatapannya sedikit meremehkan ketika melihat postur Nathan yang tampak santai dan tidak memamerkan otot-otot besar seperti kandidat lainnya.
Nathan hanya bergumam pelan sebagai tanda terima kasih, lalu berjalan menuju lift khusus yang bergerak cepat ke lantai atas.
Aula pelatihan fisik di lantai empat puluh dua Menara Adiwangsa lebih mirip dengan pusat pelatihan militer pribadi daripada sekadar ruang olahraga korporat. Lantainya dilapisi matras karet tebal berstandar internasional, dengan peralatan latihan taktis, samsak tinju yang bergelantungan, serta sebuah ring tanding berukuran sedang di bagian tengah ruangan.
Ketika Nathan melangkah masuk, ketegangan di dalam ruangan itu langsung terasa. Ada sekitar lima belas pria lain yang sudah berkumpul. Mereka semua memiliki postur tubuh yang luar biasa—beberapa di antaranya memiliki bekas luka yang terlihat jelas di wajah atau lengan, menunjukkan bahwa mereka bukanlah petarung instan hasil latihan di pusat kebugaran kota.
"Lihat siapa yang baru datang," bisik seorang pria berambut cepak dengan tato burung elang di lehernya. Pria itu bertubuh raksasa, tingginya hampir dua meter dengan otot lengan yang tampak seperti balok kayu. "Anak manis dari agensi kecil. Hei, Nak, apa kamu tidak salah alamat? Tempat penitipan anak ada di lantai dasar."
Beberapa kandidat lain tertawa pelan, mencoba memecah ketegangan mereka sendiri dengan menjadikannya bahan lelucon. Mereka semua tahu bahwa persaingan hari ini sangat ketat. Hanya akan ada dua orang yang dipilih: satu sebagai kepala pengawal Elena Wijaya, dan satu sebagai pengawal melekat untuk putrinya, Clara.
Nathan tidak merespons. Ia bahkan tidak melirik pria bertato elang itu. Dengan langkah tenang, ia berjalan menuju sudut ruangan, menyandarkan punggungnya ke dinding marmer, dan melipat tangannya di dada. Matanya setengah terpejam, berpura-pura mengantuk, namun indra pendengarannya bekerja dengan kapasitas penuh, menyerap setiap bisikan dan menganalisis profil para pesaingnya.
Pria bertato elang: mantan anggota Korps Marinir yang dipecat tidak hormat karena masalah temperamen. Pria di sudut kanan yang terus memeriksa pisau lipat tumpul: mantan tentara bayaran legiun asing. Pria paruh baya berjas abu-abu di dekat jendela: mantan agen intelijen taktis.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menjadi ancaman bagi Nathan. Jika situasi mengharuskan, Nathan bisa menghabisi seluruh orang di ruangan ini dalam waktu kurang dari dua menit dengan tangan kosong. Namun, ia harus ingat peringatan Rendra: Tahan aura membunuhmu.
Tepat pukul sembilan pagi, pintu ganda aula terbuka lebar.
Semua kandidat langsung berdiri tegak, membentuk barisan rapi dengan insting militer mereka yang masih melekat. Nathan ikut masuk ke dalam barisan, mengambil posisi di tengah, tidak menonjol namun juga tidak terlalu di belakang.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian safari hitam dan ekspresi wajah yang sangat keras melangkah masuk terlebih dahulu. Dia adalah Hendra, Kepala Keamanan Megantara Group saat ini yang akan segera digantikan karena Elena menginginkan tim baru yang lebih segar dan bersih.
Namun, perhatian semua orang di ruangan itu tidak tertuju pada Hendra. Perhatian mereka tersedot sepenuhnya oleh dua sosok wanita yang berjalan di belakangnya dengan pengawalan ketat.
Wanita pertama berjalan dengan keanggunan yang luar biasa. Ia mengenakan setelan blazer rajut berwarna krem yang sangat elegan, dipadukan dengan celana panjang senada. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan seuntai kalung mutiara yang mahal. Wajahnya cantik, namun memancarkan aura otoritas yang sangat kuat dan dingin.
Elena Wijaya.
Nathan merasakan dadanya sedikit bergetar. Bukan karena pesona wanita itu, melainkan karena aliran darahnya yang tiba-tiba memanas. Itu dia. Wanita yang mendanai kematian keluargaku. Nathan harus mengerahkan seluruh kendali dirinya untuk menjaga ekspresi wajahnya tetap datar, mencegah kilatan haus darah di matanya keluar ke permukaan. Saraf-saraf di tangannya berkedut, menuntut untuk bergerak mencekik leher wanita itu sekarang juga. Namun, akal sehatnya menang. Belum saatnya, bisik batinnya dingin. Kematian yang terlalu cepat adalah sebuah berkah. Aku akan membuatmu kehilangan segalanya terlebih dahulu.
Di sebelah Elena, berjalan seorang gadis muda yang tampak sangat kontras dengannya. Gadis itu mengenakan blus putih sederhana dengan rok plisket berwarna pastel. Wajahnya cantik alami dengan mata bulat yang jernih, memancarkan kepolosan yang tidak cocok dengan atmosfer dingin Menara Adiwangsa. Gadis itu sesekali melirik ke arah barisan kandidat dengan tatapan sedikit cemas dan tidak nyaman.
Clara Wijaya.
"Selamat pagi, para kandidat," suara Hendra terdengar menggelegar di dalam aula. "Hari ini, Nyonya Besar Elena Wijaya dan Nona Clara hadir secara langsung untuk menyaksikan tahap akhir dari seleksi tertutup ini. Kami tidak mencari pengawal yang hanya bisa memamerkan otot atau sertifikat latihan. Kami mencari mereka yang memiliki insting bertahan hidup, reaksi taktis terbaik, dan loyalitas tanpa batas."
Hendra berjalan perlahan di depan barisan, menatap satu per satu kandidat dengan pandangan menilai.
"Tes pertama sangat sederhana," lanjut Hendra. "Kalian akan dipasangkan secara acak untuk melakukan latih tanding taktis di atas ring. Aturannya: tidak ada senjata, tidak ada serangan mematikan ke titik vital, tapi selain itu, semuanya diperbolehkan. Pertarungan selesai jika salah satu menyerah, pingsan, atau dikeluarkan dari ring."
Hendra melihat daftar di papan digitalnya. "Pasangan pertama... kandidat nomor tiga, Baskoro, melawan kandidat nomor empat belas, Nathan."
Mendengar namanya dipanggil, Nathan melangkah keluar dari barisan dengan santai. Di saat yang sama, pria raksasa bertato elang di lehernya—Baskoro—juga melangkah maju.
Baskoro menyeringai lebar, membunyikan buku-buku jarinya dengan suara yang cukup keras hingga menggema di aula. "Ternyata keberuntungan berpihak padaku hari ini. Aku akan mengirim anak manja ini kembali ke agensinya dalam peti mati."
Nathan tetap diam. Ia berjalan menuju ring dan naik melewati tali pembatas dengan gerakan yang sangat efisien. Di sudut matanya, ia menyadari bahwa Clara kini sedang memperhatikannya dengan tatapan khawatir. Mungkin gadis itu merasa kasihan melihat Nathan yang bertubuh sedang harus berhadapan dengan raksasa seperti Baskoro.
"Mulai!" teriak Hendra dari luar ring.
Begitu aba-aba terdengar, Baskoro langsung menerjang maju dengan kecepatan yang cukup mengesankan untuk ukuran tubuh raksasanya. Ia melayangkan pukulan tangan kanan yang sangat keras, mengincar pelipis Nathan. Pukulan itu membawa angin yang kuat, cukup untuk membuat orang biasa pingsan seketika jika terkena telak.
Bagi Nathan, gerakan Baskoro terasa sangat lambat—seperti melihat video yang diputar dengan kecepatan setengah. Nathan dengan mudah bisa merunduk, mematahkan lutut Baskoro dengan tendangan samping, dan menghancurkan tenggorokannya dengan satu serangan siku.
Namun, Nathan menahan diri. Ia tidak boleh terlihat terlalu dominan. Ia harus terlihat seperti "mantan prajurit biasa yang memiliki teknik bagus", bukan Raja Perang yang menakutkan.
Nathan memilih untuk bergeser setengah langkah ke kanan, membiarkan tinju Baskoro lewat hanya beberapa milimeter dari pipinya.
Baskoro yang pukulannya meleset langsung berputar dan mencoba melayangkan tendangan memutar ke arah rusuk Nathan. Nathan mengangkat lengan kirinya, menangkis tendangan tersebut dengan posisi bertahan yang solid. BUM! Benturan itu terdengar keras, membuat beberapa kandidat di luar ring menahan napas.
"Hanya itu kemampuanmu?" ejek Baskoro, merasa di atas angin karena Nathan hanya terus menghindar dan bertahan.
Di bawah ring, Elena Wijaya memperhatikan pertarungan itu dengan mata menyipit. Sebagai seorang wanita yang sering menjadi target pembunuhan, ia memiliki sedikit pengetahuan tentang bela diri taktis. Ia menyadari bahwa meskipun Nathan terus terdesak, langkah kaki pemuda itu sangat stabil. Tidak ada kepanikan di wajahnya yang sedingin es.
"Ibu, pria itu... dia akan terluka," bisik Clara di samping Elena, suaranya terdengar cemas saat melihat Baskoro kembali melayangkan kombinasi pukulan beruntun ke arah Nathan.
"Diam dan perhatikan, Clara," jawab Elena dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari ring. "Pengawal yang baik tidak dinilai dari seberapa besar ototnya, tapi dari seberapa tenang dia di bawah tekanan."
Di dalam ring, Nathan memutuskan bahwa pertunjukan ini sudah cukup. Ia sudah memberikan "hiburan" yang memadai untuk penontonnya.
Saat Baskoro kembali melayangkan pukulan lurus kiri yang penuh tenaga namun mengabaikan pertahanan bagian bawahnya, Nathan bergerak cepat. Ia merunduk di bawah lengan Baskoro, masuk ke dalam area buta raksasa itu.
Sebelum Baskoro sempat menyadari apa yang terjadi, Nathan menggunakan tangan kanannya untuk menangkap pergelangan tangan Baskoro, sementara kaki kirinya menyapu bagian belakang pergelangan kaki tumpuan Baskoro dengan presisi tinggi.
Menggunakan momentum dan berat tubuh Baskoro sendiri, Nathan melakukan bantingan judo klasik yang sangat bersih.
BRAAKKK!
Tubuh raksasa Baskoro menghantam matras ring dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang bergetar ke seluruh aula. Napas Baskoro langsung tercekat, matanya melotot menahan rasa sakit yang luar biasa di punggungnya.
Sebelum Baskoro sempat bangkit, Nathan sudah berada di atasnya, mengunci lengan kanan Baskoro di belakang punggungnya dengan teknik kuncian sendi yang sangat rapat. Satu gerakan kecil saja dari Baskoro, dan tulang lengannya akan patah menjadi dua.
"Cukup!" teriak Hendra dari bawah ring. "Pemenang: Nathan."
Nathan langsung melepaskan kunciannya, berdiri, dan merapikan kembali jas hitamnya yang sedikit kusut tanpa napas yang terengah-engah sama sekali. Ia membungkuk hormat dengan sangat sopan ke arah Elena dan Clara, lalu turun dari ring dengan tenang.
Baskoro bangkit dengan susah payah, memegangi bahunya yang kesakitan sambil menatap Nathan dengan tatapan tidak percaya sekaligus penuh dendam.
"Hebat sekali," sebuah suara lembut namun penuh wibawa terdengar dari arah depan.
Elena Wijaya melangkah maju beberapa langkah, mendekati ring. Clara mengikuti di belakangnya, matanya menatap Nathan dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikannya.
"Teknik yang sangat bersih, tanpa emosi, dan sangat efisien," puji Elena, matanya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Nathan yang gelap. "Siapa namamu?"
"Nathan, Nyonya," jawab Nathan dengan suara berat dan dalam, membungkuk memberi hormat dengan sudut kemiringan yang sempurna.
"Nathan..." Elena mengeja nama itu, seolah sedang mengujinya di lidahnya. "Kamu memiliki tatapan mata yang sangat menarik. Sangat tenang, seolah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuatmu takut. Apakah catatan trauma ringanmu yang membuatmu menjadi sedingin ini?"
Nathan tidak menghindari tatapan Elena. Ia membalasnya dengan kepatuhan yang tampak tulus, namun di dalam kepalanya, ia sedang membayangkan bagaimana cara terbaik untuk mematahkan leher wanita ini di kemudian hari.
"Medan perang mengajarkan saya untuk membuang rasa takut, Nyonya," jawab Nathan tenang. "Karena rasa takut hanya akan membuat majikan saya dalam bahaya."
Mendengar jawaban itu, sudut bibir Elena terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh kepuasan. Ia lalu menoleh ke arah putrinya. "Bagaimana menurutmu, Clara? Apakah dia cukup baik untuk menjagamu?"
Clara sedikit tersentak saat ibunya bertanya. Wajahnya merona merah tipis ketika menyadari Nathan kini sedang menatap ke arahnya, menunggu jawabannya.
"I-Ibu yang lebih tahu tentang hal ini," jawab Clara gugup, mencoba menyembunyikan ketertarikannya. "Tapi... aku rasa dia sangat hebat."
Elena kembali menatap Nathan. "Baiklah. Seleksi hari ini sudah selesai untukmu, Nathan. Mulai besok pagi, kamu resmi bertugas sebagai pengawal pribadi melekat untuk putriku, Clara Wijaya. Jangan mengecewakanku, atau kamu akan tahu apa akibatnya jika bermain-main dengan Megantara."
"Saya hidup untuk menjalankan tugas, Nyonya," jawab Nathan tegas.
Di bawah lampu aula Menara Adiwangsa yang terang, Nathan berdiri tegak. Langkah pertamanya telah berhasil. Ia telah resmi menyusup ke dalam lingkaran terdalam musuhnya, bersiap untuk memulai tarian kematian yang telah ia rancang selama lima belas tahun.