"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 27, Malam Kehilangan
"Ya Tuhan..."
Sherly spontan mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya, Irene bahkan sampai menutup wajahnya beberapa detik.
"Kamu bikin umur kita pendek, Na." Anna mendesah.
Melihat kedua sahabatnya berdiri dengan wajah pucat membuat dirinya sedikit bingung.
"Kok, kalian pada bangun?" tanyanya polos.
Sherly berjalan cepat menghampirinya.
Tanpa basa-basi perempuan itu langsung menarik Anna menjauh beberapa langkah dari pagar.
"Maaf." Ujar Anna, "Aku cuma mau lihat pemandangan." kilahnya lagi menjelaskan.
Irene ikut berdiri di sampingnya. Tatapannya lembut, tetapi menyimpan kekhawatiran yang begitu jelas.
"Kamu lagi takut, ya?" tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Anna menunduk dengan durasi yang cukup lama. Hingga akhirnya ia mengangguk sangat pelan.
"Aku takut.... keputusanku salah." Gumamnya.
Tidak ada yang berani menyela.
"Aku takut sudah mengecewakan Mas Jeevan." Air mata mulai menggenang. "Aku juga takut sudah mengecewakan keluarganya." Suaranya mengecil. "Dan...aku gak tahu harus ngomong apa sama keluargaku nanti."
Keheningan kembali menyelimuti rooftop. Sherly perlahan menggenggam tangan Anna.
Hangat dan erat.
"Na," panggilnya pelan.
Anna mengangkat wajahnya.
"Kamu memang kehilangan satu rumah." Ujarnya seraya menatap wajah Anna.
Sherly melirik Irene yang langsung tersenyum kecil. "Tapi kamu tidak kehilangan rumah yang lain."
Irene mengangguk.
"Rumah itu gak selalu bangunan. Kadang," sambung Sherly sambil menunjuk dirinya dan Irene. "Rumah itu orang."
Anna menggigit bibirnya, air matanya mulai berjatuhan dan Irene mengusap pelan bahu Anna dengan penuh perhatian.
"Dengerin aku baik-baik." Pinta Irene, "kamu gak sendirian, ada aku."
Sherly langsung menyela sambil mengangkat tangan. "Ada aku juga. Paket lengkap. Bonus berisik."
Anna tertawa kecil di sela tangisnya.
Irene ikut tersenyum. "Besok mungkin masih berat. Lusa juga belum tentu ringan, tapi kamu gak harus melewati semuanya sendiri."
Sherly mengangguk setuju.
"Kalau kamu capek, ya istirahat. Kalau kamu mau nangis, ya nangis. Kalau kamu mau marah, marah aja. Kalau kamu lapar, ya aku masakin mie instan."
Irene langsung menyikut lengannya seraya melirik Sherly. "Masak yang sehat."
Sherly duduk di amben kayu meja. "Iya...mie instan pakai telur."
Irene mendecak. "Kamu dari dulu emang gak pernah belajar apa-apa ya."
Sherly balas mendelik. "Lagian hidup udah cukup ribet, masa mie instan aja di persulit."
Anna tertawa lebih lebar.
Tawa yang masih bercampur isak, tetapi terdengar jauh lebih hidup dibanding beberapa menit lalu.
Sherly menepuk amben tersebut. "Duduk Na."
Anna duduk, lalu tanpa jeda Sherly langsung merangkul bahu Anna. "Hidup itu memang gila."
Irene menggeleng kepalanya ilfil.
"Kadang, kita juga harus sedikit gila supaya bisa bertahan." Ujar Sherly lagi sambil mengangkat salah satu tangannya ke udara dengan dramatis. "Kalau enggak, kita bakalan kalah sama kehidupan yang tiap hari dar...der...dor!"
Anna sampai tertawa sambil menggelengkan kepala. "Kamu emang sengklek."
"Lah, memang. Lebih tepatnya plenger." Sahut Sherly bangga.
"Bisa ya, sampai Dean suka sama kamu." Ujar Irene ikut duduk.
"Ya masalahnya aku unik, cantik, baik hati dan rajin menabung di warung Madura." Celetuknya.
Tawa kembali terdengar dia area rooftop rumah itu, cahaya bintang terus berpendar menghiasi langit yang hitam pekat. Angin malam bersemilir mencubit kulit-kulit mereka.
Sedangkan jauh dari rooftop rumah itu. Di sebuah apartemen perkotaan Jakarta Utara. Dari balik jendela kaca besar yang membentang di ruang tengah, tampak dua orang pria duduk saling berhadapan di meja makan. Di atas meja tersimpan dua gelas kecil dan dua botol minuman yang sama-sama telah terbuka.
Satu hampir kosong, dan satunya lagi tinggal separuh.
Jeevan Aditya kembali meunangkan botol itu ke dalam gelas kecil dengan wajah datar yang hampir tak bisa ia kendalikan karena mabuk. kancing teratas kemejanya telah terbuka, rambut yang biasanya tertata rapi kini jatuh berantakan di dahinya. Wajah tampannya memerah, matanya sembap, sementara sorot mata yang biasanya tajam kini tampak kehilangan arah.
Lelaki itu sudah mabuk berat.
Sangat berat bahkan.
Namun rupanya alkohol tidak cukup kuat untuk menenggelamkan satu nama yang terus berputar di kepalanya.
Anna.
Di hadapannya, Abimanyu duduk dengan kedua tangan terlipat di dada. Sejak hampir satu jam lalu, pria itu hanya mampu menghela napas berkali-kali. Bukan karena bosan, melainkan karena tidak tahu harus berbuat apa.
Ia sudah mengenal Jeevan bertahun-tahun. Ia tahu sahabatnya bukan lelaki yang mudah menangis.
Bukan pula tipe manusia yang senang menceritakan kegelisahan pada orang lain. Jeevan selalu menyimpan segala sesuatu di belakang wajah datarnya. Masalah pekerjaan diselesaikan sendiri. Konflik keluarga dihadapi tanpa banyak bicara. Bahkan ketika lelah, lelaki itu hanya akan mengusap wajah kemudian kembali bekerja seolah tubuhnya terbuat dari baja.
Tetapi malam ini berbeda.
Karena yang sedang di hadapinya bukan persoalan pekerjaan. Bukan pula sesuatu yang bisa di selesaikan dengan angka, strategi, atau keputusan logis.
Melainkan kehilangan seseorang yang masih dicintainya.
"Kenapa Bi?"
Suara Jeevan terdengar berat.
Abimanyu mengangkat wajah.
Jeevan menatapnya dengan pandangan yang tidak benar-benar fokus.
"Kenapa Anna memilih pergi?"
Abimanyu tidak langsung menjawab. Ia tahu pertanyaan itu bukan kali pertama keluar dari mulut sahabatnya malam ini.
Mungkin sudah yang ke sepuluh, atau bahkan lebih.
"Aku salah dimana?"
Jeevan menundukkan kepala. kedua tangannya bertumpu pada meja, jemarinya saling mengunci erat.
"Aku terlalu sibuk?"
Tidak ada jawaban.
"Atau aku terlalu ikut campur soal keluargaku?"
Napasnya bergetar.
"Aku...," ia berhenti sejenak, seolah pertanyaan berikutnya adalah sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk diucapkan. "Dia memang sudah nggak cinta sama aku?"
Abimanyu menatap lelaki itu dalam diam. Perpisahan adalah kata yang paling di benci Jeevan.
Bukan karena ia tidak memahami bahwa sebuah hubungan dapat berakhir. Ia cukup dewasa untuk mengetahui bahwa tidak semua pernikahan bisa diselamatkan. Namun bagi seseorang yang telah bertahun-tahun menjadikan satu rumah sebagai tempat pulang, kehilangan pasangan bukan sekadar kehilangan status.
Itu seperti kehilangan arah.
Seperti seseorang mencabut peta dari tangan seorang pengembara, lalu memintanya tetap berjalan.
"Van," ujar Abimanyu pelan.
Jeevan mengangkat wajah.
"Sudahlah---"
Jeevan menyela dengan cepat. "Sudah bagaimana?"
Nada suaranya meninggi, tetapi tidak mengandung kemarahan. Hanya kepanikan yang menyamar sebagai keras kepala.
"Kalau aku tahu salahku apa, aku bisa memperbaikinya."
Abimanyu terdiam.
Jeevan terkekeh kecil. Tawa yang terdengar getir. "Aku bisa berubah." Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku bisa."
Kalimat itu jatuh perlahan seperti daun kering.
"Aku bisa lebih sering pulang. Aku bisa lebih. Aku bisa lebih banyak dengar dia. Aku bisa bilang kalau aku sayang sama dia setiap hari kalau itu yang dia mau."
Jeevan mengusap wajah kasar.
"Tapi kenapa dia gak kasih aku kesempatan?"
Abimanyu menarik napas panjang.
Ia ingin mengatakan bahwa tidak semua luka dapat disembuhkan hanya karena seseorang bersedia berubah. Ia ingin menjelaskan bahwa terkadang seseorang pergi bukan karena pasangannya sepenuhnya buruk, melainkan karena dirinya sendiri sudah terlalu lama terluka.
Namun percakapan itu tidak akan menemukan tempat di kepala Jeevan malam ini.
Terlebih ketika lelaki itu mengambil ponselnya dari meja.
Layar menyala.
Abimanyu langsung tahu apa yang hendak dilakukan sahabatnya.
"Jangan."
...💞💞💞...
Kira-kira apa yang akan di lakukan Jeevan sampai Abimanyu mengatakan jangan?
Temukan jawabannya di bab selanjutnya 🫶
...BERSAMBUNG...