Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
...Sesampainya di rumah sakit, langkah lebar Devandra menuntun Ratri menyusuri koridor UGD yang berbau khas obat-obatan. ...
...Di depan pintu ruang tindakan, ia langsung melihat Haris, anak buah Thomas, yang sedang berdiri dengan cemas. ...
...Begitu melihat kedatangan sang bos besar bersama Kapten Ratri, Haris langsung membungkuk hormat....
..."Bagaimana kondisinya?" tanya Devandra langsung pada intinya....
..."Masih di dalam, Pak. Tadi mendadak pingsan di taman," jawab Haris sigap....
...Tak berselang lama, tirai UGD tersibak dan seorang dokter paruh baya keluar dari dalam ruangan sembari melepas stetoskopnya. ...
...Devandra langsung melangkah maju menghampiri sang dokter....
..."Dokter, bagaimana keadaan pasien yang baru dibawa tadi?" tanya Devandra tegas....
...Dokter itu menghela napas pendek, menatap Devandra dan Ratri bergantian sebelum memberikan penjelasan. ...
..."Pasien mengalami kelelahan fisik yang sangat ekstrem dan dehidrasi berat, sepertinya sudah berhari-hari tidak makan dengan teratur. Selain itu, ada indikasi tekanan psikologis atau syok mental yang cukup berat yang memicu tubuhnya tumbang. Kami sudah memberikan asupan cairan melalui infus dan obat penenang agar dia bisa beristirahat."...
...Mendengar penjelasan dokter tentang penderitaan fisik dan mental yang dialami putrinya, dada Ratri serasa diremas. ...
...Air matanya kembali mengalir tanpa bisa dibendung....
...Devandra yang tidak tega melihat Ratri terus menangis di koridor UGD umum langsung mengambil keputusan cepat. ...
..."Pindahkan dia ke ruang VVIP sekarang juga," ucap Devandra dengan nada mutlak kepada dokter dan perawat yang berjaga....
...Tim medis segera bergerak cepat memenuhi perintah pria berkuasa tersebut. ...
...Tak butuh waktu lama, perawat memindahkan Sandra ke ruang perawatan VVIP yang jauh lebih tenang, luas, dan privat di lantai atas rumah sakit....
...Di dalam kamar perawatan yang sunyi, Sandra terbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus yang terpasang di tangannya. ...
...Devandra menuntun Ratri berjalan mendekati sisi ranjang....
...Langkah kaki Ratri terasa sangat berat dan gemetar. ...
...Begitu jarak mereka dekat, Ratri terpaku. Ia melihat wajah cantik putrinya yang sedang terpejam lelap. ...
...Garis rahangnya, bentuk hidungnya, bahkan helai rambutnya memiliki paras yang sangat sama dengan dirinya saat masih muda. ...
...Hubungan batin seorang ibu kandung seketika bergetar hebat di dalam dada Ratri....
..."Dev... dia putriku..." bisik Ratri dengan suara yang patah-patah di sela tangis kerinduannya....
...Devandra menganggukkan kepalanya dengan lembut, tatapannya dipenuhi rasa haru. ...
..."Iya, Ratri. Dia putrimu."...
...Ratri perlahan mengulurkan tangannya yang gemetar, meraih pergelangan tangan kanan Sandra yang bebas dari jarum infus. ...
...Gelang kain hitam tebal yang tadinya menutupi kulit gadis itu kini sudah dilepas oleh perawat. ...
...Di sana, di atas kulit putih yang halus, Ratri melihat dengan mata kepalanya sendiri: sebuah tanda lahir berbentuk kupu-kupu kecil yang persis dengan yang ada di foto tua miliknya....
...Tangis Ratri pecah seketika, ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang yang telah terpendam selama belasan tahun....
...Devandra berjalan perlahan keluar dari ruang perawatan VVIP agar tidak mengganggu ketenangan di dalam. ...
...Di koridor, ia mendapati Haris yang masih setia berjaga dengan sikap siap siaga. ...
...Devandra merengkuh dompetnya, lalu menepuk pundak pria muda itu....
..."Haris, tolong belikan makan malam untuk Ratri dan aku. Cari menu yang hangat dan bernutrisi," instruksi Devandra dengan nada suara yang melembut. Ia kemudian menambahkan, "Kamu juga beli untuk dirimu sendiri. Jangan sampai mengosongkan perut setelah seharian bergerak."...
...Haris menganggukkan kepalanya dengan hormat. ...
..."Baik, Pak Devandra. Segera saya carikan. Permisi, Pak." ...
...Dengan sigap, Haris langsung melangkah menuju lift untuk melaksanakan tugasnya....
...Devandra kembali masuk ke dalam kamar rawat yang sunyi itu. ...
...Di dalam, Ratri sama sekali tidak melepas tangan putrinya. ...
...Jemari lentik sang kapten terus menggenggam erat tangan mungil Sandra, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, gadis itu akan menghilang lagi seperti belasan tahun lalu. ...
...Ratri sesekali mengusap punggung tangan Sandra dengan ibu jarinya, menyalurkan kehangatan seorang ibu yang begitu merindukan darah dagingnya....
...Devandra melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di samping Ratri....
...Ia menatap lekat wajah Sandra yang tengah tertidur lelap, memperhatikan setiap detail paras gadis itu yang kini tampak begitu damai di bawah pengaruh obat medis....
..."Dia sangat cantik sekali... persis seperti kamu, Ratri," ucap Devandra dengan suara bariton yang berat dan penuh kekaguman tulus, memecah keheningan kamar....
...Ratri mendongak sejenak menatap Devandra dengan mata yang masih berkaca-kaca, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada wajah Sandra....
...Sebuah senyuman haru akhirnya terbit di bibir pucatnya. ...
...Ratri menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan ucapan pria yang selalu menjadi sandarannya itu, sembari terus menjaga sang putri dalam kehangatan dekapannya....
...Tak berselang lama, kelopak mata Sandra mulai bergerak....
...Ia mengerjap pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang total. Di bawah temaram lampu kamar rawat VVIP, pandangannya yang masih agak kabur perlahan menangkap dua sosok asing yang sedang berada di sisi ranjangnya....
...Sandra tersentak kecil, menyadari tangannya sedang digenggam erat oleh seorang wanita berwajah anggun namun bermata sembab. Di samping wanita itu, berdiri seorang pria tegap berwajah tegas dengan aura berwibawa yang sangat kuat....
..."A-aku di mana...?" bisik Sandra, suaranya teramat lirih dan serak. Ia mencoba menarik tangannya secara refleks, dipenuhi rasa waswas. "Dan... siapa kalian?"...
...Melihat kepanikan di wajah putrinya, hati Ratri kembali mencelos. "Nak, tenang dulu. Kami bukan orang jahat," ucap Ratri selembut mungkin, mencoba menenangkan jiwa gadis itu yang tampak begitu rapuh....
...Devandra kemudian duduk di tepi ranjang dengan gerakan perlahan agar tidak mengejutkan gadis itu. Tatapan matanya melembut, menyiratkan perlindungan penuh. "Siapa nama kamu?" tanya Devandra dengan suara baritonnya yang tenang....
..."Sandra..." jawabnya pendek....
...Sandra menatap Devandra dan Ratri bergantian dengan tatapan yang dipenuhi ketakutan. ...
...Ingatannya kembali pada kejadian kejam di kampus sebelum ia pingsan di taman. ...
...Mengingat kemewahan kamar rawat ini dan penampilan kedua orang di hadapannya yang tampak seperti kalangan kelas atas, asumsi buruk langsung terbentuk di kepalanya....
..."Apakah, Anda orang tua dari mereka yang mem-bully ku?" tanya Sandra dengan bibir bergetar, bersiap menyembunyikan wajahnya kembali. ...
...Ia mengira mereka adalah orang tua kaya raya yang datang untuk mengintimidasi atau menyogoknya agar bungkam....
..."Bukan... bukan, Nak. Sama sekali bukan," potong Ratri cepat dengan air mata yang kembali merebak. ...
...Ia tidak sanggup lagi menahan jarak ini. Ratri memajukan tubuhnya, menatap lekat manik mata Sandra. ...
..."S-Sandra... ini Mama, Nak."...
...Sandra tertegun. Kerutan dalam muncul di dahinya. ...
..."Mama?"...
..."I-iya... Aku mama kandung kamu," ucap Ratri dengan suara patah-patah akibat tangis haru yang membuncah di dadanya....
...Sandra menggelengkan kepalanya pelan, ekspresinya dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat. ...
...Seumur hidupnya, ia tumbuh besar tanpa tahu siapa orang tuanya. ...
...Mengapa tiba-tiba ada seorang wanita asing yang terlihat begitu terhormat mengaku sebagai ibunya? ...
..."T-tapi... bagaimana bisa? Aku... aku tumbuh di panti asuhan..."...
...Devandra dengan sigap mengeluarkan ponselnya, lalu membuka foto tua beresolusi tinggi yang dikirimkan oleh Bibi Ningsih tadi. ...
...Ia mengarahkan layar ponsel itu ke depan wajah Sandra, memperlihatkan foto dua bayi kembar mungil berserta catatan kecil di baliknya....
..."Lihat ini, Sandra. Di balik foto ini tertulis bahwa kedua anak Kapten Ratri memiliki tanda lahir berbentuk kupu-kupu kecil. Satu di pergelangan tangan kanan, dan satu di kiri. Dan kamu memilikinya di pergelangan tangan kananmu," jelas Devandra dengan tenang namun tegas....
...Devandra kemudian menceritakan secara singkat namun jelas mengenai kekejaman masa lalu. ...
...Tentang bagaimana Indra—ayah kandung Sandra yang berhati iblis—memanfaatkan kondisi kritis Ratri pasca-melahirkan belasan tahun lalu untuk menukar Sandra dan kembarannya dengan anak dari wanita selingkuhannya, lalu membuang si kembar agar keberadaan mereka tidak pernah diketahui....
...Mendengar rangkaian kebenaran yang begitu mengejutkan itu, air mata Sandra perlahan menetes membasahi pipinya yang tirus....
...Ia menatap foto bayi di ponsel Devandra, lalu beralih menatap wajah Ratri yang memiliki garis-garis paras yang sangat mirip dengan dirinya....
...Getaran batin yang selama belasan tahun ini kosong, mendadak bergejolak hebat di dalam dadanya....
..."M-mama...?" bisik Sandra sekali lagi, kali ini dengan nada suara yang dipenuhi kerinduan yang amat dalam....
...Ratri menganggukkan kepalanya dengan mantap di tengah tangisnya yang pecah. ...
...Tanpa menunggu lama lagi, Ratri langsung meredam jarak di antara mereka, membawa tubuh ringkih putri kandungnya itu ke dalam dekapan hangatnya....
...Ia memeluk Sandra dengan sangat erat, menyalurkan seluruh rasa bersalah, kasih sayang, dan kerinduan belasan tahun yang akhirnya berlabuh pada tempat yang seharusnya....
...Sandra yang awalnya tegang, perlahan mulai melebur dan balas menangis terisak di pundak ibu kandungnya....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒