"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG HILANG DI UJUNG SENJA
Foto diatas visual untuk di rumah Vanya
________________
Beberapa bulan berlalu setelah malam megah peresmian konsorsium tiga klan besar, namun suasana di kediaman Alveric bukannya makin mencair, melainkan kian mencekam. Rumah bermaterial pualam dan kaca tebal itu kini tak ubahnya gudang dokumen raksasa bernyawa. Setiap sudut ruangan dipenuhi oleh laporan keuangan, berkas audit, simulasi investasi, dan pengawasan ketat yang seolah menyedot seluruh udara segar dari paru-paru Nayla. Tidak ada ruang untuk bernapas, tidak ada tempat untuk sekadar menjadi manusia biasa.
Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Nayla menatap pantulan dirinya di cermin. Di atas meja belajarnya, perangkat lunak pelacak lokasi pribadi yang dipasang oleh tim keamanan klan Alveric menyala tipis dalam bentuk jam tangan pintar dan micro-chip pada tas sekolahnya.
Nayla menarik napas panjang. Jemarinya yang gemetar namun yakin perlahan melepas jam tangan itu, meletakkannya tepat di atas meja bersama chip pelacak yang berhasil ia lepaskan dari saku dalam tasnya. Ia mengganti pakaian formalnya dengan kaos longgar sederhana dan celana jeans linen, pakaian yang tak pernah diizinkan sang Bunda untuk dikenakan di luar kamar.
Dengan hati berdebar kencang, Nayla melangkah keluar melalui pintu belakang area servis yang biasa dilalui para juru masak, memanfaatkan celah pergantian regu penjaga malam. Ketika roda taksi konvensional yang ia cegat di ujung jalan utama mulai bergerak menjauhi area perumahan elit Alveric, Nayla menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, ia merasa benar-benar bebas, meski ada rasa takut yang bersarang di dadanya.
Satu jam kemudian, taksi berhenti di sebuah kompleks perumahan sederhana di kawasan Jakarta Selatan. Nayla melangkah menyusuri gang kecil hingga berhenti di depan sebuah rumah berpagar hijau lembut.
Pintu rumah itu terbuka sebelum Nayla sempat memencet bel. Vanya berdiri di sana dengan kaos rumahan oversized dan celana kain, menatap sahabatnya dengan mata membulat sempurna.
"Nayla?!" seru Vanya tertahan. "Kamu... kamu kok bisa ada di sini malam-malam begini? Naik apa? Mana pengawalmu?"
Nayla menatap Vanya, dan tanpa sanggup ditahannya lagi, air mata yang ia bendung selama berbulan-bulan runtuh seketika. "Vanya... aku capek. Rumahku... rumahku rasanya bukan rumah lagi. Cuma gudang dokumen dan aturan. Aku kabur."
Vanya kaget bukan main, namun dengan sigap ia menarik tangan Nayla masuk ke dalam rumah, merangkul bahu sahabatnya rapat-rapat dan mengunci pintu depan.
"Sudah, sudah, jangan menangis dulu. Kamu aman di sini," bisik Vanya lembut, mengusap punggung Nayla yang bergetar.
Di ruang tamu yang hangat dan dipenuhi pajangan foto keluarga sederhana, seorang anak perempuan berusia sekitar dua belas tahun berlari keluar dari arah dapur dengan membawa dua botol air mineral. Wajahnya sangat mirip dengan Vanya.
"Kak Vanya, ada siapa, astaga, ini Kak Nayla Alveric yang sering Kakak ceritakan itu, ya?" tanya anak kecil itu dengan binar mata penasaran.
"Vania, tolong ambilkan handuk kecil di kamar Kakak, ya," panggil Vanya pada adik perempuannya itu. "Ini Vania, adikku satu-satunya. Di rumah ini cuma ada kami berdua karena Ibu dan Ayah dinas luar kota sampai minggu depan."
Nayla menerima usapan handuk dari Vania dengan senyum tipis di antara sisa air matanya. "Makasih ya, Vania. Maaf Kakak mendadak datang dan merepotkan."
"Nggak merepotkan sama sekali, Kak! Kak Nayla cantik banget kalau dilihat dari dekat," sahut Vania polos, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi sedikit lebih hangat.
"Kamu duduk dulu di sofa, Nay. Tenangkan pikiranmu," ujar Vanya seraya merapikan rambut Nayla yang sedikit berantakan terkena angin malam. "Aku buatkan sesuatu di dapur, ya. Kamu pasti belum makan malam, kan?"
Nayla hanya mengangguk pelan. Rasa lelah yang luar biasa mendadak merayapi seluruh tubuhnya begitu ketegangan kabur dari rumah mulai mengendur.
Dua puluh menit kemudian, aroma rempah gurih, kencur yang menyengat, dan asap wangi yang menggugah selera memenuhi ruang tengah. Vanya melangkah keluar dari dapur membawakan sebuah mangkuk keramik berukuran sedang yang masih berasap tebal, diikuti Vania yang membawa mangkuk kecil dan sendok, beserta air minum pakai botol warna biru.
Vanya meletakkan mangkuk itu di atas meja kayu di depan Nayla. Di dalam kuah berwarna merah keemasan yang berkaldu pekat itu, terendam beberapa potong adonan tepung putih garing berdaging kenyal, ditaburi irisan daun bawang dan kerupuk oranye yang sedikit layu.
"Ini... makanan apa, Vanya?" tanya Nayla bingung, menatap hidangan itu dengan kening berkerut. Sepanjang hidupnya di Istana Alveric, menu makanan selalu berkisar antara daging steak, truffle soup, atau olahan seafood impor yang disajikan dengan tata cara fine dining.
Vanya tertawa geli melihat ekspresi bingung sahabatnya yang bagaikan melihat benda asing. "Ini namanya Cireng Kuah Seblak, Nay. Makanan rakyat jelata versi super enak! Kebetulan tadi siang aku dan Vania baru bikin adonan cirengnya, terus kuahnya aku racik pakai bumbu kencur sama cabai."
Nayla menerima sendok yang disodorkan Vania. Dengan agak ragu, ia mencicipi sedikit kuah merah tersebut. Begitu cairan hangat itu menyentuh lidahnya, rasa gurih, pedas yang pas, serta aroma rempah lokal yang kuat meledak di dalam mulutnya. Ia lalu menggigit potongan cirengnya dengan rasa renyah di luar dan kenyal di dalam berpadu sempurna dengan kuah yang meresap.
Mata Nayla melebar seketika. "Astaga... ini enak sekali, Vanya! Aku tidak pernah makan yang seperti ini di rumah."
Vanya dan Vania terkekeh melihat reasi polos putri tunggal klan Alveric tersebut.
"Beneran, Kak? Di rumah Kak Nayla nggak pernah ada cireng?" tanya Vania heran sambil menyandarkan dagunya di meja.
Nayla menggeleng pelan, melanjutkan gigitan keduanya dengan rasa puas yang luar biasa. "Di rumahku, jangankan cireng kuah seblak, gorengan biasa saja tidak pernah masuk ke meja makan. Makanan selalu diatur sama ahli gizi dan juru masak istimewa. Rasa makanan di rumahku selalu terasa... kaku."
"Nah, makanya menikmati hidup itu tidak harus selalu mewah, Nay," sahut Vanya tersenyum tulus, menyandarkan punggungnya di sofa. "Di rumah ini, kamu bebas mau makan apa saja, mau duduk melipat kaki juga tidak ada yang melarang."
Nayla mengunyah makanannya dalam diam. Di tengah kesederhanaan rumah Vanya, kehangatan yang dipancarkan dua bersaudara itu, dan semangkuk cireng kuah seblak hangat di depannya, Nayla merasakan kedamaian nyata yang tak pernah bisa dibeli oleh seluruh kekayaan klan Alveric.
Namun, jauh di balik rasa tenang itu, Nayla tahu... di luar sana, hilangnya sinyal pelacak dirinya pasti sudah memicu badai besar di kediaman Alveric dan Mahendra.
Malam makin larut, tetapi ketenangan di rumah sederhana milik Vanya berbanding terbalik dengan kekacauan yang mendadak meletup di lantai teratas Alveric Tower dan kediaman Mahendra.
Hilangnya sinyal pelacak pada gawai pribadi Nayla memicu peringatan merah di ruang kontrol keamanan Alveric. Dalam waktu kurang dari setengah jam, layar monitor yang memantau pergerakan putri klan Alveric itu hanya menampilkan garis putus-putus. Alexander Lauren Alveric yang mendapati laporan tersebut langsung memerintahkan tim pengawal pribadi dan dua putra tertuanya untuk melacak setiap sudut kota, sementara rumor hilangnya Nayla menyebar dengan cepat melalui saluran komunikasi privat antar-klan.
Di kediaman Mahendra, Zavier yang sedang berada di kamarnya mendadak menegakkan posisi duduknya saat ponsel khususnya bergetar pendek. Sebuah pesan singkat dari kontak tak dikenal masuk ke sebuah pemberitahuan terselubung mengenai terputusnya pelacak Nayla. Tanpa membuang waktu dan tanpa mempedulikan aturan Papi Kael yang melarang anak-anaknya keluar lewat tengah malam, Zavier meraih jaket hitamnya, menyambar kunci motor, dan menerobos pintu samping garasi.
Ia tahu persis ke mana harus mencari. Nayla tidak punya banyak tempat berlindung, dan satu-satunya orang yang paling dipercayai gadis itu di luar lingkaran klan adalah Vanya.
Suara raungan mesin motor berkapasitas besar yang berhenti mendadak di depan pagar rumah Vanya memecah keheningan gang yang sepi. Vanya yang sedang merapikan mangkuk di meja tamu langsung berdiri sigap, mengintip dari balik tirai jendela.
"Nay..." bisik Vanya dengan wajah pucat, menoleh ke arah Nayla yang masih duduk di sofa. "Ada motor gede berhenti di depan. Kayaknya... itu Zavier."
Nayla tersentak. Rasa kaget berbaur dengan kepanikan yang mendadak melingkupi dadanya. Ia berdiri pelan, melangkah mendekati pintu saat ketukan halus namun teratur terdengar dari luar pagar besi.
Vanya berjalan pelan untuk membuka pintu depan dan menggeser pagar. Di bawah pendar temaram lampu jalan, Zavier berdiri tegap. Jaket kulit hitamnya sedikit basah oleh embun malam, dan helmnya sudah terlepas, memperlihatkan raut wajah yang amat cemas dengan napas yang memburu halus.
"Zavier?" bisik Vanya terperanjat. "Kamu kok bisa tahu Nayla ada di sini?"
Zavier tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapan matanya yang tajam langsung melewati bahu Vanya, mengunci sosok Nayla yang berdiri ragu di ambang pintu rumah. Langkah kaki Zavier bergerak cepat melintasi pelataran kecil, memasuki ruang tamu tanpa ragu hingga ia berdiri tepat satu meter di hadapan Nayla.
Untuk beberapa detik, Zavier hanya menatap gadis di hadapannya dari atas ke bawah, memastikan dengan matanya sendiri bahwa Nayla berada dalam kondisi aman tanpa luka sedikit pun.
"Kamu gila, Nayla?" suara Zavier mengalun rendah, serak, dan dipenuhi gemuruh emosi yang ditahannya mati-matian. "Kamu melepas semua pelacak dan kabur sendirian malam-malam begini?"
Nayla menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang kembali berkaca-kaca. "Aku capek, Zav. Aku cuma butuh bernapas..."
Melihat bahu gadis itu bergetar halus, seluruh emosi dan rasa panik yang sempat membakar benak Zavier meluap seketika, berganti menjadi rasa iba yang teramat dalam. Tanpa peduli pada keberadaan Vanya dan adiknya yang memperhatikan dari sudut ruangan, Zavier melangkah maju dan menarik tubuh Nayla ke dalam pelukannya.
Zavier mendekap Nayla erat, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya. Bau aroma kayu segar dari jaket Zavier dan hangat tubuh pria itu seketika meruntuhkan sisa-sisa ketakutan Nayla. Gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Zavier, terisak pelan di balik dada bidangnya.
"Aku takut, Zav..." bisik Nayla lirih di balik pelukan Zavier. "Di rumah... semuanya cuma soal angka, saham, dan dokumen. Aku rasanya bukan manusia lagi di sana."
Zavier mengusap rambut cokelat keemasan Nayla dengan jemarinya yang hangat, meletakkan dagunya di atas kepala gadis itu. "Aku tahu, Nay. Aku tahu betapa sesaknya berada di posisi itu."
Vanya melirik adiknya, Vania, lalu memberikan isyarat pelan agar adiknya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, memberikan ruang privat bagi dua orang yang sedang dilanda badai tersebut.
Setelah beberapa saat, Zavier mengendurkan pelukannya pelan, memegang kedua bahu Nayla dan menatap lurus ke dalam manik mata jernih gadis itu.
"Alexander dan tim keamanan Alveric sudah menyebar ke seluruh wilayah selatan," kata Zavier dengan nada tegas namun lembut. "Sinyalmu yang mati membuat mereka mengerahkan seluruh pengawal. Kalau kamu bertahan di sini sampai pagi, rumah Vanya bisa terseret masalah besar, Nay."
Nayla membelalakkan matanya, menyadari dampak bahaya yang bisa menimpa sahabatnya. "Lalu... aku harus bagaimana? Aku tidak mau pulang malam ini, Zav. Aku belum siap menghadapi Ayah."
Zavier menatap Nayla intens, jemarinya mengusap sisa air mata di pipi gadis itu. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyeretmu pulang malam ini secara paksa."
"Tapi Zav," sela Vanya cemas dari balik meja, "kalau pengawal Alveric menemukan kalian berdua di luar, situasinya bisa makin parah! Apalagi kalau sampai Papi Kael tahu kamu membantu Nayla kabur."
Zavier memutar tubuhnya sedikit, menatap Vanya dengan nada penuh kepastian. "Pengawal Alveric mencari Nayla berdasarkan titik lokasi terakhir dan rute taksi. Mereka tidak akan menduga kalau Nayla bersamaku."
Zavier kembali menatap Nayla, mengulurkan tangannya yang kokoh ke hadapan gadis itu.
"Ikut aku, Nayla," ujar Zavier mantap. "Aku punya tempat aman yang tidak diketahui oleh Alveric ataupun Mahendra. Malam ini... biarkan aku yang menjagamu."
Nayla menatap telapak tangan Zavier yang terulur di hadapannya. Tidak ada keraguan sedikit pun di mata pria Mahendra itu. Di tengah bayang-bayang kejaran dua klan raksasa yang siap mengepung mereka, Nayla menyambut uluran tangan itu, menyelipkan jemarinya ke dalam genggaman erat Zavier yang siap membawanya menembus kegelapan malam.
kekny zavier ini tipe aku 🤭