Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 WARISAN API
Debu menutupi segalanya.
Rasanya seperti berada di dalam kuburan raksasa. Suara gemuruh runtuhnya Menara Von Ignis masih menggema di telingaku, bercampur dengan detak jantungku sendiri yang berisik.
_Ayah..._
Kata itu terngiang. Terlalu sakit untuk diucapkan keras-keras.
Tanganku masih mengepal. 10 fragmen Catatan Von Ignis menyatu di genggamanku, hangat. Hangatnya bukan seperti api biasa. Hangatnya seperti pelukan. Seperti tangan Ayah yang terakhir kali menyentuh wajahku sebelum memudar jadi cahaya biru.
"KAEL!"
Suara Luna memecah keheningan. Parau. Panik.
Aku membuka mata. Penglihatanku kabur karena debu dan air mata.
Luna ada di depanku, masih terikat dengan rantai sihir Garret yang sekarang sudah retak. Di sebelahnya Grom, tubuhnya tertutup luka dan batu, tapi dia tetap berdiri, menggeram pelan seperti anjing penjaga yang menolak mati sebelum tuannya selamat.
Dan di atas kami...
_BRAAAK!!!_
Sebongkah langit-langit sebesar rumah runtuh.
Waktu melambat.
Aku melihatnya jatuh. Melihat bayangan maut itu menutup cahaya terakhir dari celah atap yang hancur. Melihat Luna memejamkan mata dan Grom bersiap menerjang untuk menahan.
Tapi aku lebih cepat.
Bukan karena MPA. MPA ku masih 0. Nol besar. Kosong.
Tapi karena dada ku... anget.
"*[BLUE FLAME: AEGIS]*"
Aku tidak berteriak. Aku berbisik.
Dan api biru menjawab.
_TUUUSSS_
Dari dadaku, dari telapak tanganku, dari setiap pori-pori kulitku, api biru meledak keluar. Bukan ledakan yang menghancurkan. Ledakan yang melindungi.
Perisai setengah bola raksasa terbentuk, menahan reruntuhan. Batu-batu yang menghantam Aegis hancur jadi pasir. Lava yang menyembur dari lantai bawah menguap sebelum menyentuh kami.
Luna membuka mata. "K-Kael..."
Aku menoleh padanya. Wajahku pasti mengerikan. Penuh darah dari cakaran Garret tadi. Tapi aku tersenyum.
"Aku di sini," kataku.
Grom menggeram lega. "Tuan Muda... kekuatan Anda..."
Aku menggeleng. "Bukan aku."
Aku menatap 10 fragmen di tanganku. Mereka bergetar. Saling tertarik. Cahaya biru dari fragmen pertama sampai kesepuluh saling terhubung, membentuk urat-urat cahaya seperti pembuluh darah.
[DING!]
[CATATAN VON IGNIS - LENGKAP 10/10]
[SINKRONISASI DIMULAI... 10%... 30%...]
Rasa sakit.
Tapi bukan sakit fisik. Ini sakit di kepala. Di jiwa.
Ribuan memori menghantamku sekaligus. Bukan memori ku. Memori Ayah.
Aku melihatnya.
Ayah umur 15 tahun, latihan [BLUE FLAME: AEGIS] di tengah badai salju. Tangannya membeku tapi dia tetap bertahan karena gurunya bilang "Api melindungi".
Aku melihat Ayah umur 20 tahun, ditusuk dari belakang oleh Garret. Mata Garret merah menyala. Ayah jatuh ke jurang, tapi masih sempat melempar aku... bayi aku... ke pelukan pelayan.
Aku melihat Ayah 20 tahun di penjara bawah tanah. Gelap. Dingin. Tiap malam dia duduk bersila, memanggil api kecil di telapak tangannya, dan berbisik: "Kael... Kael anak Ayah..."
Aku melihat Ayah pertama kali menggendongku. Dia nangis. Dia bilang "Maaf Ayah telat."
Air mataku jatuh. Menetes ke fragmen.
[DING!]
[SINKRONISASI 100% SELESAI]
[MENERIMA: [BLUE FLAME: LEGACY]]
[PERINGATAN: PENGGUNA MENOLAK MENGGUNAKAN MPA. MENGGUNAKAN "HEART"]
"Heart?" bisikku.
Sebuah suara menjawab. Suara Ayah. Tapi bukan dari luar. Dari dalam kepalaku.
_Benar Kael. Api keluarga kita tidak lahir dari MPA. MPA bisa habis. Tapi hati... hati tidak akan pernah habis selama kau punya orang yang ingin kau lindungi._
Aku menggenggam dada ku. Hangatnya makin kuat.
"Jadi selama ini..."
Aku menatap Luna. Dia ketakutan tapi tetap menatapku.
Aku menatap Grom. Dia siap mati untukku.
Aku menatap ke atas, ke tempat Ayah terakhir tersenyum.
"Selama ini kekuatanku bukan karena aku kuat. Tapi karena mereka."
Lantai bergetar hebat.
[DING!]
[PERINGATAN: MENARA AKAN RUNTUH TOTAL DALAM 05:00]
[EVAKUASI SEGERA]
"Kael kita harus pergi!" teriak Luna. Grom sudah menggigit rantainya dan menarik, mematahkannya.
Aku berdiri. Luka di wajahku tertutup oleh cahaya biru. Tulang yang retak terasa menyambung sendiri.
Aku menoleh ke belakang. Ke altar. Ke tempat Garret tergeletak, kini tinggal abu dan kalung mata merah yang pecah.
"Ini belum selesai," kataku.
Aku berjalan ke mayatnya. Mengangkat tanganku.
"[BLUE FLAME: PURIFY]"
Api biru membakar habis sisa-sisa sihir hitam. Biar tidak ada yang bisa membangkitkan Garret lagi. Biar dendam 20 tahun ini benar-benar selesai.
[DING!]
[KORUPSI MENARA: 0%]
[ENERGI NEGATIF TERBERSIHKAN]
Tapi kemenangan itu terasa kosong.
Karena orang yang paling ingin kulihat tersenyum... sudah tidak ada.
"KAEL CEPAT!"
Grom menggendong Luna dan berlari ke arah tangga. Tangga sudah hancur. Hanya tersisa lubang besar mengarah ke atas.
200 lantai.
Biasanya butuh sihir terbang. Butuh MPA ribuan.
Aku menutup mata. Menarik napas. Mengingat setiap kata Ayah.
_Api untuk melindungi. Bukan untuk menyerang. Api untuk membawa pulang keluargamu._
Aku membuka mata. Cahaya biru menyala dari punggungku.
"[BLUE FLAME: ASCEND]"
_WUUUSSS_
Aku melesat. Menembus debu. Menembus batu.
Setiap kali ada reruntuhan jatuh, aku hantam dengan tinju berlapis api biru.
Setiap kali ada lava, aku beku kan dengan Aegis.
Lantai 50... 100... 150...
"Turunkan kami!" teriakku ke Grom. Dia melempar Luna ke punggungku. Aku menangkapnya dengan satu tangan, tetap terbang dengan tangan satunya.
"Kau gila Kael!" teriak Luna sambil memelukku erat.
"Mungkin," jawabku. "Tapi aku gak akan kehilangan siapa-siapa lagi."
Lantai 1. Pintu Keluar.
Di depan kami, gerbang besar Menara sudah retak. Di luar sana... langit malam. Salju. Kebebasan.
Di belakang kami...
_BOOOOOOOOOM_
Gelombang kejut runtuhnya Menara menyapu kami.
Aku berbalik. Menghadap ke gelombang itu. Membentangkan kedua tangan.
"[BLUE FLAME: AEGIS: FINAL]"
Perisai raksasa. Sepuluh kali lebih besar dari sebelumnya.
Kami bertiga terdorong keluar dari gerbang tepat sedetik sebelum Menara Von Ignis... lenyap.
Tertelan api biru dan debu.
Sunyi.
Hanya suara napas kami. Dan suara salju yang jatuh.
Angin malam menusuk tulang. Salju turun pelan, menutupi abu Menara Von Ignis yang tadi megah sekarang jadi kuburan.
Kami bertiga terkapar di tanah. Selamat.
Luna masih memelukku. Gemetar. "Kael... Kael kau hidup... syukur Tuhan..."
Aku tidak menjawab. Mataku menatap kosong ke langit.
Ke tempat terakhir aku melihat Ayah tersenyum.
"Tuan Muda," suara Grom parau. Dia berlutut, kepalanya menunduk. "Anda berhasil. Anda membawa kami pulang."
Aku menoleh. "Berhenti panggil aku Tuan Muda."
Grom terkejut. "Tapi..."
"Aku bukan kepala keluarga," kataku pelan. "Aku... pelindung. Panggil aku Kael saja."
Grom diam. Lalu dia mengangguk pelan. Air mata menetes dari mata serigala itu. "Baik... Kael."
Aku membuka tanganku. 10 fragmen yang tadi menyatu kini berubah.
Bukan lagi pecahan batu. Tapi sebuah buku. Tebal. Sampulnya biru tua, dengan lambang api di tengahnya yang menyala pelan.
[CATATAN VON IGNIS]
Di atas buku itu, ada cahaya kecil. Hangat.
Jari ku gemetar saat membuka halaman pertama.
Tulisan tangan Ayah. Berantakan. Seperti ditulis buru-buru.
"Untuk Kael, anakku.
Kalau kau membaca ini, berarti Ayah sudah tidak ada.
Maaf Ayah telat. Maaf Ayah lemah. Maaf Ayah tidak bisa melindungimu dari awal.
20 tahun di penjara, tiap malam Ayah hanya punya 2 hal: Rasa rindu dan Api ini.
Garret bilang api ini untuk menaklukkan. Dia salah.
Dengar ya Kael... [BLUE FLAME] itu bukan senjata.
Dia adalah janji. Janji bahwa selama masih ada orang lemah yang butuh dilindungi, keluarga Von Ignis tidak akan pernah padam.
Kau mungkin merasa MPA mu 0. Kau mungkin merasa tidak berguna.
Tapi ingat: Api paling besar tidak lahir dari mana. Dia lahir dari hati yang tidak mau menyerah.
Gunakan api ini untuk melindungi. Untuk membangun. Untuk memaafkan.
Dan satu lagi... Carilah mereka. Keluarga kita terpencar. Ada 3 paman dan 1 bibi mu di luar sana. Mereka dibuang Garret. Temukan mereka. Bangun kembali rumah kita.
Ayah bangga padamu. Sangat bangga.
-Ayah"
Tinta di akhir surat luntur. Karena air mata.
"AHHH!!!"
Aku tidak tahan. Aku berteriak. Bukan karena marah. Karena sakit.
Aku memukul tanah. Salju mencair karena panas dari tanganku.
"Ayah!!! Kenapa!!! Kenapa harus kau!!!"
Luna langsung memelukku dari belakang. "Kael... menangis lah... tidak apa-apa..."
Aku menangis. Seperti anak kecil. 20 tahun menahan. 20 tahun berlatih sendirian. Dan di saat akhirnya bertemu... harus berpisah lagi.
Grom mendekat. Dia meletakkan kepalanya besarnya di pangkuanku. "Dia pergi sebagai pahlawan, Kael. Tidak ada kematian yang lebih mulia dari itu."
Aku mengusap kepala Grom. "Terima kasih... sudah jagain Ayah selama ini ya..."
[DING!]
[MEMPROSES KEHILANGAN...]
[LEVEL UP! KAEL LV.10 -> LV.12]
[STAT: STR +10, DEF +15, WILL +50]
[KEKUATAN BARU TERBUKA: [BLUE FLAME: HEART]]
[BLUE FLAME: HEART]
Deskripsi: Mengubah "Tekad untuk Melindungi" menjadi kekuatan. Tidak membutuhkan MPA. Semakin banyak orang yang ingin kau lindungi, semakin kuat apimu.
Aku tertawa di sela tangis. "Jadi gitu..."
Aku berdiri. Tubuhku masih sakit. Tapi hatiku... entah kenapa tenang.
Karena aku tidak sendirian lagi.
"Ayo," kataku. "Kita pergi dari sini."
"Kemana?" tanya Luna.
Aku menatap buku di tanganku. Di halaman kedua, ada peta. 4 titik cahaya tersebar di penjuru dunia.
"Ke keluarga," jawabku. "Ayah nyuruh kita bangun rumah lagi."
Grom mengangguk. "Ke arah mana dulu?"
Aku menunjuk ke titik paling dekat. Di pegunungan sebelah timur.
"Ke Paman. Titik pertama."
Kami mulai berjalan. Meninggalkan Menara yang runtuh.
Tapi sebelum pergi jauh, aku berhenti. Menoleh sekali lagi.
"Selamat jalan Ayah," bisikku. "Aku janji. Aku akan jadi perisai untuk semua orang."
Aku angkat tangan.
"[BLUE FLAME: MEMORIAL]"
Dari abu Menara, pilar api biru menjulang ke langit. Tidak panas. Tidak merusak.
Hanya sebuah tugu. Agar dunia ingat. Di sini pernah berdiri keluarga yang gugur melindungi.
Luna menggenggam tanganku. "Kael..."
Aku balas genggamannya. "Hm?"
"Terima kasih... sudah tidak menyerah."
Aku tersenyum. Pertama kalinya setelah sekian lama. Senyum beneran.
"Kita belum selesai, Luna. Ini baru awal."
Di kejauhan, 3 bulan setelah kejadian ini, kabar akan menyebar.
"Menara Von Ignis runtuh. Pewarisnya hidup. Dia punya 10 fragmen."
"Anak itu membawa [BLUE FLAME] yang asli."
"Cari dia. Hidup atau mati."
Tapi untuk sekarang...
Kami hanya 3 orang. Berjalan di salju. Dengan api kecil di dada.
Dan itu cukup.
[DING!]
[MISI BARU: MENEMUKAN KELUARGA YANG TERPENCAR 0/4]
[MISI BARU: MEMBANGUN KEMBALI RUMAH VON IGNIS]
Angin bertiup. Membawa abu... dan harapan.
GASSS FINAL BANG 😭🔥
*20 TAHUN YANG LALU - FLASHBACK*
Hujan darah.
Itu yang pertama kali dilihat Kael bayi di memori fragmen.
Ruang singgasana Menara Von Ignis. Dulu megah. Sekarang berantakan.
"BERHENTI GARRET!" teriak seorang pria. Rambutnya sama seperti Kael. Mata birunya sama. Itu Ayah.
Di depannya, Garret. Masih muda. Jubah profesor. Tapi matanya... merah. Kalung [RED EYE] di lehernya berdenyut.
"Kau terlalu lemah, Tuan Von Ignis," kata Garret sambil tertawa. "Api biru untuk melindungi? Omong kosong! Dengan ini aku bisa menaklukkan 10 kerajaan!"
"Api bukan untuk itu!" Ayah menahan dadanya yang tertusuk. "Kau lupa ajaran Guru Besar!"
"Aku ingat!" Garret meraung. "Dia bilang aku murid terbaik! Tapi kenapa dia pilih kau jadi pewaris?!"
_BUK_
Garret menusuk lagi. Kali ini ke perut.
Ayah jatuh berlutut. Dari balik pilar, seorang pelayan perempuan menggendong bayi Kael, gemetar.
"Larilah," bisik Ayah. "Bawa Kael... sejauh mungkin..."
Garret menoleh. "Oh? Ada tikus."
"JANGAN!" Ayah mengumpulkan sisa tenaganya. "[BLUE FLAME: AEGIS]"
Perisai biru menutup pelayan dan bayi Kael. Mendorong mereka keluar jendela, ke jurang salju.
"20 TAHUN!" teriak Garret. "Aku akan cari kau 20 tahun, anak kecil! Dan aku akan habisi garis keturunan Von Ignis!"
Ayah tersenyum dengan darah di mulut. "Kau tidak akan pernah bisa... karena api kami... tidak akan pernah padam..."
Dan dia jatuh ke dalam penjara bawah tanah yang Garret siapkan.
_KEMBALI KE SEKARANG_
Aku terengah. Kepalaku sakit karena melihat semua itu.
"Jadi... selama 20 tahun Ayah nunggu di penjara..." bisikku.
"Untuk hari ini," jawab Grom pelan. "Untuk melihatmu berdiri."
Aku mengepalkan tangan. Buku [CATATAN VON IGNIS] makin hangat.
"Kita jalan," kataku. "Sekarang."
Kami berjalan 3 hari 3 malam di pegunungan. Tidak makan. Tidak tidur.
Tapi aku tidak capek. Karena [BLUE FLAME: HEART] menghangatkan kami.
Hari keempat.
Sebuah desa kecil. Terbakar.
"TOOOOLOOONG!"
Raungan monster. 10 ekor [ICE WOLF] menyerang desa. Penduduk lari ketakutan.
Luna langsung mau maju. "Kael!"
Aku menahan tangannya. "Tunggu."
Aku menutup mata. Merasakan.
Di desa itu ada 30 orang. Anak kecil. Orang tua. Petani.
Takut. Dingin. Putus asa.
Dan di dadaku... hangat.
"[BLUE FLAME: HEART]"
_BUM_
Api biru tidak keluar dari tanganku. Dia keluar dari dadaku. Menyebar.
Menutupi seluruh desa seperti kubah.
Para [ICE WOLF] berhenti. Mereka menggeram, tapi tidak bisa masuk. Setiap kali menyentuh kubah, mereka terbakar dan lari.
Aku berjalan ke tengah desa. Penduduk menatapku seperti melihat dewa.
"Siapa... siapa kau?" tanya kepala desa gemetar.
Aku melepas tudung kepalaku. Memperlihatkan bekas luka di wajah.
"Aku Kael Von Ignis," kataku. "Aku di sini untuk melindungi."
Dan untuk pertama kalinya, nama "Von Ignis" tidak membuat orang lari.
Mereka malah berlutut.
"Terima kasih... Tuan..."
Aku menggeleng. "Jangan panggil aku Tuan. Panggil aku... tetangga."
Malam itu kami bermalam di desa. Mereka memberi kami makan. Selimut.
Luna duduk di sampingku di depan api unggun. "Kael... Ayahmu pasti bangga."
Aku menatap langit. Bintang banyak sekali.
"Ayah..." bisikku.
Angin bertiup. Dan entah kenapa, aku merasa dijawab.
_Bagus, anakku._
Aku tersenyum. Air mata jatuh, tapi kali ini bukan sakit. Lega.
"Aku ketemu orang, Ayah. Banyak. Dan aku akan lindungi mereka semua."
Grom tidur di sebelah, mendengkur pelan.
[DING!]
[MISI: MENEMUKAN KELUARGA YANG TERPENCAR 0/4]
[REPUTASI: "PEWARIS API BIRU" TELAH MENYEBAR]
[PERINGATAN: 3 KERAJAAN MENGIRIM PEMBURU]
Aku menutup buku. Menggenggamnya di dada.
Perjalanan masih panjang. Musuh masih banyak.
Keluarga masih harus dicari. Rumah masih harus dibangun.
Tapi aku tidak takut lagi.
Karena di dadaku ada api yang tidak akan pernah padam.
Api dari Ayah.
Api untuk melindungi.
Aku menatap ke atas sekali lagi.
"Terima kasih, Ayah. Untuk warisannya."
Dan bintang paling terang di langit... berkedip sekali. Seolah menjawab.