NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Sudah Bukan Seperti Dulu

"Batuk nenekmu masih belum reda, Nduk. Napasnya masih berbunyi tiap udara malam mulai dingin." Siti berbisik pelan di sudut ruang depan sambil mengusap dada Nenek Warni yang bersandar lemah di dinding anyaman bambu.

Seroja berdiri di ambang pintu dapur, memandang neneknya tanpa berkedip. Meski sudah selamat dari racun serbuk jati, paru-paru Nenek Warni belum benar-benar pulih. Setiap malam ia masih kesulitan bernapas. Obat sirup dari mantri puskesmas kecamatan sudah habis, tetapi tidak banyak membantu meredakan sesaknya.

Perlahan Seroja merogoh saku kebaya luriknya. Jemarinya menggenggam uang muka lima ratus rupiah dari pesanan tomat Pak Subroto. Jumlah itu cukup untuk menghidupi satu keluarga selama berminggu-minggu. Namun, ia tidak ragu sedikit pun. Baginya, kesehatan Nenek Warni jauh lebih berharga daripada uang itu. Ia memutuskan memakai semuanya untuk mencari pengobatan terbaik yang bisa didapatkan.

Seroja berbalik lalu masuk kembali ke dapur yang gelap. Setelah memastikan ibunya tidak bisa melihat atau mendengarnya, ia memusatkan pikirannya pada alat kerja rahasianya.

Layar transparan biru muda langsung muncul di depan matanya.

**LADANGKU, Level 2**

XP: 150/300

Coin: 350

Seroja membuka fitur **Kotak Pengiriman**. Pusaran cahaya redup muncul melayang di atas tungku yang sudah padam. Ia melipat uang lima ratus rupiah itu, lalu memasukkannya ke dalam pusaran.

Sesaat kemudian sistem memprosesnya. Sebagian kecil nilai uang itu berubah menjadi koin penukaran, sementara sisanya kembali ke tangan Seroja dalam bentuk uang kertas dan koin logam dengan nilai yang tetap sama.

Sebuah notifikasi muncul sesaat. Saldo koin Seroja langsung bertambah hingga cukup untuk membeli yang ia butuhkan.

Ia membuka menu **Toko** lalu menelusuri kategori apotek herbal. Tak lama, matanya berhenti pada ikon sebuah botol kecil.

**Ramuan Herbal Penenang Paru-paru | Harga: 500 Coin**

**Deskripsi:** Ramuan pekat untuk meregenerasi jaringan pernapasan yang rusak dan meluruhkan sisa endapan racun.

Seroja langsung menekan tombol beli. Udara di sekitarnya berdesir pelan. Ketika membuka telapak tangan kirinya, sebuah botol kaca kecil sebesar ibu jari sudah berada di sana. Cairan hijau bening di dalamnya menguarkan aroma mint yang segar bercampur manis madu. Ramuan pekat itu cukup dicampurkan ke dalam minuman hangat tanpa mengubah rasanya.

Tanpa membuang waktu, Seroja meniup bara yang hampir padam lalu menambahkan beberapa ranting kering. Setelah api kembali menyala, ia merebus air hingga mendidih. Dari rak bambu, ia mengambil sejumput teh melati kering, minuman kesukaan Nenek Warni. Teh itu diseduh ke dalam cangkir seng yang sudah kusam. Tak lama kemudian, aroma melati yang harum memenuhi dapur dan perlahan mengalahkan bau jelaga kayu bakar.

Seroja membuka sumbat botol itu, lalu menuangkan seluruh cairannya ke dalam teh. Ramuan hijau bening itu langsung larut tanpa mengubah warna maupun rasa teh melati.

Ia membawa cangkir yang masih mengepul ke ruang depan. Cahaya lampu teplok yang redup memantulkan bayangan mereka di dinding anyaman bambu.

"Minum teh hangat ini dulu, Nek," ujar Seroja lembut sambil duduk bersimpuh. Ia menyodorkan cangkir seng ke tangan neneknya. "Ini teh melati kesukaan Nenek. Semoga bisa bikin tenggorokan dan napas Nenek lebih lega."

Nenek Warni tersenyum tipis. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menerima cangkir itu lalu meminumnya perlahan. Kehangatan teh mengalir turun ke kerongkongannya. Ia memejamkan mata, menikmati rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.

Dari dekat pintu, Siti memperhatikan semuanya dalam diam. Wajahnya dipenuhi rasa cemas. Begitu Nenek Warni menghabiskan teh dan menyandarkan tubuhnya untuk beristirahat, Siti menyentuh bahu Seroja lalu mengajaknya ke sudut ruang tamu yang lebih sepi.

"Ada apa, Bu?" tanya Seroja pelan.

Siti menatap putrinya lekat-lekat. "Kamu berubah sekali, Nduk. Ibu memperhatikan semua sikapmu sejak kita diusir dari rumah utama naik dokar Carik."

Siti meremas ujung selendangnya kuat-kuat. "Seroja yang Ibu besarkan itu anaknya penakut. Setiap Hardiman membentak, kamu langsung menangis. Kalau Paman Supri datang memeras warga, kamu selalu bersembunyi di belakang Ibu. Tapi sekarang... tatapanmu berubah. Kamu jadi berani."

Siti menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Kamu berani melawan aparat desa, menjebak preman pasar, pandai berunding dengan saudagar kota, bahkan mengatur Mas Danu seperti seorang pemimpin. Kamu juga tahu ada racun di atap gubuk ini, padahal Mas Danu dan Pakdemu saja tidak sadar. Ibu takut, Nduk. Jangan-jangan ada roh dari Hutan Jati yang merasuki kamu. Cara bicara dan sikapmu sudah bukan seperti dulu."

Ucapan itu membuat Kainara terdiam. Ibunya memang tidak salah. Pengalaman hidup sebagai manajer perusahaan masih terlalu kuat memengaruhi cara berpikir dan bertindaknya. Tapi ia juga tak mungkin menjelaskan tentang reinkarnasi dan sistem yang hanya ada di kepalanya. Ia harus memberi jawaban yang bisa diterima ibunya.

Seroja melangkah mendekat lalu memeluk Siti erat.

"Seroja tidak kerasukan apa pun, Bu," bisiknya pelan. "Yang mengubah Seroja adalah semua yang sudah kita alami."

Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap mata ibunya.

"Waktu kita diusir dari rumah dan Ibu menangis tanpa bisa melawan, Seroja sadar. Kalau Seroja terus jadi anak yang penakut, kita bertiga akan mati kelaparan di sini."

Mata Seroja mulai berkaca-kaca.

"Sejak saat itu Seroja memaksa diri untuk berpikir. Seroja belajar membaca niat jahat Supri, mencari cara menjual tomat, dan mengingat lagi semua ilmu pengobatan dari buku-buku peninggalan Kakek Hadi. Bukan karena Seroja berubah jadi orang lain, Bu. Seroja cuma tidak ingin melihat Ibu dan Nenek menderita lagi."

Air mata Siti akhirnya jatuh. Semua ketakutan yang sejak tadi menghantuinya perlahan menghilang. Ia memeluk putrinya erat sambil menangis di bahunya.

"Maafkan Ibu, Nduk. Ibu yang gagal melindungimu. Di usia semuda ini, kamu malah harus memikirkan cara mengisi dapur kita." Suara Siti pecah di sela tangisnya.

Seroja menggeleng pelan sambil membelai punggung ibunya.

"Ibu tidak pernah gagal membesarkan Seroja. Justru karena kasih sayang Ibu dan Nenek, Seroja masih punya alasan untuk tetap kuat sampai hari ini."

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!