Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Jebakan di Sarang Macan
Langkah Nala terhenti tepat di depan meja resepsionis lantai paling atas. Di sana, seorang wanita dengan pakaian kerja ketat dan riasan tebal menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
Dia adalah viona, sekretaris senior PT Dirgantara megah utama yang sudah lama menaruh hati pada Adrian.
"kamu Nala Putri? Gadis desa yang baru di terima kemarin melamar kerja sebagai staf administrasi, malah di terima jadi sebagai sekertaris pribadi pak Adrian. "hey jangan senang dulu...? Gadis desa.
Pak Adrian, menerima mu hanya ingin melihat seberapa jauh kemampuan mu!
Lagi pula kamu cuma lulusan SMA. Dengan nada sinis, viona berkata; ikut aku! Pak Adrian sudah menunggumu.
Nala hanya menganguk sopan dan mengikuti viona masuk ke ruangan CEO yang sangat luas.
Di balik meja kerjanya yang Megah, Adrian Dirgantara duduk dengan aura mengintimidasi. senyum Seringai meremehkan terukir di wajah tampannya. Adrian berpikir, hari ini dia akan melihat gadis desa ini menangis dan memohon ampun di bawah perintahnya.
"Nala Putri," suara Bariton Adrian menggema. mulai hari ini kamu adalah sekretaris pribadiku.
Tugas pertamamu adalah merapikan seluruh laporan keuangan dan berkas audit lima tahun terakhir. Masukkan datanya ke sistem baru, dan semuanya harus selesai sebelum jam makan siang!.
viona yang berdiri di samping Nala tersenyum puas. Tugas itu di luar Nalar.
Biasanya, butuh waktu satu minggu bagi tim akuntasi untuk menyelesaikannya. Adrian yakin Nala akan langsung menyerah dan menangis.
Namun Nala tidak selemah yang Adrian duga. Alih-alih gemetar, mata bulat Nala menatap Adrian dengan tegas. "Baik Pak. saya akan selesaikan tepat waktu."
Nala segera membawa tumpukan dokumen raksasa itu ke kubel kerjanya. Dengan otak cerdasnya yang terbiasa berpikir taktis di Universitas dulu. jari-jari lentik Nala menari dengan sangat cepat di atas keyboard komputer.
Saat jam istirahat hampir tiba, seorang staf pria dari divisi pemasaran bernama Kevin berjalan melewati kubikel Nala.
Kevin seketika menghentikan langkahnya. Di bawah sorot lampu kantor, Nala yang sedang fokus bekerja terlihat sangat memukau.
kulitnya yang putih bersih alami tanpa riasan tebal, dipadukan dengan rambut hitam yang diikat rapi, memancarkan pesona polos yang tidak pernah Kevin Temukan pada wanita kota manapun.
"Hai ...kamu karyawan baru ya? Aku Kevin." Sapa Kevin Ramah sambil menyodorkan sebotol minuman dingin kemeja Nala. kamu kelihatan lelah banget. Jangan lupa istirahat, ya.
Nala mendongak, lalu tersenyum manis yang membuat jantung Kevin berdegup kencang! "Ah, Terima kasih banyak, mas Kevin. Nama saya Nala."
Tanpa mereka sadari, dari balik kaca besar ruangannya, Adrian memperhatikan interaksi itu.
Ia Menyaksikan senyum tulus Nala yang diberikan kepada pria lain- bukan kepada dirinya, membuat dada Adrian mendadak bergemuruh panas. rasa cemburu yang egois tiba-tiba membakar hatinya.
"Gadis desa Itu milikku untuk ku tindas!" tidak ada satu orang pun di kantor ini yang boleh mendekatinya! Batin Adrian geram sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Tepat pukul dua belas siang, Nala mengetuk pintu ruangan Adrian dan menyerahkan sebuah Kilas flashdisk. Semua laporan lima tahun terakhir sudah selesai disinkronisasi ke sistem baru, pak. Silakan diperiksa?.
Adrian dan viona terbelalak tidak percaya saat memeriksa layar monitor. Semua data terinput sempurna tanpa ada kesalahan satu angka pun! Siasat pertama Adrian untuk menindas Nala gagal total karena kecerdasan gadis itu!.
Melihat Adrian yang terpaku menatap Nala dengan tetapan yang sulit diartikan, kecemburuan viona ikut membakar dadanya. 'Gadis udik ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus segera mendepaknya dari kantor ini sebelum dia menarik perhatian Pak Adrian lebih jauh; rencana busuk mulai berputar di kepala Viona.
Namun, kejutan di hari pertama Nala kerja belum berakhir?.
"Halo, Adrian...sayang. Aku kembali," ucap wanita itu.
Adrian seketika membeku wajahnya yang arogan berubah pucat lalu mengeras menahan amarah yang luar biasa.
Wanita itu adalah Marisa. mantan kekasih Adrian yang beberapa tahun lalu mencampakkannya dan berselingkuh demi pria yang lebih kaya, meninggalkan luka batin yang membuat Adrian menjadi pria dingin dan arogan seperti sekarang!.
Kehadiran Marissa yang tiba-tiba di kantor itu langsung mengubah atmosfer ruangan menjadi sangat mencekam.
Marisa melangkah dengan begitu Anggun, mengabaikan atmosfer dingin yang dipancarkan oleh mantan kekasihnya. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan penuh percaya diri. dengan senyum manis yang dibuat-buat, Marisa berjalan mendekati meja kebesaran Adrian, yang dulu ia campakan; pria di hadapannya ini kini telah bertransformasi menjadi seorang CEO sukses yang luar biasa kaya raya dan berkuasa.
Adrian, sayang...Aku tahu aku bersalah di masa lalu. Tapi Penyesalan selalu menghantuiku!
Aku kembali ke sini karena aku sadar, hanya Kamu pria yang benar-benar ada di dalam hatiku. bisik Marisa dengan nada suara manja yang mendayu-dayu, mencoba menyentuh lengan kekar Adrian.
Namun, sebelum jemari lentik Marisa yang dihiasi cat kuku merah menyala itu sempat menyentuh jasnya, Adrian langsung menepis tangan wanita itu dengan sangat kasar.
Sepasang mata elang Adrian menatap Marissa dengan sorot yang begitu dingin, tajam, dan sarat akan kebencian yang mendalam. rahangnya mengeras menahan amarah yang bergejolak.
"Jangan berani-berani mengotori setelan jasku dengan tanganmu. Marisa! Keluar dari ruangan kerjaku sekarang juga sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari gedung ini!" sentak Adrian dengan suara baritonya yang menggelegar, membuat seisi ruangan seolah bergetar.
Melihat penolakan yang begitu keras dan tanpa ampun dari Adrian, senyum palsu di wajah cantik Marisa seketika luntur.dia mendengus kesal, menghentakkan kakinya dengan garam, lalu berbalik arah untuk melangkah keluar dari ruangan CEO dengan perasaan dongkol yang luar biasa.
Di luar ruangan, tepat di koridor sepi dekat meja kerja sekretaris. viona yang sejak tadi sengaja menguping pembicaraan mereka langsung Menghadang langkah Marisa.
Viona tersenyum licik. Di dalam kepala sekretaris senior yang penuh kedengkian itu, kehadiran Marisa adalah sebuah peluang emas untuk mendepak Nala keluar dari perusahaan.
"Hai, Mbak Marisa, kan?saya viona, sekretaris senior di lantai ini. "sapa Viona dengan nada yang sangat ramah namun penuh kepura-puraan.
Saya tahu mba Marisa sangat ingin kembali mendapatkan hati pak Adrian. Tapi jujur saja, perjuangan mba sangat sulit karena sekarang ada seorang gadis desa udik bernama Nala yang sedang mencoba merayu Pak Adrian setiap hari. Kalau kita membiarkannya, jalang kecil itu bisa merebut posisi yang seharusnya menjadi milik mba.
Marisa menghentikan langkahnya, menoleh tajam ke arah viona dengan mata yang berkilat penuh amarah mendengarnya. "gadis desa?
Berani sekali wanita udik miskin seperti dia mengincar Adrian-ku!
Lalu, Apa rencanamu untuk menyingkirkannya?
viona mendekatkan wajahnya ke telinga Marisa, membisikan sebuah konspirasi yang sangat busuk. bagaimana kalau kita bekerja sama? Kita buat sebuah jebakan besar dalam proyek besok agar gadis desa itu melakukan kesalahan fatal dan dipecat secara tidak hormat oleh Pak Adrian. dengan begitu, Jalan mba Marisa untuk kembali ke pelukan Adrian akan terbuka lebar kembali.
Marisa menyeringai puas, menyetujui aliansi busuk itu tanpa keraguan sedikitpun demi Ambisi serakahnya.
Sementara itu, jam istirahat makan siang akhirnya tiba. Nala yang merasa sangat penat dan lelah setelah memeras otaknya demi menyelesaikan audit laporan keuangan lima tahun terakhir memilih untuk turun ke kafe yang terletak di lantai dasar kantor.
Dia hanya ingin mengisi perutnya yang mulai keroncongan dan menjernihkan pikirannya sejenak dari tekanan pekerjaan Adrian.
Namun, baru saja Nala menginjakkan kakinya di area kafe, seorang staf pria tampan dari divisi pemasaran bernama Kevin langsung Melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum yang hangat.
"Nala! Di sini! Aku sudah memesankan tempat duduk dan minuman dingin untukmu," Panggil Kevin dengan suara yang ramah dan bersahabat.
Nala tersenyum manis, merasa sedikit lega karena menemukan sosok yang ramah di kantor yang asing ini. Dia segera berjalan menghampiri meja Kevin dan duduk di hadapannya. Di kalangan karyawan Wanita PT Dirgantara megah utama, Kevin adalah salah satu pria paling populer dan banyak disukai.
Meskipun secara tingkat ketampanan fisik, postur tubuh yang gagah, dan kekayaan Adrian jauh berada di atas Kevin.
Kevin memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh sang CEO arogan. sifatnya yang sangat ramah, penuh perhatian, sopan, dan selalu memperlakukan wanita dengan kelembutan yang tulus.
Obrolan di antara mereka berdua pun mengalir dengan sangat lancar dan akrab. Sifat Kevin yang humoris berkali-kali berhasil memancing tawa renyah dari bibir Nala.
Nala yang biasanya bersikap sangat kaku, tegang, dan formal saat berhadapan dengan Adrian. di lantai atas, kini tampak begitu lepas dan bahagia. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, sesekali merapikan poni rambutnya yang terurai dan tertawa lepas hingga mata bulatnya menyipit dengan sangat indah.
Di bawah sorot lampu kafe yang Temaram, penampilan Nala yang sangat sederhana tanpa riasan Tebal justru memancarkan kecantikan alami yang yang begitu murni, bersih, dan putih bersinar.
Keakraban yang terjalin di antara mereka berdua benar-benar terlihat begitu serasi, persis seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati masa-masa di mabuk asmara.
Tanpa Nala sadari sama sekali, dari lantai mezanin kafe yang posisinya agak tinggi di atas sana , sesosok pria bertubuh tegap sedang berdiri tegak di balik pagar kaca gelap, mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan pandangan yang mengerikan. Pria itu adalah Adrian.
Pemandangan kedekatan Nala dan kevin di bawah sana seketika membuat dada Adrian bergemuruh hebat oleh amarah yang luar biasa Dahsyat.
Sepasang matanya yang tajam bak Elang mengamati senyum manis Nala yang merekah lebar untuk Kevin.
Senyuman yang belum pernah sekalipun diperlihatkan Gadis itu kepada dirinya!.
Adrian mengepalkan kedua tangannya dengan kedalam celana mahalnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa panas yang membakar hatinya saat ini benar-benar membuat Adrian merasa heran, sekaligus murka pada dirinya sendiri.
'Kenapa dia harus secemburu ini'. hanya karena melihat seorang gadis desa miskin yang berniat dia tindas sedang bercanda Ria dengan pria lain?
Ego dan rasa kepemilikannya yang setinggi langit berontak keras, bagi Adrian, Nala adalah miliknya untuk ditindas, dan tidak boleh ada satu pria pun di kantor ini yang berhak menyentuh atau membuat gadis itu tertawa bahagia selain dirinya!
Tidak tahan lagi menyaksikan pemandangan yang membakar matanya, Adrian merogoh saku celana kain mahalnya dengan gerakan kasar.
Dia mengambil ponsel pintarnya, mencari kontak nomor Nala yang baru ia simpan tadi pagi, lalu menekan tombol Panggil dengan penuh amarah yang bertahan di dada.
Di bawah sana, Adrian memperhatikan bagaimana Nala tersentak saat ponsel jadulnya di atas meja bergetar. Begitu melihat nama Adrian tertera di layar, senyum manis di wajah garis desa itu seketika sirna.
Digantikan oleh gurat ketegangan yang sangat jelas. mengetahui bahwa ekspresi Nala berubah drastis hanya karena namanya, Entah mengapa memberikan sedikit kepuasan sadis bagi ego Adrian.
Nala, mengangkat telepon itu dengan suara formal yang berusaha ia tegapkan. "selamat siang, Pak Adrian. Ada yang bisa saya bantu?"
"Keruangan ku sekarang juga?... Kurang dari tiga menit- Kalau kamu terlambat satu detik saja, surat pemecatanmu sudah ada di meja. " ucap Adrian dengan suara nada yang dingin dan datar, lalu langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu respon dari Nala.
Dari atas mejanin, Adrian melihat bagaimana Nala dengan panik meminta maaf kepada Kevin, tergesa-gesa merapikan tas kainnya yang sederhana, dan meninggalkan sisa makanan siangnya yang baru tersentuh setengah.
Kevin sempat menahan pergelangan tangan Nala dengan raut wajah cemas. Gestur perhatian itu sukses membuat Adrian di lantai atas mengepalkan tinjunya hingga kuku jarinya memutih; dia Hampir saja melempar ponselnya sendiri karena geram. Namun Nala menggeleng sopan, melepaskan pegangan Kevin, lalu setengah berlari menuju lift khusus karyawan.
Adrian berbalik dengan langkah yang angkuh. Dia berjalan kembali ke dalam ruang kerjanya yang Megah, duduk di kursi kebesaran, dan memasang Aura intimidasi yang pekat untuk menyambut mangsanya.
Tepat dua menit lima puluh detik , pintu ruangan diketuk. Nala masuk napas yang memburu dan dada naik turun akibat berlari dari lantai bawah. rambut hitamnya sedikit berantakan namun kulit putihnya yang bersemu merah, karena lelah justru membuat Adrian terpaku sesaat. Kecantikan alami gadis itu benar-benar mengusik pertahanan egonya.
"Ada tugas apalagi yang harus saya kerjakan Pak? " tanya Nala, berusaha mengatur nafasnya agar tetap terdengar profesional di depan sang atasan.
Adrian menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Nala dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
Bagus, kamu tepat waktu. aku tidak suka memiliki sekretaris yang lambat memilih menghabiskan jam kerja untuk tebar pesona dengan staf pria di kantor ini.
Nala mengernyitkan alisnya, merasa tuduhan itu sangat tidak adil dan merendahkan harga dirinya. " Maaf, pak Adrian. Ini adalah jam istirahat makan siang yang merupakan hak saya selaku karyawan. Saya tidak tebar pesona, Saya hanya makan siang bersama Mas Kevin."
Mendengar Nala menyebut nama 'Kevin' dengan begitu akrab di depannya, darah Adrian kembali mendidih. rasa cemburu egoisnya semakin membumbung tinggi. " aku tidak peduli itu jam istirahat atau bukan!